Aku Rapuh,Tuhan

Aku Rapuh,Tuhan
Bab. 48


__ADS_3

Setelah Tuan Adi menyuapi Talita, Mereka pun berbincang-bincang melepas rindu.


"Mas, kok bisa tau saya ada di Gorontalo?"


"Kamu ingat nggak uang mahar yang aku beri?"


"Iya, ingat? emangnya kenapa dengan uang mahar"


"Sebelum kamu cairkan, pihak bank harus konfirmasi dulu dengan Setno, nah dari situ bisa tau posisimu sayang"


"Pantesan, lalu kapan kamu kirim anak buahmu kesini"


"Pada hari itu juga, mas tidak mau kalau kamu ada kesusahan"


"Ya Ampun mas, jadi begitu. Pantesan Endi bisa tau Pingkan mau berbuat jahat padaku, berarti Endi selama ini mengawasi gerak gerikku ya"


"Iya, aku yang menyuruh mereka awasi Pingkan sejak Pingkan berbuat ulah ingin mengusir kalian dari desa"


"Terima kasih mas, kamu sudah mau melindungiku walau aku yang telah meninggalkan kamu, padahal aku tak menepati janjiku"


"Iya, sekarang kita lupakan masa lalu, aku ingin secepatnya membawamu ke rumah, kita adakan 4 bulanan calon buah hati kita.


"Baiklah mas. Mas tidurlah di sampingku"


"Mas tidur di sofa saja, tuh ada tulisan penjaga dilarang tidur di ranjang selain pasien"


"Kalau begitu mas pulanglah, ruko tidak di kunci, biar Endi menunggu dan menjagaku di sini"


"Sayang, yang suamimu siapa sih. Aku tak mau pulang. Aku akan meninggalkan kamu"


"Mas istrahatlah di ruko, mas juga lagi sakit. kasian jika mas tidur di sofa"


"Nggak apa-apa, mas tidur di mana saja asal ada kamu, mas senang"


Karena Talita mau berdebat terpaksa dia hanya menganggukkan kepalanya.


Tak lama Setno datang, dan membantu Tuan Adi duduk di kursi rodanya kembali.


"Bos, saya ke ruko dulu. Mau ngurus Nenek Saroh" bisik Setno.


"Iya, sudah. Pergilah" jawab Tuan Adi.


Talita mengeryitkan dahinya, sepertinya ada yang di sembunyikan. tapi dia tak mau berfikir negatif dahulu.


Setno pun keluar ruangan dan akan pergi ke ruko bersama di iringi jenazah Nenek Saroh.


***


Endi yang membawa mobil Setno sedangkan Setno menutupi matanya sejenak. Dia tak istrahat sama sekali.


"Endi, bangunkan aku jika kita sudah sampai"


"Siap, bos"


30 menit kemudian sampailah mereka di ruko tempat tinggal Nenek Saroh dan Talita.


Ternyata orang-orang telah menunggu kepulangan Nenek Saroh untuk melayatnya.


Endi pun membangunkan Setno.


Setno mengucek matanya.


"Sudah sampai ya, ayo kita turun. Kamu sudah menghubungi orang yang mau memandikan jenazah ya" Ajak Setno di ikuti Endi dari belakang


"Tuan, Nenek Saroh mempunyai seorang anak, alangkah baiknya kita beritahukan anaknya" ucap Endi mengingatkan.

__ADS_1


"Astaga, ada anaknya juga ya" kaget Setno.


"Iya, kalau tak salah tinggalnya semarang juga. Sebaiknya cari di hpnya Nenek Saroh" ujar Endi.


"Apa Nenek Saroh mempunyai handphone ya?"tanya Setno.


"Aku kurang tau bos" imbuh Endi.


Mereka pun naik ke lantai 2, mencari handphone atau kertas yang menuliskan alamat Nenek Saroh yang ada di Jawa.


Setelah mencari akhirnya mereka menemukan berkas Nenek Saroh dan menemukan no. hp tertera.


Setno pun mencoba menghubungi.


Drttt....


"Syukurlah tersambung" guman Setno.


"Hallo, ini dengan siapa ya?" suara dari sebrang.


"Apa benar ini keluarga Nenek Saroh?"


"Iya, saya anakknya. Ada perlu apa ya?"


"Begini, Nenek Saroh sekarang ada di Gorontalo"


"Iya, Ibu saya sudah mengatakan dan memberi kabar kepada saya, ada apa! saya sibuk nih. Aku itu malas banget ngurusin Ibu satu itu, Ibu yang tak mau mendengarkan keinginan anaknya" geram orang itu.


"Astagfirullah Pak, kami hanya mau memberitahukan bahwa Nenek Saroh tadi siang kecelakaan dan meninggal dunia setelah di bawa di rumah sakit, untuk tersangkanya kami sudah bawa ke kepolisian terdekat. Nah sekarang kami mau urus jenazah Ibu Anda"


"Ya trus ada urusan apa dengan saya, kalau mau kubur orangnya, ya kubur saja."


"Baiklah, kami akan mengurusnya di sini. Assalamu'alaikum"


Setno pun geram dengan orang itu. Bisa-bisanya tak sedih ketika orang tua meninggal.


"Baik, Bos. Yang mau memandikan jenazah besok baru ada bos. Mending kita buat pengajian dahulu. Karena ini sudah malam juga."


"Baiklah, undanglah orang-orang yang di sekitar rumah sewa Nenek Saroh yang dulu"


"Sudah Bos, Agung yang sudah mengundangnya dan Pak Ustad sekalian"


"Baiklah, Alhamdulillah"


Mereka pun turun ke bawah. menunggu orang-orang yang mau pengajian.


"Endi, kamu urus yang di sini ya, aku harus balik lagi ke rumah sakit. Kasian Tuan Adi tak ada yang membantunya.


"Baik Bos."


"Besok, jam berapa orang akan memandikan jenazah Nenek Saroh?" tanya Setno.


"Sekitar jam stengah 7 bos, supaya jam 9 Nenek Saroh di kebumikan" jawab Endi.


"Oke, nanti setengah 7 pagi aku akan kesini lagi" imbuh Setno.


"Bos, apa baiknya Nyonya Talita datang? nanti dia malah tanbah sedih jika tidak ketemu jenazah Nenek Saroh yang terakhir kalinya"


"Aku usahakan besok sebelum jam 8 Nyonya Talita datang, benar katamu. Jika Nyonya tak melihat Nenek Saroh, malah akan memperburuk keadaan nantinya"


"Syukurlah Bos, kalau bos ingin mempertemukan Nyonya Talita dengan Nenek Saroh"


"Aku pergi dulu, kabari kalau ada sesuatu di sini"


"Siap, Bos"

__ADS_1


Setno pun memilih pergi dan menemui Tuan Adi. Dia tak ingin Tuan Adi kesulitan jika nanti membutuhkan pertolongan.


Tak lupa sebelumnya Setno singgah di rumah makan, membeli makanan untuknya dan Tuan Adi.


"Bu, pesan makan 2, di bungkus ya"


"Mau nasi apa mas, nasi campur atau nasi kuning?"


Setno pun bingung karena sebelumnya dia tak pernah membeli makanan seperti itu.


"Coba nasi kuning 2 bungkus saja bu"


"Mau lauknya apa, ikan, ayam atau telur" tanya penjual.


"Ayam aja bu"


"Kalau begitu tunggu ya"


"Iya Bu"


"Apa nanti Tuan Adi mau makan ya, ah. biarin saja. habis di sini bingung mau beli makan di mana" gumam Setno di dalam hatinya.


Tak lama penjualnya menyerahkan 2 bungkusan nasi.


"Berapa semuanya bu?" tanya Setno.


"Semuanya 20 ribu mas" jawab penjual.


"Waduh, murah bener ya" gumamnya lagi.


"Ini bu, kembaliannya di ambil saja" ucap Setno sambil menyerahkan uang 50 ribu.


"Terima kasih mas, kembaliannya banyak sekali. semoga mas apa yang di inginkan bisa dikabulkan Allah"


"Aamiin, terima kasih bu" ucap Setno sambil berlalu.


Setelah itu Setno bergegas ke Rumah Sakit.


Tok! tok! tok!


Sebelum masuk Setno mengetuk pintunya.


"Tuan, ini saya bawakan makan malam untuk tuan"


"Terima kasih Setno, padahal memang aku mau beri tahu kamu untuk beli makanan, ternyata kamu malah sudah membelinya"


"Saya juga sudah lapar bos,"


"Kalau begitu kita makan sama-sama saja"


"Trima kasih bos"


Mereka berdua duduk di sofa ruang rawat Talita.


"Setno, ini makanan apa?" tanya Tuan Adi, karena baru pertama kali melihat nasi kuning.


"Kata penjualnya nasi kuning bos"


Talita yang mendengarnya pun langsung bersuara.


"Enak itu mas, biasanya Nenek Saroh menjualnya" ingat Talita, dia pun menjadi sedih.


"Kalau begitu, aku suapin kamu juga ya, kita makan sama-sama"


"Iya mas, aku mau" jawab Talita dengan senyum sumringah.

__ADS_1


Talita sangat bahagia di temani suaminya.


TBC...


__ADS_2