
Adrien dan Isla berpandangan penuh makna mendengar perkataan Radit, gadis yang mengenakan t-shirt kekasihnya pun mulai menggulirkan air mata di pipi. Kedua jemari gemetar yang bertautan dan saling menguatkan.
Radit menarik satu kursi kayu ke depan Adrien dan Isla, pandangannya secara bergantian menatap kedua sejoli yang enggan melepaskan genggaman tangan.
"Ayah sudah curiga sejak di Jogja, anak ayah satu ini selalu menghilang terlebih ketika Kila, Hugo dan kembar datang. Adik-adikmu kembali ke rumah, sementara kau menghilang, Isla."
Gadis belia itu menaikkan kepala menatap ayahnya dengan menggigit bibirnya.
"Sejak kapan kau ada di Indonesia, Rien?" Tanya Radit memandang keponakannya
"Sebulan lebih, Yah. Saya ke Bali bersamaan dengan kedatangan Mareo." Ucap Adrien jujur
Radit menarik napasnya sambil menggelengkan kepala "Jadi sudah selama itu kalian bertemu di belakang ayah secara sembunyi-sembunyi? Setiap hari Isla menghilang dari rumah karena bertemu denganmu, Rien. Ckckck.."
Isla menganggukkan kepala "Kak Adrien tinggal di sebelah rumah, Ya Ya."
Radit menangkup wajahnya sembari menggelengkan kepala lalu kembali memandang Isla dan Adrien secara bergantian.
"Rien.. Rien.. Kau bersikap seperti orang lain saja. Kenapa tidak tinggal di rumah?"
"Bukannya ayah melarang kami berpacaran, meminta Isla memutuskan Kak Adrien." Imbuh Isla yang kemudian dengan pelan di tepuk tangannya oleh Adrien
Pria berambut hitam tanpa uban sedikit pun lalu bersedekap dengan mengukir senyuman tipis di bibirnya.
"Bukan karena kalian bersaudara dekat ayah melarang, tapi karena jarak umur yang sangat jauh. Rien adalah pria yang matang sementara anak ayah masih sangat muda. Masih meledak-ledak, seenaknya. Rien juga pria yang sangat sukses, Isla. Pergaulannya bukan kalangan seperti Mareo, sahabat sejiwamu nak. Tapi ayah lihat tadi bagaimana Rien bisa menuntunmu. Kata orang Jawa bisa ngemong."
Isla menarik bibirnya ke dalam sembari berkaca-kaca.
"Rien, apa yang kau suka dari Isla?" Tanya Radit menatap lurus pria yang mewarisi gen terbaik Keanu dan Adriana.
Adrien sekilas menoleh kepada kekasihnya, mata mereka kemudian saling bertatapan "Semuanya, Yah. Jujur waktu pertama bertemu Isla, saya kaget ada seseorang yang mirip dengan Kak Kila. Ayah tahu, perasaan saya dengan Kak Kila seperti apa." Adrien menjeda ucapannya lalu kembali menoleh kepada Isla, kekasihnya tersenyum merekah bukan cemburu membahas mamanya sendiri.
Radit mengangguk-anggukkan kepala tanpa membalas penuturan Adrien
"Saya bertemu kembali dengan Isla setelah hampir 18 tahun, Yah. Mungkin juga sudah takdir, andai melihat Isla tumbuh dari kecil menjadi remaja bisa saja perasaan saya biasa-biasa dengannya. Dulu saya juga sempat berpikir jika Isla hitungannya masih keponakan, tapi perasaan tidak berbohong jika saya sangat menginginkan Isla."
"Isla juga suka dan menginginkan Kak Adrien." Sergah Isla menyakinkan ayahnya
Radit tergelak tawa dengan ucapan Isla "Kau bisa kan menghandle anakku, Rien? Dia masih sangat muda, masih banyak yang perlu kau ajarkan kepadanya. Tolong banyak bersabar akan tingkah lakunya, gadis kecil-ku masih membutuhkan waktu untuk menjadi seorang wanita."
"Saya tahu itu, Yah." Ucap Adrien sambil tersenyum simpul
Radit mengarahkan pandangannya lurus ke arah Isla "Untukmu Isla, menikah itu hanya sekali seumur hidup, nak. Rien mempunyai segalanya, namun berpuluh tahun kemudian pria di sebelahmu akan lebih cepat menua dibandingkan dirimu. Ketika saat itu tiba, tetaplah berada di sampingnya, hiburlah suamimu, rawatlah penuh kasih sayang."
Isla langsung berdiri dan duduk di pangkuan Radit, memeluk ayahnya sambil tersedu. Radit pun ikut terharu sembari menepuk pelan punggung anak gadisnya.
Sedikit bercerita, ketika anak kesayangannya menikah dengan Hugo, Radit merasa sangat kehilangan. Namun Isla kecil hadir menggantikan posisi Kila di hatinya, ia pun tidak menyiakan waktu untuk merawat bayi berusia 7 bulan tersebut.
Radit merawat dengan sepenuh hati, mendidik Isla bahkan lebih daripada Kila, mamanya. Itulah mengapa ia sangat over protektif kepada Isla, berbeda dengan Kila yang diberikan keleluasan sebebas-bebasnya.
"Seperti yang kalian dengar tadi, kita menunggu papa dan mamamu, Rien. Dan kalian akan menikah. Ayah juga ingin agar eyang uti bisa melihat cicitnya menikah." Ucap Radit menatap ke arah Adrien, keponakan satu-satunya yang sangat tampan.
Adrien menganggukkan kepala dengan mata berkaca-kaca, ia bahagia dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Ia lalu memandang ke arah kekasihnya yang masih menangis dalam pelukan Radit, gadis belia itu sebentar lagi akan menjadi miliknya utuh.
...
Dua hari kemudian, di sebuah Rabu pagi yang cerah disaksikan hanya keluarga inti Girindrawardhana dan keluarga Pranaja di dalam ruangan VIP rumah sakit swasta, Isla resmi menjadi istri Adrien.
Sebuah prosesi pernikahan sederhana yang membuat semua orang menangis bahagia. Radit, Rinjani, Keanu, Adriana, Hugo, Kila, Rui, Lika, Kai dan Sky semuanya larut dalam . Eyang uti pun ikut menitikkan air mata bahagia.
Sang mempelai wanita mengenakan kebaya putih dengan sarung batik dari butik Lika, sementara Adrien hanya mengenakan kemeja putih dan celana bahan berwarna hitam, rambutnya dicepol untuk lebih sopannya di depan penghulu.
"Selamat anakku." Kila memeluk anaknya dengan erat, di antara orang di ruangan itu, ia yang tampak meluapkan kesedihan bercampur bahagia melihat prosesi pernikahan Isla dan Adrien
"Makasih ma." Isla menangis dalam pelukan ibunya. Sebenarnya semalam Isla telah mendapatkan berbagai petuah dari kedua orang tuanya, yang diakhiri dengan saling berpelukan dan bertangisan.
__ADS_1
Kila menangkup wajah memerah anaknya, riasan sederhana Isla pun telah luntur "Mama tidak pernah meragukan Rien, dia pasti membahagiakanmu nak. Biarkan Rien memegang kendali biduk rumah tangga kalian."
Isla menganggukkan kepala sambil kembali mengucurkan air mata. Entah mengapa ia merasakan kesedihan di hari berbahagianya, mungkin karena harus meninggalkan rumah orang tuanya dan akan ikut bersama dengan Adrien, suaminya.
Jantung Isla seolah diremas membatinkan Adrien sebagai suami, sejenak ia berbalik menatap pria miliknya yang juga tengah berpelukan dengan orang tuanya.
"Hija." Hugo mendekap Isla tanpa berkata apapun, pria berambut putih tersebut mengakhiri sesi pelukan dengan sebuah kecupan di kening yang lama.
...
Acara pagi itu diakhiri dengan makan bersama, dan itu pun berupa nasi kotak yang mereka santap di dalam ruangan perawatan eyang uti.
"Kita sepertinya tidak habis menikahkan." Celetuk Radit dan yang lainnya tertawa kecil
"Iya Dit, serupa kumpul keluarga." Sahut Keanu terkekeh
"Ternyata bagus juga pernikahan seperti ini, tidak ada perasaan kehilangan anak kita yang di ambil oleh keluarga lain." Radit melirik Isla yang duduk bersisian dengan Hugo dan Adrien berada di sebelah Keanu, tidak ada yang berubah malah pernikahan tadi semakin mendekatkan keluarga mereka.
"Dan orang kaya kelima dunia tidak di ambil orang lain." Kila memamerkan menantunya, Adrien terbatuk sementara orang-orang terbahak tawa.
Isla tertunduk sambil tersipu, ia pun mencuri pandang kepada suami tampannya. Di saat yang bersamaan Adrien mengarahkan pandangannya. Keduanya lalu saling melemparkan senyuman merekah.
"Karena pernikahan tadi untuk sahnya di mata Tuhan, berarti wedding party-nya menyusul. Apa kalian berdua sudah pernah membicarakan dimana akan menggelar pesta pernikahan?" Tanya Radit sebagai pemegang kendali di ruangan itu menatap bergantian Isla dan Adrien
"Kami belum pernah membicarakan sejauh itu, Yah." Sahut Adrien jujur. Fokusnya selama berpacaran dengan Isla adalah mendapatkan restu semua keluarga. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa akan menikah lebih cepat dari waktu pingitan yang tersisa.
Keanu menarik napas sambil bertatapan dengan Radit "Sebuah pesta besar ?" Tanyanya meminta pendapat
Radit mengedikkan bahu "Rien terkaya kelima, bang. Dia punya banyak kolega, teman di penjuru muka bumi.. Tentu saja sebuah pesta besar. Dan Rien harus menunggu berpuluh tahun untuk menikah, anak abang juga cuma 1.. Karena mereka tidak punya rencana berarti pesta penikahan kita yang ambil alih. Bagaimana jika pestanya di Lyon?" Ucapnya menatap pasangan berbahagia itu
"Kami sepenuhnya memberikan keputusan kepada keluarga, saya dan Isla bagian bersanding di pelaminannya saja." Canda Adrien, kembali keluarga besar mereka tergelak tawa.
Eyang uti tersenyum menyaksikan keharmonisan orang-orang terkasihnya, ia sangat berbahagia. Lengkap sudah perjalanan hidupnya, Arum Sari Girindrawardhana tak sabar untuk bertemu dengan suaminya dan menceritakan kejadian hari ini.
...
"Jadi?" Adrien menangkup jemari Isla, istri belianya yang tak henti mengumbar senyuman manis
"Jadi apa sih Kak?" Isla mengerutkan alis dan mengerucutkan bibirnya mungil, Adrien sangat tergoda untuk melabuhkan bibirnya namun sayangnya mereka berada di muka umum. Ia pun sadar jika punya waktu yang banyak di tempat lebih tertutup untuk melakukan itu. Segel sah telah dikantongi Adrien.
"Sudah bahagia?"
"Ish ! Memangnya kakak tidak bahagia."
Ya ampun, lucunya. Adrien melihat ekspresi Isla memberenggut manja.
"Sangat bahagia, tadi kau lihat sendiri seperti apa diriku di depan penghulu, Chérie."
Isla terkekeh keras perlahan wajahnya memerah dan mata memburam "Kak Adrien menangis, sampai papi Keanu terus-terusan memberikan tissu."
"Itu terharu bahagia Chérie, setelah sekian lama sendiri akhirnya menemukan jodoh. Dan jodohnya seorang gadis belia yang dulu cuma sekecil ini di gendongan." Adrien memperagakan menggendong Isla ketika berumur setahun lebih
"Kakak." Pekik kecil Isla sambil memerah
"Suami, masa sudah menikah masih memanggilku kakak ?"
Isla menyembunyikan wajah di lengan Adrien "Isla malu kak"
Adrien mendekap tubuh Isla, wanita yang menyerahkan usia belianya untuk menjadi seorang istri.
"Chérie, 7 bulan yang lalu ada seorang pria mengatakan kepadamu bahwa kau akan menikah di usia muda. Hari ini kau menikah dengan pria itu."
Isla mengangguk dalam dekapan Adrien, perasaan bahagia membuncah memenuhi dadanya.
"Sejak awal inilah yang aku inginkan, Isla. Menjadikanmu istriku dan hari ini aku mendapatkannya. Perjalanan kita masih panjang, Chérie. Belum pesta pernikahan, bulan madu kemudian..."
Suara dehaman membuat Adrien menghentikan ucapannya, tampak Radit berjalan mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Ayah mendengar pembicaraan kalian." Radit berdiri dengan tangan di saku celananya.
Adrien melebarkan manik birunya menatap Radit.
Radit menarik napas lalu tersenyum simpul "Begini.. Kalian berdua memang telah sah sebagai suami istri tapi.."
"Tapi apa, Yah?" Sergah Isla memajukan bibirnya
"Kalian belum boleh melakukan hubungan suami istri. Rien, bertahanlah hingga pesta pernikahan kalian sudah digelar, ayah tidak mau Isla hamil membesar ketika memakai gaun pestanya atau mual muntah seperti mamamu saat fase mengidam."
"Ayah..." Seru Isla "kan boleh pakai KB."
Radit terperanjat kaget mendengar ucapan anaknya, bibirnya jatuh dengan wajah melongo sementara Adrien hanya tergelak tawa lalu merangkul tubuh istrinya.
"KB tidak bagus, Chérie.. bagi usia muda sepertimu. Kita dengarkan saja permintaan ayah, aku juga sama... ingin melihatmu cantik mengenakan gaun pernikahan karena foto-foto itu akan abadi hingga berapa generasi keturunan kita." Ucapnya bijak dan Radit pun menganggukkan kepala tanda setuju
"Ayah.. tapi boleh kan tidur bareng Kak Adrien?" Tanya Isla merajuk
Radit tertawa kecil "Bukannya kalian sudah sering tidur bersama?"
"Ayah tahu?" Sahut Isla
Radit mendesah pelan "Hanya menebak, tapi melihat kemesraan kalian pastinya sudah di tahap itu. Tapi ayah percaya dengan Rien, bukan seperti pria kebanyakan. Logikanya jauh lebih cepat bekerja dibanding perasaan apalagi nafsunya." Ucapnya sembari menarik tangan Isla dan Adrien, ia pun kemudian menggamit tangan kedua anaknya berjalan kembali ke ruangan perawatan eyang uti.
"Semua orang sedang keluar nongkrong di kafe, membicarakan perihal pesta pernikahan kalian."
"Semuanya?" Isla menoleh menatap Radit, ayahnya yang kemudian menganggukkan kepala sebagai jawaban pertanyaan darinya
"Kata abang, kalian sedang membangun rumah di Lyon."
"Iya.. masih tahap awal, Yah. Kata papa akan selesai tahun depan." sahut Adrien
"Ayah dan ibu sudah janji untuk tinggal bersama, jadi harus ikut Isla." ucap gadis belia sembari menjatuhkan kepala di lengan ayahnya
Radit menoleh ke arah Adrien "Tidakkah kau keberatan dengan dua orang tua seperti kami tinggal bersamamu?"
Pria yang telah mengurai rambut panjang coklat keemasan miliknya menggelengkan kepala "Justru sangat senang jika ayah dan ibu tinggal bersama dengan kami."
Radit menghela napas lega "Terima kasih nak." Ucapnya mengeratkan gamitan tangannya
"Kemana kalian akan berbulan madu?" Tanya Radit lagi
Isla membulatkan mata menatap ayahnya "Jangan bilang ayah juga mau ikut, hingga jadwal bercinta juga ayah yang atur."
"Chérie !" Pekik Adrien sontak menatap ke arah istrinya, Radit sesaat membeku di tempat mendengar ucapan Isla kemudian tertawa terpingkal-pingkal
"Rien, maafkan anak ayah yang seperti ini. Seperti yang ayah katakan, kau harus banyak bersabar dengan Isla. Mohon kau maklumi saja, nak."
Adrien menarik senyuman simpul di bibirnya "Saya menyukainya, Yah. Isla seperti itu sungguh menggemaskan."
Radit mendecih dan Isla tertawa cengengesan "Dasar pasangan aneh." Gerutunya bercanda "Isla, dari mana kau belajar kata-kata seperti itu nak?"
"Dari Kak Adrien!" Imbuhnya cepat dengan suara manja, sang suami pun hanya bisa terkekeh
Radit menggelengkan kepala "Rien bukan pria seperti itu sayang. Sepertinya Kak Iyo-mu deh.. cuma dia yang bisa meracuni anak polosku dengan kata-kata seperti itu."
Isla terdiam mengiyakan dalam hati sementara kedua pria yang berjalan dengannya masih tertawa penuh bahagia.
...
Menjelang tengah malam, eyang uti menghembuskan napas terakhir dengan tenang disertai wajah yang tersenyum. Kepergiannya ditemani oleh Radit, anaknya beserta pasangan yang baru tadi pagi mengikrarkan janji di depan Tuhan dan keluarga besar mereka untuk mengarungi hidup bersama.
Satu lentera kehidupan perlahan meredup dan mati sementara lentera kehidupan rumah tangga Adrien dan Isla baru saja dimulai.
###
__ADS_1