
Adrien tidak pulang ke rumah tempatnya dan Khaleesi tinggal melainkan kembali ke mansionnya. Dia tidak bisa berada di rumah tersebut sementara ada Jean yang sedang berusaha memenangkan hati Khaleesi.
Tak perlu Adrien pertanyakan pun dia tahu dengan maksud kedatangan Jean di rumah mereka, walau Adrien tidak pernah memikirkan akan terjadi secepat ini. Dia pikir pria itu telah asyik dengan pacar barunya, dan melupakan Khaleesi. Apakah ada yang dilewatkan Adrien, petunjuk kembalinya Jean.
Adrien melirik jam pada ponselnya, sudah jam 7 malam namun Khaleesi belum memberinya kabar, apakah Jean masih di sana. Pria tampan itu pun memilih untuk membersihkan diri demi mengusir kesepiannya di mansion besarnya.
"Mungkin aku harus menjualnya" gumam Adrien melayangkan pandangan pada kamar tidurnya yang berukuran sama dengan ruang tengah rumah yang sekarang ditempatinya
Beberapa menit kemudian Adrien telah terbaring di tempat tidur, hatinya meragu untuk menghubungi Khaleesi. Dia pun menaruh ponselnya di meja nakas, dan memilih untuk tidur lebih cepat.
...
Sementara itu..
Khaleesi sedari tadi termenung di tepian tempat tidur, berbagai perasaan berkecamuk di dadanya. Dia kebingungan apa yang harus dilakukannya, pula tidak tahu kepada siapa harus berbicara saat ini, tidak ada yang bisa ditempati untuk meminta pendapat.
"Adrien?" Ucap Khaleesi lirih, dia meraih ponsel pintarnya. Hanya pria itu temannya, namun posisinya sekarang adalah istri Adrien. Apakah bisa dia mencurahkan kegalauannya tentang Jean kepada Adrien?
Di satu sisi Jean adalah ayah anaknya dan Adrien adalah suaminya, pria yang mulai Khaleesi cintai secara sepihak. Namun ada Jean yang mencintainya lebih berhak akan bayi dikandungannya, Khaleesi tidak memungkiri jika perasaan masih ada untuk Jean.
Ya ! Hatinya terbagi, entah yang mana lebih berat.
...
Jadi Adrien tidak pulang semalam, Khaleesi mendapatkan laporan dari Rosa pembantunya. Ponselnya pun tidak menerima pesan dari pria itu, yang ada hanya pesan beruntun dari Jean terus menanyakan keadaannya, mengecek apa yang dilakukannya hampir 5 menit sekali.
Khaleesi pun mengirimkan pesan kepada suaminya
Rien semalam kemana, tidak pulang ke rumah
Tak lama kemudian Adrien pun membalas pesannya
Aku tidur di mansion Khale, maaf aku tidak mengabarimu. Dan sekarang aku sudah di kantor. Nanti sore akan kembali ke rumah.
Aku akan tunggu Rien.
Pesan Khaleesi hanya di baca tak dibalas lagi oleh Adrien. Dia pun tak menanyakan lebih lanjut janji pria itu untuk mengajaknya ke Notre Dome. Sepertinya Adrien sudah lupa.
...
Tanpa selera Khaleesi menyuap pancake menu sarapan paginya, untuk kali pertama dia sendirian di meja makan. Yang biasanya ada Adrien menyusul dan duduk di depannya, dengan wajahnya yang ceria.
"Mrs. Khaleesi ada yang mencari" kata Darna sopan, gadis muda itu tersenyum tipis "Mr. Jean sedang menunggu di ruang tamu"
"Apa?"
"Mr. Jean di ruang tamu sedang menunggu Mrs. Khaleesi"
Khaleesi pun berdiri seketika dan melangkah santai menuju ke ruang depan. Sesosok pria tampan berkemeja hitam, celana hitam dan boot senada, Jean tampak seperti malaikat maut yang sangat menggoda.
"Pumpkin!" seru Jean riang, pria berambut sama panjang dengan Adrien menghampiri wanita cantik berbadan dua, kekasihnya. Pria tampan itu pun langsung meraih Khaleesi masuk ke dalam dada bidangnya.
"Kamu tidak mengatakan di pesan jika akan datang sepagi ini"
"Aku tidak bisa menahan diriku pumpkin, aku ingin bertemu denganmu. Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak, terus terbangun. Aku takut jika semua ini hanya mimpi, bahwa kamu sedang mengandung anakku. Aku juga cemburu... Dengan Adrien, perasaanku tidak tenang sama sekali. Aku takut kamu tidur dengan pria itu"
Khaleesi trenyuh, matanya berkaca-kaca
"Adrien tidak tidur di rumah ini Jean. Dia kembali ke mansionnya" ungkap Khaleesi jujur. Kemesraan yang berbulan-bulan yang diharapkan dari Adrien, dua hari ini didapatkannya melalui Jean.
Jean menangkup wajah Khaleesi menatap lekat-lekat jelaga kekasihnya
"Aku merindukanmu" ucap Jean mesra sebelum melabuhkan ciuman panas seperti ciuman mereka yang berlalu. Khaleesi sempat ingin menolak namun akhirnya ikut dalam permainan lidah Jean, bahkan dirinya mendesah kecil.
"Kenapa kamu menangis pumpkin?" Tanya Jean sesaat menyudahi ciuman panas mereka yang berlangsung selama 3 menit. Andai ini adalah rumahnya, tentu saja mereka telah berakhir di tempat tidur.
Khaleesi membenamkan wajahnya ke dada Jean, setelah ciuman tadi membuatnya sadar kepada siapa hatinya berlabuh.
"Sudah mandi?"
Khaleesi mengangguk mengiyakan
"Kita ke dokter yah sayang.. aku ingin melihat anakku" ucap Jean dengan wajah semringah, Khaleesi pun tersenyum lebar.
...
Mobil ferrari mengerem dengan berdecit sesaat berhenti di depan rumah berdesign mid century modern. Pria bertubuh tegap dan kokoh keluar dari pintu pengemudi, di tangannya hanya menggenggam kunci mobil dan telepon genggam seri terbaru. Pria tampan yang tak lain Adrien berjalan dengan langkah lebar menuju pintu rumah. Rosa pembantu mereka telah siaga membukakan pintu dan berdiri dengan senyum di wajahnya.
"Selamat datang Mr. Adrien"
"Thank you Rosa" sejenak Adrien memandangi wanita berusia 32 tahun tersebut, kemudian mengarahkan pandangan ke dalam rumah.
"Istri saya di mana?" Ujar Adrien melangkahkan kakinya melewati ruang tamu
"Maaf Mr. Adrien.." sahut Rosa terdengar takut
"Ada apa?"
"Mrs. Khaleesi keluar dengan Mr. Jean tadi pagi. Kami tidak tahu kemana, cuma saya sempat mendengar jika Mr. Jean mengajak nyonya ke rumah sakit"
__ADS_1
Sesaat Adrien termenung lalu menarik napasnya dengan dalam
"Baiklah kalau begitu... Oh yah Rosa, bisa buatkan aku makan siang, yang paling cepat saja yang bisa kamu masak"
"Iya Mr. Adrien" sahut Rosa dengan cepat sambil menunduk
"Panggil aku di ruang kerja jika sudah siap"
Tanpa Rosa menjawab tuannya yang tampan telah berjalan menapaki tangga, dia meremas roknya yang berwarna hijau lalu berbalik ke arah dapur.
Selama bekerja di rumah ini dia dan Darna selalu bercerita keseharian tuan dan nyonyanya. Bagaimana bisa sepasang suami istri tidak tidur sekamar, padahal Mrs. Khaleesi sedang hamil. Kemarin berdua dengan Darna melihat pria lain yang memeluk nyonyanya dan tadi pagi bahkan berciuman mesra di ruang tamu. Berbagai pertanyaan di pikiran Rosa, namun dia memilih untuk diam.
...
Adrien bersantai menikmati sore menjelang malam dengan menonton film di ruang tengah, walau sepenuhnya dia tidak memusatkan pikirannya kepada layar lebar di depannya itu karena sesekali mengecek ponselnya kali saja ada pesan dari Khaleesi.
Dia baru ingat ketika pertengahan hari tadi jika telah berjanji kepada Khaleesi mengajaknya berjalan-jalan. Itu juga yang membuatnya menginjak pedal gas mobilnya dalam untuk cepat sampai di rumah.
Namun sayang, wanita yang hendak ditemuinya telah pergi bersama dengan Jean.
Selama menunggu Adrien tidak menghubungi Khaleesi, logikanya mengatakan jika ikatan antara wanita hamil tersebut dengan Jean mulai membaik.
"Rien.." tepukan pelan di bahu Adrien membuat pria yang sedang asyik menonton sedikit kaget
"Khale" ucap Adrien menengadah melihat wajah wanita cantik itu berseri "aku tidak mendengarmu datang"
Seutas senyum manis di bibir Khaleesi membuat Adrien ikut melakukan hal sama.
"Jean ada di ruang tamu, Ia ingin berbicara denganmu"
"Oh... " Bibir Adrien membulat seksi disertai badannya beranjak dari posisi santai dari sofa berbahan beledu.
"Kamu tidak ikut?" Adrien berbalik melihat Khaleesi malah mengambil tempat duduknya.
"Hanya pria" jawab Khaleesi menyunggingkan senyumannya dibalas kedikan bahu pria tampan itu.
Perhatian Khaleesi kemudian terpusat pada ponsel Adrien yang menyala, notifikasi pesan membuatnya penasaran untuk membuka percakapan tersebut. Ini kali pertama Khaleesi memegang telepon genggam Adrien.
Bahkan di pesan pun Adrien sangat mesra kepada kakak sepupunya, semua Khaleesi baca membuatnya sangat yakin dengan jalan yang akan ditempuhnya.
...
"So ?" Tanya Adrien kepada pria bertinggi badan hampir sama dengannya. Dia menghentikan langkahnya sesaat mereka berada di taman samping rumah, atas inisiatifnya sendiri memilih untuk berbincang dengan Jean di tempat ini.
"Adrien.. pertama-tama aku minta maaf atas semuanya, kesalahanku yang membuatmu harus ikut turun tangan. Maafkan aku"
Adrien berdeham mendengar perkataan Jean
"Ya" singkat Adrien
"Mungkin Khaleesi belum menceritakan kenapa aku menghilang selama hampir 4 bulan. Tapi yang pastinya ini masalah disebabkan oleh Syagrius dan istrinya. Aku tidak mempunyai hubungan dengan Hannah, wanita itu juga tidak pernah menyampaikan jika kamu pernah meneleponku"
Adrien menoleh memandangi Jean dengan sinis, pria berkemeja hitam itu pun mengulum bibirnya lalu tertunduk, dia sadar jika telah berbuat kesalahan yang sangat besar.
"Terus apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Adrien skeptis
"Aku telah keluar dari perusahaan The Charpieu, sahamku telah kuserahkan kepada mereka. Aku bebas sekarang dari tekanan keluarga tersebut" ucap Jean lirih, Adrien bisa menangkap jika pria disampingnya sangat membenci keluarganya sendiri.
"Mr. Adrien... Maafkan aku jika berkata seperti ini..."
"Apa?" Sahut Adrien sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya
"Bisakah kamu menceraikan Khaleesi?"
Mata Adrien membulat sambil mengeraskan rahangnya
"Apa Khale sudah memaafkanmu? Kalian sudah mempunyai kesepakatan?"
"Iya.. Khaleesi sudah memaafkanku, sehari ini kami banyak berbicara tentang masa depan"
Adrien menarik napasnya dalam dan membuangnya dengan perlahan.
"Aku harus mendengar langsung dari Khale terlebih dahulu. Namun jika benar seperti yang yang kamu katakan tadi, kamu yakin bisa membahagiakan Khaleesi? Aku bisa menghajarmu hingga mati jika kamu membuatnya bersedih sedikit pun" ancam Adrien langsung mencengkeram kemeja Jean
"Adrien, demi bayi kami, aku janji akan membahagiakan Khaleesi"
Sentakan kuat dari Adrien melepaskan tangannya membuat Jean terjatuh ke belakang.
"Aku ingat kata-katamu Jean!" Adrien sambil mendengus kasar lalu berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah.
...
Melihat Adrien berjalan mendekat membuat Khaleesi berdiri, sepertinya percakapan antara kedua pria tersebut berjalan lebih cepat dari perkiraannya.
"Khale... " Ucap Adrien menarik Khaleesi untuk kembali duduk di sofa "aku sudah berbicara dengan Jean" sambungnya lalu menghela napas panjang
"Kamu yakin dengan jalan ini? Apa kamu bisa mempercayai pria itu lagi, yakin Ia tidak akan meninggalkanmu?"
Khaleesi menggigit bibir bawahnya sambil beradu pandang dengan Adrien
__ADS_1
"Kami tadi dari rumah sakit kemudian ke rumah mamanya. Di depan Eloise... Jean berjanji akan memulai hidup baru denganku Rien. Demi anak kami... Dan aku percaya dengan Jean" ungkap Khaleesi menjatuhkan air mata. Di sisi lain hatinya bahagia Jean telah kembali untuknya, di sisi lain hatinya sedih akan kehilangan Adrien, pria yang sempat mengisi hari-hari kelamnya.
Kembali Adrien menghela napas dalam
"Baiklah Khale, berarti tugasku telah usai sampai di sini"
Khaleesi terisak mendengar perkataan Adrien, betapa entengnya terdengar menyetujui keinginannya. Tadi Khaleesi pikir Adrien akan berjuang untuk mempertahankan atau setidaknya berbicara panjang lebar dengan logikanya. Namun benar adanya bahwa pria di sebelahnya tak pernah menaruh hati sedikit pun untuknya.
"Adrien.. " Khaleesi mengusap air matanya lalu memandang wajah tampan itu
"Apa baby?" Tanya Adrien meraih tangan Khaleesi, menggenggamnya
"Di hidupmu aku sebagai apa selama ini?" Tanya balik Khaleesi separuh berbisik
"Istri... " Kekeh Adrien yang membuat jantung Khaleesi seolah diremas
"Teman.. kamu temanku yang termanis yang pernah aku punya dan mungkin satu-satunya.."
Khaleesi berusaha tersenyum getir, kali ini dia mengeratkan tangannya menggenggam jemari kokoh itu. Yang mungkin untuk terakhir kali.
"Terima kasih Rien... Atas semuanya"
"Don't... "
Adrien menggelengkan kepala
"Kamu telah membuatku berubah Khale, menjadi baik. Kamu telah menemaniku selama 3 bulan ini, maafkan jika aku ada salah selama hidup seatap denganmu. Selepas ini kamu harus hidup bahagia dengan Jean, berjanjilah untukku"
Khaleesi menganggukkan kepalanya dengan kuat walau matanya berlinang air mata.
"Hey, jangan menangis baby... Kamu tidak bersedih bukan berpisah denganku?" Goda Adrien menarik Khaleesi dalam pelukannya
Sayangnya iya, tapi ada pria lain yang mencintaiku Adrien. Aku pun mencintainya, walau hatiku sempat memberimu tempat khusus, namun kamu tidak menggubrisnya. Aku memilih Jean, pria yang sangat mencintaiku, dibandingkan seumur hidup harus mengejar cintamu yang bukan untukku. Aku mengalah, melepaskanmu.
"Terus rencana kalian seperti apa?" Ucap Adrien mengurai pelukannya, dia pun mengusap air mata Khaleesi.
"Aku akan menyelesaikan kuliah yang sisa sebulan lebih Rien, terus akan kembali ke Indonesia. Di sana kami bisa mengelolah hotel, karena Jean tidak mau lagi berurusan dengan keluarganya"
Adrien menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Besok pengacaraku akan mengurus pembatalan pernikahan kita, prosesnya akan cepat"
Khaleesi menundukkan pandangan sambil menahan air matanya untuk tidak keluar lagi.
"Khale.. rumah ini untukmu beserta isinya"
"Rien !" Seru Khaleesi "jangan!"
Adrien menarik senyum simpul dan menepuk lengan wanita cantik itu
"Ya.. untukmu.. anggap ini hadiahku untuk kehidupan barumu dengan Jean. Rumah ini bisa kalian jual sebagai modal untuk memulai hidup di Indonesia"
Suara Khaleesi tercekat di tenggorokan
"Surat-suratnya ada ruang kerjaku, biar nanti semua diurus oleh pengacara" kata Adrien ringan berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan Khaleesi, semuanya berat berhadapan dengan pria ini.
"Aku akan ke atas dan meminta Darna dan Rosa mengepak pakaianku. Aku akan kembali ke mansion" Adrien menghela napasnya panjang dan mengamati wajah Khaleesi yang memerah
"So Khale..Thank you for being a part of my life" ucap Adrien mengecup kening Khaleesi untuk terakhir kali.
Can't you see ?
That you want someone that I'm not
Yes, I love but I can't
So I am letting you go now and baby one day
When you finally found what you want
And you're ready to open your heart to anyone
Don't push people away again
Easier, I know, but it's also very lonely
I love you but I'm letting go
###
see you when i see you
Khaleesi
Jean
__ADS_1
kemudian Adrien Dierja Pranaja bertemu dengan Laplusbelle dan mereka saling mencintai hingga akhir hayat.
author dilempar sandal berjamaah đŸ˜‚