ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
We Are Both Hurting


__ADS_3

Setelah Kila menikah Adrien berubah menjadi seorang playboy, ia tidak mempercayai cinta lagi. Baginya wanita tak lebih hanya penghangat ranjang, pemuas nafsu. Wanita yang menemaninya tiap hari berganti. Adrien punya segalanya, harta, tahta, kemewahan. Ia bisa memanjakan wanita yang dipilihnya selama 24 jam, setelah itu mendepaknya.


Perusahaannya masih ditangani sepenuhnya oleh Keanu, papanya. Adrien hanya sebagai CEO non aktif, pekerjaannya lebih banyak membuat game "mentah", berupa ide awal dan para pegawai yang bekerja sebagai 'game developer' yang akan mengembangkannya.


Selebihnya Adrien berliburan keliling dunia atau berpesta tanpa henti di mansionnya. Mansion terletak di Lyon France, dibelinya setelah menyelesaikan gelar masternya di Harvard 2 tahun lalu. Selama di USA Adrien menjaga pergaulannya untuk tidak terjerumus karena predikatnya sebagai sebagai role mode dan jenius di kampus. Ia menghamburkan uang dengan mengkoleksi mobil-mobil terbaru dan bagian Adriana, mamanya yang membereskan koleksi Adrien dengan menjualnya kembali. Mamanya tidak ingin anak semata wayangnya tenggelam dalam kemewahan semu.


Tak jarang Adriana mengomeli Adrien, bahkan di usianya yang sudah menginjak 25 tahun, mamanya selalu mengancam akan melaporkan ulahnya kepada Kila. Karena Adriana tahu jika anaknya itu cuma patuh pada kakak sepupunya.


Adrien berharap mamanya akan menghubungi kakak sepupunya tapi semua hanya ancaman, padahal Adrien sudah menunggu untuk mendengar suara yang seperti nyanyian di telinganya.


...


Malioboro di sore hari..


Dua gadis berusia 22 tahun sedang cekikikan menatap seorang wisatawan asing yang duduk sendiri di bangku kayu, pria itu terlihat asyik mengutak-atik ponselnya sambil mendengar lagu di earphonenya.


"Sumpah cakep banget yah!" Seru Samara menyikut menatap lekat-lekat pria di kursi sampingnya


"Seperti model majalah dewasa" gumam Tasya


"Hush.. kalau bilang dewasa terdengar seperti negatif"


"Iya deh.. " sahut Tasya pelan


"Haii mister.." kata Samara sambil melambaikan tangan dengan senyum kemayu menghiasi wajahnya


Pria asing itu membalas senyuman si ganjen Samara, membuat gadis seksi bertubuh dan face seperti Marion Jola itu pun langsung berdiri sambil menarik tangan Tasya berjalan ke kursi sebelah


"Haiii.. mister, how are you ?" Samara berbasa-basi dengan senyuman menggodanya


"I'm doing fine, how about you ?" Tanya balik pria bule bermata biru seperti warna langit dengan awan putihnya


"As you see.." jawab Samara memamerkan lekukan tubuhnya


Sungguh murahan temanku satu ini, gerutu Tasya dalam hati.


Pria itu hanya terkekeh menangkup wajahnya.


"By the way, would you mind taking picture with us ?" Tanya Samara lagi sambil mengambil duduk di samping pria bule itu.


"Boleh" jawab singkat si pria berkemeja warna putih itu tersenyum


"Hah!!!" Kedua gadis itu terperanjat kaget


"Mister, kamu bisa berbahasa indonesia?" Tasya langsung duduk di sebelah kiri pria bule itu


"Mamaku orang Surabaya"


"Wihhhh... " pekik kecil Tasya.. "oh yah namaku Tasya, dan si seksi ini namanya Samara"


"Yeah, i'm Samara like the ghost in Japan horror movie, kamu tahu "The Ring?"


"Aku Adrien, panggil Rien.. dan tidak tahu film Jepang itu" Adrien terkekeh geli dengan kedua gadis yang rame dan akrab itu. Tipikal orang Indonesia, ramah. Hal yang tidak Ia dapatkan di France, apalagi di Amerika. Orang di luar lebih terkesan acuh dan menjaga sikap.


"Jadi boleh foto bareng?" tanya Samara mengerjapkan matanya, ganjen


"Yeah..." Sahut Adrien tertarik, menyunggingkan senyuman


"Tidak usah selfie cinn.. minta fotoin saja" kata Tasya mencondongkan kepalanya menatap Samara yang duduk di sebelah kanan Adrien


Samara mengerti maksud Tasya dan mereka berdua mengarahkan pandangan ke bagian pagar Benteng Vredeburg, seorang gadis sebaya dengan mereka, terlihat asyik sedang mengobrol dengan ibu penjual buah.


"Oiii Khale.... Khaleesi, siniiii!" Teriak Samara membuat gadis yang dipanggilnya berbalik dengan sorot mata tajam memandangi kedua temannya


Gadis yang bernama Khale berjalan mendekat ke arah mereka.


"Apa?!" Khaleesi dengan sewot berdiri di depan Samara dan Tasya, mengabaikan pria yang terpana menatapnya


"Fotoin" ucap Samara mengulurkan ponsel merk apel tergigitnya

__ADS_1


Khaleesi mendesis, sementara kedua temannya terkikih geli. Namun ketiga orang tersebut langsung berpose begitu Khaleesi memberi aba-aba, gadis berkulit kuning langsat tak sejahat itu kepada kedua temannya. Dengan pasrah mengambil foto terbaik Samara dan Tasya yang menggamit kedua lengan pria bule berambut keemasan.


"Aku ambil tiga foto" kata Khaleesi mengembalikan ponsel Samara


"Khale, kenalan dulu ma Rien" ujar Tasya


Akhirnya Khaleesi pandangan matanya bertemu dengan Adrien, intens.


Adrien bertubuh jangkung lalu berdiri tepat di depan Khaleesi, si gadis berambut hitam sebahu.


"Adrien, Rien.." senyum simpul dengan suara bariton mengulurkan tangannya


"Khaleesi, Khale.." balas Khale dengan datar, mencoba menarik tangannya tapi Adrien terus menggenggamnya, enggan melepaskan


Mata Adrien menatap lekat-lekat wajah Khaleesi, membuat Samara dan Tasya ikut berdiri.


"Khale.. kamu mirip kakak sepupuku" ucap Adrien pelan lalu melepaskan tangannya, namun matanya tetap terpaku pada wajah Khaleesi.


"Betulkah?" Tasya mengerjapkan mata sipitnya, Anastasia Lei Wijaya. Dia keturunan Tionghoa, sejak 3 tahun lebih suka di panggil Tasya dibanding Nata. Katanya terdengar seorang muslimah, dengan nama Tasya. Adalah Randi Nugraha pacarnya yang membuat Tasya ingin mengubah keyakinan yang dianutnya. Randi yang sekarang sedang menempuh pendidikan masternya di Australia meminta Tasya untuk menunggunya pulang dan mereka akan menikah walau hingga sekarang tidak ada restu dari kedua pihak keluarga. Memang ribet jika menjalani hubungan istimewa yang terhalang dua rumah ibadah yang berbeda.


"Kamu bisa melihat ini" ujar Adrien memperlihatkan ponselnya kepada kedua gadis itu. Khaleesi lebih memilih untuk duduk di kursi yang di duduki kedua sahabatnya


"Kamu memasang foto berdua dengan kakak sepupumu jadi wallpaper ponsel? Kalian terlihat seperti pasangan dibanding sepupu" kata Tasya


Adrien tersenyum semringah mendengar ucapan Tasya.


Sementara Samara terlihat cemberut setelah melihat foto Adrien dengan kakak sepupunya. Gadis ningrat itu kemudian menghempaskan bokongnya di kursi. Raden Ayu Samara Adiningrum Madaharsa, gadis berkulit sawo matang yang mempunyai mata yang menarik, wajah yang sensual dengan tubuh yang super seksi. Samara ketika di dalam rumah akan bersikap sebagai anak baik namun di luar dia akan menjadi dirinya sendiri. Lepas tanpa aturan, berkencan dengan siapa pun yang dipilihnya. Dan sekarang ia menginginkan pria jangkung ini jadi teman kencannya. Wanita siapa yang tidak tertarik dengan pria seperti Adrien, tinggi, sangat tampan, bibir tebal dengan senyuman manis, rahang yang terpahat, tubuh yang kokoh, membayangkan berada dipelukannya saja Samara sudah berdebar tak karuan.


"Kami tumbuh bersama, dia yang mengurusku dari kecil. Aurora namanya, sekarang di Inggris dan sudah menikah" kata Adrien yang terdengar sangat pelan saat mengucapkan kata menikah. Sungguh ia belum melupakan hari pernikahan kakak sepupunya itu, hari di mana hatinya hancur berkeping-keping


Samara dan Tasya menghela napas lega setelah mendengar bahwa kakak sepupu Adrien sudah menikah. Kenapa juga seorang Tasya ikut bahagia, ia sudah punya Randi.


"Hei Rien... Mau nongkrong bareng? Kita mengobrol sambil minum yang dingin-dingin" seru Samara yang telah mengembalikan moodnya yang sempat down


"Boleh... Di mana?"


"Aku di antar sopir kakek ke sini"


"Apa?" Seru Samara dan Tasya


"Aku belum cerita yah, grandpa dan grandma tinggal di sini" jelas Adrien


"Rien.. Kalau begitu banyak yang harus kamu ceritakan kepada kami" ujar Samara menggamit lengan Adrien yang di ikuti oleh Tasya melakukan hal yang sama di tangan kiri pria jangkung itu. Khaleesi terdiam mengekor di belakang ketiga orang yang tersenyum riang, berbanding terbalik dengan perasaan menghimpit tiap relung hatinya.


...


Mata Adrien terus menatap ke arah Khaleesi yang acuh menyesap cappucino bobanya, sesekali gadis berwajah mirip Kila itu membalas perkataan Samara dan Tasya.


Gadis yang pendiam dengan sorot mata yang sendu. Berbanding terbalik dengan kakak sepupunya, penuh semangat dengan sorot mata penuh cinta yang kadang terlihat tajam saat mengintimidasinya.


"Jadi benar kafe ini adalah milikmu?" Tanya Adrien kepada Tasya yang dijawab dengan anggukan


"Aku belajar berbisnis, melepaskan diri dari keluargaku. Dan ini kafe kedua yang aku buka" ungkap jujur Tasya tanpa menyombongkan diri


"Kamu sungguh hebat, bagaimana dengan kamu Samara?" tanya Adrien, untuk pertama kali dia berbicara dengan wanita seperti ini, percakapan biasa layaknya teman. Bukan teman tidur.


"I have everything, sebut apa saja. Hotel, Mall, bisnis property" ujar Samara tertawa ringan


"Yeahhh.. dia ningrat. Kamu tahu ningrat? Keluarga raja, yang menguasai 1 Jogja" kata Tasya


Adrien menganggukkan kepalanya mengerti, ia belajar banyak dari grandpa dan grandma tentang kota ini.


"Dan kalian teman kuliah?" Tanya Adrien


Samara, Tasya tergelak tawa dan Khaleesi yang irit bicara itu tersenyum tipis. Saat itu Adrien melihat Kila di depannya, senyum kakak sepupunya.


"Kami berteman dari Kindergarten, SD, SMP, SMU tak terpisahkan. Kuliah kami baru berpisah, aku dan Samara di universitas swasta dan cuma Khale berhasil masuk di universitas negeri" ujar Tasya merangkul bahu Khaleesi "yang paling pintar di antara kami, Khale punya hotel bernuansa klasik Jogja dulu dengan suasana pedesaan dan sawah. Kamu perlu mencoba menginap di sana Rien, sangat nyaman. Tiap bangunan di lengkapi kolam renang pribadi atau jacuzzi"


"Wow, sounds cool" kata Adrien menatap ke Khaleesi lagi, gadis itu cuma tersenyum simpul namun mengumbar senyuman itu kepada Tasya

__ADS_1


"Kamu sendiri Rien, ceritakan tentang dirimu" ujar Samara


"Aku?"


Samara dan Tasya serempak mengangguk


"Apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Samara to the point, ia memang gadis seperti itu. Tidak segan untuk mengutarakan isi pikirannya


"Aku tidak punya" sahut Adrien


Tidak punya, tapi.... Gadis bergantian di tempat tidurnya. Kecuali jika ia menginjakkan kaki di Indonesia, negara ini hanya untuk satu gadis di hatinya.


"Kalau Tasya sudah punya pacar, aku yang belum" kata Samara mempromosikan diri dan mengeliminasi temannya sendiri, agar tidak ikut dalam perburuan mendapatkan Adrien


"Bagaimana dengan Khale?" Tanya Adrien


Mata Khaleesi tidak bisa menyembunyikan kekagetannya namun menatap tajam ke arah Samara


"Ohh Khale... Dia lagi patah hati, tunangannya mau menikah dengan wanita lain"


Khaleesi Adalyn Hengkara menghabiskan masa remajanya berpacaran dengan Raden Mas Deawa Utangga Jayanasa, yang tak lain adalah sepupu Samara. Dua minggu lalu Deawa memutuskan pertunangan mereka yang telah terjalin selama 4 tahun. Alasan Deawa adalah dia menemukan wanita lain, mereka telah menjalin hubungan cinta selama 5 terakhir. Menurut pengakuan Deawa, wanita itu adalah rekan bisnisnya di ibukota.


Deawa adalah komisaris perusahan retail waralaba yang menjamur di seantero Indonesia. Pria yang sangat kaya dari keluarga ningrat yang kaya raya.


Khaleesi mulai berpacaran dengan Deawa sejak SMU kelas 2, setelah selama setahun pria itu mengejarnya. Saat Khaleesi memasuki semester tiga Deawa mengikatnya dalam ikatan pertunangan, pria yang lebih tua 6 tahun dari usianya mengambil langkah tersebut karena ketakutan kekasihnya direbut oleh orang lain.


Khaleesi adalah primadona kampus, tak sedikit pria mengejar gadis itu. Bahkan setelah terikat cincin pertunangan pun masih ada yang nekat mendekati Khaleesi, namun hati gadis itu telah bersumpah hanya untuk Deawa seorang. Pria yang sekarang mendepaknya demi wanita lain.


"Sepupu kampretmu" kata Khaleesi dingin menatap Samara yang kemudian tergelak tawa


"Sayang... dari kemarin aku bilang... Aku akan membantumu membunuhnya jika kamu. Dan maafkan aku telah mengenalkanmu dengan seantero keluargaku. Apa yang terjadi di luar kuasaku, termasuk ketika Kak Deawa mengejarmu" imbuh Samara dengan nada menyesal


"I love you sayang... Melebihi kakak sepupu kampretku itu" lanjut Samara meraih tangan Khaleesi dan menggenggamnya


"Love you too Sam..." Gumam Khaleesi lirih menatap ke arah sahabatnya


Adrien melihat mata Khaleesi, raut wajah gadis di depannya, sikap diamnya mengingatkan akan dirinya setahun yang lalu.


Adrien yang terluka.


Khaleesi yang terluka.


Mereka sama.


###


Adrien Dierja Pranaja, 25 tahun


189 cm



Khaleesi Adalyn Hengkara, 22 tahun


170 cm



alo kesayangan ❣️


akhirnya novel ini mulai jalan normal 🤭


buat sayang-sayangku yang merayakan natal


Merry Chrismas yah🎄🎉


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2