ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Backstreet


__ADS_3

"Lama sekali." Ucap Adrien membukakan pintu gerbang buat kekasihnya, gadis yang memakai pakaian sport berwarna merah dan hitam.


"Temani ayah dan ibu jalan pagi. Kakak tidak sabaran.. sampai ayah tanya, siapa yang kirim pesan sepagi ini? Matahari saja baru terbit." Sungut Isla berjalan masuk ke dalam rumah


"Chérie..." Panggil Adrien mengikuti kekasih "mana pelukannya?"


"Aku bau kak. Habis mandi saja." Tolak Isla sambil tersenyum geli mempermainkan pria berambut keemasan, miliknya.


"Isla Bohemia." Ucap Adrien menaikkan intonasi suara membuat gadis belia itu berbalik dengan wajahnya yang berbinar. Isla pun bergerak cepat dan melompat ke tubuh kekar Adrien mengalunkan kedua kaki di pinggang dan tangan di leher kekasihnya


"Ini yang kakak mau?" Isla menyentuhkan kedua puncak hidung mereka, pria matang tersenyum lebar dengan mata menyipit bahagia sambil melangkah dan membawa gadisnya ke arah dapur.


"Rindu.. aku rindu, Chérie." Adrien melabuhkan ciumannya di bibir kekasihnya.


Segala impian Adrien tentang memiliki pacar terwujud dengan kehadiran Isla di hidupnya. Dulu ketika ia masih remaja Adrien memimpikan mempunyai seseorang yang ditempati berbagi, yang membuat menunjukkan jati diri yang sesungguhnya, seseorang yang bisa dikecupnya penuh perasaan. Seseorang yang mewarnai harinya.


Bunyi dering telepon menginterupsi ciuman keduanya, Isla pun turun dari gendongan Adrien.


"Halo, Ya Ya" ucap Isla sambil menetralkan napas yang tersengal karena hampir kehabisan napas akan ciuman Adrien, pria yang sedang manyun menatapnya


"Sudah di mana, Isla? Jangan terlalu jauh larinya. Pulang.. sudah ayah tunggu untuk sarapan bersama"


Matanya beradu dengan Adrien dan pria itu menukikkan bibirnya ke bawah, merajuk sedih.


"Sebentar lagi sampai di rumah"


"Baiklah, ayah tunggu"


Isla mematikan panggilan Radit dan meraih jemari kokoh kekasihnya.


"Isla pulang ya kak, sebentar kok. Cuma sarapan, mandi terus kesini lagi."


Adrien mendengus pelan lalu memeluk gadisnya.


"Hari ini kita ngapain kak? Aku harus mengerjakan tugas dulu, baru kita main." Isla mendongak menatap wajah Adrien yang mulai tumbuh bulu maskulinnya


"Sudah aku kerjakan, Chérie. Tadi malam aku iseng membuka emailmu, kebetulan aku telah mengecek semua pekerjaan.. jadi sekalian saja."


"Semuanya?" Sahut Isla membulatkan iris hitamnya


Adrien menganggukkan kepala sambil mengulum senyuman


"Nanti dibagi dua ijazahnya." Jenaka Adrien memeluk Isla


"Aku tidak butuh ijazah untuk menjadi istrimu, kak."


Adrien hanya bisa merona dan menggelengkan kepala dengan ucapan-ucapan spontan kekasih belianya.


"Dulu aku kuliah demi Bohemian House, sekarang aku tidak perlu memikirkan adik-adikku karena aku sudah menemukan donatur terkaya di dunia. Merci beacoup, Mr. Adrien." Seru Isla mengecup pipi kekasihnya


Pria bermanik biru itu terkekeh kecil "Bayarannya.. kau harus menggadaikan dirimu, sepanjang usiamu untuk tetap bersama donatur tersebut, Chérie."


"Kau adalah pemilik tunggal diriku, Tuan Adrien."


Isla tertawa cekikikan sambil melepaskan diri dari pelukan Adrien "Aku harus pulang kak, sebelum ayah menelepon kembali." Sambungnya menarik tangan Adrien untuk menemaninya hingga di pintu gerbang.


"Jangan lama." Adrien mengecup bibir Isla dengan ringan dan gadisnya pun mengangguk penuh binar yang menghangatkan hati


Adrien melihat Isla berlari dengan tubuhnya yang ringan, di depan rumah Pak Made, kekasihnya berbalik dan menaikkan kedua tangannya di atas kepala, mengirimkan tanda cinta.


Adrien tersenyum merekah, Isla selalu sukses membuat jantungnya bekerja di atas normal. Adrien akan membuat sarapan untuk menetralkan debar organ tubuhnya.


Sejak mengenal Isla, ia mulai kembali dengan menu heatlhy food yang kata kekasihnya meminum cairan berwarna aneh. Adrien berfokus untuk kesehatannya, ia ingin hidup lebih lama dengan kekasihnya yang sangat muda itu.


...


"Isla tanya sekali lagi, kakak serius mau beli mobil?" Tanya gadis yang mengenakan dress berwarna putih sewarna celana pendek dipakai Adrien.


Adrien menaikturunkan alisnya membuat Isla tertawa kecil. Ia pun membimbing kekasihnya memasuki showroom mobil pabrikan Jepang tersebut.


Tidak lama kemudian Adrien menuntaskan pembayaran sebuah mobil Honda CRV berwarna hitam atas nama Isla. Rencananya mobil itu akan dihibahkan kepada Bohemian House, namun sebelum itu akan menjadi alat transportasi Adrien selama berada di Bali.


"Jadi kita kemana?" Tanya Isla sambil membuka plastik pembungkus jok mobil."


"Kau mau kemana, Chérie?" Tanya Adrien


"Yang jauh sekalian, bagaimana kalau kita ke Bedugul kak. Sudah pernah ke sana?"


Adrien menggelengkan kepala "Apa yang kita lihat disana?"


Isla tertawa melihat ekspresi Adrien terlihat penasaran.


"Banyak di sana kak, bisa ke danau Bedugul sama kebun strawberry. Isla yang menyetir?"


"Aku saja, Chérie. Pasang seat beltnya." Ucap Adrien mendudukkan dirinya di belakang kemudi. Kekasihnya terlihat sangat bahagia dengan wajah yang tak henti mengumbarkan senyuman manis.


Sebagai keturunan Radit, tentu saja Isla mewarisi suara bagus dari sang kakek. Sepanjang perjalanan kekasih Adrien itu terus menyanyikan lagu yang diputar pada audio mobil.


Adrien pun sangat terhibur mendengar senandung Isla yang riang. Ia telah membayangkan kehidupannya bersama Isla, penuh kebahagiaan tentu saja harapan terbesar Adrien.

__ADS_1


Semalam ia telah membicarakan dengan Keanu, papanya perihal membangun sebuah rumah di dekat kediaman orang tuanya. Keanu sangat senang mendengar ide Adrien karena mereka akan hidup berdampingan.


"Chérie, kau bisa membuat design rumah kita di Lyon?" Ucap Adrien melirik kekasihnya yang langsung menghentikan senandung lagu band yang berasal dari negara Queen Elizabeth itu.


"Qui, tinggal kakak nanti kasih ukuran lahan yang kita mau bangun. Model contemporary modern? Atau mideterania?" Seru Isla dengan riang


"Terserah kau, Chérie. Karena kau nyonyanya nanti. Apapun yang kau inginkan pada sebuah hunian terbaik tuangkan dalam designmu."


Isla tersipu mendengar ucapan kekasihnya "Isla tidak sabar jadi nyonya Adrien.." gadis belia itu tergelak tawa ringan sambil membaringkan kepalanya di lengan Adrien.


...


Adrien harus menggenggam jemari Isla setibanya di Pura Ulun Danu Bratan yang terletak di danau Bedugul, kekasihnya terlihat sangat senang hingga ingin berlari sesaat mereka turun dari mobil.


"Sabar.. kita jalan juga sampai, Chérie. Tidak usah lari-lari." Ucap Adrien mengingatkan Isla untuk tetap tenang, kekasihnya bertingkah seperti ayam yang hendak lepas dari kurungan.


"Isla mau naik perahunya, kak. Nanti diduluin orang." Sahut Isla memajukan bibirnya namun pasrah dengan tautan tangan Adrien.


"Sepi kok, Isla.. tidak banyak orang. Nanti juga kebagian." Adrien mengedarkan pandangan pada dua pura yang berada di atas danau, tak ada yang menaiki perahu hanya beberapa orang wisatawan yang mengambil foto di bagian pinggir tanggul.


Hanya berapa menit berselang demi memenuhi keinginan kekasihnya, Adrien telah mendayung perahu mendekati bagian pura terluar danau.


"Berhenti di sini kak." Pinta Isla ketika badan perahu kayu itu mendekati pinggir pura


Adrien melihat kekasihnya mengatupkan kedua tangan di depan kepalanya dengan mata terpejam. Adrien mengambil kesempatan itu untuk mengabadikan dengan ponselnya. Kekasihnya sangat cantik dengan senyum tipis menghiasi raut wajahnya.


"Minta apa?" Tanya Adrien sesaat Isla telah membuka mata dan menurunkan kedua tangannya.


"Rahasia." Sahut Isla sambil tersenyum miring


"Aku kasih tenggelam perahunya jika tidak mau bilang." Ucap Adrien menggoyangkan perahu hingga kekasihnya terkekeh sambil memegang kuat pada bahu perahu


"Iya aku akan bilang, tolong berhenti kak.. pusing." Mata menyipit itu dengan tawa riang membuat hati Adrien sangat bahagia


"Aku minta menikah secepatnya dengan kakak."


Adrien melebarkan matanya dan langsung meletakkan dayungnya. Ia pun melakukan hal serupa dengan Isla tadi.


"Doanya sama kan?" Tanya Isla


Pria yang mengenakan baju bergaris putih hitam itu pun tersenyum simpul dan menganggukkan kepala.


...


Isla sedang menonton di ruang tengah bawah, sembari menunggu Radit tertidur hingga ia bisa kembali ke rumah kekasihnya. Jam baru menunjukkan pukul 9 malam, ayahnya itu baru benar-benar terlelap di atas jam 10. Sementara pria yang tinggal 5 rumah dari kediamannya sudah tidak sabaran menanti.


Kak Axel memanggil


"Halo Adek Isla" suara bariton menyapa lembut di telinganya


"Kak Axel, apa kabar ? Tumben menelepon, bagaimana touringnya?"


"Hmmm... Terhenti sejenak, papa lagi sakit, jadi aku pulang" sahut Axel terdengar sendu


Perasaan Isla pun mendadak berubah "Om sakit apa, kak?"


Helaan napas Axel terdengar berat "Ginjal, papa barusan tadi diangkat ginjalnya satu"


Mata Isla mendadak memburam, ia sangat mengenal Papa Axel, Om Dylan. Pria yang pernah menjadi tunangan mamanya. Om Dylan pribadi yang sangat baik dan penuh kasih sayang, pria paruh baya itu selalu menganggap Isla adalah anaknya.


"Jadi Om bagaimana kak?"


"Baik.. operasinya sukses. Ya, cuma papa harus hidup dengan 1 ginjal. Beginilah karena papa terlambat berhenti dari kebiasaannya meminum minuman beralkohol, dek"


Isla entah mau bernapas lega atau menyesalkan dengan apa yang didengarnya.


"Bagaimana dengan Tante Valeria dan Angel?"


Yang dimaksud Tante Valeria adalah ibu sambung Axel dan Angelica adalah adik tirinya yang berusia 12 tahun. Saat Axel berusia 10 tahun, Om Dylan menikah lagi dengan pilihan orang tua. Awalnya mereka tidak saling cinta, namun dengan kehadiran Angelica membuktikan jika rumah tangga orang tua Axel berjalan baik.


Mungkin... pikiran Isla mengatakan itu, namun ia ragu karena beberapa tahun lalu pernah mendengar Om Dylan menelepon mama, dan mengatakan sangat merindukan Aurora Kila.


"Adek Isla, kau di Berlin ?" Tanya Axel, menghentikan pikiran Isla yang kemana-mana


"Bali, kak. Isla sedang di Bali.."


"Oh yah? Jika papa keluar dari rumah sakit, kakak akan ke Bali" suara Axel terdengar riang


"Tentu saja kak, Isla tunggu.."


"Baiklah Isla, ini Angel memanggil. See you Adek Isla"


"See ya.."


Begitu Axel memutuskan panggilan, Isla langsung mengendap ke depan kamar Radit, ia melihat bagian bawah pintu sudah gelap menandakan ayahnya telah terlelap.


Dengan cepat Isla pun bergegas menuju pintu samping dengan pelan menguncinya dengan kunci cadangan.


Isla tidak membuka pintu gerbang, ia memilih untuk melompatinya. Dengan ilmu bela diri yang dimiliki, Isla bisa melompat dengan ketinggian 2 meter tanpa kesusahan.

__ADS_1


Gadis belia itu tersenyum simpul melihat seorang pria berbadan tinggi sedang berdiri di depan rumahnya seolah menanti seseorang. Benar, Adrien menunggunya.


"Lama.." sungut Adrien langsung menangkap badan kekasihnya dalam pelukan


"Nunggu ayah tidur, kak." Isla berjinjit mengecup bibir Adrien


"Kenapa kau berkeringat, Cherie?" Adrien menyeka bulir keringat di pelipis kekasihnya


"Lari terus lompat pagar, Isla olahraga malam demi ketemu Kak Adrien." Ungkap Isla jujur


Adrien tergelak tawa sambil merangkul Isla masuk ke dalam rumah mereka.


"Sampai kapan kita seperti ini ya, Chérie? Apa kau masih bisa bertahan?" Adrien memberikan segelas air putih kepada Isla


"Kakak mungkin yang tidak bisa bertahan, Isla sih karena masih muda, suka-suka saja.


Masih on fire." Ledek Isla yang berujung jawilan di pipinya dari Adrien


Pria berambut keemasan yang telah mencukur bulu di wajahnya menuntun Isla naik ke tempat tidur.


"Untukmu aku sudah menjalani hampir mencapai setengah dekade hidup, Isla. Empat bulan takkan lama bagiku."


Adrien memeluk teman tidurnya yang berwangi kayu manis. Tubuh indah yang akan menemani sisa hidupnya .


...


Adrien menggoyangkan tubuh Isla ketika ia baru saja mematikan alarmnya.


"Chérie, ayo bangun.."


Isla mengerang malah mengeratkan pelukan pada tubuh Adrien


"Islaaa.... Bangun sayang." Ucap Adrien sekarang mengusap punggung kekasihnya itu


"Sebentar lagi kak, Isla masih ngantuk, biasanya juga kita bangunnya jam berapa." Rajuk Isla


Adrien menghela napas panjang "ini di Bali, bukan di Berlin.. Sudah jam 5, Chérie. Ayah pasti sudah bangun."


Isla tersentak kaget langsung terduduk membenarkan rambutnya dan menoleh melihat wajah Adrien


"Jam berapa kak?"


"Jam 5."


" Ya ampun, ayah sudah bangun itu.. kenapa gak bangunnya jam 4 sih kak."


Isla mendekatkan kepalanya dan mengecup ringan bibir Adrien "aku pulang kak." Serunya melompat dari tempat tidur, tergesa membuka pintu. Pria dewasa yang mengikuti kecepatan badan lincah itu hanya bisa mendapatkan angin lalu.


Adrien termangu melihat Isla berlari kencang sejauh 200 meter dari kediamannya menuju ke tempat tinggal kekasihnya.


...


Isla baru saja melintas di dekat pendopo ketika melihat ayah dan ibunya keluar dari pintu samping.


Mati aku !


"Tumben duluan bangun dari ayah." Ucap Radit mendekat pada Isla yang meregangkan badan


Isla menyunggingkan senyuman simpul yang bermodus "Cuacanya segar, Ya Ya. Jadi Isla semangat mau jalan pagi." Bohong Isla langsung menggamit tangan Radit


"Tidak pakai sepatu ?" Tanya Rinjani melihat Isla hanya mengenakan sandal jepit


Untung gadis belia itu bisa menguasai diri dan tidak menampakkan ekspresi kaget di wajahnya. Rinjani hanya mengomentari sandalnya, bukan baju kaos kebesaran dan celana joggernya.


"Pagi ini Isla mau cekeran saja, bu. Melatih telapak kaki." Kilahnya langsung melepas sandal jepit


Isla menyunggingkan senyuman lebar dan menggamit kedua tangan Radit dan Rinjani.


Jalan pagi merupakan kebiasaan Radit dan Rinjani sejak Isla masih kecil mungkin sejak ayah dan ibunya masih sebagai pasangan muda. Dulu mereka selalu berempat dengan Mareo dan semenjak Isla kembali di Bali, ia tidak pernah melewatkan menemani ayah dan ibunya berolahraga.


Ketiganya berbincang seru sepanjang perjalanan, namun Isla dari kejauhan melihat sosok pria berhoodie hitam sedang berlari pagi. Dengan cepat Isla mengambil ponselnya dari saku celana, dan mengetuk layar datar tersebut dengan kecepatan tinggi.


Kak Adrien yah, yang pakai hoodie hitam ? Cepat berbalik ! Nanti papasan dengan ayah !!!


Isla bisa melihat pria itu berhenti dan mengambil ponselnya lalu membalikkan badan dan berlari sekencang-kencangnya.


"Ayo Isla... " Panggil Radit menunggu anaknya yang berhenti karena sibuk dengan telepon genggam


"Iya." Isla bergegas mendekat dengan helaan napas lega dari rongga dadanya


"Di sini ada bule yah tinggal? Tadi pria pakai hoodie itu pasti bule.. tinggi sekali seperti Kai.. larinya juga kencang." Ucap Radit menggamit Isla dan Rinjani


Gadis belia hanya bisa terkekeh sembari melayangkan pandangan mencari kemana perginya pria berhoodie hitam itu bersembunyi.


###



author nulis macam lari marathon 😂

__ADS_1


__ADS_2