
"Kak berbalik, Isla ingin pakai baju." Sungut Isla melihat Adrien malah mengambil posisi menahan kepala dengan tangan, terpaku pada tubuh yang masih mengenakan bathrobe berwarna putih
Adrien tertawa kecil "Kau itu istriku, Chérie."
Gadis belia yang dinikahi Adrien dua minggu lalu berbalik menatapnya tajam, ia pun masih mengenakan bathrobe berwarna sama. Adrien harusnya telah berpakaian namun pada akhirnya ia memilih untuk bermalasan menanti istri belianya selesai membersihkan tubuh.
"Tapi Isla malu, kak. Belum terbiasa dilihatin pakai baju. Apalagi baru pertama tidur bersama." Mata tajam Isla berubah redup dengan wajah tersipu
Adrien spontan berdiri menghampiri kekasih hatinya yang hendak mengambil pakaian dari dalam koper.
"Kita sudah sering tidur bersama, Cherie." Adrien sekejap kilat sudah berada di depan tubuh istrinya, ia pun menangkup wajah mungil yang merona itu
"Sebagai pacar bukan sebagai istri." Manik hitam Isla beradu dengan manik birunya "Apalagi kita di rumah Mami Nana."
Adrien tersenyum geli "Mulailah memanggil Mami Nana dengan mama, istriku." Ia bisa melihat wajah Isla makin merona, mata indahnya mengerjap.
"Kak, berhentilah menggodaku. Sejak kemarin mengerjai istri sendiri." Gerutu Isla memeluk tubuh Adrien, wangi cendana pun menguar di inderanya, wangi khas pria berdada kokoh dan bidang yang notabene adalah miliknya
Adrien mengecup puncak kepala Isla "Itu karena aku merindukanmu, Isla Bohemia. Sejak menikah kita tidak pernah tidur bersama, suami dibiarkan sendirian di kamar tamu rumah eyang."
"Tapi kan di pesawat kita tidur bersama." Imbuh Isla tertawa kecil
"Di sofa.. karena papa dan mama di kabin kamar." sergah Adrien terkekeh
Isla mengambil napas pendek dimana udara yang dihirupnya berwangi cendana memabukkan "Maaf kak, di rumah masih berduka. Untungnya ayah membiarkan kita pulang duluan."
"Aku mengerti, Chérie." Sahut Adrien penuh kelembutan. Di hari mereka resmi menjadi sebagai sepasang suami istri namun eyang uti berpulang. Setelah itu Adrien sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya.
Adrien paham jika pernikahan mereka terbilang sangat mendadak, hingga Isla yang belia sepenuhnya belum siap untuk berpisah dengan keluarga besarnya. Adrien pun membiarkan istrinya bergiliran tidur bersama dengan Hugo, Kila atau dengan si kembar tak lupa sang ayah, Radit. Ia memilih mengalah karena selebihnya dari 2 minggu itu, Isla adalah miliknya. Adrien telah berjanji dalam hati bahwa mereka tidak akan pernah terpisahkan lagi.
...
Setelah berpakaian Adrien dan Isla tampak menghabiskan waktu dengan bercengkerama di kursi taman, keduanya sembari menatap pembangunan rumah mereka.
Sebenarnya Adrien mengajak Isla untuk berjalan-jalan ke kota, namun istrinya menolak. Kata Isla, dia masih jetlag. Mereka baru tiba 5 jam yang lalu, dimana keduanya langsung terlelap begitu mendapatkan tempat tidur nyaman.
"Tidak ingin melihatnya dari dekat ?" Tanya Adrien kepada Isla yang terus menatap rumah mereka
"Tidak perlu kak, semua berjalan seperti yang aku inginkan." Gumam Isla memandang puluhan tukang yang sedang mengerjakan pembangunan rumah yang ia buatkan designnya. Rumah impian Isla untuk keluarga besar mereka kelak.
Adrien mengulum senyuman sembari mengacak pelan rambut istrinya "Apakah kau sangat menyukai tempat ini, Chérie.. hingga memutuskan untuk menetap, bukannya memilih dekat dengan Kak Kila."
Ya, Adrien tetap memanggil ibu mertuanya dengan panggilan lama, itu pun telah disepakati bersama, yakni tidak ada yang berubah pada panggilan dan lain sebagainya kecuali statusnya sebagai suami dari Isla.
"Sejak pertama kali.. saat Kak Adrien membawaku kesini, aku menyukainya kak. Hijau dan berada di ketinggian." Sahut Isla dengan wajah berseri, Adrien pun langsung menarik tubuh istrinya pindah ke pangkuan
"Kau tahu, Chérie.. Papa dan mama untuk membeli rumah ini menghabiskan seluruh uang tabungan. Mereka tidak bisa membeli rumah di tengah kota yang mempunyai pekarangan. Ketika game buatanku laku saat itu suamimu berusia 15 tahun, papa pun membeli semua lahan kosong ini, Chérie. Tidak tahunya ternyata sebagian buat rumah kita."
Isla mengalungkan tangannya di leher Adrien sambil tertawa kecil "Memangnya dulu Kak Adrien memikirkan untuk apa lahan seluas ini?"
"Tidak pernah terpikirkan, Chérie. Papa saat itu mungkin hanya untuk investasi. Itu mengapa suamimu sudah kaya raya tapi papa dan mama tidak mau pindah ke mansion . Mereka membeli rumah ini dengan hasil jerih payah bekerja di Indonesia, tabungan dari kurs rupiah ke euro, sangat berat karena baik papa dan mama bukan berasal dari orang tua yang kaya raya. Berbeda denga anak kita kelak, berapa keturunan pun mereka akan tercukupi."
Isla tersenyum dengan tersipu "Apa kakak sekaya yang di list itu?"
"Itu hanya estimasi, Chérie. Jumlah pastinya hanya aku yang tahu. Tidak ada satu pun dari orang-orang di list terkaya dunia memberikan jumlah sesungguhnya kepada media. Tapi kau memiliki suami yang sangat kaya. Jadi mau kemana kita akan berbulan madu, jangan katakan cuma ingin di sini menatap pepohonan." Canda Adrien lalu mengecup bibir Isla dengan lembut
"Kak Adrien yang tentukan, Isla mengikut saja."
"Hei Isla, istriku. Kau harus punya kemauan sendiri, bukan mengikut saja." Ucap Adrien mencandai kekasih hatinya
Isla merenggut manja, alisnya saling bertautan "Yang penting bersama Kak Adrien, toh kemana pun berbulan madu nantinya juga kebanyakan di tempat tidur."
Adrien tergelak tawa hingga wajahnya memerah, ia pun memeluk Isla dengan gemas "Isla, Isla.. betapa beruntungnya aku bersabar selama ini. Ternyata aku diberikan jodoh sesempurna dirimu, Chérie. Tahu tidak, jika semua yang kuinginkan ada pada dirimu."
Gadia yang disanjung merebahkan kepala di cerukan leher Adrien "Aku mencintaimu, suami sempurna." Gumam Isla bahagia
__ADS_1
...
Kila menggigit bibirnya dengan rasa haru melihat Isla mengenakan gaun pengantin rancangan Lika. Mereka berdua memiliki selera yang sama, menyukai gaun berpotongan sederhana.
Pun sang mempelai wanita memutuskan berdandan simpel dan natural, hanya pada bagian mata diperjelas dengan eyeliner.
"Kau persis mamamu, tidak mau berdandan norak di pesta pernikahannya." Ucap Lika sembari memegang wajah Isla, kembali mengecek riasan anaknya.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, kak." Sahut Kila dengan suara serak menahan air mata. Wanita paruh baya itu sendiri tampil mencolok, ia sengaja berdandan seperti itu demi pesta pernikahan anaknya yang digelar secara super mewah di hotel bintang 5 kota Lyon.
Jangan tanyakan jumlah undangan dan siapa-siapa yang masuk dalam list tersebut, yang tentu saja berasal dari kalangan kelas atas, itu disebabkan oleh dua keluarga besar yang memiliki relasi bisnis seantero dunia.
"Kau akan menjadi pusat perhatian ribuan tamu, Isla. Tidakkah kau ingin menganti warna lipstikmu menjadi lebih cerah seperti mamamu?" Tanya Lika menanti anak gadisnya mengiyakan sarannya, Isla justru menggelengkan kepala dengan kuat
"Tidak mami, begini saja. Aku ingin seperti mama, simpel dan elegan."
Lika berdecih menoleh ke arah Kila yang tersenyum simpul "Di bagian mananya mamamu kau katakan elegan, nak? Mamamu itu pendiam dan mematikan."
Isla dan Kila pun tertawa mendengar gerutuan Lika, wanita yang mengenakan kebaya berwarna merah beserta sarung batik tulis khas kota kelahiran Radit, ayah mereka.
Walau pesta diadakan di Eropa namun Kila dan Lika tidak ingin melupakan pakaian adat tanah air. Keduanya kompak mengenakan kebaya yang berwarna sama, pastinya ingin menampilkan ciri khas nusantara di kancah internasional.
"Serius kau belum tidur dengan Rien?" Tanya Lika sambil membereskan alat makeupnya. Wanita yang sejak awal mengurusi riasan dan pakaian Isla.
"Kami tidur bersama kok mi."
"Mami maksud berhubungan badan, ini anak tidak ngerti atau bersandiwara tidak tahu." Lika mengoceh sembari mennggelengkan kepala
"Isla mengerti, kami belum melakukan itu mi." Ucap Isla jujur sembari tertawa geli akan sikap penasaran maminya, Kila yang hendak keluar dari kamar pun ikut berbalik dan menatap saudara kembarnya itu.
"Berhentilah menanyai Isla, kak. Dia sudah dewasa, sudah punya suami. Tidur atau tidak itu urusan mereka berdua."
"Bukan itu masalahnya, ade. Maksudku Rien ternyata bisa juga bertahan selama itu, dia pria normal loh. Tidur bersama istri sahnya tapi tidak diapa-apain." Ucap Lika membalas tatapan Kila
Kila menautkan alisnya lalu mengedikkan bahu "Rien menepati janjinya dengan ayah, kak. Mungkin sebagai tanda terima kasih dan syukurnya telah direstui oleh ayah. Menantuku adalah pria hebat." Pamer Kila memamerkan seringaian di bibirnya
Isla tergelak tawa mendengar curahan hati Mami Lika "Duh mami, hari gini kok masih ingin menjodohkan. Kak Iyo itu tidak suka wanita Asia, sukanya yang bule-bule" ucapnya
Tapi tidak dipacari, hanya dikencani beberapa kali. Sambung Isla dalam hati
Lika menghela napas panjang lalu memandang saudara kembarnya "Dek, kita jodohkan saja Mareo dengan Sky."
Manik hitam Kila melebar maksimal "Ngawur, mereka bersaudara. Jangan terbawa arus akan pernikahan Isla dan Rien, mereka tidak tumbuh bersama."
"Ya ya.. aku mengerti Aurora Kila, kaulah yang paling menentang hubungan seperti itu. Andai tidak, kau pastinya telah bersama dengan Rien." Ucap Lika membuat Kila mendengus kasar menatap anaknya yang terkekeh menyaksikan perdebatan mereka
"Dengar yah Isla, mama tidak punya perasaan dengan Rien, suamimu nak. Mama menyayangi Rien selayaknya kau menyayangi Kak Iyo-mu. Kami tumbuh bersama, dia adalah adikku satu-satunya. Kau pasti tidak punya perasaan lebih kepada Mareo, kan? Ya begitulah perasaan mama kepada Rien."
Isla menganggukkan kepala dengan wajah berbinar, Kila pun kembali merengkuh tubuh anaknya.
"Makasih ma, sudah menjaga Kak Adrien untukku."
...
Isla berjalan menuju ballroom dalam gamitan tangan Hugo, papanya. Pria paruh baya itu tak henti menoleh melihat raut wajah anaknya.
"Kau sangat cantik, Mi Hija." Ucap Hugo sembari mengumbar senyuman manisnya, Isla pun mengeratkan gamitan tangan
"Isla mencintai papa." gumamnya
Hugo menarik napas panjang "Papa pun mencintaimu, Hija. Kau sudah menikah sebulan yang lalu, tapi kenapa perasaan papa baru merasa akan kehilangan dirimu, nak." Gumamnya lirih, pria berambut putih itu menoleh kala matanya berkaca-kaca
Kila menggigit bibirnya dengan manik berair.
"Papa akan sering ke Lyon." Sambung Hugo menyeka bulir cairan bening yang jatuh di pipi Isla "Sudah kita jangan menangis, lihatlah para tamu yang menatapmu, Hija. Dan itu suamimu."
__ADS_1
Hugo menepuk tangan Isla ketika melihat sosok Adrien, pria mengenakan tuksedo hitam, dasi kupu-kupu dengan rambut keemasan yang dibiarkan tergerai.
Isla mengembangkan senyuman indah kepada pria yang berjalan tergesa ke arahnya.
..
Jantung Adrien seolah berhenti melihat sosok Isla dalam gamitan tangan Hugo, istrinya sangat cantik. Mata dan hatinya seolah kompak terharu bahagia menatap sosok dewi mengenakan gaun putih tanpa lengan dengan bawahan yang mengembang indah, seindah yang memakainya.
Istrinya, ya wanita yang tersenyum merekah itu adalah miliknya. Sang gadis belia yang memiliki mata menyipit ketika bahagia, menyambutnya.
Hugo seolah mengerti, pria paruh baya itu menganggukkan kepala lalu langsung mundur dua langkah begitu Adrien tiba di hadapan Isla.
"Cantik, kau sangat cantik, istriku." Ucap Adrien dengan suara serak bergetar menahan tangis bahagianya tak tumpah di depan tamu undangan
Mata indah Isla mengerjap sembari menyunggingkan senyuman lebar "Kak Adrien juga tampan." Pujinya menatap manik biru berkabut putih milik Adrien
Tepukan meriah untuk mereka membuat Adrien dan Isla mengedarkan pandangan kepada para tamu undangan. Keduanya pun kemudian mengumbar senyuman termanis dengan tangan saling bergenggaman erat.
Tak lama kemudian lampu ballroom luas tersebut diredupkan, dan lampu sorot mengarah kepada Adrien dan Isla.
Pembawa acara terdengar memberikan informasi bahwa mereka akan saling memasang cincin pernikahan.
Adalah para orang tua yang kemudian mendekat kepada kedua mempelai dan memberikan cincin yang telah dipesan khusus.
Adrien pun memasangkan 2 cincin terindah yang pernah dilihat Isla, momen yang membuatnya tak bisa menahan haru. Cairan bening pun jatuh dari pelupuknya.
Ketika momen sakral itu usai, Adrien mengangkat kepalanya menatap dalam wajah Isla. Ia menghiraukan suara tepukan dan sorak sorai orang-orang di ruangan tersebut. Matanya terpaku pada wanita yang menjadi istrinya.
"Isla Bohemia Navarro, aku mencintaimu segenap jiwa raga. Walau kita menikahnya sebulan lalu, namun hidup kita baru akan dimulai hari ini. Temanilah pria tua ini menghabiskan sisa umurnya di dunia, aku takkan membuatmu bersedih sekali pun. Takkan meninggalkanmu jauh, karena kita akan selalu bersama. Kemana pun itu. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, istriku." Ucap Adrien sembari menjatuhkan air mata bahagia
Isla menarik napas pelan lalu menyunggingkan senyuman tipis dengan jantung bertalu kencang "Aku mencintaimu juga, Kak Adrien Dierja Prana, suamiku. Jangan pernah lelah mengajariku untuk menjadi wanita yang sempurna."
Adrien menggelengkan kepala sesaat sebelum menarik tubuh Isla dalam pelukannya "Kau sempurna, Chérie. Wanita sempurna milikku. Aku akan mencintaimu sepanjang usiaku, hanya dirimu dan anak-anak kita kelak. Aku mencintaimu, Chérie."
Suara biola pun terdengar disusul lampu ruangan ballroom lebih terang dari sebelumnya.
Mareo telah berada di panggung dan mulai menyanyikan lagu yang diperuntukkan kepada Adrien dan Isla. Suara merdunya pun mengalun dengan lagu romantis membuat para undangan mencari pasangan masing-masing dan mulai berdansa.
Pasangan paling berbahagia malam itu pun mulai bergerak lambat dalam dekapan yang saling mengisi satu sama lain. Dua pasang mata saling beradu menatap penuh cinta, terlebih si pemilik manik biru yang tak hentinya berkaca-kaca.
"Kak Adrien seperti berada di posisi mempelai wanita." Bisik Isla
Adrien menggigit bibirnya lalu tersenyum yang sangat indah "Aku mengingat sebuah quotes, Chérie. Bunyinya seperti ini .. Karena sejatinya, cinta itu juga perihal takdir. Tak peduli caranya, usianya, juga waktunya. Jika dia memang takdirmu, kalian pasti bersatu."
Isla menjinjitkan kaki dan mulai mengecup bibir suaminya "Kita memiliki takdir yang sama, kak." Ia pun memperdalam ciuman kepada pria pemilik tunggal dirinya dan masa depannya. Suara merdu Mareo yang sedang menyanyikan lagu K-Ci & Jojo membuat suasana semakin syahdu dan pula romantis.
"Aku sudah tidak sabar untuk memakanmu, Chérie." Bisik Adrien di telinga Isla, wanita belia itu pun tergelak tawa sambil mengeratkan tangan pada pinggang suaminya.
..
And all my life I prayed for someone like you
And I thank God that I, that I finally found you
All my life I prayed for someone like you
And I hope that you feel the same way too
Yes, I pray that you do love me too
I said you're all that I'm thinking of, baby
All My Life - K-Ci & Jojo
__ADS_1
Tidak masalah kan, jika author hanya bisa Up 1 novel perhari.. masih sibuk banget, Love ☺️ tetap sehat semua 😘 novel ini belom tamat kok.