ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
I'm Fine


__ADS_3

Khaleesi sedang berkeliling di The Hengkara Hotel, hal yang merupakan rutinitasnya setiap pagi sebelum memasuki ruangan kantor kecilnya yang berada di bangunan joglo terdepan. The Hengkara Hotel yang terletak di timur kota Yogyakarta, dengan luas 3000 meter persegi. Bangunan hotel bernuansa pedesaan, pepohonan tinggi hijau, sangat asri dengan rumput gajah mini terpotong rapi.


The Hengkara terbagi 6 bangunan terpisah semuanya bermodel joglo. Tiap bangunan mempunyai nama masing-masing. Rumah Semar, Rumah Bagong, Rumah Petruk, Rumah Gareng. Keempat bangunan itu memiliki ciri khas masing-masing, namun Rumah Semar lah yang paling besar dengan 5 kamar di lengkapi kolam renang pribadi dan jacuzzi. Selebihnya rumah lainnya hanya memiliki salah satu dari dua fasilitas tersebut.


Dua bangunan lainnya adalah joglo untuk menerima tamu di depan beserta kantor, dan satunya adalah restoran bermodel pendopo dengan pemandangan di depan sawah.


Hotel ini baru di bangun sekitar 5 tahun lalu, oleh papanya Danucipta Hengkara yang kemudian diserahkan kepada anak sulungnya, Khaleesi. Danucipta, papanya tetap melakoni bisnis ekspedisi yang telah di bangunnya sejak 10 tahun lalu.


Papa dan Elena, mama tirinya tinggal di kota sama, namun Khaleesi memutuskan untuk tinggal sendiri sejak 4 tahun lalu di satu bangunan The Hengkara yang tidak disebutkan karena bukan termasuk area hotel, tempat tinggal Khaleesi berada paling belakang melewati jalan setapak yang ditumbuhi pohon bambu kecil. Bangunan joglo tersebut dilengkapi dengan ruang tamu dan dapur kecil, 1 kamar tidur dengan kamar mandi.


Rahayu Tarasari, ibu kandungnya meninggalkan papa saat Khaleesi berusia 9 tahun. Rahayu terlibat affair dengan wisatawan dari Eropa, tanpa memikirkan anak dan suaminya, wanita itu meminta Danucipta menceraikannya dan memilih mengikuti Oliver "selingkuhan mama" ke France.


Khaleesi sendiri telah mempunyai adik tiri dari pernikahan kedua papanya dengan Elena, Ares Lintang Hengkara yang berusia 8 tahun.


Walau Elena sangat baik dengannya, namun Khaleesi menginginkan hidup mandiri. Setelah The Hengkara Hotel mulai berjalan, dia memilih untuk keluar dari rumah.


"Mbak, ada Mbak Samara dan Mbak Tasya menunggu di depan" ucap Santi dengan napas tersengal, sepertinya salah satu pegawainya ini berlari dari depan mencarinya


"Mbak Santi kan bisa telepon" sahut Khaleesi sambil tersenyum menunjukkan ponselnya di genggaman tangannya


"Lupa mbak Khale... Reflek saja, karena melihat ada mas bule yang tampannya minta ampun bareng teman mbak" ucap Santi berbinar, receipsionistnya yang baru berusia 20 tahun, adalah tamatan SMK telah ikut bekerja di The Hengkara sejak 2 tahun lalu.


Dan betul saja ada mas bule tampan yang berdiri di depan joglo depan, wajah Adrien berseri begitu melihat Khaleesi. Di belakang pria tinggi itu berhamburanlah kedua teman dadakan Adrien.


"Sayang... Khale" seru Samara langsung memeluk Khaleesi, sepertinya mereka baru bertemu dua hari lalu. Sikap Samara ini bisa Khaleesi artikan bahwa sahabatnya sedang berlebihan di depan Adrien


"Hmmm.. apa?" tanya heran Khaleesi menatap raut wajah Samara yang berseri-seri


"Ikut kami yokk... Daripada kamu tidak ada kerjaan, kita mau ke Candi Borobudur temani Adrien" bujuk Samara yang sekarang menggamit tangannya, Tasya dan Adrien berdiri dengan senyuman penuh harap Khaleesi untuk ikut dengan mereka


"Siapa bilang aku tidak ada kerjaan, laporan akhir bulan dan mengecek perhitungan gaji bulan depan menungguku.... " Sahut Khaleesi menatap datar wajah sahabatnya


"Dan ngapain ke Borobudur, kamu pikir kita sedang study tour ?" Sambungnya sambil mengingat kapan terakhir ia ke candi terbesar di Indonesia itu


"Besok bisa dikerjakan, hari ini kita akan jadi guidenya Rien. Ya kan Rien?" bujuk Samara kemudian mengalihkan pandangannya ke Adrien


"Ya, sudah lama aku tidak ke sana, hmmmm... yah saat umur 10 tahun, bersama kakak sepupuku" ucap Adrien dengan senyuman manisnya


Samara cemberut mendengar Adrien setiap saat membawa-bawa kakak sepupu tersayangnya. Tasya hanya terkikih pelan melihat si ganjen Samara yang cemburu.


"Baiklah... Aku ganti sepatu dulu" Khaleesi menatap bergantian 3 orang yang langsung tersenyum semringah mendengarnya


...


Pengunjung Candi Borobudur hari itu tidak terlalu ramai, mereka datang pada hari kerja. Akan berbanding terbalik jika mengunjungi tempat ini pada akhir pekan. Dan cuaca sangat bersahabat, mendung membuat suasana terasa syahdu.


Tasya dan Khaleesi berjalan di belakang Adrien dan Samara, dimana sahabat mereka tidak mau melepaskan gamitan tangannya dari lengan kokoh pria itu.


"Kita seperti mengantarkan pasangan yang sedang berbulan madu ke sini" gerutu Tasya pelan separuh berbisik.


"Itulah teman kita" sahut Khaleesi acuh, matanya sibuk mencari tempat untuk duduk


"Kamu tahu kan Mahendra, cowok yang dari Semarang itu. Samara sudah dekat dengan Mahendra, sekarang nemplok lagi sama Adrien. Padahal Mahendra sudah sempurna sekali, kaya, tampan, tinggi walau bukan ningrat"


"Sepertinya ketampanan mereka berbeda level" jujur Khaleesi, bahkan di kegelapan malam pun pasti pria di depannya akan lebih bersinar dibandingkan dengan Mahendra.


"Iya... Kadang aku berpikir, kapan Samara akan sadar dengan perilakunya berganti-ganti pria. Dia cantik, seksi, menarik semua pria, seperti lampu dan laron. Tapi semua ada masanya, dia -teman kita itu tidak pernah menjalin hubungan lebih dari 5 bulan. Dan semuanya berakhir dengan Samara mendepak para pria malang itu"


"Sudah biarkan saja.. andai nasehat kita ini dituangkan dalam buku mungkin sudah jadi 7 jilid dan tidak mempan" ujar Khaleesi tertawa ringan, ada baiknya ia ikut dengan temannya. Khaleesi bisa melupakan sesaat tentang Deawa madafaka itu.


Tasya tergelak tawa, matanya menghilang dengan tangannya memeluk pinggang Khaleesi, kedua gadis itu akhirnya tertawa riang membuat Adrien berbalik menatap lekat ke gadis yang mempunyai garis bibir sama dengan kakak sepupunya.


"Aku beri tahu satu rahasia lagi" bisik Tasya ke telinga Khaleesi "sepertinya ada mangsa Samara yang lepas kali ini" sambungnya dengan senyuman menyeringai


Khaleesi menarik wajahnya dan menatap Tasya dengan bingung


"Rien sukanya sama kamu babyy..." Lanjutnya berbisik

__ADS_1


Khaleesi tersenyum sinis menanggapi perkataan Tasya, walau sahabatnya itu tetap menganggukkan kepala dengan penuh keyakinan.


"Fotoin aku di sana" Samara lupa diri saat berada di atas candi, gadis berambut hitam itu pun menarik tangan Tasya demi beberapa foto yang akan dipamerkan ke pengikut sosial medianya


Adrien dan Khaleesi ditinggal begitu saja.


"Kamu tahu jika memegang jari manis patung yang dalam stupa itu bisa mengabulkan permintaanmu" kata Adrien memulai percakapan mereka, pria berambut keemasan itu menunjukkan stupa di depannya


Khaleesi tersenyum geli, bahkan seorang yang lahir di luar negeri pun tahu mitos itu.


"Kamu percaya hal seperti itu?" Tanya Khaleesi sudah berani menatap mata biru Adrien


"Hmmmm... Aku pernah mencobanya waktu itu. Tapi sepertinya hanya kebohongan belaka.. karena apa yang aku inginkan tidak terjadi" kata Adrien sambil mencibir, mengingat permintaan seorang bocah 10 tahun tak lain Kila menjadi pengantinnya saat dewasa


"Kamu tidak tertarik mencoba lagi? Atau mungkin perlu orang lain yang memintakan apa keinginanmu. Aku pernah mendengar jika doa akan lebih gampang terkabul jika orang lain yang mendoakan seseorang"


"Aku pikir kita tidak berdoa di situ... " Kata Adrien mengerling ke arah Khaleesi, gadis itu mengerti dan lalu terkikih kecil


"Khaleesi, waktu akan menyembuhkan... " Gumam Adrien tersenyum simpul, matanya tulus menatap ke gadis yang terlihat jengah dan serba salah dengan ucapannya barusan


"Bagaimana kamu bisa berakhir menyukai sepupumu sendiri?" Tanya Khaleesi tiba-tiba, entah kenapa da tidak ingin kalah dengan ucapan Adrien. Walau Khaleesi tidak banyak berbicara namun dia menangkap banyak informasi sejak pertemuan mereka dua hari lalu


Pria bermata biru itu tersenyum merekah, tidak tersinggung dengan pertanyaan Khaleesi.


"Andai aku bisa mengenalkanmu seorang Aurora padamu, kamu juga pasti akan menyukainya... Jujur, kamu mirip dengannya. Tapi kamu bukan Aurora, kalian berbeda" ucap Adrien lirih penuh kerinduan


Aurora Kila sempurna, sambungnya dalam hati


"Sepertinya kamu masih sangat mencintainya, perkataan waktu akan menyembuhkan sepertinya tidak berlaku padamu" sindir Khaleesi tak lupa diikuti senyuman menyeringai dari bibir tipisnya


"Jujur iya... Dan dia adalah sepupuku. Bukan orang lain. Kami tetap akan bertemu dan aku tidak membencinya. Aku tidak bisa berhenti mencintainya bahkan mungkin saat menemukan wanita lain yang akan menjadi pasanganku. Wanita lain itu harus mengerti tentang perasaanku ini" ungkap Adrien tulus walau dengan helaan napas panjang seusai mengutarakan perasaannya


Khaleesi takjub dengan Adrien, seorang pria yang mempunyai perasaan begitu besar kepada seorang wanita, tak lain sepupunya sendiri


"Jadi Samara?" Tanya Khaleesi,


"Kalian terlihat dekat, temanku itu tertarik kepadamu Rien" jelas Khaleesi


Adrien tertawa, barisan giginya yang rapi terpampang menambah ketampanannya


"Hanya teman bukan? Kita semua berteman. Kamu, Samara, dan Tasya adalah teman pertamaku di negara ini" Adrien menyisir rambut keemasannya dengan tangan, pria itu seolah syuting iklan shampoo di depan Khaleesi


"Baiklah, aku akan mendoakanmu di patung itu... Demi kebahagiaanmu di masa depan" Khaleesi melangkahkan kaki mendekat pada stupa yang sekarang telah sepi oleh pengunjung lain


Khaleesi memasukkan tangannya menyentuh tumit patung Kunto Bimo, Adrien juga mengikuti dengan menyentuh jari manis patung yang sama, keduanya memejamkan mata sejenak kemudian saling menatap dan tertawa geli dengan kekonyolan mereka.



"Apa yang kalian lakukan?" Seru Samara mendekat, Tasya nampak berkeringat setelah menjadi tukang foto pribadi model tak kesampaian itu.


"Kami saling meminta kebahagiaan pada patung ini" kekeh Adrien melirik ke arah Khaleesi


Samara kembali cemberut melihat keakraban Adrien dengan sahabatnya, hanya beberapa menit dia tinggalkan.


"Ayo, sini kita foto bareng" kata Samara langsung menarik tangan Adrien


"Kita foto berempat !" Pekik Tasya yang menolak keras dijadikan tukang foto lagi


Khaleesi tertawa sambil merangkul bahu sahabatnya, Anastasia Lei.


...


Sejak perjalanan ke Borobudur keempat orang itu menjadi sangat akrab, sebutkan tempat wisata di Jogja yang tidak mereka datangi hampir semuanya, termasuk pantai-pantai di selatan kota Yogyakarta. Tak lupa pula dengan wisata malam mereka, kuliner dan berbagai pub.


"Kampret ! Aku tidak percaya dia mengundangku !" Umpat Tasya melemparkan undangan berwarna kuning gading ke atas meja kerja Khaleesi


Tanpa menyentuh Khaleesi tahu jika itu undangan pernikahan Deawa, terpampang jelas nama lengkap pria itu dengan gelar kebangsawanannya yang sangat panjang. Hatinya kembali terluka lebih lebar hanya berselang dua bulan setelah dia diputuskan, mantannya kini akan menikahi wanita lain.

__ADS_1


"Maafkan aku Khale... Aku membuatmu mengingat dirinya lagi, tapi hatiku sakit menerima undangan sialan ini!" Pekik Tasya mencengkeram kepalanya dengan frustasi


"Mau gimana lagi sayang.. Madafaka itu memang mengatakan akan menikah secepatnya, mereka seumuran" ujar Khaleesa sambil mengetik di keyboard laptopnya "mau dibikinkan minuman apa Cik Tasya?" Sambungnya mengangkat telepon kantor


"Jus avocado milo dengan kentang goreng"


"Itu saja?"


Tasya mengiyakan dengan anggukan.


Khaleesi pun menyambungkan panggilan telepon ke bagian restoran hotel. Cara berbicara sangat formal kepada para pegawai hotel berbeda dengan caranya berbincang dengan Tasya dan Samara.


"Kamu tidak merindukan Rien.. ?" gumam Tasya sambil melihat foto-foto kebersamaan mereka.


Adrien sudah kembali ke negaranya 2 hari yang lalu, pria tampan teman mereka itu akhirnya menyudahi liburan panjangnya.


"Hmmmm..." Gumam Khaleesi, kedekatannya dengan Adrien lumayan akrab, pria itu menjadi tempat berbagi keluh kesah dan mentornya untuk move on.


"Kamu tahu tidak, entah ini benar atau tidak tapi Samara sesumbar kalau malam setelah kita berpisah di parkiran pub, dia dan Adrien menghabiskan "malam bersama", kamu tahu maksudku darling?" Ujar Tasya sambil meringis


Khaleesi tertegun mendengar ucapan sahabatnya itu.


Pria di mana saja samab! Geramnya dalam hati


Drrr...


Ponsel Khaleesi bergetar membuat keduanya mengalihkan pandangan ke meja


Mom


Tertera di layar ponsel Khaleesi


"Halo my little pumpkin" seru suara Rahayu Tarasari ceria


"Hai mom... Wassup?" Sapa balik Khaleesi santai kepada wanita yang melahirkannya, adalah permintaan Rahayu Tarasari sendiri menginginkan itu


"Mommy selalu bahagia tapi tidak pagi ini" nada suaranya terdengar sangat kesal


Khaleesi melihat jam menunjukkan pukul 3 sore dan perbedaan waktu di France adalah 6 jam, berarti di sana baru jam 9 pagi.


"That bloody bastard! Meninggalkan anak kesayanganku ! Seandainya mommy tahu, tak akan mama terima pertunangan kalian, sudah terbang jauh-jauh ke Indonesia buntutnya kamu dicampakkan! Kenapa kamu menyembunyikan ini kepada mommy?" Gerutu Rahayu berapi-api


"Sorry mom... Aku tidak ingin mommy terbebani"


"Andai bukan Bu Erwin teman mama yang mengabari barusan, beliau dapat undangan......" suara geraman Rahayu terdengar jelas di telinga Khaleesi


"Mom... It's OK.. aku baik-baik saja sekarang"


"Berhenti berbohong Pumpkin... Mommy tahu kamu nak... Cek emailmu, mommy sudah belikan kamu tiket untuk ke sini. Tinggalkan saja negara itu! Biar aku bicara dengan papamu!"


"Mom......?!"



###


alo kesayangan 😊,


mungkin aku tidak terlalu sering update hingga pergantian tahun


but, aku akan mengusahakan kalian tidak menunggu lama... klo lama berarti mangatoonnya yang libur 😂


happy holidays yah ♥️


love,


D😘

__ADS_1


__ADS_2