ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Life Priority


__ADS_3

Adrien terus mengembangkan senyum memandang gadis belia yang berjalan tanpa beban, riang di tengah teman kuliahnya. Gadis itu belum menyadari kehadirannya. Adrien tadi hanya mengirimkan pesan menanyakan keberadaan Isla, dan ketika gadis belia itu membalas bahwa sebentar lagi akan pulang kuliah, dia pun bergegas meninggalkan kantor walau sebenarnya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikannya.


Adalah rindu yang bergejolak di dada Adrien membuat mengambil langkah ini. Tak semenit pun bayangan Isla hilang dari pikirannya sejak pertemuan pertama mereka, Adrien seolah kehilangan akal sehat. Logika tingginya pun bersimpuh pada perasaan untuk pertama kali dalam hidup.


Jiwa muda Adrien bangkit, gelenyar di dada yang hanya dirasakannya puluhan tahun lalu kembali hadir. Dulu pikirnya hati telah mati, bersamaan dengan cinta yang tak pernah hadir lagi.


Mungkin ini salah menurut beberapa orang, namun Adrien tidak bisa mengontrol dirinya, seolah ada tali kuat tak kasat mata yang menariknya untuk terus mendekat ke arah Isla.


Semua di luar logika, namun begitulah cinta ketika telah menyentuh hati.


..


Akhirnya Isla sadar akan keberadaan Adrien, gadis belia itu langsung berlari kecil menuju ke tempat Adrien yang sedang bersandar pada mobil mewahnya.


"Hai paman!" Seru Isla dengan wajah ceria dengan mata ikut menyipit tanda bahagia, persis seperti Kila "sedang apa di kampusku?" Sambungnya terkekeh manis


Adrien mengepalkan tangan menahan keinginannya untuk tidak memeluk tubuh gadis belia di depannya, meski jantungnya berdebar dua kali lipat setiap memandang wajah Isla.


"Aku ingin bertemu denganmu.."


"Oh yah? Menjemputku?"


"Seperti itu" singkat Adrien mengedikkan bahunya, sementara debaran di dada terus menaikkan ritme


Isla tertawa kecil lalu mengurai senyum merekahnya bak bunga teratai yang hendak mekar. Sangat cantik.


"Baiklah.. apakah paman akan mengajakku makan siang sekalian?"


"Kakak... Bukan paman"


Isla menahan tawanya untuk tidak meledak di depan Adrien, pria dewasa atau mungkin sangat dewasa itu sejak kemarin selalu menolak untuk dipanggil "paman"


"Di kali dua pun umurku tetap umur paman masih jauh lebih tua" protes Isla sambil menggelengkan kepalanya.


"Apa aku tampak seperti om-om?"


"Hahaha.. baik Kakak Adrien, sebelum makan siang Isla traktir gelato deh, di depan sana ada kedai gelato yang sangat enak, mau?" Isla membujuk Adrien yang gusar. Melihat tingkah pria tampan itu membuatnya bingung, entah siapa yang harusnya bersikap lebih dewasa.


"Oke, aku mau!" Seru Adrien senang langsung membukakan pintu mobil untuk gadis belia pencuri jam tidurnya.


...


Adrien ikut berdiri di depan kasir ketika Isla sedang memilih gelato favoritnya


"Schokolade und Erdbeere" - coklat dan strawberry ujar Isla kepada pegawai gelato "paman mau rasa apa?" Sambungnya menoleh ke pria bersuit dark gray nan tampan, pria terkaya kelima dunia tak gengsi memasuki kedai gelato kecil di dekat kampusnya


"Samakan saja" sahut Adrien sembari memberikan dompetnya kepada gadis belia itu


Mata Isla membulat dengan seringaian kecil di sudut bibir mungilnya saat dompet Adrien di tangannya.


"Kan Isla yang traktir" Isla menyodorkan kembali branded wallet milik Adrien


"Kan aku sudah kerja"


"Memangnya cuma paman saja yang menghasilkan uang?"


Adrien mencebikkan bibirnya seolah tak percaya dengan ucapan gadis berusia hampir 19 tahun itu.


"Gelatonya saya yang traktir, makannya nanti paman yang bayar. Begini-begini Isla kuat makan, jadi siap saja bayar mahal kak" Isla tertawa ringan sembari menyodorkan gelato dua tingkat milik Adrien, yang sebelumnya telah dibayar menggunakan uang gadis itu

__ADS_1


Adrien dan Isla mengambil meja yang berada di dekat jendela depan, sengaja agar mereka bisa melihat jalanan di luar. Mungkin menjadi spot andalan orang kebanyakan, makan sembari mengedarkan pandangan pada keramaian jalan.


"Kalau pulang ke rumah pakai mobil atau di jemput papa?" Adrien membuka percakapan dengan tatapan kepada asyiknya Isla menikmati gelatonya


"Hari ini saya tidak pulang ke rumah kak, tapi nginap di apartemen. Jumat baru kembali ke rumah, itu pun di jemput papa atau sopir"


"Tidak punya mobil?"


Isla menelengkan kepala yang disambut mata memutar dari Adrien yang tidak percaya jika anak seorang pengusaha pabrikan mobil mewah namun tidak mempunyai kendaraan roda empat, semestinya Isla bisa asal tunjuk model apapun atau tiap hari gonti-ganti mobil berharga puluhan ribu hingga jutaan euro.


"Benar Isla tidak punya mobil, karena mobil yang menjadi jatahku telah diuangkan 2 tahun lalu kak" Isla menatap lurus ke arah Adrien sambil mengulum senyum


"Dipakai apa uangnya? 2 tahun lalu berarti masih sekolah menengah, sweet seventeen."


"Isla punya lembaga non profit namanya Bohemian House, rumah untuk adik-adik angkat Isla. Adik-adik yang tidak mempunyai keluarga, yang Isla temukan di jalan, atau mereka yang dengan suka rela datang dan tinggal di bawah pengawasan lembaga kami. Di Bohemian House, kami berikan tempat tinggal layak, disekolahkan, diberikan les-les yang berkualitas, umur adik-adik Isla sekarang termuda berusia 2 tahun yang paling besar 15 tahun"


Adrien tercengang mendengar penjelasan gadis belia di depannya, antara takjub dan terharu.


"Ini kak" Isla memperlihatkan foto di ponselnya kepada Adrien, sebuah bangunan bercat putih dengan papan nama "Bohemian House" berlantai dua dengan halaman yang cukup luas dilengkapi berbagai mainan untuk anak-anak.


"Dan mereka adik-adik Isla"


Tampak Isla berfoto dengan puluhan anak yang sedang tersenyum lebar, beberapa anak yang lebih kecil menempel pada gadis yang paling cantik di gambar itu.


Adrien tersenyum tipis dengan haru, bagaimana bisa seorang gadis berusia semuda ini bisa mempunyai jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi.


"Isla... Ceritakan bagaimana kamu memulainya?"


Isla menarik napas dalam lalu memandangi wajah Adrien yang serius, sekarang dia seperti berhadapan dengan pengusaha terkaya kelima dunia bukan dengan kakak sepupunya.


"Saat Isla berusia 7 tahun, Isla melihat ada seorang anak kecil meminta-minta di jalan, sambil menggendong adiknya. Dari situ Isla tanya kepada ayah, kenapa anak seumur Isla bisa ada di jalan raya dan tidak bersekolah. Ayah menjelaskan jika kemungkinan besar mereka adalah anak yatim piatu. Tidak mempunyai ayah dan ibu. Nah, sejak saat itu Isla berulang tahun di panti asuhan dan tidak lagi membuat pesta di rumah. Ketika berulang tahun ke 15 Isla meminta kado kepada ayah sebidang tanah, kepada papa minta dana untuk membangun sebuah bangunan yang kakak Adrien lihat tadi. 2 tahun lalu Isla meminta kado mobil seharga satu juta euro kepada papa, dan uangnya Isla pakai untuk membangun sekolah untuk adik-adik. Sekarang baru untuk sekolah dasar, Isla ingin membuat sekolah gratis hingga high school dan bukan hanya sekadar sekolah asal ada ijazah, namun mereka nantinya adalah lulusan yang mempunyai keterampilan sesuai minat dan bisa membuka sebuah usaha mandiri. Jika di antara mereka ada yang ingin melanjutkan kuliah, nantinya Bohemian tetap mendanai mereka. Oh ya kak, sekolah itu nantinya tidak hanya akan diperuntukkan untuk anak Bohemian, tapi juga untuk anak-anak yang kurang mampu" jelas Isla dengan panjang.


"Tuhan !" Ucap Adrien penuh kekaguman, berkaca-kaca sembari menangkup wajahnya. Gadis belia di depannya membuatnya jatuh lebih dalam lagi.


Kila telah menjabarkan jika anak sulungnya mengambil jurusan arsitek karena kecintaan Isla pada dunia design bangunan. Beberapa kantor Navarro adalah hasil design gadis belia itu.


"Tunggu sebentar" Adrien beranjak dari kursinya yang diikuti pandangan mata Isla melihat pria jangkung itu keluar dari kedai gelato menuju ke mobilnya yang terparkir. Adrien tak lama kemudian kembali dengan membawa dompet persegi panjang berwarna hitam.


Sesampainya di tempat duduk Adrien semula, pria tampan itu membuka dompet berbahan leather. Adrien pun menarik bolpoin pada bagian atas buku ceknya.


"Jadi Bohemian House bergantung dari uang jajan seorang Isla beserta pendapatan design?" Adrien mendongakkan kepala memandang ke gadis cantik di depannya


"Tentu saja tidak paman" kekeh Isla dengan jantung berdebar, tarikan tangan Adrien pada buku cek membuatnya sedikit pusing "mulai dari papa, ayah, papi Rui, teman-teman ayah rutin tiap bulan rutin berdonasi ke Bohemian. Oh yah Isla belum katakan jumlah adik-adik Isla sekarang sudah ada 91 anak"


"Wow... Itu banyak Isla. Kamu masih butuh perluasan tempat tinggal, makanan yang bergizi. Sekolah yang memadai dengan guru yang kredibel. Pengurus Bohemian yang lebih banyak dan telaten mengurus anak-anak yang tidak beruntung itu"


Isla mengulum senyumnya sambil manggut-manggut


Kembali Adrien meneruskan tarikan bolpoin di atas buku ceknya, tanpa ragu menuliskan sejumlah angka yang membuat Isla hampir menjatuhkan rahangnya pada lantai


"Mungkin ini cukup untuk sementara waktu. Coba kirimkan proposal Bohemian House ke kantorku, biar seterusnya dana tahunan CSR Bleuette Corporation mengalir ke Indonesia. Karena sebelum-sebelumnya kami mendonasikan dana CSR ke Afrika."


Adrien menyerahkan selembar cek kepada Isla, gadis belia itu pun menangis melihat angka yang dituliskan Adrien. 5 juta euro setara 74 milyar dalam kurs rupiah, baru saja pindah ke tangan Isla.


"Paman" Isla meluruhkan air mata dengan bibir bergetar


"Kakak...! itu angka yang membeli harga panggilan kakak, jangan ada sebutan paman lagi kepadaku" Adrien memberenggut kesal yang pura-pura, Isla di sela tangisan masih bisa tertawa kecil melihat tingkah pria bermata biru itu


"Bisakah aku memelukmu kak?"

__ADS_1


Adrien spontan berdiri dari kursinya, tanpa mengiyakan justru dirinyalah yang menarik Isla masuk dalam dekapannya.


"Thank you kak... Isla tidak tahu bagaimana berterima kasih kepada kakak yang seperti malaikat turun ke Bumi"


"Justru kamu yang malaikatnya Isla. Aku


harus menunggu puluhan tahun untuk bertemu sosok sempurna sepertimu. Sekarang kamu fokus kuliah saja, belajar yang rajin hingga jadi sarjana. Kecuali kamu harus menghentikan kuliah karena menikah muda, yah.... berarti cita-cita untuk jadi arsitek harus ikut kandas"


Isla menengadah dalam pelukan Adrien, kedua alisnya saling bertautan mendengar perkataan pria berwangi cendana itu


"Kakak ! Bagaimana bisa aku menikah jika pacar saja tidak punya!" Seru Isla dengan memanyunkan bibir mungil yang tak terjamah itu.


"Siapa tahu ada yang melamarmu?"


Isla mendecih pelan membuat Adrien semakin gemas kepada gadis belianya.


"Hanya saja... jika tiba-tiba ada pria yang melamarmu?" ucap Adrien separuh berbisik menggoda


"Mau makan apa kami kak? Rata-rata seusiaku masih kuliah, masih uang jajan dari orang tua. Sementara Isla punya banyak adik. Isla tidak pernah berpikir menikah muda, ya ampun 3 bulan depan baru 19 tahun kak."


"Kamu tidak seperti 19 tahun loh badannya, seperti hmmmm... 25 tahun" Adrien merasakan tubuh indah Isla dalam pelukannya


Dengan berani Isla menaikkan tangannya dan mencubit pipi Adrien hingga membuat pria dewasa itu bersemu merah merona.


"Kakak jahat ! Masa imut begini dibilangin 25 tahun!"


"Yang bertinggi badan 174 cm tidak ada yang imut sweet girl.. soal menikah, bagaimana jika ada seorang pangeran yang kaya raya kemudian melamarmu, apa Isla mau terima pinangannya?"


Isla tertawa kecil dengan wajah tersipu, matanya menari


"Hal itu hanya terjadi di dalam film kak, cinderella story. Di dunia nyata kecil kemungkinan seperti itu, gadis biasa bertemu pangeran,. sungguh menggelikan" gadis remaja yang berupa bunga yang sedang kuncup itu tertawa kecil dalam pelukan Adrien.


"Oh yah kak, kenapa kakak memberikanku cek sebanyak ini? Uang yang sangat banyak, bisa mewujudkan cita-cita kami di Bohemian." Isla mendongakkan kepalanya memandangi wajah tampan pria yang enggan melepaskan dekapannya. Pria yang seperti papa, suka memeluknya lama.


"Untuk kemanusiaan, uang tadi adalah hal kecil Isla. Dan perlu kamu ketahui bahwa mulai hari ini gadis cantik bernama Isla Bohemia adalah prioritas hidupku"


"Prioritas hidup ?"


"Ya.. prioritas hidup. Dan aku juga ingin menjadi prioritas hidupmu sweet girl. Jadi, bisa kan?"


Isla terdiam sejenak menautkan kedua alisnya mencerna arti prioritas hidup, jawaban tak didapatnya namun gadis belia itu kemudian mengangguk memberikan jawaban.


Adrien melabuhkan kecupan lembut di kening Isla, pria tampan itu sudah tak mempedulikan bahwa sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian seisi kedai, bahkan seisi dunia pun tak akan menjadi penghalang untuk bersama gadisnya.


"Karena prioritas hidup kakak sudah lapar, jadi sekarang kita harus pergi makan" ucap Isla disambut gelak tawa oleh Adrien


"Mau makan di mana? Bagaimana jika kita makan siangnya di Lyon, France. Rumah mama?" Adrien menyunggingkan senyum mengembang indah dan Isla hanya bisa tertunduk dengan debar jantung bertalu kencang.


###



alo kesayangan ♥️,


mank ada keputusan besar untuk perkembangan novel ini, namun Adrien adalah pria yang keukeh hatinya tidak bisa jatuh cinta, terpaku pada Kila. Walau bertahun tak berbalas.


itu kenapa, novel ini menjadi genre age gap - perbedaan umur yang jauh. mohon dimaklumi.


jika kurang berkenan, author minta maaf 😊

__ADS_1


love,


D 😘


__ADS_2