
"Kamu tidak usah mengantarku sampai ke depan Khale" kekeh Adrien melihat Khaleesi yang perutnya sudah mulai membuncit, dengan masa kehamilan yang telah memasuki minggu ke 19.
"Aku ingin melihatmu berangkat kerja" sahut Khaleesi berdiri di ambang pintu, rutinitas senin-jumatnya mengantar Adrien walau pria itu selalu menyarankannya untuk beristirahat selepas sarapan bersama mereka
Khaleesi tidak tahu apakah Adrien bosan dengan kebiasaan mengantar "suaminya" itu, namun bagi Khaleesi sangat menyenangkan sekaligus membuatnya kehilangan. Ia akan terpisah entah berapa jam tanpa kehadiran Adrien di rumah, yang pastinya pria itu sibuk dengan pekerjaaannya di kantor.
Terkadang Adrien pulang cepat, namun terkadang pula Khaleesi sudah tertidur ketika pria itu sampai di rumah. Sengaja pintu kamar tidurnya tak dikunci, agar Adrien bisa masuk dan melihatnya, Khaleesi bisa merasakan belaian lembut di rambut atau kecupan hangat di keningnya dari pria itu. Hal kecil yang membuat hatinya menghangat dan tidurnya lebih lelap.
"Masih belum mau membeli kebutuhan untuk bayinya?" Tanya Adrien memandang ke perut Khaleesi, tak lama kemudian usapan lembut dari Adrien ke perut buncitnya, usapan yang membuat seluruh aliran darahnya mengalir kencang.
"Nanti Rien... Kita tunggu sampai masuk bulan ke 6 yah" Khaleesi tertawa kecil sambil menahan tangannya untuk tidak ikut naik ke atas punggung tangan Adrien yang masih membelai perutnya
"Kita beli yang unisex baby, untuk warna jangan beli pink atau biru. Mungkin putih atau warna netral lainnya" Adrien menarik tangannya dari tubuh Khaleesi membuat wanita itu merasa hampa
"Aku akan pikirkan itu Rien. Toh kamar di sampingku belum kamu kosongkan" kata Khaleesi mengingatkan kamar tidur yang akan dipakai sebagai kamar tidur bayinya.
"Oh iya, nanti aku akan minta pekerja mengosongkan kamar itu. Mungkin sekalian kita minta di cat baru? Coba pikirkan cat bermotif seperti apa yang bagus untuk anak bayi" ujar Adrien dengan tutur kata yang lembut
"Baiklah hari ini aku akan mencari ide untuk kamar tersebut" Khaleesi mengulum senyum dan mengganggukkan pelan kepalanya.
"Take your time baby" kata Adrien menundukkan tubuh jangkungnya mengecup pipi Khaleesi "aku pergi dulu Khalee, jangan lupa makan siang tepat waktu, minum vitamin dan tidur siang yang cukup"
Khaleesi dengan jantung berdegup kencang memandang tubuh suaminya naik ke dalam mobil ferrari berpintu dua, mobil baru dibeli Adrien sebulan yang lalu.
Sementara itu Adrien lewat kaca spion tengah ia memandangi sosok Khaleesi yang melambaikan tangan mengantarkannya keluar dari pagar rumah mereka.
Hampir 3 bulan mereka menikah, banyak hal yang berubah pada diri Adrien. Dan itu sangat drastis. Misal, Adrien sudah tidak tertarik untuk bermain dengan berbagai macam wanita, tidak lagi mengunjungi pub atau semacamnya, itu sudah dicoret dari rutinitas sebagai penggila keramaian pesta. Selepas pekerjaannya di kantor, ia pasti langsung pulang ke rumah, Adrien ingin melihat Khaleesi, apa yang diperbuat wanita cantik hamil itu membuatnya tergesa untuk cepat sampai.
Mengenai bayi yang dikandung Khaleesi sudah Adrien anggap sebagai anaknya sendiri, walau hingga saat ini Adrien tidak pernah sekali pun merasakan gairah kepada istrinya melainkan perasaan kasih sayang yang sangat besar.
Adrien sangat menghargai Khaleesi, walau secara hukum dan agama mereka ada sepasang suami istri, namun Khaleesi sedang mengandung bayi pria lain dan pastinya di hati wanita muda itu masih tersimpan perasaan yang sangat besar kepada Jean.
Adrien tidak bisa menyentuh seorang wanita yang masih mencintai pria lain.
...
Ketukan pelan di pintu kamar Khaleesi membuatnya terbangun dari posisi malasnya yakni sedang terbaring bersandar pada kepala tempat tidurnya. Khaleesi pun menaruh tablet apple di atas meja nakas, selama sejam ia mencari design untuk kamar bayi.
"Maaf Mrs. Khaleesi, ada tamu untuk anda" ucap Darna pembantu yang baru berusia 20 tahun dengan terbata berucap dalam bahasa France, padahal Khaleesi telah mengatakan untuk berbahasa inggris saja jika berbicara dengannya
"Siapa? Aku tidak menantikan seseorang hari ini" sahutnya sambil menengok ke ruang tamu namun jelas rumah ini sangat besar, dia tidak bisa melihat siapa yang mengunjunginya
"Seorang ibu cantik berumur 50an"
Sekujur tubuh Khaleesi mendadak gemetar, di batinnya telah tahu siapa ibu cantik tersebut.
"Darna.. antarkan teh untuk ibu itu, dan aku akan mengganti pakaianku terlebih dulu"
Beberapa saat kemudian Khaleesi berjalan dengan sedikit tergesa, ia merasa bersalah membuat wanita cantik itu menunggu. Bukan kenapa, hampir 10 menit ia gemetar dan dilanda kegugupan di dalam kamar. Khaleesi hampir saja menghubungi suaminya, namun terakhir mengurungkan niatnya.
"Khaleesi !" Pekik Eloise yang tak lain mama Jean sontak berdiri dan memeluknya, deraian air mata dari wanita paruh baya itu tak tanggung-tanggung derasnya. Sama halnya Khaleesi yang menangis tersedu dalam dekapan hangat Eloise.
"Maafkan mama sayang, maafkan grandma little baby" ucap Eloise membelai perut Khaleesi yang terisak pilu dengan perbuatan mama Jean itu.
"Maafkan mama membuatmu menangis. Mari kita bicara sayang" Eloise membimbing Khaleesi untuk duduk di sofa berbahan leather terbaik di dunia.
__ADS_1
Wanita paruh baya yang masih sangat cantik itu dengan elegannya mengambil sapu tangan dari tas brandednya, lalu menepuk pelan pada pipi Khaleesi yang basah karena air mata.
"Menangis tidak baik untuk bayi, kamu harus bahagia" ucapan Eloise membuat Khaleesi menggigit bibir bawahnya menahan air mata untuk kembali menyeruak dari kelopak matanya
"Mama kenapa bisa tahu saya ada di sini"
Eloise mendesah pelan sembari memandang penuh cinta kepada Khaleesi, wanita muda yang sedang mengandung cucu pertamanya.
"Rahayu yang mengatakannya sayang, itu pun setelah aku mendesaknya selama seminggu. Oh Tuhan, aku sungguh ingin membunuh wanita yang mengambil suamiku!. Semua karena si ****** itu Khaleesi hingga kamu harus seperti ini"
Mata Khaleesi membulat dengan bibir bergetar, tangannya digenggam kuat oleh Eloise menandakan apa yang dikatakan wanita paruh baya itu benar adanya.
"Sayang... Jean yang malang dijebak oleh Sadie si ****** dengan bersekongkol dengan Hannah, mantan pacar Jean. Jika kamu ingin tahu, Hannah adalah pacar pertama Jean dari sekolah menengah. Anak bungsu mama dari dulu tidak bisa berkutik jika berhadapan dengan wanita itu"
Sampai di sini Khaleesi kembali terisak, justru penjelasan Eloise membuatnya makin sakit hati.
"Khaleesi, maafkan mama, terlebih maafkan Jean. Anak itu belum tahu jika kamu sedang hamil..."
"Ma.. tolong jangan katakan pada Jean" sergah Khaleesi dengan terbata
"Tidak sayang, Jean harus tahu. Bayi ini adalah darah dagingnya, hasil cinta kalian. Dia berhak tahu, berhak bertanggung jawab bukan membebankan pada pria lain yang tidak kamu cintai"
Salah ma.. aku sudah mulai mencintai pria yang menikahiku
"Ma... Aku sudah menikah"
"Mama tahu sayang, walau mama belum bertemu dengan suamimu tapi mama juga sudah tahu jika dia pria yang luar biasa hebat. Menikahimu untuk menjaga nama baik keluarga, itu pun yang dikatakan Rahayu tentang pria tersebut"
"Tapi... Posisi suami yang seharusnya adalah tempat Jean, anak itu tidak tahu sayang kalau kamu hamil. Mama sengaja datang ke sini untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa kamu sedang mengandung, dan sudah memasuki bulan ke 5 bukan?"
"Menurut Jean, dia ditekan oleh Syagrius Charpieu sialan itu untuk bertunangan dengan Hannah yang tak lain anak rekan bisnisnya. Khalee, atas nama keluarga Syagrius mama minta maaf atas perbuatan keluarga kami yang sangat tidak terpuji"
Wanita muda itu hanya menunduk, terisak sedih.
"Saham Jean pada perusahaan menjadi taruhan sayang, jika dia tidak menuruti keinginan Syagrius Charpieu sialan itu! Jean akan kehilangan semua sahamnya pada The Charpieu" jelas Eloise yang terus mengumpat kepada suaminya.
"Aku tidak habis pikir, apa maksud dari si ****** Sadie itu hingga berani menjerat anak bungsuku. Apa karena dia tahu jika kamu adalah kesayangan mama? Pilihan mama? ****** itu, ingin mengambil semua kesenanganku, kebahagiaanku, anak-anakku" Eloise menangis sembari merengkuh tubuh Khaleesi, kedua wanita berbeda usia saling memeluk dan meluapkan kesedihan
"Mama janji, akan mengembalikan Jean padamu sayang. Besok mama akan terbang ke New York, selama ini aku sudah cukup sabar dengan Syagrius dan Sadie" geram Eloise dengan rahangnya mengeras, marah
"Mama tidak perlu melakukan itu. Mungkin sudah jalannya seperti ini, biarkan Jean dengan kehidupannya sekarang..."
"Tidak ! Tidak Khale sayang, mama sangat tahu anak mama itu. Dia sangat mencintaimu, dia bahkan sudah merencanakan akan menikah setelah kamu menyelesaikan kuliah, semuanya telah Jean bicarakan dengan mama. Dan pastinya Jean akan hancur jika tahu kamu telah menikah sementara kamu sedang mengandung anaknya. Tunggulah sayang, Jean akan pulang. Mama janji itu"
...
Khaleesi melangkahkan kakinya yang berat menaiki tangga menuju ruang kerja Adrien, ia ingin menceritakan perihal kedatangan Eloise tadi siang. Khaleesi tidak bisa mengutarakan semuanya saat makan malam sejam yang lalu, namun setelah menimbang dengan matang membuatnya menapaki tangga yang sangat dilarang Adrien. Pasti semua demi keselamatannya.
"Bukankah di sana sudah tengah malam kak?" Suara Adrien riang membuat Khaleesi menahan langkahnya untuk memasuki ruang kerja suaminya
"Aku lapar Rien, sangat kelaparan membuatku terbangun. Bayi ini nafsu makannya tinggi, sungguh berbeda saat aku hamil Isla" suara lebih ceria terdengar jelas oleh Khaleesi, suara yang membuatnya menggigit bibir bawah
"Hahahaaaa.. pipi kakak seperti bakpao, sudah berapa bulan?"
"Masuk 5 bulan, nih lihat perutnya besar kan?"
__ADS_1
"Kakak cantik, lebih cantik saat hamil dibandingkan biasanya"
"Gombal!"
"Tidak kak, kamu cantik" kembali tawa membahana dari Adrien terdengar sangat bahagia "oh yah, sama dengan temanku. Dia juga sedang hamil 5 bulan"
Deg !
Hati Khaleesi tersayat mendengar ucapan Adrien.
Kami sudah menikah, aku istri sah. Dan hanya diakui sebagai teman !
"Wah berarti kami bisa melahirkan di waktu yang tidak berjauhan donk Rien"
"Sepertinya... Kak, sudah tahu jenis kelaminnya tidak? Cewek atau cowok?"
"Rahasia ! Hahaha.. oh yah kamu harus datang saat kakak melahirkan, janji"
"Iyahhh janji.. pasti sislove, aku akan ke Indonesia. Dulu juga aku ke Berlin demi kakak"
Khaleesi mencengkeram baju di bagian dada, wajahnya memerah menahan tangisan
"Aku merindukanmu Rien... "
"Aku lebih rindu mon amour" -my love
"Je t'aime Adrien"
"Je t'aime pour toujours et à jamais Aurora" -aku mencintaimu selalu dan selamanya
Khaleesi tidak tahan lagi mendengar panggilan video Adrien dengan Aurora, air matanya telah jatuh membasahi pipinya. Hatinya terluka mendapati Adrien mengungkapkan perasaan kepada wanita yang dicintanya.
Sungguh tidak ada celah sedikit pun untuk dirinya masuk ke dalam hati Adrien, sekecil lubang jarum pun.
...
"Sudah sayang-sayangnya... Makan dulu Kei. Oh yah Rien, istriku makan dulu yah"
###
pasti ada yang kangen Hugo Chan 🥰 tapi ini tempatnya Adrien 😁
Alo kesayangan ♥️,
entah apa yang terjadi dengan mangatoon, tapi sekarang proses approval memakan waktu berhari-hari.. padahal novel ini, author ingin kebut up..
novel lain juga mengantri..
jadi kalian harus sabar, karena author juga berusaha bersabar 😔 semoga pihak mangatoon bisa lebih cepat proses reviewnya😊
semangat 🤘🏻
love,
__ADS_1
D 😄