ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
18 Years


__ADS_3

Adrien melirik Isla yang sedang sibuk dengan design rumah mereka, sementara ia pun sedang mengecek pekerjaannya. Beberapa hari terakhir mereka tidak kemana-mana, melainkan berada di dalam rumah. Gadis belia itu terfokus dengan gambarnya, kata Isla agar rumah impian mereka bisa terealisasi secepatnya.


"Menurutku jika rumah kita berdampingan dengan papa dan mama, trus ayah ibu ikut ke Lyon, kemungkinan mereka lebih memilih tinggal serumah daripada dengan kita, Chérie." Ucap Adrien sambil mencomot cemilan milik kekasihnya.


Sejak ia mempunyai waktu senggang dan lebih banyak berdiam di rumah, Adrien mengikuti kebiasaan Isla. Tukang ngemil dan makan. Demi mengantisipasi perubahan pola makan, Adrien membeli beberapa alat gym dan disimpannya di kamar depan. Tentu saja ia harus tetap menjaga tubuh, demi mengimbangi nafsu makan calon istrinya yang masih dalam tahap pertumbuhan.


"Terserah ayah dan ibu... Yang penting mereka dekat denganku, kak. Bukan berjauhan. Karena Mami Lika dan Papi Rui sekarang jadi suka travelling, walau sekarang sudah balik lagi. Tapi kemungkinan Mami Lika mau dekat dengan mama." Sahut Isla mengikuti Adrien mencemil keripik kentang berasa keju tersebut


"Oh ya?"


Isla mengangguk lalu mengklik cltr + s pada designnya.


"Demi Iyo... Waktu Iyo pulang, Isla dengar pembicaraan Mami, Papi dan Iyo. Itu kenapa Isla ingin ayah dan ibu ikut dengan kita. Kasian kak, kalau cuma berdua. Mama tidak bisa diharap sering ke Bali, kakak sepupu Kak Adrien itu lebih suka dikunjungi daripada mengunjungi. Apalagi kalau dengan papa, kerjaannya tiba-tiba terbang kemana tidak pakai rencana." Sungut Isla menerawang mengingat kebiasaan kedua orang tuanya


Adrien terkekeh sambil menjawil pipi kekasihnya "Kakak sepupuku itu mamamu loh, Chérie. Oh iya, kita selama dekat hanya berada di Berlin dan ke France saja, Isla. Apa ada negara yang kau ingin kunjungi, kita bisa terbang kemana saja kau mau. Seperti Aurora dan Hugo."


Isla menyipitkan matanya sambil mencebikkan bibirnya "Dan Bali kak, sekarang kita di pulau dewata.. Isla sudah banyak travelling dengan papa dan mama, jadi tidak terlalu memikirkan untuk jalan-jalan, kak. Bagiku di mana pun sama saja."


Adrien tersenyum menangkup wajah mungil kekasihnya dan menatap binar indah itu "Serius tidak mau jalan-jalan denganku, Chérie ? Kau punya tunangan terkaya kelima di dunia dan cuma mau di rumah saja, seperti ini?"


"Tidak juga, cuma sekarang kan tidak bisa terbang pakai pesawat.. jadi yah Isla cuma bisa terbang ke hati Kak Adrien saja." Ucapnya sambil tergelak tawa, pria ikut tertawa dan langsung meraih tubuh Isla naik ke pangkuannya.


"Aku tidak tahu bagaimana hidupku jika tidak bertemu denganmu, Chérie. Aku pasti akan tetap bekerja dan bekerja, hingga menua."


"Bukannya sekarang sudah tua." Celetuk Isla sambil memainkan rambut Adrien.


"Umur saja yah, gadis kecil. Wajah tidak, tubuh juga sangat fit. Maksudku, andai tidak bertemu denganmu, mungkin aku mengejar terkaya ketiga dan seterusnya."


"Buat apa kaya, jika tidak punya keluarga.. Siapa yang mau habiskan, kalau cuma kakak sendiri." Isla sekarang mengikat rambut kekasihnya, dengan mencepol seperti seorang pendekar.


"Kamu.."


"Ish, kan tadi ceritanya tidak ketemu.. kenapa tiba-tiba Isla muncul. Jadi ceritanya berubah ? kita bertemu ketika kakak sudah di urutan ketiga dunia dan berusia 50 tahun? Tidak mau.. kakak sudah tua sekali, Isla lebih baik cari yang 5 tahun di atas umur Isla."


Adrien menatap tajam ke arah kekasihnya, gadis belia itu pun tersadar akan ucapan diluar kontrol.


"Maaf..." Ucapnya pelan, ia pun memeluk leher Adrien dan meletakkan wajahnya di bahu pria berambut keemasan tersebut.


Adrien mengembuskan napasnya berat "7 tahun lagi aku akan berusia 50 tahun, Chérie. Dan kau masih berusia 26 tahun. Sedang indah-indahnya sebagai wanita. Usia yang sama ketika Aurora menikah dengan Hugo, jika kau melihat foto pernikahan kedua orang tuamu, kau akan terlihat seperti Aurora, Chérie. Sementara aku sudah separuh abad. Saat itu, masihkah kau mencintaiku? Masihkah kau berada disampingku? Tidak mencari pria yang sepantaran denganmu, Isla?"


Adrien merasakan bahunya basah, ia pun menaikkan kepala Isla dan mendapati kekasihnya meneteskan air mata.


"Dan kenapa kau menangis, Chérie ?" Ucap Adrien menyeka cairan bening di pipi kekasihnya


"Berjanjilah untuk hidup selama aku hidup, kak.. kakak harus menjaga kesehatan, rutin kan medical check up ? Kakak harus rutin olahraga, kakak bisa menyelam?" sahutnya dengan suara merajuk


"Sedikit.. di kolam 3 meter."


"Nanti Isla ajar menyelam, lari kakak sudah bagus.. kakak berumur 50 tahun pun wajahnya tak akan tak jauh dari sekarang. Kita akan sehidup semati, kak."


Wajah sendu Adrien menjadi ceria mendengar ucapan kekasihnya "Ini janji lagi kan, Isla?"


Gadis belia itu menaikkan kelingkingnya dan meraih kelingking Adrien.


"Janji."


Pria berwajah rupawan itu mengukirkan senyuman indah lalu melabuhkan ciuman lembut di bibir kekasihnya.


...


Isla harus membagi waktunya dengan sebaik mungkin antara kegiatan di rumah dan kekasihnya yang selalu ingin diperhatikan, sementara Radit mulai menanyakan intensitasnya bermain di luar yang cukup tinggi.


Kenyataannya Isla tidak ke kafe atau pusat perbelanjaan seperti alasannya kepada Radit melainkan ke rumah Adrien mengerjakan design rumah yang telah dirampungkannya.


Setelah mempresentasikan kepada donatur rumah impiannya yang langsung disetujui tanpa revisi, designnya pun langsung dikirimkan kepada Keanu.

__ADS_1


Ketukan di pintu membuat Isla yang sedang merias wajahnya dengan ala kadarnya langsung menoleh kepada daun pintu yang terbuka.


"Kakak Axelmu datang, Ibo." Ucap Lika dengan seringaian di bibirnya


Mata Isla membulat "Mami serius ? Tidak bercanda ?"


"Sudah di tunggu di ruang tamu." Lika mencebikkan bibir ke arah Isla, setiap melihat keponakannya ia seolah berbicara dengan Kila, karena kemiripan ibu dan anak tersebut.


Sontak Isla berdiri dan terburu-buru ingin segera sampai ke lantai 1, Lika hanya menggelengkan kepala melihat anak Kila, sangat enerjik. Perpaduan Kila dan Hugo 100%.


"Kak Axel !" Pekik Isla melihat pria bersuit brown duduk dengan santai di sofa ruang tamu.


Pria berambut hitam itu pun langsung berdiri dan memamerkan senyumannya melihat gadis cantik yang bergerak cepat dan menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan.


"Kak Axel tidak mengabari jika akan ke Bali? Ini Kak Axel kan?" Cecar Isla terpaku dengan tampilan rapi pria yang sangat dikenalnya sejak balita.


Axel tertawa terkekeh, kemudian memundurkan tubuhnya agar Isla bisa melihat penampilannya.


"Apa aku cocok pakai jas? Bagaimana menurutmu, baby?"


Isla memamerkan senyuman merekahnya dengan menaikkan dua jempol "Kakak terlihat sangat tampan."


"Sudah tahu kondisi papa, bukan?" Ucapnya menarik Isla untuk duduk di sampingnya


"Papa sudah keluar rumah sakit, dan rawat jalan sekalian pemulihan di rumah, dan papa memintaku untuk menggantikan memimpin perusahaan. Kebetulan ada urusan di Jakarta dan sekalian aku ke Bali untuk bertemu dengan my dearest baby ." Ucap Axel sambil merangkul bahu Isla


"Bagaimana dengan touring kakak?"


"Mau tidak mau harus berhenti... Demi papa."


"Sayang ya kak, padahal.."


"Hush.. tidak begitu baby.. " potong Axel sembari mengacak rambut Isla


"Kakak punya dua impian hidup, apa satunya ?" Tanya Isla penasaran yang dibalas cubitan di pipinya oleh Axel.


"Kakak menginap di Hauptsitz, maukah kau mengantarku kesana,Adek Isla? Travel bagku ada di pendopo."


"Sekarang ?"


"Iya... Tidakkah kau merindukan sunset di belakang Hauptsitz, baby ? Tempat kita selalu bermain. Ayo.. sebelum terlambat."


Isla pun mengambil kunci mobil sementara pria bertinggi 188 cm itu telah berjalan duluan menuju pendopo.


Hauptsitz Hotel and Resto hanya berjarak 20 menit dari kediamannya terhitung dengan kepadatan jalanan, namun semesta seolah berpihak kepada Axel. Mereka tiba tepat 20 menit kemudian di hotel berbintang 5 milik orang tuanya yang semula hanyalah sebuah resort berkamar 20.


"Sisa cek in." Ucap Axel berjalan masuk ke lobby, sementara Isla akan mengabari Adrien yang sedari tadi telah mengirimkan berpuluh pesan.


Isla mendengar geraman halus dari Adrien ketika panggilan suara tersambung


"Halo kak, maaf.. Isla harus antar Kak Axel ke Hauptsitz"


"Siapa ?" Intonasi suara Adrien terdengar naik setengah oktaf


"Kak Axel... "


Tut !


"Halo ? Kak Adrien ?"


Raut wajah Isla kebingungan mendapatkan panggilannya diputuskan oleh Adrien, kekasihnya bukanlah tipe pria seperti itu.


"Adek Isla... " Panggil Axel "aku sudah


cek in, mau ke belakang ?" Lanjutnya sembari mengumbar senyum

__ADS_1


"Ayo."


Keduanya berjalan berdampingan melewati jalanan berbatako rapi, di kiri kanan jalan terdapat tanaman boxwood di potong persegi lurus secara horizontal dan pohon-pohon palem yang ikut merindangi taman hotel. Isla masih ingat struktur Hauptsitz yang lama, luasnya hanya 15.000 meter persegi namun setelah mengalami pengembangan menjadi hotel berbintang 5, luasnya menjadi 50.000 meter persegi dengan kapasitas 150 kamar dan memiliki 3 kolam renang dengan pemandangan laut.


"Aku masih ingat pertama kali melihatmu, adek Isla." Ucap Axel dengan lembut "Di sini.. kau lagi main pasir om dan tante, Mareo juga."


Isla mencoba mengingat apa yang dikatakan Axel, namun memorinya terkendala dengan usianya yang masih dini saat itu.


"Pasti tidak ingat.. Saat itu kau berusia kurang 2 hari akan merayakan ulang tahunmu yang pertama. Pakai bikini sambil memamerkan perutmu yang buncit, lucu sekali. Adek Isla seperti boneka."


Mata Isla membulat sembari tersenyum simpul, ia memang buncit sewaktu balita. Papa dan mamanya mengabadikan momen masa kecil dalam foto yang tak terhitung jumlahnya.


"Lucu sekali dan sangat suka main pasir, tiap kakak datang ke Bali, kita pasti main pasir di sini. Bertiga dengan Mareo."


"Iya.. kita banyak foto bertiga, sedang buat istana pasir." Sahut Isla tertawa kecil, mengiyakan ucapan Axel


"Andai waktu bisa diulang, aku ingin terus mengulang momen-momen itu."


Isla menoleh menatap pria yang berusia 25 tahun, mata Axel yang tak mempunyai lipatan menatap lurus ke arah laut dengan senyuman tipis tersungging di bibirnya.


"Adek Isla... Sekarang aku sudah kembali ke Shanghai, meneruskan perusahaan papa.." Axel membalikkan badannya hingga mereka bisa saling berpandangan


"Dua tahun lalu, aku menyatakan perasaan kepadamu.. tapi saat itu kau masih sangat muda, 17 tahun dan aku masih tergila dengan menjelajah dunia.. tapi kini kita berada 2 tahun kemudian, aku datang kesini untuk menagih janjiku."


"Hah?"


Axel tersenyum sembari meraih jemari Isla.


"Impian terbesarku selain touring mengelilingi dunia adalah menikah denganmu."


Genggaman tangan Axel menguat sekaligus hangat, Isla hanya bisa tertunduk sambil memejamkan matanya.


"Aku menunggu selama 18 tahun untuk melihat metamorfosa sebuah kepompong berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik."


"Selama itu aku menundukkan dunia yang liar namun di saat yang bersamaan pula ingin cepat menyelesaikannya." Axel menghela napas kembali menatap lebih dalam pada wajah Isla


"Sekarang situasinya menjadi berbeda, kakak bukan lagi seorang petualang.. Namun Axel Yu yang akan menjadi pria sibuk dengan pekerjaan, dan membutuhkan seorang pendamping yang akan menyeimbangkan hidup."


"Isla Bohemia, maukah engkau menemaniku.. berada di sampingku..." ucap Axel dengan suara parau yang bergetar


"Eng.. Kak Axel"


Isla menatap manik hitam Axel yang sayu penuh cinta, ia bisa membaca bahwa bola mata pria di depannya menyiratkan isi hati yang sangat tulus.


"Cherie !" Suara meninggi meneriakkan sebuah nama dari belakang membuat Axel dan Isla membalikkan badan kepada sosok pria yang bersweater hitam.


###




alo kesayangan ❣️,


jangan mengejarku wkwkwkwk


soalnya sabtu minggu itu entah bisa ke Up ato tidak


Summer pun sudah 2 hari belum lolos review..


sabar yah 🤭


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2