
Sejak malam itu Khaleesi menjadi dingin kepada Adrien, dia pun tidak menceritakan kedatangan Eloise kepada pria itu. Segalanya juga belum pasti, jika Eloise berangkat sesuai perkataannya hari itu, berarti sudah 5 hari mama Jean berada di sana. Dan hingga sekarang tak ada kabar lanjutan dari New York.
"Baby.. apakah kamu tidak badan?" Tangan Adrien meraba keningnya membuat Khaleesi memandang datar kepada pria tampan di depannya
"Tidak... Aku baik-baik saja" sahut Khaleesi pelan, suara nyaris tak terdengar
"Tapi berapa hari terakhir kamu terlihat lesu tak bertenaga Khale. Kita ke dokter saja" Adrien terlihat khawatir melihat kondisi wanita hamil tersebut
"Sungguh Rien, aku tidak apa-apa. Kandunganku juga sehat, aku merasakannya bergerak"
"Terus apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada" tukas Khaleesi berbohong, pandangannya ditundukkan pada piring berisi sandwich salmon yang baru digigitnya dua kali, dia tidak bergairah untuk menghabiskan makanan itu.
"Besok aku akan mengambil libur, apakah kamu kuat jika aku ajak berjalan-jalan seperti turis mengunjungi tempat wisata kota ini. Lalu kita mulai berbelanja keperluan si bayi"
Perubahan dari raut wajah Khaleesi yang semula murung menjadi ceria hanya mendengar ucapan Adrien.
"Katakan saja padaku baby, jika kamu bosan di rumah. Dan aku akan temani berjalan-jalan. Aku menikahimu bukan memenjarakanmu dalam rumah ini. Kamu bebas pergi kemana pun kamu suka, bukan hanya ke kampus dan rumah saja" jelas Adrien mengerti akan kesalahannya
Khaleesi setelah menikah tetap melanjutkan kuliahnya, terkadang Adrien mengantarnya ke kampus. Namun lebih banyak sopir kantor suaminya yang mengantar jemput Khaleesi ke Universite de Lyon.
"Aku mau ke Notre Dame" ucap Khaleesi spontan
"Kemana pun yang kamu mau baby... Besok aku milikmu" Adrien mengacak rambut Khaleesi lembut
Bolehkah aku memilikimu untuk selamanya?
...
Hati Khaleesi menjadi riang setelah Adrien berangkat ke kantor, sambil bersenandung wanita berbadan dua itu pun membuka lemari pakaiannya. Mematut diri di depan kaca berbingkai kuningan dengan dress yang berbeda.
"Tidak ada yang bagus... Aku seperti kasur di gulung terus dipakaikan dress" gerutu Khaleesi menghempaskan bokong seksinya yang membesar karena kehamilan menambah ukuran pada bagian-bagian tertentu di badannya
"Aku harus tampak cantik untuk besok, setidaknya perut ini tidak membuatku kelihatan besar" sambungnya masih bergerutu "maafkan mama nak, tapi mama juga ingin berkencan dengan papa Adrien. Jadi besok jangan rewel yah, jadi anak kuat demi kebahagiaan mama" usapan lembut Khaleesi pada perutnya membuat ada gerakan dari dalam seolah mengerti akan curahan hatinya
"Anak mama sayang juga sama Papa Rien kan? Harus.. karena papa Rien orangnya baik, sangat baik, sangat tampan dan senyumannya juga sangat indah. Nanti anak mama juga lihat seperti apa papa Rien. Sebentar lagi nak, 4 bulan lagi. Jadi kamu harus sehat yah sayang" lanjutnya mengajak sang bayi berbicara
Kembali gerakan dari dalam perut membuat hati Khaleesi bahagia, tak pernah sekali pun terlintas di pikiran Khaleesi untuk menggugurkan kandungannya, anaknya tak berdosa. Orang tuanya pasti.
...
Dengan dibantu Jose, sopir kantor Adrien - wanita muda itu menurunkan semua belanjaan pakaian beserta sandal dan sepatu yang dibelinya atau bisa dikatakan diborong Khaleesi di C'est La Vie, butik yang cukup besar berada dekat kampusnya. Khaleesi lupa diri saat di butik tadi, semua terlihat indah menawan, bahkan dia membeli pakaian untuk ukuran sebelum berbadan dua. Pastinya dia harus berolahraga yang rutin paska melahirkan nanti jika ingin memakai pakaian-pakaian tersebut
Khaleesi tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang di C'est La Vie, dengan total pembelanjaan yang hampir 10 ribu euro, sangat wah jika di kurskan ke dalam mata uang rupiah. Yang tentu saja dia menggunakan kartu platinum dari Adrien, tak berlimit dan sesuka hati bisa dia gunakan kapan saja dia mau.
__ADS_1
"Pumpkin.... " Suara lirih membuat Khaleesi berbalik dan dia melihat pria tinggi dengan rambut acak-acakan berdiri di belakangnya
Khaleesi melangkah mundur dengan tubuh gemetar, dua kantongan pakaian terjatuh dari genggaman tangannya. Dia seolah melihat hantu, hantu yang sangat tampan dan kurang tidur.
"Pumpkin... " Selama mereka berkencan, ini kali pertama Khaleesi melihat air mata Jean, terlebih derasnya seperti rinai hujan di bulan Desember.
"Pergi... !" Pekik Khaleesi histeris, tubuhnya sekarang seolah tak bertulang. Dia hampir terjatuh, namun tangan kokoh Jean menahan tubuhnya yang lalu didekap pelan oleh pria yang tak lain ayah dari bayi dikandungannya.
"Non.. aku tidak akan pergi Khaleesi" gumam Adrien lirih dengan matanya masih menjatuhkan cairan bening. Hatinya terluka melihat sosok wanita yang dicintainya sedang hamil hasil percintaan mereka, sementara selama ini dia sedang mengikuti alur permainan nenek sihir yang telah dilabraknya, dua hari lalu. Termasuk Hannah dan juga papanya.
Andai Eloise, mamanya tidak datang mengatakan kondisi Khaleesi, mungkin sekarang Jean telah bertunangan dengan Hannah, wanita yang bersifat rubah sama halnya dengan Sadie -pelacur yang dinikahi Syagrius, papanya.
"Khaleesi.. entah apa yang harus aku katakan kepadamu, tapi maafkan aku sayang. Maafkan aku! Terlalu bodoh dan naif, masih memikirkan harta dibandingkan perasaanku kepadamu. Aku terus mencari jalan supaya sahamku aman dan aku bisa kembali ke Lyon, bersamamu"
"Lalu mama datang, mengatakan kamu sedang hamil anak kita Pumpkin.. Demi Tuhan, Khaleesi! Kenapa kamu tidak mengatakannya lewat pesan saja. Tahu tidak bahkan teleponku pun di sadap oleh nenek sihir itu" tangan besar Jean kemudian membelai perut buncit Khaleesi, gerakan kencang pun terasa di telapak tangan pria itu
"Iya nak, ini papa.. " Jean bersimpuh di depan Khaleesi menempelkan bibirnya pada perut buncit wanita hamil tersebut.
Jean dan Khaleesi menangis, entah sedih atau bahagia. Semuanya bercampur dalam satu nada, kerinduan.
"Aku sudah menikah dengan Adrien"
"Khaleesi, aku ayahnya. Aku yang berhak membesarkannya. Ia anak kita, hasil perbuatan kita. Sangat tidak lazim memberikan tanggung jawab ini kepada pria lain. Non ! Begitu tahu kamu mengandung, aku memberikan pelajaran kepada orang-orang tersebut dan lalu terbang kembali ke sini. Pumpkin, aku melepaskan sahamku. Aku sudah tidak peduli dengan itu semua, aku hanya ingin hidup bersama denganmu dan anak kita" Jean mendongakkan kepalanya memandang Khaleesi yang sama dengan dirinya, banjir dengan air mata.
"Aku tidak punya apa-apa lagi Khaleesi, selain tabungan dan tempat tinggalku sekarang. Maukah kamu menerimaku sebagai Jean tanpa Syagrius lagi? Aku telah menanggalkan nama keluargaku Pumpkin. Nama yang mengekangku, nama yang sama dengan nenek sihir itu. Aku tidak sudi bernama sama dengan pelacur itu" pekik Jean dengan suara bergetar menahan amarah
"Ya pumpkin"
"Apa kamu mencintaiku?"
"Demi Tuhan Khaleesi Adalyn, hanya kamu satu-satunya di muka bumi yang aku cintai. Yang kedua ini" ucap Jean mengusap perut Khaleesi
"Khale !!! Untuk apa ******** itu di rumahku!!!" Suara tinggi dari Adrien membuat keduanya sontak mengalihkan pandangan ke asal suara, Pria berwajah tampan berbeda dengan Jean sedang berdiri dengan mata membelalak marah
Setengah berlari Adrien menghampiri Jean dan menarik kemeja pria itu, Khaleesi pun terpekik.
Bug !
Tinju bersarang di rahang Jean disertai teriakan dari Khaleesi
"Rien ! Tolong berhenti!" Jerit Khaleesi memeluk tubuh Jean yang setengah sadar hanya sekali pukulan dengan darah segar mengucur dari sudut bibir pria malang itu.
"Tidak apa-apa Pumpkin, aku layak mendapatkan ini. Lepaskan aku, biarkan jika Adrien masih ingin memberiku pelajaran. Mati pun aku rela sayang"
Adrien berdecih kasar mendengar perkataan Jean yang terkesan merayu, dengan tatapan tajam dia lalu memandangi pria dalam pelukan Khaleesi.
__ADS_1
"Selesaikan urusan kalian!" ujarnya berbalik kembali ke arah mobil ferrarinya.
Khaleesi memandang punggung pria yang sesaat tadi meluapkan amarahnya, tubuh jangkung itu pun menghilang masuk ke dalam mobil berwarna hitam.
Sekarang hatinya membimbang seiring deru mobil Adrien menjauh membelah jalanan dan rintihan kesakitan dari bibir Jean.
...
Jean meringis pelan saat Khaleesi memberikan cairan antibiotik di sudut bibirnya, warna membiru memar mulai membengkak pada pipi kanan pria itu. Khaleesi sangat yakin besok Jean tidak bisa menggerakkan bibirnya dengan normal.
"Maafkan Rien, Jean"
Pria itu pun mengangguk lemah
"Aku yang salah sayang, lebih dari ini aku siap" sahutnya mengirit gerakan bibirnya yang kesakitan setiap dia berbicara.
"Kompres dulu, semoga bengkaknya bisa terhambat" Khaleesi mengambil bungkusan plastik berisi es berwarna kristal dan meletakkan di pipi Jean yang hanya bisa meringis pelan. Harga diri yang sangat tinggi membuat pria itu tidak terlalu menampakkan kesakitan yang dirasakannya.
"Khaleesi, seperti apa hubungan kalian? Ujar Jean memandang dengan sendu dengan mata yang tidak pernah berhenti berembun "apakah seperti pasangan suami istri lainnya?"
"Tidak Jean, kami tidur terpisah" Khaleesi tidak bisa berbohong kepada Jean, karena kenyataannya memang seperti itulah yang terjadi. Tidak ada yang perlu dia tutupi.
Helaan napas panjang penuh kelegaan dari Jean, pria itu kemudian berusaha duduk tegak yang tadinya bersandar dengan posisi kepala yang sangat nyaman pada sofa di ruang tamu.
Jean meraih tangan wanita yang sangat dicintanya itu, menggenggamnya.
"Pumpkin.. maafkan aku atau hukumlah aku sepanjang hidupku tapi kamu harus memberiku satu kesempatan lagi. Ijinkan aku membahagiakanmu, merawat anak kita, membesarkan buah hati kita"
Air mata Khaleesi meluruh, jatuh di pipi mulusnya.
"Jangan menangis sayang... " Ucap Jean menghapus lembut jejak cairan bening itu "cantikmu berkurang jika kamu menangis. Tahu tidak, kamu sangat cantik dengan ini" sambungnya membelai perut buncit Khaleesi
Wanita muda itu menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan, tersedu lebih keras dari sebelumnya.
"Pumpkin... Maafkan aku"
"Jean.. apakah kamu mencintaiku?" tanyanya lagi, Khaleesi mendamba kata cinta yang lebih banyak. Kata yang tidak didapatkannya berapa bulan terakhir.
Jean mengurai pelukan wanitanya, menghapus air mata Khaleesi dari wajah yang memerah
"Lihat mataku pumpkin, hanya ada kamu di sana. Sejak pertama kita bertemu, kamu telah mencuri hatiku. Aku mencintaimu Khaleesi, sepenuh hati dan jiwaku. Hanya ada kamu di sini" Jean meraih jemari lentik Khaleesi dan meletakkan di dadanya
"Tentu saja aku mencintaimu Khaleesi, wanita tercantik yang sedang mengandung anakku. Aku mencintaimu..." ucap Jean dengan air matanya tak malu jatuh dari pelupuk iris biru itu.
###
__ADS_1
Jean