ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Je' T'aime Davantage


__ADS_3

“Tidak boleh.” Ucap Adrien sedikit tegas melihat River melemparkan makanan dari piringnya kepada Orion.


“Tapi dad ?” Rajuk River memasang wajah sendu namun sang ayah sangat paham jika anaknya yang berusia 4 tahun itu sedang bersandiwara.


River, anak yang pendiam namun manipulatif dan pula jahil, seperti mamanya.


“Orion yang terlebih dulu, daddy.” Autumm membela kakaknya. River dan Autumm adalah satu paket, mereka banyak bermain bersama.


“Iya, daddy tahu jika Orion yang memulai, baby girl. Tapi Orion melemparkan tulang ayamnya. Bukan makanan dari piring. Tidak ada tindakan yang benar, daddy tidak ingin melihat kalian bercanda dengan makanan. Mengerti ?”


Ketiga anak kembarnya langsung mengangguk mendengar perkataan Adrien. Sang ayah lalu tersenyum puas.


“Habiskan makanan kalian baru bisa melihat adik bayi.”


“Asyik.” Autumm berseru lebih kencang, diikuti River dan Orion hanya mengulum senyuman namun dengan buru-buru menyendok sisa makanannya.


“Pelan-pelan makannya.” kembali Adrien mengingatkan


Orion paham jika dirinya lah yang sedang ditegur Adrien, ia pun lalu menatap ke depan. Orion menganggukkan kepala dengan perlahan.”Baik, dad.”


Menjadi rutinitas Adrien sejak triplets lahir, mengurus segalanya hingga makan dan lain sebagainya. Pun sekarang mereka sudah pintar saling membalas kejahilan di meja makan.


Dua bulan lalu Isla, istrinya yan melahirkan bayi perempuan dua bulan, anak keempat mereka.


Adrien dan Isla penuh harap jika kehamilan terakhir dengan bayi kembar pula. Sayangnya tidak berhasil. Mereka pun harus berpuas diri dan


mensyukuri bahwa Kaia Jamaica Bleuette


adalah putri bungsu dari keluarga Adrien dan Isla.


Adalah Kai yang memberikan nama kepada putri mereka, Kaia berarti lautan dan berasal dari kata yang sama namanya paman muda itu.


Sesuai dengan perjanjian awal Adrien dan Isla, mereka tidak akan menambah anggota keluarga setelah kelahiran Kaia. Fokus mereka sekarang


adalah membesarkan titipan Tuhan yang sangat indah itu.


“Sudah!” seru Autumm membuat Adrien tersadar dari lamunan. Pun ia lalu mengurai senyuman simpul menatap ketiga anaknya yang seolah menanti perintah darinya.


“Bawa piring kalian ke dishwasher. Jangan berebutan, pelan-pelan saja.”


Tanpa menjawab Orion, River dan Autumm mendengarkan perintah sang ayah.


Triplet yang mengenakan striple pajamas lalu berjalan dalam satu antrian sembari membawa piring dan gelas kotor mereka masing-masing.


Adrien dan Isla menanamkan sejak awal kepada Orion, River dan Autumm tentang kemandirian, tidak boleh bermanja dan bersikap seenaknya. Triplet adalah anak-anak yang lahir dengan sendok berlian di tangan, sangat berat ke depannya jika hal penting seperti itu tidak ditanamkan sejak dini.


Sang ayah kemudian berjalan dengan tangan yang penuh akan genggaman ketiga anaknya. Adrien tidak pernah mengeluh sedikit pun dengan


kenakalan-kenakalan menggemaskan yang diciptakan oleh Orion, River dan Autumm.


“Mommy.” Seru triplet ketika mendapati Isla sedang berdiri di dekat kotak bayi.


“Sttt.” Isla menaikkan telunjuk meminta anaknya untuk diam. Dengan mengendap Orion, River dan Autumm mendekati ibu mereka.


Bergelayut pada tubuh Isla adalah hal favorit triplet, berlaku kepada Adrien ketika Isla tidak ingin diganggu. Mungkin naluri ibu dan anak tidak bisa dipisahkan, sekuat apapu Adrien mengurus ketiga anaknya namun tetap saja triplet lebih dekat kepada Isla.


“Sudah makan ?” tanya Isla dengan lembut bergantian menatap wajah anak-anaknya.


“Sudah ma. Autumm sampai nambah nasi goreng.” Sahut Orion diangguki Autumm dan River.


“Pintar.”


Tampak Orion menyentuh tangan Kaia, adiknya. Dua lainnya hendak melakukan hal sama namun Isla menahan tangan River dan Autumm.


“Baru tidur. Jangan diganggu.”


River memamerkan giginya menatap sang ibu “Berarti mommy bisa main dengan kami.” Ucapnya langsung menggiring Isla menuju tempat tidur. Bukan keluar ruangan, triplet sangat tahu jika adik mereka tidak bisa ditinggalkan jauh oleh ibunya.



“Mommy capek ya ?” tanya Orion memijit kaki Isla ketika sudah mengambil posisi baring di atas tempat tidur. Adrien tersenyum geli melihat tingkah anaknya.


“Tentu saja tidak, kiddo’s.”


“Kenapa tidak capek ?” tanya Autumm yang bertugas memijit tangan Isla, di sebelah ada River melakukan hal yang sama.


Isla melirik suaminya yang berada di sebelah “Karena mommy sudah terlatih dengan kalian bertiga. Bayangkan 4 tahun lalu, daddy dan mommy mengurus tiga bayi seperti adek Kaia.”


River menghentikan pijatannya dan menatap Isla “Apakah kami juga suka menangis, mom ? Seperti adek Kaia ?”


Isla mengangguk menjawab pertanyaan River. Anaknya langsung menukikkan bibir ke bawah.


“Maafkan kami ya mommy. Suka nangis waktu bayi.”


Ibu muda dari empat anak itu pun tertawa kecil kembali menoleh ke arah suaminya “Tapi dulu daddy yang menggendong kalian jika ada yang


menangis.”


Triplet itu pun memandang ke arah Adrien, tatapannya menyendu.


“Daddy. Kalau nangisnya bersamaan ?” tanya Orion terlihat penasaran.


Adrien merapatkan tubuh pada badan isla membuat Autumm menduduki perutnya.


“Daddy gendong kalian bertiga.” Sahut Adrien lalu terkekeh ringan.


Autumm tidak lagi memijit tangan Isla, malah membaringkan tubuh diatas dada Adrien. Kedua tangan mungil menangkup pipi ayahnya.


“Daddy sangat kuat. Orion dan River lebih besar dari Autumm.” Ucap polos si gadis kecil yang membuat kedua saudaranya melayangkan protes.


“Karena kami pria, jadi lebih besar dari perempuan. Daddy juga lebih besar dari mommy.” River memajang muka cemberut kepada Autumm.

__ADS_1


Gadis berambut keemasan seperti layaknya Adrien menegakkan tubuhnya.


“Itu alasannya aku makan banyak. Biar tidak pendek.”gerutunya lalu menjulurkan lidah.


Kedua anak Adrien dan Isla sudah melupakan tugas mereka, berbanding terbalik dengan Orion terdiam dengan tangan kecil yang tak henti memberikan pijatan pada kaki ibunya.


“Biar kau makan banyak, tetap saja pendek.” River menambahi ucapannya. Gadis kecil Adrien mengerucutkan bibir yang mungil sambil memikirkan kata-kata balasan.


“Aku pasti bisa tinggi.” Sahut Auttum tidak mau kalah


Isla tergelak tawa menjadi pendengar perdebatan anak-anaknya. Pun Adrien ikut terkekeh sembari mengusap kepala istrinya.


“Terima kasih , Cherie. Mereka sangat membahagiakan setiap saat.” Bisik Adrien di telinga Isla.


Kekasih hatinya yang sebentar lagi menginjak usia seperempat abad pun lalu menganggukkan kepala.


“Terima kasih juga kak. Membantuku membesarkan mereka. Kak Adrien full time husband.”


Adrien tertawa “Bukankah sejak awal aku sudah katakan jika ingin mengurus triplet, Cherie. sekarang mereka sudah besar dan Kaia lahir. Sekarang mengurus satu bayi sudah sangat ringan bagiku. Tiga saja telah berhasil tumbuh


seperti ini.” Ucapnya menyombongkan diri membuat istrinya tertawa dengan manis.


Isla menarik napas lega “Semua indah rasanya. Hidup bersamamu, kak. Isla tidak bisa meminta lebih dari ini. Hidupku diberkahi oleh Tuhan


dengan kehadiran Kak Adrien, kemudian triplet dan Kaia.”


“Empat sudah cukup ?” canda Adrien. Tatapan matanya kepada kedua anaknya sekarang sudah asyik bermain sementara Orion masih betah dengan tugasnya. Sesekali anak sulungnya itu mengamati tingkah laku Adrien dan Isla.


“Ya. Isla sudah menutup kandungan, kak.” Sahutnya tidak mau kalah.


Adrien kembali terbahak tawa “Aku mencintaimu, Cherie. Sangat Mencintaimu.”


“Orion juga mencintai mommy.” Sahut Orion tiba-tiba


Kedua orang tua itu pun tartawa lebih bahagia daripada sebelumnya.


“Ya, daddy pun mencintai Orion, River, Autumm dan Kaia.” Ucap Adrien menarik tangan Orion lalu mendekap tubuh anaknya.


“Isla lebih mencintai Kak Adrien.” Bisik Isla


Pria tampan yang tidak dimakan oleh usia itupun


menganggukkan kepala “Aku tahu, Cherie. Keempat anak kita adalah buktinya.”



Tidak terbaca jika Adrien dan Isla adalah pasangan berbeda usia. Istri Adrien semakin cantik, dewasa dengan pembawaannya yang


tenang membuat tamu pesta memerhatikan mereka. Segala hal yang kontras dari Adrien dan Isla sangat menarik bagi orang-orang. Saling melengkapi, itulah mereka.


“Aku tidak menyangka jika dia lelah mengejarmu, Cherie.” Ucap Adrien ketika melihat sosok mempelai pria yang sedang berjalan menghampiri.


“Gadis kecil.” Seru Jean yang sangat tampan dengan balutan jas putih. Ia mengabaikan juluran tangan Adrien yang hendak menyalaminya. Jean memilih memeluk ringan Isla.


Pria yang mengenakan suit berwarna navy hanya bisa meringis sementara Isla terkekeh ringan.


“Bagaimana rasanya menikah di usia tua?” Sindir Adrien melepaskan jabatan tangan Jean.


Jean mengedikkan bahu “Sama saja. Tidak ada yang begitu istimewa, mungkin karena mempelaiku bukan gadis kecil ini.” Ucapnya menatap penuh puja Isla.


Adrien berdecih kasar, bertemu rivalnya seakan mengurangi usianya sehari “Ingat Jean, ini hari pernikahanmu masih sempatnya menggoda


istriku.”


Jean menoleh kepada wanita berambut pirang kecoklatan, Ellie. Wanita berusia 33 tahun itu adalah istrinya. Ia terlibat hubungan romansa di kantor. Ellie adalah sekretarisnya, sangat seksi dengan lekukan tubuh membuat Jean lupa diri.


“Dia sedang hamil anak kami. Itu mengapa aku menikahinya.” Jujur Jean membuat Isla meraih tangannya.


“Selamat Paman Jean, akhirnya bisa seperti Kak Adrien. Berusia 40an dan mengurus bayi.”


Jean tergelak tawa “Tuhan, aku sungguh lupa mengurus bayi.”


“Ingatanmu pasti akan kembali, ketika bayi kalian telah lahir. Omong-omong sudah berapa bulan ? istrimu tampak berisi.” Tanya Adrien sekilas mengarahkan pandangan kepada mempelai wanita bergaun putih dengan perut membesar.


“Lima bulan. Sebenarnya aku tidak ingin lagi menikah. Menafkahi Ellie dan anak kami pun bisa. Hanya saja melihat Isla hamil lagi dan melahirkan


anak kalian yang keempat membuatku berkecil hati dengan peluang mendapatkanmu, gadis kecil.”


Adrien meninju lengan Jean yang kemudian tertawa akan perbuatan temannya.


“Berhentilah dan fokus dengan istrimu.” Gerutu Adrien


“Aku sangat yakin jika perasaanku ini akan terus tumbuh, selama masih bisa bernapas. Buktinya aku sangat bahagia melihat Isla, jantungku


berdebar kencang.”


Wanita mengenakan dress maxy berwarna hitam itu tertawa kecil. Di rumah ia menjadi penonton perdebatan anak-anaknya, dan di setiap


kesempatan bertemu dengan Jean, pria dewasa itu dengan gamblangnya mengungkapkan perasaan kepada Isla di depan Adrien. Dua pria dewasa berakhir dengan perdebatan lucu.


“Semoga pernikahanmu langgeng hingga tua.” Ucap Adrien menarik tangan Isla. Ia pun lalu merangkul dengan posesif istrinya.


“Kak.” Gumam Isla mendongak menatap wajah tampan suaminya.


“Hmm..” gumam Adrien dengan penuh cinta


“Paman Jean sudah tua.”


Dua pria dewasa dan tampan itu terbahak tawa keras. Para tamu pesta memandang ke arah mereka seakan ingin tahu apa yang ditertawakan


sang mempelai pria dan teman-temannya.

__ADS_1


“Itu mengapa kau tidak bisa terganti, gadis kecil. Kau sangat membahagiakan. Aku sangat iri di kehidupan ini kepada Rien.” Ucap Jean memukul


ringan bagian dada Adrien.


“Pemuja selamanya ?” canda Adrien kepada Jean dengan senyuman menyeringai.


Jean kembali mengedikkan bahu “Aku bisa apa, Rien. Memuja istrimu sudah cukup bagiku.” Sahutnya mengaku kalah dengan keromantisan Adrien dan Isla.



Adrien membuka pintu kamar dengan pelan, tangan satunya tidak melepaskan genggaman jemari istrinya.


Radit yang sedang duduk di sofa dalam kamar spontan berdiri, tangannya masih memegang buku bacaan.


“Kalian sudah pulang. Bagaimana pesta temanmu ?” tanyanya


“Itu teman Isla, yah.” Jawab Adrien memelankan suara setelah melihat anak-anaknya sudah tertidur dengan Rinjani.


“Yaya, itu teman Kak Adrien.” Sahut Isla tidak mau kalah.


Radit hanya menggelengkan kepala mendengar perdebatan kecil suami istri itu.


“Ayah tidak peduli siapa teman pengantin itu. Aku akan membangunkan Rinjani, agar kalian bisa beristirahat.”


Bersamaan Adrien dan Isla menggelengkan kepala “Tidak usah, yah. Kami akan tidur di kamar atas. Biar ayah dan ibu itu tidur dengan mereka.” Ucap Adrien menatap Rinjani yang menggantikan posisi Isla. Biasanya triplet sangat suka tidur berkerumun pada tubuh Isla.


“Baiklah, ayah akan tidur di sini.” Radit mengecup pipi Isla sebelum akhirnya sang anak kesayangannya itu mengikut pada tarikan genggaman tangan Adrien.


Pria tampan tersebut tanpa berbicara berjalan menapaki tangga rumah mewah mereka.


“Kita kelamaan di pesta Paman Jean.” Ucap Isla ketika memasuki pintu kamar tempatnya beristirahat. Kejadian tadi bukan hal pertama yang terjadi di kehidupan rumah tangga mereka. Terkadang Adrien dan Isla harus merepotkan keempat orang tua dengan menghadiri berbagai macam pesta dan pulang larut malam. Tentu


saja anak-anak menggemaskan itu telah tertidur dengan lelap.


Adrien terkekeh ringan, Isla menautkan alis.


“Jangan mesum.” Isla sangat tahu akan wajah suaminya


Pria tampan itu semakin tergelak tawa akan sungutan istrinya “Kau sangat cantik, Cherie. Di pesta hanya dirimu yang bersinar lebih terang.”


Isla mencebikkan bibir “Berarti yang lain juga bersinar.”


“Tentu saja bersinar, mereka diterangi dengan lampu.” Sahutnya mendekap tubuh indah istrinya. Adrie tidak hentinya tertawa bahagia.


“Dasar tukang rayu.”


Adrien menangkup wajah Isla dengan penuh tatapan cinta “Ya, aku hanya merayu satu wanita seperti ini. Hanya dirimu, Cherie. Sekarang setiap


hari aku berdoa, puluhan tahun ke depan kita akan hidup seperti ayah, ibu, papa, mama, Hugo dan Kak Kila. Kita akan hidup seperti mereka.”


Isla mengerjap dengan mata memburam, pun menganggukkan kepala menatap penuh cinta kepada Adrien.


“Tugas kita membesarkan triplet dan Kaia.”


“Cherie, Car, vois-tu, chaque jour je t’aime davantage, aujourd’hui plus qu’hier et bien moins que demain.”  ucap Adrien dengan suara parau lalu menjatuhkan ciuman pada bibir merah kekasih hatinya.


Satu malam yang indah untuk pasangan tak henti dimabuk oleh asmara. Adrien dan Isla mereguk cinta yang tiada habis oleh waktu.


FIN.


###




Alo kesayangan 💕,


ini adalah akhir dari All You Need Is Love, terima kasih banyak buat readers yang author sayangi..


mendukung dari sejak jaman Keanu Adriana.. Hingga Adrien dan Isla..


bosen gak ?


semoga kalian bisa ikhlas dengan perpisahan ini..


hmmmm..


thank you thank you thank you thank you thank you ♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Love,


D 😘


dua puluh tahun kemudian.....


Autumm



River



Orion



😁


kisah si Triplet ??????

__ADS_1


hmmm... nantikan saja 😏


__ADS_2