ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Aku Tidak Bisa Jatuh Cinta Lagi


__ADS_3

Mareo sedang memainkan gitar ketika bunyi bel apartemennya berbunyi, dengan buru-buru ia pun menaruh alat musiknya lalu membuka pintu .


"Ya ampun kak, kau seperti zombie." Kekeh Mareo melihat raut datar wajah Adrien, tegang dilengkapi kedua yang mata memerah


"Dan kelihatan lebih tua."


Adrien menatap tajam ke arah anak Lika yang tergelak tawa, pria bersuit warna biru itu lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


"Kau yang membuat bebanku semakin berat. Sampai tidak bisa tidur semalaman memikirkan foto yang kau kirim." Kesah Adrien.


Mareo mengirimkan foto unggahan Kai di sosial media di mana ada Isla dan Pierre, pembalap Formula 1 tersebut. Menurut pria muda itu, Kai dan Pierre sedang berlibur di Bali.


Mareo ikut mendudukkan tubuhnya di sebelah Adrien dengan senyuman tetap terpampang di wajahnya. Energi keduanya sangat berbeda, satu penuh keceriaan dan satunya kelam, gelap gulita.


"Karena foto itu pula Kak Adrien terbang dari Lyon ke Berlin?"


"Tentu saja.. sekalian ada keperluan di kantor sini."


"Ternyata paman belum move on, padahal Ibo sudah.." ucap Mareo memanas-manasi


Adrien yang sedang memejamkan mata hanya bisa mendengus kasar mendengar ucapan Mareo. Sejak kejadian Isla kembali ke Indonesia, Adrien pun bertolak ke Lyon dan lebih banyak menetap di sana, memfokuskan perhatiannya kepada Le Bleuette Corporation.


"Sudah dua bulan... " Gumam Mareo


Adrien berdeham lalu meringis, karena luka masih jelas terasa di hatinya.


"Aku akan ke Bali.. "


"Mengejar cinta Ibo?"


"Aku lelah pesanku hanya dibalas dengan ikon.. Padahal aku sangat rindu dengannya."


Mareo terbahak tawa hingga tubuhnya terguncang. Pria yang membuat Mareo dan bandnya sukses secara global dalam hitungan 6 bulan, sekarang bertingkah laku seperti layaknya remaja yang baru jatuh cinta, patah hati dan masih penuh harap.


"Kau tidak ingin pulang? Bertemu dengan orang tuamu? Biar aku ada teman di perjalanan."


Mareo tersenyum menyeringai lalu mengerling ke arah pria di sebelahnya.


"Kak, band kami butuh pesawat pribadi.. dan kalau aku ikut pulang cuma bisa seminggu karena kami akan manggung di California." Sahut Mareo memberikan alasan sekaligus jurus maut memalak Adrien


"Bukannya kalian sudah bisa beli pesawat sendiri?" Ucap Adrien melirik Mareo dengan ekor matanya "Minta ke managemenmu." sambungnya acuh


Mareo memanyunkan bibirnya "Paman.. ayohlah.. sama ponakan jangan pelit. Nanti aku bantu ketemu dengan Ibo dan ayah tidak tahu, oke?"


Adrien menatap Mareo dengan sorot mata tajam lalu mengangguk "Yang kita pakai pulang, buat kalian."


Mareo melompat ke badan Adrien namun pria dewasa itu malah mendorong Mareo, tidak terima dijadikan sasaran perayaan kebahagiaan yang kelewat batas.


"Mungkin cuma kalian.. band baru dan sudah menikmati fasilitas layaknya band legendaris." ucap Adrien dengan malas


"Tentu saja kak, karena kami memiliki donatur yang sangat kaya raya. Sesuai janjiku.. kita coba kirim pesan buat Ibo." Ucap Mareo penuh semangat lalu meraih ponselnya dari atas meja, Adrien pun ikut mengintip mencari tahu apa yang diketik pria bermata sipit itu


Mareo


Ibo, besok aku akan pulang..


"Bukan besok.. hari ini, besok kita sudah tiba di Bali." Ucap Adrien menyikut Mareo


Mareo pun meralat pesannya,


Ibo, kejutan... Hari ini aku akan pulang ke Indonesia


Mareo tersenyum sambil mengedutkan kedua alisnya menatap Adrien yang terpaku pada ponselnya


"Di balas-balas..." Seru Mareo


Isla


Ini bukan April mop kan? Jika bukan, aku akan menjemputmu"


"Jangan, aku tidak mau ketemu Isla di bandara... " Sergah Adrien membaca balasan kekasihnya

__ADS_1


Mareo


Ini bulan September Ibo, jika kau lupa perhitungan bulan. Tidak usah menjemputku, aku akan langsung ke rumah. Jangan beritahu mama dan papa, biar jadi kejutan. By the way, sekarang kau sedang apa, Ibo ?


Adrien mengangguk dengan mata membulat menyetujui pertanyaan Mareo, ia lupa jika perangainya tak mencerminkan seorang CEO terkaya kelima dunia yang berusia 43 tahun.


Isla


Aku lagi di Kuta bertiga dengan Kai dan Pierre.


...


Walau Kuta adalah tempatnya para wisatawan manca negara, di mana orang-orang pribumi terbiasa melihat pria jangkung dengan rambut berwarna selain hitam. Namun ketika berjalan dengan Kai dan Pierre yang notabene mempunyai tinggi badan di atas rata-rata membuat Isla menjadi perhatian orang-orang. Sebagian besar pribumi dan beberapa orang luar.


Bagaimana tidak? Kedua pria di depannya mempunyai paras tampan, bibir yang mengumbar senyuman dan tawa hingga orang yang melihat mereka mungkin saja berdecak kagum, atau iri dengan Isla yang berwajah lokal bisa semeja dengan Kai dan Pierre.


Orang-orang itu tidak tahu jika satu dari kedua pria tersebut adalah adik kandung Isla. Bercerita tentang Pierre, pria yang singgah ke Bali di tengah persiapan balapannya di Singapura datang beserta dengan Kai, adiknya.


Isla pun akhirnya percaya jika Kai dan Pierre berteman baik, terbukti selama hampir 24 jam mereka bersama, keduanya tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan.


"Kak Ibo, Ikutlah denganku ke Singapura.. kapan lagi kita bisa nonton balapan bersama di Asia." Rajuk Kai sambil menggeser kursi aluminium milik kedai cepat saji di kawasan Kuta tersebut.


Pierre tersenyum menatap Isla penuh harap bahwa gadis itu akan mengiyakan ajakan Kai. Demi Isla, ia sengaja meminta libur 2 hari kepada manager teamnya dan sebelum itu Pierre rutin menghubungi Kai.


Dari Kai pula, Pierre bisa tahu jika hubungan Isla sedang bermasalah dengan pria tua itu, Kai lah yang menceritakan semuanya.


"Aku tidak bisa, Kai... Ayah belum mengijikan ku untuk pergi kemana-mana. Sekitar Bali saja, tidak ada penerbangan hingga batas perjanjian kami."


Kai menghela napas dengan kasar, bibirnya pun dimajukan dengan raut wajah dipajang sekesal mungkin.


"Sampai kapan ?" Tanya Pierre menatap manik Isla yang berwarna hitam itu


Isla menggelengkan kepala "Kurang tahu, sepertinya aku akan berakhir menjadi orang Bali seumur hidup dan penunggu pulau ini."


Kai dan Pierre pun tergelak tawa akan keluhan Isla, gadis yang kemudian memberenggut kesal karena merasa kedua pria itu tertawa di atas penderitaannya.


"Tidak lucu." Protes Isla sembari bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan tempat mereka bersantap siang.


"Kamu marah ?" tanya Pierre duduk di dekat Isla sambil melemparkan senyum manisnya.


"Buat apa aku marah, menguras tenaga." sahut Isla ketus


"Aku minta maaf, jika membuatmu jengkel. Tapi dengan wajahmu seperti sekarang malah makin cantik." Pierre tidak segan mencubit pipi berwarna coklat susu milik Isla


Tidak terima akan cubitan pipi Pierre, Isla pun membalas dengan perlakuan sama kepada pria itu.


"Ouchhh... Sugar. Kau membuat merah pipiku." Rajuk Pierre mengambil ponselnya, mengecek wajahnya yang ternyata memerah karena cubitan Isla.


"Kulitmu yang sensitif, Tuan Pembalap. Masa baru segitu saja sudah mengeluh. Kalau mobil tabrakan kau fine-fine saja." Sahut Isla acuh sambil menyesap air kelapa mudanya


"Kami balapan beda dengan di cubit secara langsung.." Pierre mendecih ala orang Perancis membuat Isla mengamati pria dengan lekat


"Kau merindukan mantanmu yah? Kau ingin aku berbahasa Perancis?" tebak Pierre


Isla mengalihkan pandangan ke arah laut yang sedang surut di depannya.


"Tidak putus, kami tidak putus.. hanya tidak bersama lagi." gumam Isla lirih


"Terus apa perbedaannya? Putus dan tidak bersama, menurutku kalian sudah menjalani kehidupan masing-masing. Hey, Sugar.. sudah 2 bulan. So, move on."


Isla menolehkan pandangan dengan mata menyipit ke arah Pierre "Move on kemana ? Kau pastinya."


"Tebakanmu benar, Nona Navarro."


Isla menghela napas panjang dengan sesak menghimpit dadanya


"Aku tidak bisa jatuh cinta lagi." lanjutnya bergumam


...


Mareo mencoba merangkul Isla namun adik sepupunya itu mendorong sang vokalis hingga terjatuh dengan papan surfingnya.

__ADS_1


"Lemah." Ucap Isla menarik tangan Mareo untuk kembali berdiri.


"Aku tidak lemah, kau yang kasar Ibo."


Semalam Mareo tiba di Bali, hampir bersamaan dengan kepergian Kai dan Pierre ke Singapura. Rumah pun makin semarak dengan kembalinya sang vokalis yang mulai tenar di mana-mana.


Mareo pun sempat di sidang oleh Mami Lika dan Papi Rui akan keputusannya untuk melepaskan bangku perkuliahan dan fokus menjadi pemain band.


Membahas perkuliahan di mana Isla yang sebelumnya tidak bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya, namun berkat dorongan Hugo, papanya ia pun meneruskan pendidikan secara online dengan kampus yang sama.


"Ombaknya lumayan besar, Iyo." Ucap Isla sembari menancapkan papan surfingnya di pasir lalu menatap ke depan.


Raut wajah Isla berseri, dengan beban pikiran sedikit terangkat dengan kedatangan Mareo. Semalam pun mereka tidur bersama sambil berkeluh kesah seperti jaman dulu.


Sang vokalis itu pula yang mempunyai inisiatif mengajak Isla untuk surfing di pantai Canggu, Kuta Utara. Mareo berkilah ingin menghibur adiknya, sekaligus kembali menjajal hobby mereka.


"Ayo Iyo!" Seru Isla menarik tangan kakak sepupunya untuk menceburkan diri pada laut yang sedang berombak tinggi.


Mareo yang mengikuti tarikan tangan Isla sempat berbalik menatap ke arah pria dewasa yang berjalan dan mengambil tempat duduk di bangku kayu yang tersedia di bibir pantai.


...


Sekitar 60 menit lebih Adrien terpaku memandangi kekasihnya meliukkan tubuh dengan lihai di atas gulungan ombak. Sepertinya ia makin jatuh cinta kepada sosok Isla yang tangguh, hal yang tak pernah ditunjukkan gadis itu selama mereka bersama.


"Iyo.. Kulitmu jadi seperti kepiting rebus." Isla terkekeh dengan wajah kakaknya yang memerah.


"Biarkan saja.. Aku ingin berkulit coklat seperti ayah."


"Jelek... Kau tidak cocok, matamu terlalu sipit dan badanmu kurus." Ledek Isla


Mareo acuh mendengarkan ucapan adiknya, ia memilih mengambil papan surfing Isla.


"Ada yang mau bertemu denganmu, Ibo." Ucap Mareo menyenggol badan Isla dengan bahunya karena kedua tangannya menggapit dua buah papan surfing.


"Siapa?" tanya Isla kebingungan


Mareo menunjukkan ke arah kanan "Yang baju coklat bergaris itu."


Langkah kaki Isla sempat terhenti menatap pria berambut keemasan yang juga tengah memandanginya.


Dengan tergesa kemudian setengah berlari, Isla menghampiri pria yang dimimpikannya setiap malam.


###


tentu saja, author kasih foto cowok jangkung 😁, kalian suka yang mana?


Pierre



Kai, putih seperti Hugo Chan



Mareo



Adrien



alo kesayangan ♥️,


semoga ke up malam sabtu ini


biar ada temani kalian dalam bersosial distancing, tetap sehat semuanya


Love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2