ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Falling in Love at The First Sight


__ADS_3

17 tahun kemudian...


Pria berambut pirang keemasan melangkahkan kakinya dengan riang seusai turun dari kendaraan mewahnya, Mercedes Benz limited edition series berwarna hitam yang sekarang terparkir di rumah bermodel barn dan mempunyai pekarangan yang sangat asri dimana pohon-pohon tinggi mengelilinginya


Pria berjas navy dengan kemeja putih berkanji membalut tubuh tinggi dan kekar terlihat meraih ponselnya dan mengetuk layar canggih itu.


Senyuman lebar mengembang di wajahnya, pria tampan itu kembali menaruh benda persegi berwarna hitam itu ke dalam saku celananya.


"Rien !!" Pekik Kila membukakan pintu untuk pria tampan itu


"Sislove" seru bahagia Adrien memeluk tubuh kakak sepupunya, wangi apel menguar di inderanya. Wangi yang dirindukannya bertahun-tahun dan tubuh yang selalu pas di dalam dekapannya.


"Ayo masuk.." Kila menggenggam jemari Adrien menuju ke sofa beledu "kamu tidak berubah sama sekali dek ! Masih seperti dulu" sambungnya menggelengkan kepala tidak percaya dengan wajah rupawan adik sepupu kesayangannya.


"Kakak juga... Tetap cantik dan dewasa"


"Dewasa berarti menua?"


Adrien terkekeh sambil menangkup pipi Kila "cantik seperti dulu kak" matanya menari bahagia, rindu terpendam terobati begitu melihat wanita cantik yang mempunyai senyuman bak matahari


"Kenapa kakak meninggalkan Spanyol? Dan kembali ke Berlin?"


"Demi kamu..." Jenaka Kila menggoda adik sepupunya "si kembar sudah besar dan inilah saatnya kami kembali ke negara ini. Hugo harus mengurus Navarro Group. Kapan yah kita terakhir bertemu Rien?"


"5 tahun lalu, saat aku ada urusan di negara itu" sahutnya mengingat dengan jelas setiap pertemuan mereka


"Rien, ckckck... sekarang kamu berada di puncak dunia dek. Terkaya kelima, sangat hebat" puji Kila sambil mencubit pipi Adrien dengan gemas


Betul apa yang dikatakan Kila bahwa Adrien adalah orang terkaya kelima dunia, 15 tahun lalu dia mengembangkan bisnisnya dengan membuat beberapa aplikasi untuk smartphone dan perangkat lunak untuk komputer, hal itu yang membuatnya berada di posisi ini.


Berlin adalah salah satu kota yang dipilihnya sebagai kota kantor cabangnya, setelah Dubai, Singapura dan Tokyo. Dan Lyon adalah kantor pusat Bleuette Corporation. Sekarang ada ratusan ribu pekerja bergantung di bawah kepemimpinan Adrien.


"Kembar mana kak?" Adrien melayangkan pandangan ke sekeliling rumah kakak sepupunya itu. Rumah keluarga kakak sepupunya yang terbilang sangat biasa bagi pemegang penjualan mobil mewah terbesar di Eropa.


"Ke Indonesia... Liburan mengunjungi ayah dan ibu. Kamu kok ingatnya dengan si kembar saja?"


"Hahahaa.. Mereka sangat lucu" imbuh Adrien mengingat si kembar yang suka bergelayut kepadanya. Saat di Minorca dia sempat membawa Kai dan Sky berjalan dan orang-orang mengira kedua anak itu adalah adiknya. Warna mata mereka sama, kecuali rambut saja yang berbeda.


"Kamu lupa dengan Isla?" Tanya Kila sambil mengulum senyum sembari menautkan kedua alis


"Isla?"


"Iya, Isla Bohemia. Ya ampun Adrien, kamu melupakan banyak hal dek"


Mata Adrien menyipit, otaknya mencoba mengingat, sungguh selama ini dia lupa dengan Isla.


Kila tergelak tawa kemudian mengarahkan pandangannya ke lantai atas.


"Isla ada di sini.. Ia sekarang berkuliah di Berlin"


"Kuliah? Sepertinya baru saja kemarin aku menggendongnya saat baru lahir sislove"


Kila kembali tertawa sambil meninju ringan dada Adrien, pria tampan itu pun ikut tergelak tawa.


"Islaaaa " teriak Kila sambil berdiri melihat ke atas


"Isla.... !" Suara Kila lebih kencang dari sebelumnya memanggil anak sulungnya


"Yaa ma.. "


Adrien ikut berdiri sesaat mendengar suara renyah dari lantai atas. Dia pun ikut penasaran seperti apa seorang Isla sekarang.


"Turun ke sini ada paman.. paman kan?" Ucap Kila melirik Adrien sambil tertawa


"Kakak.. " protes Adrien membenarkan ucapan kakak sepupu tercintanya


"Ya.. " seru suara yang riang kembali terdengar mendekat.


Jantung Adrien seolah berhenti berdetak sepersekian detik ketika melihat sosok gadis belia bertungkai panjang yang mengenakan hotpants berwarna putih, tubuhnya dibalut kaos kebesaran berwarna biru berjalan menghampiri mereka. Dada Adrien bekerja lebih cepat dari debar normal dan matanya sama sekali melupa untuk berkedip.


Wangi strawberry pun mengusik indera Adrien sesaat Isla telah berdiri tepat di hadapannya


"Kamu kenal dengan pria di samping mama?" Tanya Kila menoleh ke arah Adrien yang mematung tanpa ekspresi, kaku seolah habis di sambar halilintar


Isla tertawa ringan dengan wajah berseri memandangi Adrien


"Paman Adrien kan?" Ucap Isla melangkah mendekat pada tubuh Adrien, gadis belia itu langsung memeluk tanpa ragu kemudian berjinjit mengecup pipinya.


Tanpa sadar tangan Adrien naik melingkar pada pinggang ramping Isla, dia sempat melirik ke arah Kila secara bergantian menatap wajah keduanya.


"Mirip?" Tanya Kila tertawa hingga matanya menyipit


"Sangat" singkat Adrien, jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin keluar dari telapak tangannya.

__ADS_1


Apakah ini gejala sakit jantung? Aku harus kembali cek up kesehatan.


"Isla lebih tinggi.." imbuh Kila


"Cuma berapa centi kok, 3 cm saja dari mama.. 174 cm. Paman ternyata tinggi banget yah, lebih tinggi dari papa" Isla mendongakkan kepalanya memandangi pria dewasa yang masih memeluk tubuhnya


"Kakak... Bukan paman" ucap Adrien mengoreksi ucapan gadis belia yang berwajah sama dengan Kila, sangat mirip seolah dia melihat Kila yang tumbuh bersamanya dalam diri Isla


Kedua wanita itu tertawa mendengar Adrien


"Kamu akan makan malam bersama kami kan Rien?"


"Iya" balasnya dengan cepat, melupakan untuk melepas lingkaran tangannya. Isla yang belia juga tidak memprotes dengan tingkah Adrien.


"Ya sudah.. Isla temani pamanmu eh kak Rien, dan mama menyiapkan makan malam"


"Siap ma" sahut Isla dengan riang kembali mendongakkan wajah berserinya kepada Adrien.


"Paman, ayo.. Isla tunjukkan danaunya. Sudah pernah kesini sebelumnya ?" Tanya Isla meraih jemari Adrien dan menggenggamnya


"Belum.. ini kali pertama aku kesini"


Jantung Adrien seolah ingin melompat keluar, mengikuti dirinya dituntun oleh gadis belia yang mempunyai senyuman indah menggetarkan dada.


"Nah... Indah bukan" ucap Isla mendudukkan bokongnya pada kursi kayu yang terletak di atas demaga.



Bunyi hewan bersahutan menyambut kedatangan mereka, seolah melodi indah pada danau yang beriak kecil. Sementara itu seorang pria dewasa nan tampan terus memandangi wajah Isla, gadis belia yang mewarisi 100 persen kecantikan ibunya.


"Kenapa aku tidak pernah melihatmu Isla?" Ucap Adrien pelan


Gadis belia itu menoleh lalu tersenyum lebar, matanya menyipit seperti Aurora Kila. Hati Adrien ingin menangis karena bahagia, berbagai perasaan aneh mulai bermunculan sejak melihat Isla.


"Saya di Indonesia paman, 18 tahun tinggal dengan ayah. Paman tidak berkunjung ke Bali. Sibuk bekerja bukan?"


Ya, Adrien sibuk membangun perusahaannya. Mengejar puncak kesuksesan, dirinya yang terus tenggelam ke dalam pekerjaaan yang tidak pernah habis. Adrien menggunakan otak jeniusnya membuat aplikasi, perangkat lunak, serta anti virus terkuat yang pernah ada di dunia.


Dia sebenarnya juga menghindari pertemuan keluarga, dia tidak suka dengan orang-orang menanyakan "kapan menikah", karena tidak ada satu pun dari keluarga besar yang tahu jika Adrien sudah pernah menikah seumur jagung dengan Khaleesi. Wanita cantik yang sekarang telah mempunyai 4 anak yang cantik, tampan dan hidup bahagia dengan Jean di Indonesia. Hingga saat ini pun mereka masih saling berkabar via email, walau tidak intens.


"Isla kenapa bisa tahu dengan kakak?"


"Paman!" Seru Isla tersenyum menyeringai


Derai tawa terdengar indah dari bibir mungil gadis belia di sebelahnya Adrien


"Foto paman eh kakak ada di album dan ada foto kakak sedang menggendongku" jelas Isla sambil memamerkan gigi putih berbaris dengan indahnya


"Setua itukah aku sekarang?" Adrien bergumam lirih


"Umurnya mungkin tua, tapi paman duh kakak.." tawa Isla menutup bibir kecilnya "Masih sama seperti di foto, padahal Isla berumur 1 tahun lebih di situ, waktu Kai Sky lahir. Kakak vampir yah? Atau operasi plastik bisa awet muda?"


Adrien tergelak tawa, tubuhnya berguncang oleh perkataan yang sangat menghiburnya.


"Kamu sekarang berapa tahun?"


"18 tahun sebentar lagi 19"


"43 tahun" ujar Adrien sambil tersenyum miring lalu mengedutkan alisnya


"Ya ampun, paman masih seperti 41 tahun" seru Isla kembali menutup bibirnya menahan gelak tawa dengan kedua tangannya


Adrien kembali tertawa, matanya berbinar bahagia


"Yang jujur... " Pinta Adrien memegang kedua bahu gadis belia itu, mata mereka mengunci satu sama lain dengan intim. Debaran jantung Adrien bertalu kencang memandangi wajah kecil di depannya, setiap mata Isla mengerjap jantungnya pun seolah tersengat listrik milyaran volt.


"Paman masih seperti 30an awal, suerrr" sahut Isla tersipu sambil menaikkan kedua tangannya membentuk huruf V


Gadis belia itu pun memalingkan wajahnya ke arah danau di depannya, dia tidak kuat lebih lama bertatapan mata biru berkabut milik Adrien.


Seorang pria dewasa di dermaga kayu sudah tidak mempedulikan dengan indahnya danau, ada yang lebih indah. Sesosok gadis belia yang tak segan bersenandung kecil lagu yang tak pernah Adrien dengar sebelumnya.


"Isla..."


"Apa paman?"


Mata Adrien membulat dengan bibir dikulum, membuat Isla tertawa cekikikan.


"Sudah punya pacar?"


Gadis belia itu pun menggelengkan kepalanya tanpa meragu, bibirnya dimajukan.


"Ayah melarang kami pacaran hingga tamat sekolah"

__ADS_1


Adrien tertawa kecil, ternyata Radit hingga generasi ketiga masih memberlakukan aturan yang sama. Hatinya berteriak bahagia mendengar Isla seputih kapas, belum mengenal dunia percintaan.


"Mamamu umur 21 baru boleh pacaran. Kami maksudnya dengan si kembar?"


Isla menautkan alisnya memandang Adrien dengan bibir dimanyunkan


"Jangan bilang paman tidak ingat Reo juga? Mareo anak mami Lika papi Rui"


"Ya ampun!" Adrien menangkup wajahnya, berapa banyak dilewatkan dengan kegilaannya pada dunia kerja.


"Tuh kan, paman melupakan kami. Ckckck..." Isla menelengkan kepalanya tidak percaya


"Maafkan aku Isla.."


"Isla maafkan" sahut Isla tertawa ringan


"Jadi dekatnya dengan Reo?"


"Iya !" Seru Isla riang, matanya menari-nari bahagia begitu membahas Mareo, cemburu pun hadir di hati Adrien.


Sejak kapan dia bisa merasakan cemburu sesingkat ini.


"Dekat seperti apa?" Tanya Adrien kembali memastikan


"Sahabat, saudara..."


Senyum mengembang lebar dari bibir Adrien.


"Mareo juga ada di Berlin paman, Ia kuliah di sini. Kami tinggal bersama di apartemen dekat kampus. Tapi Reo sekarang lagi di Swedia, rekaman album"


"Musisi?"


"Gitaris sekaligus vokalis. Band indie sih kak, baru saja mereka bergabung dan sudah ada yang menawarkan rekaman album tapi ya itu, produsernya di Swedia. Tidak jauh sih Berlin ke Stockholm"


"Pasti banyak gadis yang mengejar Reo" ucap Adrien mengompori berusaha menghilangkan satu saingannya


"Pastinya... Sampai saya bosan menjadi tamengnya kak. Reo selalu bilang kami pacaran kepada gadis-gadis yang mengejarnya"


Arrggghhhh... Jerit Adrien dalam hati, kenapa gadis belia ini sangat pintar mengaduk-aduk perasaannya.


"Isla punya pria disukai? Selain Reo?"


Adrien bisa melihat Isla memutar bola matanya seolah berpikir keras, dengan jeda panjang membuatnya yakin jika gadis belia ini tidak mempunyai orang spesial di hatinya.


"Papa...dan Kai ! Isla sukanya sama papa" jawab gadis belia itu dengan polos penuh keriangan


"Jadi ingin punya pacar seperti papa?" Tanya Adrien dengan senyum miring


Sambil membulatkan matanya Isla menganggukkan kepala dengan kuat.


Adrien pun tertawa senang.


 ~~


Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama,


Bahwa kita bisa memberikan hati pada seseorang saat pertama kali bertemu,


atau hanya setelah satu pandangan kita lalu jatuh cinta.


Tetapi aku percaya bahwa ketika aku memandang ke dalam jelaga hitam milikmu, aku menyukainya


Ketika aku melihat senyumanmu, aku pun menyukainya


Dan ketika aku mendengarmu tertawa aku jatuh cinta dengan suaranya.


Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama,


tetapi aku percaya bahwa setelah satu pertemuan denganmu,


Aku telah menjadi milikmu sepenuhnya.


###


Adrien



Isla Bohemia Navarro



 

__ADS_1


__ADS_2