
Setelah Talita pulang dari toko bunga, dia melewati jalan yang sangat sepi. Jam menunjukkan pukul 10 malam.
Perasaan Talita seperti ada yang mengawasinya dan mengukutinya. Dia sering melihat ke belakang tapi tak melihat siapapun.
Dengan langkah cepat Talita melangkahkan kakinya agar cepat sampai di rumahnya. Pedagang nasi pecel pun sudah pulang, mungkin karena nasi jualannya sudah habis terjual sehingga penjual nasinya cepat pulang ke rumahnya.
Talita sesekali melihat ke belakang.
"Ya, Tuhan. Lindungi hambamu ini" gumam Talita dengan perasaan yang takut.
Dia pun semakin mempercepat langkahnya dan makin lama setengah berlari ke arah rumah sewanya.
Setelah sampai Talita pun segera membuka pintu rumahnya dan segera menguncinya kembali.
"Oh, jadi di sini tempat tinggalnya ya" gumam anak buah Tante Ira sambil tersenyum.
Talita segera membersihkan badannya dan setelah itu dia mengistirahatkan badannya yang capek karena bekerja.
"Bos, aku sudah mengetahui tempat tinggalnya"
"Tetap awasi, dan jangan sampai lengah, aku akan segera ke sana."
"Baiklah, Bos"
Tante Ira segera menuju ke surabaya dengan anak buahnya. Malam ini juga dia harus mendapatkan buruannya yang sudah sebulan menghilang.
***
Pagi hari menjelang, seperti biasa Talita menyiapkan sarapannya. Dia pun segera mandi dan mengganti bajunya. Sebelum pergi ke toko bunga, dia sarapan terlebih dahulu.
Tok! tok! tok!
"Siapa yang pagi-pagi begini bertamu ya?," gumam Talita.
Dia pun segera membuka pintunya, dia pun kaget ada seorang wanita dan beberapa orang berbadan besar berada di depan pintunya.
"Maaf, anda siapa?, dan ada maksud apa datang ke rumah saya"
"Aku Tante Ira, kamu kenal orang ini?," ucap Tante Ira sambil memperlihatkan foto seseorang.
"Om Felix, itu foto Om Felix, ada apa?!,"
"Ya, benar sekali. Sebelum dia meninggal, dia sudah menjualmu kepadaku sebesar 3 M. Untuk itu ikutlah bersama kami"
"Tidak mungkin!, Aku tak percaya!,"
"Ini fotonya, bukti-bukti dia mengambil uang 3 M dan surat perjanjian yang di tanda tangani Om kamu itu"
"Aku tak mau ikut!!," tolak Talita.
__ADS_1
"Terserah apa katamu, jika kamu tidak mau ikut, sekarang saya minta kamu lunasi uang 3 M kepadaku,"
"Aku tak punya uang sebanyak itu, jika kalian mau aku akan mencicilnya"
"Hahaha... hahahahha..." tawa Tante Ira menggelegar.
"Berapa tahun kamu akan mencicilnya?, setahun, dua tahun, 3 tahun pun uang itu tak akan terkumpul sebanyak itu. Ayo sekarang ikut kami!!" bentak Tante Ira.
"Aku tak mau menjual diriku, lebih baik aku di penjara saja"
"Enak sekali kamu bicara, dan uangku hilang tak berbekas, begitu maksudmu?,"
"Uang itu bukan aku yang memakainya, lebih baik kalian meminta kepada Om Felix"
"Om kamu sudah ada di neraka"
"Maksudnya?," tanya Talita heran.
"Om kamu sudah mati, mayatnya, kami sudah melemparnya ke sungai"
"Astagfirullah, innalillahi wainnailahi roji'un," ucap Talita dengan lemas.
"Kamu mau ikut kami secara baik-baik atau kami akan berbuat sesuka kami, tinggal kamu yang memilihnya"
Talita berfikir keras, apa yang harus di lakukannya. Tak mungkin dia berlari sekarang sedangkan melihat anak buah Tante Ira pasti dia akan kalah tenaganya dengan mereka.
Talita menangis seketika, harapannya telah hancur. Baru saja dia bisa terbebas dengan cengkraman Om Felix dan sekarang dia harus ikut dengan seseorang karena dia telah di jual Om Felix.
Tante Ira berfikir sejenak, dan akhirnya dia menyetujuinya.
"Baiklah, asal kamu jangan berbuat yang tidak-tidak, kalau kamu berbuat seperti itu, kami tak akan segan-segan menyakitimu. Paham!!."
"Trima kasih, aku ke sebelah dulu untuk pamit kepada pemilik rumah ini"
Talita pun segera pergi ke rumah sebelah dan pamit. Dia mengatakan akan ikut tantenya, agar mereka tak curiga. Tak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya.
Setelah itu dia bersama-sama Tante Ira menuju ke toko bunga. Teman-temannya Talita tampak heran Talita turun dari mobil.
Talita segera menghampiri teman-temannya, dia menangis karena akan berpisah dengan orang-orang yang baik.
Dan ternyata pemilik toko bunga sudah berada di toko. Talita segera pamit dan mengatakan tak akan bekerja lagi di toko bunga.
Teman-temannya pun menangis, begitu juga pemilik toko bunga. Dia sudah sangat menyayangi Talita.
"Jangan pernah lupakan kami, nak"
"Iya bu, Talita tidak akan melupakan kalian semua yang ada di sini, Talita harus pamit, mengikuti Tante itu"
"Baiklah nak, ini ada sedikit rezeki untukmu karena sudah bekerja di sini"
__ADS_1
"Tapi Bu, saya belum sebulan bekerja di sini"
"Tidak masalah nak, jaga baik-baik dirimu"
"Baiklah bu, teman-teman, aku pergi dulu, assalamu'alaikum,"
"Waalaikum salam" jawab mereka serempak.
Talita dengan langkah gontai menuju ke mobil yang di tumpangi Tante Ira. Talita tak tau apa yang harus dilakukannya dan bagaimana nanti nasibnya ke depannya.
Tante Ira tersenyum, begitu Talita masuk ke dalam mobil.
"Good girl"
Sebelum pergi Tante Ira berbincang dengan seseorang di depan jendela mobil.
"Ini upahmu, itu sudah lebih dari cukup"
"20 juta sudah lebih Bos, jika ada pekerjaan lagi, jangan segan-segan menghubungiku bos, saya jamin tidak akan mengecewakan bos"
"Baiklah"
Mobil pun melaju di jalan raya menuju ke Jakarta. Sebuah club terkenal yang di miliki Tante Ira, Tante Ira bahagia tempatnya akan terisi seorang gadis cilik yang bisa melayani pengunjung club.
"Kamu ini, nampaknya kurus tak terurus, kita akan ke rumahku dulu"
"Baik Bos"
"Kamu akan saya urus dulu di rumah, siapa nama kamu cantik?,"
Talita tak menjawab, dia tak ingin berbincang dengan siapapun.
Tiba-tiba Tante Ira menarik rambutnya.
"Aww... sakit!, saya mohon lepas Tante, sakit!" rintih Talita.
"Heh!, jangan kamu pikir kamu bisa sesukamu tak menjawabku, awas! sekali lagi saya bertanya kau tak menjawabnya, aku akan menyiksamu, paham!," ucap Tante Ira sambil melepas rambutnya Talita dengan kasar.
"Iiiya... paham Tante" ucap Talita dengan isak tangisnya.
"Kamu itu akan senang, kamu akan mempunyai uang banyak nantinya"
"Percuma uang banyak tapi pekerjaannya tak halal, ya tuhan. Apa ini memang takdirku" Batin Talita di dalam hatinya sambil terisak menangis.
"Heh!, jangan menangis, aku pusing jika mendengar orang menangis. Kau tau!, semua yang aku ajak, awal-awalnya saja menangis-menangis setelah banyak uang, malah mereka tak ingin meninggalkan club saya. Jadi hapus air matamu itu," bentak Tante Ira pada Talita.
Talita segera menghapus air matanya, dia tak ingin di siksa lagi. Talita nampak takut dengan Tante Ira yang terlihat garang.
Mobil pun terus melaju dengan kecepatan rata-rata. Hanya keheningan yang terasa. Talita diam dan hanya melihat ke arah jendela, sedangkan Tante Ira membaringkan tubuhnya sambil menutup matanya karena dia kecapean bolak balik Jakarta-Surabaya.
__ADS_1
TBC....