
Hanya hening yang tercipta momen Khaleesi resmi sebagai istri sah Adrien Dierja Pranaja, pria tampan bersuit hitam dengan kemeja putih sedang menandatangani berkas-berkas pernikahan.
Mereka meresmikan pernikahan di Kedubes Indonesia yang hanya dihadiri kedua orang tua Adrien yakni Keanu, Adriana dan Rahayu, Oliver, beserta Danucipta Hengkara yang datang ke France demi anak sulungnya.
Sangat jauh dari pernikahan impian Khaleesi, dulu diangannya sebuah pernikahan ala jawa ningrat dengan Deawa, kemudian sebuah pesta mengambil tema garden party di Hotel Hengkara miliknya. Namun kenyataannya seperti ini, tanpa pakaian adat, dansa dengan gaun putih, musik bergema, tamu yang ramai, makanan khas yang berlimpah, tak ada semua itu.
"Selamat Pak Adrien dan Nyonya Pranaja" ucap bapak yang berkemeja putih yang mengurus pernikahan mereka.
Pelukan singkat dari Adrien, sambil menepuk punggung Khaleesi setelah mereka menyalami para petugas.
"Selamat yah nak" Danucipta tak bisa menyembunyikan mendung di wajahnya, adalah Rahayu mantan istrinya yang menceritakan permasalahan anak gadisnya. Ia tidak bisa marah, atau berbuat apa pun lagi kecuali datang dan merestui pernikahan Khaleesi dengan pria yang hanya berstatus teman anaknya.
"Maafkan Khale ya pa" gumam Khaleesi terisak dalam dekapan erat papanya. Setiap bertemu dengan Danucipta, Khaleesi hanya bisa meminta maaf, tak ada yang bisa terucap dari bibirnya untuk sosok yang sangat dihormatinya itu.
"Sekarang hidup yang baik-baik yah nak, hormati suamimu. Dengarkan apa pun yang dia katakan, jangan membantah. Adrien pria bagus, dari keluarga terpandang. Orang tuanya sangat baik, kamu sungguh beruntung bertemu dengan Adrien nak"
"Semoga kalian langgeng hingga tua nanti" lanjut Danucipta yang membuat Khaleesi tercekat sedih.
Tidak ada yang tahu jika pernikahan ini hanya akan bertahan hingga ia melahirkan, kecuali Adrien. Pernikahan kontrak, hanya demi menyelamatkan nama besar keluarga Khaleesi. Tidak ada yang menguntungkan di pihak Adrien, semua hanya pengorbanan tanpa pamrih temannya itu.
..
Dua hari setelah menikah Adrien memboyong Khaleesi untuk tinggal di rumah baru mereka. Bukan mansion tempat tinggal Adrien yang penuh dosa pesta dan wanita yang silih berganti datang menghangatkan tempat tidurnya.
Sebuah rumah berlantai dua dengan 5 kamar tidur dan 1 ruang kerja, rumah mewah yang terletak di pusat kota Lyon. Adrien pun memperkerjakan dua pembantu yang berasal dari Philipina yang melayani Khaleesi, ia tidak mau wanita hamil muda itu menyentuh pekerjaan rumah termasuk memasak.
Khaleesi memilih tidur di kamar di lantai bawah, sementara Adrien memilih kamar tidur di lantai dua berdampingan dengan ruangan kerjanya.
Tidak ada yang istimewa dengan kehidupan pernikahan mereka, semua berjalan seperti sebelumnya. Hidup seatap sebagai teman, tak lebih dari itu.
Khaleesi tidak bisa berharap lebih dari apa yang diberikan Adrien kepadanya, apa yang diterimanya sudah melebihi kapasitas seorang teman. Dari status istri hingga rumah mewah dan waktu Adrien yang sebagian telah tercurah untuk mengurusi kehamilannya.
Tidak ada teman seperti Adrien, pria sesempurna itu adalah "suami kontraknya" yang penuh kelembutan menjaga dan melindunginya sebagai wanita.
"Pagi Khale" sapa Adrien langsung duduk di depan wanita yang bergaun putih dengan rambut di cepol
"Pagi Rien, sudah mau ke kantor?" Balas Khaleesi memandang penampilan rapi pria di depannya, tubuh jangkung kokoh dibalut suit dark brown dengan kemeja putih, rambut panjangnya dikepit di telinga memperlihatkan rahang kokohnya yang bersih telah tercukur.
"Ada meeting pagi... " Adrien mengambil nasi goreng ke piringnya, dengan mempekerjakan pembantu dari Asia sungguh meringankan karena Darna dan Rosa sangat pintar memasak, dan mempunyai selera yang sama dengan cita rasa masakan Indonesia.
Seutas senyum tipis dari bibir Khaleesi melihat Adrien mandiri mengisi piringnya dengan nasi dan lauk. Sejak dirinya menginjakkan kaki di rumah ini, Adrien telah meminta untuk tidak dilayani sebagaimana mestinya seorang istri kepada suami.
Khaleesi sadar diri, penegasan Adrien tentang itu mengingatkannya bahwa mereka hanya sepasang suami istri di atas kertas, bukan di kehidupan nyata. Karena sejatinya seorang istri dalam pemahaman Khaleesi adalah melayani suami, kebutuhan suami dari hal kecil hingga tidur bersama.
Hal yang terakhir itu tidak mungkin terjadi, kontak tubuh mereka hanya sebatas pelukan, dan kecupan ringan di pipi dan di kening, tak lebih dari itu semua.
__ADS_1
"Khale.. nanti sore jadwal cek up"
"Kamu akan mengantarku?"
"Yahhh.. pastinya baby, I'm your husband.. jika saja kamu lupa" senyum miring yang sangat seksi di bibir Adrien membuat dada Khaleesi berdesir, ia hanya bisa mengulum senyum sambil mencengkeram sendoknya.
"Thank you Rien"
Pria tampan di depannya terkekeh ringan
"Jam 2 siang aku sudah pulang, aku menjemputmu ke dokter terus makan malam di rumah. Mama mengundang kita" Adrien menaikkan kedua alisnya meminta persetujuan Khaleesi yang dibalas anggukan kepala dari "istrinya".
...
Adrien berlari kecil setelah turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Khaleesi. Setelah melakukan pemeriksaan bulanan Khaleesi, mereka langsung menuju ke rumah orang tua Adrien.
Rumah yang sangat sederhana menurut Khaleesi untuk ukuran keluarga Pranaja yang mempunyai segalanya. Kata Adrien rumah itu mempunyai banyak cerita dan kenangan perjuangan papa dan mama memulai kehidupan di Lyon. Hingga mereka sukses pun tetap bertahan tinggal di rumah yang mempunyai halaman yang sangat luas tersebut.
"Hai Khale" seru Adriana riang menyambut menantunya "bagaimana hasil pemeriksaannya?" Sambungnya sambil memeluk Khaleesi
"Baik ma, semua sehat"
"Thank's God. Lain kali ajak mama untuk temani yah"
Khaleesi mengangguk dengan wajah merona. Tidak ada yang diinginkannya selain ini, keluarga "suami" yang menerima dirinya apa adanya. Sejak awal Adriana dan Keanu tidak mempermasalahkan keadaan Khaleesi, entah apa yang menjadi pertimbangan mertuanya.
Tampan, jenius, kaya raya, sempurna luar dan dalam, semoga anakku kelak seperti Adrien. Bukan ******** seperti Jean.
...
"Maafkan mama memaksa kita untuk bermalam Khalee" ucap Adrien membuka pintu kamar tidurnya "dengar kan kata mama tadi, kamarku bersih. Jadi kita bisa tidur di sini"
Ini kali pertama Khaleesi masuk ke dalam kamar tidur Adrien, dia pun melayangkan pandangan pada kamar yang berdesign minimalis berukuran 4x6 meter persegi dengan warna abu hitam mendominasi kamar tersebut.
"Nyaman... Dan elegan. Sungguh berbeda dengan kamarmu di rumah kita Rien" ujar Khaleesi mengingat kamar tidur Adrien yang bernuansa putih bersih.
Wanita cantik itu pun mendudukkan bokongnya pada tepian tempat tidur, sementara Adrien membuka lemari berwarna sama dengan dinding kamar pria itu.
"Sebelum renovasi warnanya sangat tidak jelas baby, pernah biru, merah, terus terakhir putih kemudian aku renovasi menjadi seperti sekarang kamu lihat ini"
Mata Khaleesi terpaku pada bingkai foto besar yang di dinding dekat pintu masuk, foto Adrien dengan Aurora sedang berpelukan.
"Umur berapa kamu di foto itu?"
Sejenak Adrien menoleh melayangkan pandangan ke arah foto yang dimaksud Khaleesi. Senyum merekah dari bibir pria tampan itu pun langsung menghiasi wajahnya.
"16 tahun, dan Aurora 18 tahun. Lihat backgroundnya di papan Hollywood. Saat aku kuliah di Harvard, dia datang mengunjungiku" sahut Adrien sambil mengambil pakaian "kamu pakai bajuku untuk tidur, aku sebenarnya punya beberapa baju Aurora yang tersimpan di lemari, tapi..."
__ADS_1
"Aku pakai ini saja" potong Khaleesi mengambil baju dan celana dari tangan Adrien, tubuh ringkihnya pun beranjak menuju kamar mandi yang berada di sebelah kiri tempat tidur.
Terima kasih sudah jujur Rien, jika kamu menyimpan pakaian Aurora. Aku juga sadar diri jika tidak mungkin kamu mau aku memakai baju Aurora, wanita yang kamu cintai.
Ketika Khaleesi kembali dari kamar mandi dan telah berganti pakaian, ia melihat lantai sudah terhampar bedcover berlapis dengan dua bantal dan selimut berwarna hitam.
"Aku tidur di bawah yah Khale, mama papa pasti akan curiga jika aku tidur di kamar lain. Kamu tidak apa-apa kan?"
Sambil mengulum senyum Khaleesi mengangguk, yang sebenarnya ia berharap mereka bisa tidur di bed yang sama. Sayang, Adrien membatasi diri dengan membangun dinding tinggi di antara mereka.
"Ya sudah aku mandi dan sekalian ganti baju dulu" ucap Adrien melangkahkan kakinya masuk ke kamar mandi.
Sepeninggal Adrien, mata Khaleesi tertarik pada album foto berwarna vintage yang berada di rak depannya. Dengan hati-hati wanita itu mengambil dan membawanya ke tempat tidur.
Album yang sangat tebal, berbeda dengan album-album foto yang berada di ruangan tengah, pada sampul kedua tertulis "Adrien and Aurora Forever"
Foto di mulai dari Adrien kecil bermain dengan Aurora, foto mereka tidur bersama yang saling berpegangan tangan. Foto sedang berwisata yang tidak pernah sekali pun keduanya melepaskan tautan jemari bahkan saling berpelukan. Foto berdansa. Makin Khaleesi buka album foto tersebut, Adrien dan Aurora pun beranjak dewasa.
Tangannya berhenti pada lembaran tanpa gambar melainkan surat berwarna pink.
Halo Adrien-ku..
Selamat ulang tahun ke 15 semoga makin pintar dan jangan tambah tinggi lagi, nanti aku tidak bisa mencium pipimu, hahaha.. Maaf kakak tidak bisa datang ke Lyon karena sibuk mau ujian kelulusan sekolah dan sungguh sedih kamu tidak sempat kembali saat liburan ke Indonesia. Huhuhu..
Kakak bingung mau kasih kado apa tahun ini, ya sudah aku belajar sama mama buat baju. Cuma kemeja biasa berwarna biru seperti matamu, semoga kamu suka. Maaf kalau jahitannya kurang rapi, namanya juga belajar. Hahaha... Kakak tidak punya bakat seperti Lika.
Aku merindukanmu Rien, semoga secepatnya kita bisa bertemu.
Peluk cium dari Pulau Dewata.
Aurora Kila
Mata Khaleesi berair membaca isi surat itu apalagi di bawah nama Aurora Kila sebuah tulisan tangan yang berbeda "aku mencintaimu kak".
Entah sejak kapan Khaleesi mulai merasakan perasaan cemburu pada sosok Aurora pengisi hati Adrien, jelasnya setiap kali melihat jejak perasaan suaminya kepada kakak sepupunya membuat hatinya memerih.
Sejak mereka menikah Khaleesi selalu berandai-andai, andai sejak awal bertemu di Jogja ia langsung dekat dengan Adrien, atau andai di France ia bertemu dengan Adrien bukan dengan Jean. Dekat bukan sekadar berteman, mungkin sekarang ia tidak hamil di luar nikah. Karena Khaleesi yakin Adrien bukan tipe pria yang menanamkan benihnya ke sembarang wanita.
Andai mereka memiliki hubungan istimewa pastinya Adrien tidak akan mencintainya sebesar cinta pada wanita di bingkai foto itu. Khaleesi tidak bisa bersaing pada wanita yang senyumannya hangat seperti sinar mentari. Kata-kata Aurora yang dibacanya sesaat tadi pun terdengar mendayu, penuh ceria terbalut rindu.
Khaleesi masih ingat dengan jelas ekspresi Adrien saat bersama Aurora, tatapan memuja penuh cinta sekaligus manja kepada kakak sepupunya.
Sebulan menikah dengan Adrien, tak sekali pun Khaleesi lihat ekspresi itu.
###
__ADS_1
jika ingin tahu penyebutan "Rien" buka youtube Edith Piaf - Non, Je Ne Regrette Rien, sebenarnya Rien artinya Nothing.. but Adrien berarti Laut atau Air.