
Betapa kagetnya Adrien melihat sosok yang membukakan pintu rumah Isla, sangat berdosa jika ia mengatakan Rinjani adalah orang terakhir yang ingin dilihatnya dalam kondisi seperti ini.
"Adek ?" Ucap Keanu tak kalah terkejutnya melihat Rinjani.
Adriana menggenggam jemari Adrien, menguatkan anaknya yang terbaca dengan wajahnya memucat.
"Abang." Rinjani langsung memeluk lama kakaknya lalu berpindah ke Adriana.
Rinjani menatap Adrien dengan dalam sebelum memeluk tubuh keponakan tampannya.
"Saya berada di pihakmu nak, tapi.." Rinjani menarik tubuhnya menyudahi pelukan dengan tepukan di lengan Adrien
"Ayo masuk dulu." Rinjani kembali menggamit Keanu sementara Adrien bersama mamanya.
Di ruang tamu terlihat Kila dan Hugo duduk dan terdiam namun begitu melihat rombongan keluarga Adrien, kedua orang tua Isla spontan berdiri dan memeluk satu persatu keluarganya.
Adrien kemudian di tarik oleh Kila keluar dari ruang tamu menuju area kolam renang.
"Dek.. kenapa kau tidak pernah mengatakan jika dulu kau pernah menikah." Ucap Kila yang langsung menohok jantung Adrien.
Sialan kau Khaleesi !
Adrien mengetatkan rahangnya dengan mata mulai memburam. Ia tak berani menatap lama-lama wajah Kila.
"Aku hanya menolongnya kak.. wanita itu sedang hamil dan pacarnya tidak ada kabar. Ya Tuhan kak !" Adrien menggeram dengan kedua tangan mengepal
"Adrien... Aku dan Hugo tahu jika kau menjalin hubungan spesial dengan Isla."
Mata Adrien membulat diiringi debar jantung yang meningkat, ia kemudian memfokuskan dirinya kepada Kila dan perkataan wanita itu. Keduanya kemudian mengambil tempat duduk pada meja makan yang berada di luar.
"Rien... Jujur... awalnya aku tidak setuju dengan hubunganmu dengan Isla. Tapi Hugo meyakinkanku, ternyata dia telah tahu jauh sebelum berita kalian naik di media online. Hugo merestuimu... Padahal Isla adalah anak kesayangannya."
Adrien menelan salivanya sembari mendengarkan dengan seksama perkataan kakak sepupunya. ia merasakan ada sedikit cahaya menyinari hatinya.
"Tapi ayah..." Ucapan Kila terhenti, wanita cantik berparas seperti kekasihnya menatap Adrien dengan lekat.
"Ayah baru datang tadi sore dan langsung membahas Isla. Rupanya kabar kalian berpacaran telah sampai di telinga ayah. Karena itu pula ayah dan ibu langsung terbang ke Jerman. Sementara ayah memberikan pandangan tentang hubungan Isla dan dirimu, Isla pulang. Anak itu bercerita jika dikirimkan direct message oleh seorang wanita bernama Khaleesi. Isla pun memperlihatkan ponselnya kepada kami."
Adrien menangkup wajahnya, ia berusaha mengalihkan berbagai pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
"Aku dan Hugo tidak langsung menghakimi dan menarik kesimpulan akan pernikahanmu itu dek, karena pasti ada alasan hingga kau merahasiakannya dengan keluarga besar kita. Tapi ayah..."
"Ayah kenapa kak?" sahut Adrien dengan mata nanarnya, hatinya tersayat setiap mendengar "tapi ayah"
Kila menaikkan kepalanya ke arah lantai dua tepatnya mengarah kepada kamar anak sulungnya.
"Sudah dua jam ayah di kamar Isla, entah apa yang dibicarakan, tapi sepertinyavayah tidak merestui hubungan kalian, Rien. Aku ingat waktu Lika meminta restu untuk menikah dengan Rui, saat itu ayah berkeras tidak menerima kakak menikah muda. Dan tadi aku melihat ayah lebih keras dibanding 23 tahun lalu."
Wajah Adrien tegang menatap lurus ke arah Kila, kakak sepupunya. Wanita itu menggelengkan kepalanya dengan sangat pelan. Keduanya pun lalu menghela napas yang sangat panjang.
Entah berapa lama Adrien dan Kila hanya duduk terdiam tak bersuara, hanya helaan napas berat dari orang yang tumbuh bersama itu.
"Kei, Rien." Panggil Hugo dari pintu belakang, pria yang mengenakan pakaian warna favoritnya terlihat sedang berdiri dengan ekspresi khawatir terpampang di wajahnya
"Ya.." Adrien dan Kila bersamaan berdiri dari kursi kayu bercat putih.
"Ayah akan membawa Kakak ke Bali, baru saja ayah memintaku menyiapkan pesawat untuk terbang malam ini juga."
Otak Adrien seperti sesaat membeku mencerna ucapan Hugo, pandangannya seakan menggelap namun tepukan di lengan menyadarkannya.
"Sekarang ?" Tanya Kila menatap suaminya
__ADS_1
"Ya, sekarang."
Adrien melangkahkan kakinya dengan lebar kembali ke dalam rumah. Ada Kai dan Sky bertugas menaikkan semua koper ke atas bagasi mobil.
Sementara pria yang masih menggunakan pakaian kerjanya menatap nanar keatas tangga, ia melihat Radit merengkuh Isla di dalam dadanya. Entah apa yang dibisikkan Radit kepada gadis muda yang membenamkan wajahnya, namun Isla terlihat makin mengeratkan pelukannya.
"Isla..." Adrien mendekat pada kedua orang yang telah mencapai lantai bawah.
Isla tidak bergeming tetap dalam dekapan, menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan saling bertautan pada punggung Radit
"Rien... Tadinya ayah gamang dengan hubunganmu dengan Isla, tapi setelah kejadian hari ini.. Anakku di teror oleh perempuan yang pernah kau nikahi, aku makin yakin, hubungan kalian tidak bisa diteruskan lagi."
"Ayah !" Pekik Adrien, kemudian napasnya tersengal naik turun oleh rasa perih dan sakit bersamaan menghantam hatinya.
Radit menatap lurus dan tajam ke arah Adrien "Sebuah hubungan harus dilandasi dengan kejujuran, Rien. Kau harusnya sejak awal mengatakan jika pernah menikah."
"Rien menikahi wanita itu karena iba, dia hamil di luar nikah.. sementara pacarnya menghilang. Wanita itu hanya teman Rien, Dit. Adrien hanya memberikannya status tapi setelah pacarnya kembali Rien membatalkan pernikahan mereka, pernikahan itu hanya berlangsung selama 3 bulan." Ucap Keanu menginterupsi Radit
"Isla.. Kami tidak pernah tidur bersama.." gumam Adrien menyentuh tangan kekasihnya yang sedang memeluk Radit.
"Radit.. Adrien hanya menolong wanita itu.." imbuh Keanu
Radit melayangkan pandangan dengan menatap satu persatu orang yang berada di pihak Adrien, bahkan istrinya pun terlihat menggelengkan kepala.
"Harusnya kau jujur dari awal Rien, hingga wanita itu tidak menyentuh dan menyakiti anak gadisku. Isla masih muda, sudah dihadapkan persoalan kau dan mantan istri. Jika Isla berpacaran dengan sebayanya, dia tidak akan merasakan hal seperti ini. Maafkan ayah atas keputusan ini, Isla akan kembali ke Indonesia."
"Ayah !" Pekik Adrien
"Saya hanya melindungi anakku, Rien. Lepaskanlah perasaanmu dan carilah wanita sebaya.." Radit kembali menatap satu persatu orang di ruangan tamu Hugo dan Kila. Terakhir Radit memandang Adrien yang wajahnya telah memerah, dengan mata berlinang.
"Jalan Isla masih panjang... Pahami itu." Ucap Radit penuh ketegasan
"Ayo kita pulang nak." Bisik Radit lembut kepada Isla
Sekali pun Isla tidak pernah menampakkan wajahnya, hanya badannya yang bergetar akan tangisan dalam dekapan Radit.
Adrien menggigit bibirnya sembari meraih tangan Isla sesaat kekasihnya akan naik ke atas mobil.
"Ingat janjimu, Chérie..." Ucap Adrien sepelan mungkin, sekilas ia bisa memegang jemari Isla yang gemetar.
Dan perpisahan itu pun terjadi, Isla mengikuti perintah Radit, duduk tenang di jok mobil dengan wajahnya tertunduk. Kuasa dan kepemilikan Radit atas Isla nampak sangat jelas, tak terbantahkan.
Ada luka menganga lebar di hati Adrien melihat mobil yang membawa kekasih menjauh membelah gelap malam.
"Kau harus bersabar Rien." Tepukan di punggung dari Hugo membuat Adrien buru-buru menyeka air matanya dengan kasar
Pria berambut putih berdiri sejajar dengannya menatap lurus ke depan.
"Ayah pasti akan melunak, jadi kita biarkan saja Isla di bawa pulang ke Bali."
Adrien seperti mendapatkan penghiburan dari perkataan Hugo, pria yang masih bisa menarik sebuah senyuman simpul di bibirnya.
"Isla seperti Kila, dia seorang pejuang... Hanya pengaruh ayah membuat anak itu tidak bisa membuat keputusan. Isla masih muda seperti yang ayah katakan. Dia butuh waktu.. jadi sabarlah. Isla tak kemana, hanya pulang ke rumah tempatnya tumbuh. Di sana dia dipenuhi kasih sayang.."
"Tapi.. aku tidak bisa hidup tanpanya."
Suara tawa renyah Hugo memenuhi halaman rumahnya.
"Kau jujur sekali, menantu.. sepertinya Isla membuatmu berusia 20an." Ucap Hugo tertawa geli kembali menepuk punggung Adrien menenangkannya.
"Hugo, kenapa kau merestuiku ?" tanya Adrien sambil menghela napas yang memerihkan dadanya
__ADS_1
"Karena kita mencintai wanita yang sama. Sama besarnya."
"Itu dulu.." sergah Adrien cepat
Hugo tergelak tawa "Berterima kasihlah kepada kami, telah membawa Isla ke dunia ini."
Adrien terdiam menatap Hugo
"Kalahnya aku denganmu adalah aku tidak bisa setenang dirimu, Hugo."
Hugo tersenyum simpul "Baru sadar ? Kila adalah pribadi meledak-ledak, jika aku tidak belajar mengontrol diri dan dirinya pastinya kami tidak akan bersama. Tapi Isla perpaduan kami berdua, manja dan tenang. Isla tidak pernah memilih berdebat, cenderung melarikan diri. Dia akan mencari orang yang bisa menenangkannya, ketika menghadapi sebuah permasalahan."
Adrien menghela napas panjang "Terus apa yang harus aku lakukan?"
"Menunggu... Anakku masih muda Rien, isi kepalanya sedang berkembang menuju dewasa. Dia yang akan menentukan langkah selanjutnya, terus atau tidaknya hubungan kalian."
Ucapan Hugo menghujam dada Adrien "Bagaimana jika Isla melepasku?"
"Berarti kalian tidak jodoh." Sahut Hugo enteng lalu tergelak tawa, pria berambut putih itu seolah mempermainkan perasaan Adrien.
Apakah ini pembalasan dendam karena pernah mencintai istrinya ?
"Hei Hugo, please."
"Hei Rien.. aku ayah mertuamu loh.. hormat-hormatlah sedikit. Ayo kita masuk, tidurlah di kamar Isla." ucap Hugo tertawa geli
Hugo pun mulai melangkahkan kakinya namun sadar Adrien tak mengikuti.
"Apa yang kau tunggu? Sekarang Isla sudah terbang.."
Adrien lalu berjalan tergesa menyamai langkah kaki Hugo.
"Apakah kami telah pisah, Hugo? Karena ucapan ayah tadi? Masa aku di suruh cari yang sebaya."
Hugo tertawa keras "Kau tidak terima diminta cari yang sebaya? 43 tahun. Wanita seumuranmu mungkin sudah mempunyai 2-3 anak, yang berusia seperti si kembar. Ayah hanya kesal dengan wanita itu. Oh ya, kenapa kamu tidak meneruskan saja pernikahanmu dengan wanita itu?"
Adrien mendengus kasar mendengar Hugo mengungkit biang kerok drama hari ini "Syukur aku tidak bersamanya, dengan sifatnya yang seperti itu. Aku tidak bisa membayangkan hidup dengan wanita yang telah melahirkan anak-anakku tapi masih menyukai pria lain. Di mana akan kusimpan wajahku sebagai seorang suami."
"Ya.. mungkin saja jika denganmu dia akan mencintai dengan segenap jiwa. Sekilas dia mirip Kila." sahut Hugo beralasan
Adrien meringis lalu menatap tajam ke arah Hugo yang terkekeh "Aku menemukan bukan mirip tapi sama persis dan bukan seekor ular. Andai Khaleesi seorang pria, mungkin sudah dari tadi babak belur. Bersyukurlah dia dilahirkan sebagai wanita."
"Kalian sekeluarga preman semua."
"Memangnya kau tidak." sindir Adrien
"Isla juga, hati-hatilah jika kau macam-macam, dia selevel Kila." Ucap Hugo separuh berbisik lalu meninggalkan Adrien menuju kamar tidurnya.
...
Adrien akhirnya bisa menyunggingkan senyuman tipis ketika mendapati bingkai foto di atas meja rias kamar kekasihnya. Isla membuktikan ucapannya jikalau kekasihnya itu telah menyukai Adrien sejak dini. Foto Adrien menggendong Isla saat bayi terpajang rapi di antara bingkai foto gadis itu bersama orang-orang penting di hidupnya.
Ya, Adrien akan menunggu..
###
Adrien katanya cakep 😏
Ada yang kangen Hugo Chan ♥️
__ADS_1
Authornya kabur 🏃🏼♂️🏃🏼♀️