
Isla meraih dress berwarna fuschia dari gantungan, ia mengamati modelnya dan bahan dari katun terbaik sedikit strech, bagus untuk tubuhnya yang semakin membesar. Usia kandungannya yang sudah menginjak bulan ke enam dan perutnya seolah telah berada di fase trimester ketiga.
Ketukan pada kaca toko menjeda keasyikan Isla, kepalanya sedikit menengadah mencari asal suara yang tercipta. Seorang pria tersenyum
lebar dari luar jendela kaca, sambil menautkan alis Isla mencoba berpikir keras mengingat sosok itu.
Tak butuh lama sang pria terlihat bergegas memasuki toko dengan senyuman sama lebarnya, pria itu telah berdiri di depan Isla.
“Kau telah melupakanku, gadis kecil.”
Mata Isla membulat setelah mengerti pria yang membuatnya pangling.
“Paman Jean ?” cicit Isla membekap bibirnya
Jean Syagrius meganggukkan kepala “Ya, itu aku.”
Isla tidak bisa menutupi rasa takjub memandang pria dewasa di depannya, sungguh berbeda dengan kondisi terakhir seorang Jean. Dulu pria di
depannya memiliki badan yang besar sedikit membuncit di bagian perut, wajahnya kusam dengan berbagai bulu tumbuh tidak beraturan di wajah. Bahkan rambutnya hampir sama panjang dengan Isla, bedanya ia memiliki rambut indah dan lembut sementara Jean kusut awut-awutan.
"Paman Jean terlihat berbeda, sangat berbeda.” Isla telah menurunkan tangannya lalu menaruh dress pilihannya dalam kereta trolly. Matanya menyusuri tiap perubahan Jeans Syagrius. Tidak ada badan yang besar apalagi perut buncit. Wajahnya tirus tanpa sedikit pun bulu maskulin, rambut keemasan terpotong rapi sebahu. Seperti suaminya, Adrien.
Jean terkekeh barisan gigi putih berbaris rapi tak bercela “Apa aku sudah terlihat lebih muda ?”
Mau tidak mau Isla mengangguk, ia tidak berbohong jika kenyataan memang berkata yang sebenarnya “Ya, terlihat berusia 30an.” Jujurnya membuat Jean tertawa ringan
“Berarti kau harus memanggilku ucapan yang sama kepada suamimu, omong-omong dimana Rien ?” tanya Jean mengedarkan pandangannya pada toko khusus menjual baju untuk ibu dan anak
Isla tersenyum tipis “Di lantai atas, mencarikan baju untuk bayi kami. Karena tidak ada lift jadi aku harus menunggunya di sini.”
Jean menatap perut Isla “Oh ya, kau terlihat besar gadis kecil.” Guraunya membuat Isla tertawa
“Tentu saja besar, aku sedang hamil.”
Jean seolah mengerti jika berbicara dengan seorang ibu hamil, ia pun menunjuk ke arah sofa di dekat mereka “Masih ada waktu sebelum meetingku jadi kita bisa menunggu Rien sambil berbincang.”
Isla mendudukkan tubuhnya dengan pelan, Jean sebenarnya hendak membantu namun ia tidak ingin menyentuh pria yang memiliki badan lebih
ramping dari sebelumnya, malah lebih kecil dari ukuran tubuh Adrien.
“Paman Jean melakukan apa hingga perubahannya drastis seperti ini ?” Isla melirik Jean, di saat yang sama pria dewasa itu mengamatinya
Jean mengembuskan napas panjang dan kasar “Patah hati.”
“Apa ?” tanya Isla heran
Jean mengedikkan bahunya “Aku dan Khaleesi sudah bercerai.”
Isla melotot, manik hitamnya seolah meloncat keluar dari kelopak matanya.
“Tidak usah kaget seperti itu gadis kecil. Ya, kami sudah bercerai. Tidak lama setelah pertemuan terakhir kita itu, aku menemukan jika Khale mempunyai simpanan pria muda, tidak hanya satu tapi beberapa. Mirisnya anak-anak muda itu masih berkuliah.”
Sang bumil membekap bibirnya dengan mata melebar maksimal, kepalanya menggeleng seolah ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Paman Jean tidak sedang mengarang cerita, bukan ?”
Pria berambut coklat keemasan itu menyugar rambutnya “Buat apa aku berbohong apalagi mengarang cerita, gadis kecil ? Kejadian itu benar
kami alami. Anak-anakku sempat terpuruk akan perpisahan kedua orang tuanya. Dan aku bersyukur hak asuh jatuh ke tanganku. Mereka sekarang di Lyon. Ya, kami telah kembali pindah di kota ini.”
“Pasti berat menjadi orang tua tunggal, Paman Jean.”
Kembali Jean mengembuskan napas panjang “Mau tidak mau, gadis kecil. Aku harus menjadi sosok ayah dan ibu kepada keempat anak itu.”
“Isla turut prihatin mendengarnya. Maksudku perceraian dengan anak sebanyak itu, ditambah pernikahan yang telah lama.”
“Jodohnya cuma sampai hari itu, Isla Bohemia. Khaleesi mengalami perubahan yang sangat besar setelah bersama dengan sahabatnya itu. Rupanya mereka menggaet pria-pria muda demi menuntaskan hasrat. Aku sungguh malu
menceritakan ini kepadamu.” Ucap Jean tertawa miris, ia masih merasakan kecewa akan cinta berpuluh tahun berakhir dengan pengkhianatan
Isla termenung memikirkan ucapan Jean “Pasti sangat sulit untuk bangkit.”
Helaan berat dari Jean membuat Isla menatap raut wajah kuyu pria dewasa itu “Maafkan aku, Paman Jean. Aku tidak bermaksud mengungkit beban berat di hati, paman .”
“Sama sekali tidak, gadis kecil. Aku bisa mempunyai teman untuk berbagi cerita ini. Selain dengan mama tidak adalagi yang menjadi tempat
meluapkan perasaan kecewa. Kakak dan adikku terlalu sibuk dengan keluarganya masing-masing.
Mereka seolah tidak mempedulikan permasalahanku. Mungkin karena besaran harta
__ADS_1
warisan yang aku terima, harusnya tidak sebanyak yang didapat dua orang itu. Well, mungkin maksud mereka karena aku telah lama tinggal di Indonesia. Melepaskan perusahaan sementara dua saudaraku tetap bekerja mendampingi papa yang mulai sakit-sakitan.”
“Paman Jean belum 30 menit dan Isla telah mendapatkan banyak cerita.” Sahut Isla terkekeh, Jean menatap senyum wanita cantik dan belia
tersebut.
“Dulu kau sangat menakjubkan dengan usia remajamu. Pun sekarang masih muda, tapi melihatmu membesar seperti ini, sungguh seksi.” Ucap Jean memicu semburat merah di wajah Isla, dengan cepat wanita berusia 20 tahun itu
memalingkan pandangannya
“Jangan menggodaku, Paman Jean.”
Jean tergelak tawa “Sungguh lucu. Rien pasti sangat mencintaimu, bukan ? Aku tidak bisa membayangkan perasaan pria seusia kami
mendapatkan seorang pendamping se menggemaskan dirimu. Dulunya aku pikir Rien
mencintai Khaleesi hingga mau menikahi wanita itu. Sungguh aneh menurutku seorang teman menikahi hanya demi sebuah status. Andai saat itu aku tidak berjuang mendapatkan kembali Khaleesi, mungkin Rien sampai sekarang masih
berstatuskan suami Khaleesi. Dan kau akan berjodoh dengan siapa, gadis kecil ?”
Isla mendengus kasar, seketika cemburu hinggap di hatinya. Sungguh ia tidak ingin itu terjadi “Tentu saja Isla masih berkuliah, tidak memikirkan
jodoh apalagi pernikahan.”
Jean tergelak tawa melihat cemburu terpancar dari wajah wanita Asia yang selalu berhasil membuat jantungnya jumpalitan dan memanas “Jika kau masih sendiri, apakah kau akan mempertimbangkanku menjadi pilihanmu ?
Bukankah kau suka dengan pria yang lebih dewasa ?”
Isla memberenggut kesal “Tidak ! Isla akan berpacaran dengan pria seusiaku.” Sahutnya
dengan suara lebih lantang, Jean pun tertawa lebih keras. Ia merasakan bahagia setelah sekian lama hatinya menghampa. Isla Bohemia sungguh wanita yang unik. Ia semakin tertarik dengan wanita di sebelahnya.
“Chérie.” suara Adrien membuat dua orang yang duduk bersisian namun tetap berjarak menoleh ke asal suara.
Sontak Jean berdiri dan menghampiri Adrien. Keduanya bersalaman dengan tegas. Di benak Adrien merasakan cemburu, sementara Jean hatinya tercubit rasa kekalahan dengan keberhasilan pria yang pernah menikahi Khaleesi,
walau pernikahan itu telah dibatalkan.
“Sekadar informasi aku sudah kembali kesini dan sudah berpisah dengan Khaleesi. Kami berdua sekarang tidak memiliki hubungan, kecuali
anak-anak yang bisa membuat kami bertemu lagi. Walau untuk sementara aku tidak membiarkan wanita itu mendekati anak-anakku.”
Adrien menjatuhkan rahangnya, ia menatap Isla istrinya yang sedang mengiyakan perkataan Jean.
Jean menatap layar ponselnya
“Sungguh istrimu membuatku melupakan segalanya.” Sambung Jeans berbisik
“Selamat tinggal ibu hamil yang sangat cantik. Sepertinya kita akan banyak bertemu di kota ini.” Jean berbalik memandangi Isla sekali lagi.
Adrien mendesis “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Jean tertawa kecil “Lyon tidak terlalu besar untuk ukuran pria yang sedang mencinta, teman.” Ucapnya pelan lalu bergerak meninggalkan Adrien dan Isla.
Wajah Adrien mengeras mengamati sosok Jean yang menghilang masuk ke restoran sebelah toko tempat mereka berbelanja.
“Besok aku akan menggendongmu ke lantai berapa pun, Chérie. Ketimbang aku meninggalkanmu sendirian dan membuat seorang duda beranak empat menggila seperti itu.” Ucap Adrien penuh kesal
“Walau Paman Jean menggila tapi aku tetap mencintai Kak Adrien. Bagiku hanya ada 1 orang untuk selamanya.”
Wajah Adrien melunak dan sayu memuja mendengar ucapan istrinya, ia tidak segan mendekap tubuh Isla di dalam toko yang mulai ramai akan pengunjung.
“Aku memegang kata-katamu, Chérie.”
Isla menghirup wangi cendana dari dada suaminya “Isla ingin hanya dada ini tempatku, tak ada yang lain. Bahkan jika kita berpuluh tahun
kemudian Kak Adrien harus tetap mencintaiku. Cinta jangan pernah luntur akan kesibukan atau entah itu apa. Mendengar cerita Om Jean setidaknya sebagai wanita Isla belajar dan bisa menarik kesimpulan bahwa seorang istri harus memegang rasa yang sama seperti saat ini hingga kita menua, kak. Isla tidak mau seiringnya waktu cinta semakin terkikis hingga hilang tak berbekas.”
“Itu kamu, Chérie. Usiamu masih sangat muda sehingga dirikulah yang sebenarnya ketakutan itu akan terjadi. Aku sudah sering mengatakan ini,
jika kau adalah cinta dalam hidupku. Usiaku sudah berapa, Chérie. Sementara dirimu sedang indah-indahnya. Sedang hamil pun bisa membuat Jean seperti itu, bagaimana jika dalam kondisi lain ? Bukan hanya Jean, banyak pria akan mengejarmu.”
Isla berjinjit mengecup bibir indah Adrien “Itu tidak akan terjadi. Kita akan selalu bersama bukan, kak ? Bagiku terserah pria seperti Paman
Jean berderetan, selama Isla tidak berbalik menyukainya.
Adrien menghela napas lega “Aku sungguh takut kehilanganmu, Isla. Kau tahu jika aku tidak bisa hidup tanpamu.”
Isla tertawa kecil “Gombal.”
__ADS_1
“Aku bersungguh-sungguh, Chérie.” bisik Adrien sambilmerangkul istrinya menuju meja kasir sementara tangan satunya membantu Isla
mendorong trolly berisi pakaian untuk ibu hamil
“Isla juga tidak kemana-mana, kak. Setelah mereka lahir, kita akan menjadi orang tua yang sangat sibuk. Memikirkan dunia luar saja
sepertinya tidak ada waktu lagi. Anak-anak ini akan menyita waktu.” Ucap Isla terdengar dewasa 10 tahun dari usia sesungguhnya
“Dan aku sudah siap untuk itu, Chérie.” ucap Adrien berbicara dengan Bahasa Indonesia, pegawai kasir hanya tersenyum melihat
keromantisan suami istri yang tidak pernah bosan saling melemparkan perkataan yang mengundang senyum lebar atau pun tawa kecil
…
Isla menahan air mata bahagia melihat tempat tidur untuk ketiga bayi mereka, bahkan usia kandungannya masih berjalan 6 bulan namun Adrien telah meyiapkan segalanya. Tiga tempat tidur berwarna hitam berada di bagian sisi dinding kanan kamar mereka. Sengaja Adrien tidak memisahkan kamar bayi, ia ingin mengasuh full time ketiga anak mereka kelak. Itu pun telah disepakati secara bersama.
Tidak akan ada babysitter di dalam rumah baru mereka. Ya, mereka telah menempati rumah design Isla. Sungguh besar dan homie. Adrien tidak ingin mengatakan megah karena dengan kekayaan yang dimilikinya, ia bisa membuatkan istana dari emas andai sang istri menginginkan hal itu.
Berlebihan, hal yang sangat dihindari Isla. Rumah mengusung design mideterania memiliki halaman luas dilengkapi kolam renang dan lapangan tennis baik keduanya tidak ada yang bisa memainkan olahraga sang master Roger Federer, hanya saja Isla mengatakan lapangan tennis bisa disulap menjadi lapangan bola basket. Kelak untuk anak mereka.
Kamar tidur berjumlah 10 yang kata istrinya untuk menampung seluruh keluarga yang berkunjung. Terlebih Adrien dan Isla tidak akan berhenti dengan 3 anak saja. Mereka menginginkan sebuah keluarga besar, terlebih keduanya sangat produktif. Walau mereka harus menunggu lama untuk anak berikutnya, sebab dokter telah memastikan proses kelahiran si kembar tiga.
“Bagaimana ? Kau menyukainya, Chérie ?”
Isla mengalungkan tangan pada pinggang Adrien lalu menganggukkan kepala “Isla sudah membayangkan ketiganya tertidur di tempat ini.
Bersamaan menangis, seperti Kai dan Sky waktu bayi.”
Adrien mengusap perut istrinya, ia pun ikut berkaca merasakan tendangan aktif bayi mereka.
“Aku sungguh tidak percaya dengan kekuatan seorang wanita belia sepertimu, Chérie. 3 bayi di dalam bergerak seaktif ini.” Ucapnya sembari terus membelai menenangkan anak-anaknya
Isla meletakkan tangannya di atas jemari kokoh sang suami “Justru Isla beruntung mendapatkan anugerah ini di usia yang masih muda. Tubuhku masih kuat, tidak mengeluhkan dengan pinggang yang mau patah. Beberapa orang yang
menemaniku berbicara ketika kita di luar, mengatakan hamil sungguh menyiksa. Dengan
1 bayi saja mereka mengeluh, kak. Tapi aku tidak. Aku hanya melihat perutku yang besar berkali lipat, tanpa ada rasa lelah.”
Adrien mengecup pipi istrinya penuh kasih “Hingga sekarang pun aku tidak bisa mempercayai kebahagian yang terus beruntun aku dapatkan.”
Tawa renyah Isla membuat Adrien menarik napas “Tapi untuk di posisi sekarang Kak Adrien telah bersusah payah. Mungkin Tuhan sedang
mengabulkan doa-doa suamiku.”
“Iya, Tuhan mengabulkan doa mendapatkan seorang wanita tangguh dan penuh cinta kepadaku. Dan itu kau, Isla.”
“Kakak merayu.” Rajuk Isla
“Tuhan, tidak. Buat apa aku merayu wanita yang sudah jadi milikku.” Ucap Adrien menuntun istrinya keluar dari kamar. Bunyi bel pintu
membuat mereka harus bergerak menuju pintu depan yang agak jauh dari kamar tidur utama.
Rumah besar itu masih sepi, seharusnya Radit dan Rinjani telah tinggal bersama dengan mereka. Namun kedua orang tua tersebut sedang
berwisata dengan Keanu dan Adriana. Sementara para asisten berada di bangunan samping rumah megah mereka, jam kerja yang telah diatur sedemikian rupa, jam 11 pagi tentu saja semuanya sedang beristirahat.
“Bunga ?” Tanya Isla melihat paket yang baru saja di terima Adrien
“Ya, bunga dari fans beratmu, Chérie.” jawab Adrien lalu menggigit bibir bawahnya sambil mengulurkan kertas kecil berwarna putih kepada istrinya
Sebuah kebahagiaan besar bisa bertemu kembali denganmu, gadis kecil
Jean Syagrius.
###
alo kesayangan 💕,
koreksi jika author ada salah yah, mungkin ada yang kelewatan.
tidak mudah dengan 5 novel berjalan, author bukan manusia setengah dewa.
ps. Kai sudah Up loh
__ADS_1
love,
D 😘