
Adrien membuktikan perkataannya dengan membeli apartemen tetangga sebelah Isla dan Mareo, ketika sore tiba pria tampan berambut panjang itu pun telah pindah dari penthouse nya. Namun sayang, Isla sedang kembali ke kediaman Navarro dan Mareo sedang terbang ke Amerika dalam rangka promo albumnya hal itu membuat Adrien harus kesepian selama dua hari.
Selama akhir pekan, Adrien mengisi waktunya dengan berolahraga di pagi hari kemudian tetap berkantor seperti biasa. Sebenarnya dia ingin ke Lyon bertemu dengan Keanu dan Adriana, orang tuanya. Tetapi Adrien memilih menunggu kekasihnya kembali, sebab dia ingin membawa Isla bertemu orang tuanya dengan status mereka yang baru.
"Aku akan menjemputmu, Chèrie" ucap Adrien pada ponsel canggihnya yang dijepitnya di telinga sementara tangannya sibuk menandatangani berkas.
"Tidak usah kak, ini serumah mau mengantar. Sekalian ke MB - Mall of Berlin" sahut Isla di ujung telepon
Adrien menyandarkan punggungnya sembari tertawa kecil "Tidak biasanya?"
"Kembar yang mau... Katanya sudah lama kami jalan-jalan komplit sekeluarga. Aku rindu kakak"
Kalimat terakhir Isla seolah menghujam tepat di jantung Adrien. Kekasihnya yang polos selalu melontarkan kata memicu debaran tak normal di organ vital.
"Aku merindukanmu juga gadis cantik. Tidur tidak nyenyak tanpamu" ungkap Adrien jujur, dua malam lalu dia merasakan gelisah tanpa Isla di sampingnya, padahal sebelumnya mereka baru dua kali tidur bersama.
Tawa renyah dari seberang membuat Adrien tersenyum semringah "Sebentar lagi kita ketemu kak"
"Kak Ibo..! Sudah tunggu papa" suara wanita lebih muda terdengar di telinga Adrien, yang dipastikannya adalah suara Sky.
"Kak.. aku berangkat dulu. Sampai ketemu di apartemen" Isla menyudahi panggilan suara dan Adrien kembali memusatkan fokusnya pada map di depannya.
Adrien yang nampak sangat santai dengan pakaian casual yang tadi membuat para pekerja yang tetap masuk di hari minggu tercengang melihat penampilannya. Seorang CEO terkaya kelima dunia, bergaya seperti orang biasa pada umumnya.
...
Isla bergelayut manja pada tangan Hugo, papanya sementara si kembar seperti biasa berjalan mengapit mamanya. Kai dan Sky terlihat kerepotan dengan belanjaan yang berkantong-kantong, kedua saudaranya itu terkenal dengan habit shopaholic, dan entah kebiasaan itu menurun dari mana yang jelas Isla sangat jauh berbeda dengan adik-adiknya.
"Hei Rien !" Pekik Kila membuat Isla mengarahkan pandangan yang kemudian terpaku pada pria tampan berhoodie warna mauve dipadu dengan jeans denim biru.
"Kamu masih di Berlin ?" Kila memeluk adik sepupunya bergantian dengan Kai dan Sky, sementara Isla menahan diri seolah tak begitu akrab dengan pria bermanik biru.
"Aku lebih banyak di sini sekarang kak, kemungkinan besar kantor pusat akan dipindahkan di Berlin." Sahut Adrien tersenyum tipis sembari mencuri pandang pada kekasihnya yang enggan melepaskan diri dari pria berambut putih.
Sainganku !
"Paman mau apa ke MB ? Belanja ?" Sky menggamit Adrien setelah menyerahkan semua belanjaannya ke tangan Kai, pemuda belia hanya bisa melotot akan perbuatan saudara kembarnya.
"Mau belanja kebutuhan makanan, misal roti." Jelas Adrien disambut tawa oleh Kila
"Sejak kapan kamu mau melakukan hal seperti itu dek, ckckkk... Omong-omong kamu belum mau menikah? Kakak jamin tidak ada wanita yang akan menolak pria sepertimu Rien. Kamu punya segalanya." Kila mengusap punggung Adrien, sementara Isla seolah tak mendengarkan ucapan mamanya dengan melayangkan pandangan ke toko yang mereka lewati
"Sebentar lagi kak.. aku akan menikah." Adrien melirik dengan ekor matanya ke arah Kila, wanita yang sempat tumbuh di hatinya namun sekarang posisi itu digantikan oleh anak gadisnya sendiri.
Kila dan Sky terpekik riang mendengar perkataan Adrien
"Jadi itu alasan kamu ingin memindahkan kantor pusatmu di sini Rien? Jadi calonmu orang Berlin ? Ya ampun, kakak sangat senang mendengarnya dek. Kami harus mengundang kalian makan malam di rumah sekalian berkenalan dengan adik iparku."
Celotehan Kila membuat Isla menggigit bibirnya menahan tawa, entah apa yang terjadi jika mamanya tahu jika wanita yang dimaksud Adrien adalah anak gadisnya sendiri.
"Hija..." Bisik Hugo melirik anak sulungnya
"Ada apa pa?" Sepasang mata kucing mendongak menatap Hugo, pria paruh baya itu pun tersenyum tipis
"Tidak ada apa-apa sayang. Papa hanya akan kesepian jika kamu tidak ada."
"Ish papa ! Kan ada Kai dan Sky.. " rengeknya manja mengeratkan gamitan tangan
...
Hampir tiga jam kemudian setelah makan malam bersama dan diakhiri belanja kebutuhan apartemen, Adrien pun berpisah dengan keluarga Navarro tapi sukses mengambil kekasihnya dengan alibi dia yang akan mengantarkan Isla. Kedua orang tua kekasihnya pun tanpa curiga, malah justru senang dengan inisiatif Adrien.
__ADS_1
"Ayo kita pulang Chèrie." Pria tampan itu menyeringai menatap gadisnya
"Dasar kakak, bikin jantungan ! sungguh berani menunjukkan diri di sini. Terus penampilan kakak juga, seperti teman kuliahku." Sungut Isla mengikuti Adrien dari belakang menuju mobil kekasihnya
"Chèrie... Ini langkah awalku untuk
mendapatkanmu. Kalau tidak bergerak nanti kita akan terbiasa dengan hubungan yang sekarang. Soal penampilan, aku meminta asistenku untuk membelikan pakaian ini. Aku tidak mau jalan denganmu dan berpenampilan seperti om-om."
Isla tergelak tawa sambil mengikuti Adrien yang memasukkan belanjaan di jok belakang mobil.
"Tuh tahu sendiri jika sudah om-om." ledek Isla mencandai pria yang miliknya
"Om-om yang kamu cintai Chèrie." Ucap Adrien memerangkap tubuh kekasihnya pada badan mobil
"Om betul sekali... Aku sangat mencintaimu Tuan Adrien Pranaja." Isla mengalunkan kedua tangannya pada pinggang Adrien sementara pria berambut keemasan membelai wajah kekasihnya
Adrien kemudian mengecup singkat bibir manis Isla. Lalu mendekap tubuh kekasihnya dengan erat. Gadis yang membuat seluruh kewarasan dan logikanya hilang digantikan oleh perasaan merindu yang sampai di ubun-ubun membuatnya nekat ke Mall of Berlin.
Adrien yang tidak bisa menahan lama, menanti malam tiba.
...
Keinginan Adrien yang hendak membawa Isla ke Lyon akhirnya bisa kesampaian ketika akhir pekan tiba. Seharusnya Isla ikut berlibur ke Minorca bersama dengan keluarga Navarro namun gadis belia itu beralasan jika mempunyai kegiatan di kampusnya. Alasan yang masuk akal diterima oleh Aurora Kila, mamanya.
Mereka berangkat ke Lyon pada hari Jumat setelah Isla selesai dengan perkuliahannya dan Adrien dengan jam kantornya. Tentu saja kediaman Pranaja yang di tuju, yang mana Keanu dan Adriana telah menunggu kedatangan anak semata wayang beserta kekasihnya.
Adriana dan Keanu pun sekarang nampak lebih bahagia dengan kepastian hubungan Adrien dan Isla. Kedua orang tuanya sangat menerima bahkan sejak tadi sudah menanyakan tentang pesta pernikahan yang Adrien belum jawab sepenuhnya. Semua orang ingin melihatnya menikah, terlebih bagi Keanu dan Adriana.
Untung saja Isla bisa menyesuaikan diri dengan kehadiran mereka yang kedua di Lyon. Kali ini sangat berbeda dengan kedatangannya yang pertama saat menginjakkan kaki di kediaman Pranaja, karena status Isla sekarang adalah tunangan Adrien bukan sebagai keluarga. Namun kehangatan keluarga Adrien lebih terasa intim setelah deklarasi tunangan didapatkan oleh Isla.
"Apa yang kalian lakukan hari Minggu, apa benar jika ingin ke Monaco ?" Keanu menoleh ke arah Adrien di sampingnya.
"Oui pa, aku akan membawa Isla kesana. Jadi kami akan terbang ke Monaco besok siang."
...
Adrien mengajak kekasihnya berbelanja setibanya di Monte Carlo, Monaco. Kota kerajaan di Perancis, yang merupakan tempat para kalangan jet set banyak berlibur dan menetap. Dia pun sempat menjadikan Monte Carlo tempatnya berpesta berapa tahun yang lalu, tak disangka jika Adrien akan kembali ke kota ini dan membawa serta tunangan cantiknya.
"Aku harus mencobanya dulu kak, jangan asal ambil." Isla menolehkan tatapannya pada berbagai macam pakaian branded yang berada di tangan para pramuniaga toko
"Ya sudah di coba dulu Chèrie, tapi aku sudah tahu semuanya bagus jika kamu pakai." Adrien mengacak rambut kekasih yang menjadi perhatian para pramuniaga ikut tersenyum melihat kemesraan yang ditunjukkannya
Isla pun berjalan menuju ruang ganti diikuti para pramuniaga, bak ratu yang sedang diiringi oleh dayang-dayangnya.
Adrien menunggu kekasihnya sambil memilih pakaian yang tergantung di etalase.
Matanya kemudian tertuju pada halter dress berwarna hitam, bersamaan saat itu ada tangan lain yang ingin mengambil pakaian tersebut.
"Mes excuses." [Maafkan saya] Adrien menarik tangannya, mengurungkan niat mengambil dress hitam itu
"Buat kamu saja Rien." Ujar suara wanita yang mengenalnya, Adrien pun membalikkan badan menatap asal suara yang seperti dikenalnya.
Wanita berambut hitam dengan dandanan sosialita berdiri di samping, Khaleesi.
Raut wajah Adrien berubah semringah dan langsung memeluk wanita itu.
"Khale, sudah lama kita tidak bertemu. Kamu terlihat dewasa dan keibuan." ucap Adrien mengamati wajah dan dandanan wanita berusia 40 tahun itu.
Tangan Khaleesi menggenggam lengan Adrien sambil menepuknya pelan "Kamu yang tidak berubah Rien, masih seperti dulu." Wanita itu terdecak kagum menatap raut wajah pria tampan di depannya
"Keluarga kami mempunyai gen vampire Khale, asal kamu tahu saja." Canda Adrien mengamati temannya yang terlihat lebih berisi
Khaleesi tertawa kecil sambil menutup bibirnya, matanya memuja pada paras, tubuh dan penampilan Adrien. Bahkan penampilannya lebih santai dibandingkan saat mereka bersama.
"Kamu sedang apa di Monte Carlo ?" Tanya Adrien melayangkan pandangan mencari Jean, suami Khaleesi.
__ADS_1
"Mungkin sama denganmu, Rien. Menonton balapan bukan ? Jean mengajak anak-anak ke Monaco, dan yah sekalian berlibur. Kami akan kembali tinggal di France, kamu pasti sudah mendengar kabar jika papa Jean telah meninggal dan kami mendapatkan berbagai warisan yang tak sedikit." Ucap Khaleesi menghibur diri akan kematian tragis mertua beserta istrinya.
"Aku turut berduka cita Khale, semoga kalian bisa melalui ini dengan kuat. Jadi di mana Jean dan anak-anakmu ?"
Khaleesi menghela napas ringan lalu tersenyum merekah.
"Mereka di toko sebelah, anakku yang laki-laki ingin membeli sepatu. Dan kamu sendiri sedang apa di butik pakaian wanita ?" Sindir Khaleesi kemudian tertawa
"Aku bersama dengan..."
"Kak ! seru Isla memanggilnya memasang wajah berbinar "Sini....." Sambung gadis cantik itu meminta Adrien mendekat
"Bagaimana bagus semua kan?" ucap Adrien menghampiri gadisnya
Isla gadis belianya mengangguk lalu berjinjit mengecup ringan bibir Adrien. Pria yang kemudian memberi isyarat dengan tangan kepada para pramuniaga untuk memproses pembelian puluhan pakaian yang dipilihnya untuk Isla.
"Masih mau ?" Tawar Adrien
"Non" singkat gadisnya yang diikuti gelengan kepala. Tangan Isla kemudian dinaikkan pertanda meminta dompet Adrien, pria tampan itu terkekeh sambil mengangsurkan benda yang diminta kekasihnya.
"Embrasse moi." Pinta Adrien menurunkan wajahnya dengan cepat gadis belia itu mengalunkan tangannya pada leher Adrien lalu mencium bibir penuh itu dalam. Ciuman sebelumnya tidak membuatnya puas, Adrien menginginkan deep kiss hingga melupakan jika ada sepasang mata menatap tingkah lakunya.
Sambil merona Isla menyudahi kecupan yang melewati batas kesopanan jika mereka melakukannya di tanah air.
"Isla bayar dulu ya kak." Kekasihnya pun dengan riang berjalan meninggalkan Adrien yang masih berdiri dengan jantung yang berdebar kencang.
"Apakah itu Aurora ?" Ucap Khaleesi tiba-tiba sudah berdiri di samping Adrien. Sebenarnya dia meragu, melihat gadis yang baru saja mencium mantan suaminya jauh muda dari umur Adrien.
Pria mengenakan t-shirt putih di padu kemeja denim dan jeans denim menoleh menatap Khaleesi.
"Bukan.. itu Isla Bohemia, anak Aurora."
Khaleesi terperanjat kaget, matanya membelalak tak percaya. Berbagai rasa melingkupi hatinya sekarang. Jika gadis belia itu anak Aurora, berarti Adrien baru saja mencium keponakannya sendiri. Sangat tidak masuk akal, mungkin saja tidak bermoral. Geram Khaleesi dalam hati.
"Terus hubungan kalian ?" Tanya Khaleesi mencecar Adrien dengan pelan
Sambil mengulum senyuman Adrien menatap lekat kepada Khaleesi "Tunangan, Isla adalah tunanganku Khale. Kami saling mencintai, dan ya... Kami akan menikah."
Ucapan Adrien terdengar mendayu penuh cinta, dan seolah ribuan jarum menancap di hati Khaleesi. Berpuluh tahun dia menyimpan perasaan untuk pria bermanik biru dan tak luntur sedikit pun.
"Seperti Isla sudah selesai membayar." Adrien mengerti akan lambaian kekasihnya "sampai bertemu Khale, salam buat Jean dan anak-anakmu." Lanjutnya hanya menepuk lengan wanita itu pelan.
Bibir Khaleesi seolah kelu menjawab disertai tubuhnya ikut kecewa yang mengharapkan sebuah pelukan perpisahan lebih hangat daripada sebelumnya.
"Siapa wanita tadi kak?" Tanya Isla bergelayut manja di tangan kekar tunangannya. Wanita seumur mamanya atau mungkin lebih tua melihat tampilannya yang terlihat lebih dewasa, Isla sadar sepenuhnya jika wanita itu terus memerhatikan segala gerak-geriknya di dalam butik.
"Namanya Khaleesi, Chèrie. Teman dari Indonesia, ia menikah dengan orang Perancis juga."
"Kenapa pakai juga? Memangnya ada yang menikah dengan orang Perancis lainnya?."
Adrien tertawa kecil mamandangi wajah cantik kekasihnya "Kamu... Isla Bohemia yang menikah dengan orang Perancis."
###
intro drama **masuk
non : tidak
embrasse moi : cium aku**
__ADS_1