
Episode bulan madu Adrien dan Isla tidak berakhir di Naples, Italy. Justru merupakan kota pertama pasangan pengantin baru m berbeda umur tersebut menjalani awal kehidupan bersama mereka.
Kuba, yang terletak masih dalam kepulauan Karibia adalah kota persinggahan mereka berikutnya. Adrien mengajak istri belianya ke kota yang sempat tidak bisa dikunjungi wisatawan asing, dimana ia tahu jika negara tersebut belum pernah didatangi oleh Isla.
Kealamian pantainya lah yang membuat Adrien sangat ingin ke Kuba, terlebih sekarang ia telah mempunyai partner travelling. Ya, sekian lama bekerja menumpuk kekayaan akhirnya ia punya cara untuk menikmatinya, bersama dengan Isla.
Wanita cantik yang selalu punya cara membuatnya lebih hidup daripada sebelumnya.
Pria bermanik biru yang sedang bersantai di dekat jendela sembari merasakan hembusan angin pantai menerpa rambut keemasan miliknya, pun sesekali Adrien menatap pada tubuh terbaring di tempat tidur, wanita cantik yang hanya terbalut selimut putih. Isla istrinya sedang mengambil jatah tidur siangnya, hmm.. tentu saja ada percintaan yang hebat sebelum wanita belia itu menyerah pada tubuh lelahnya.
Adrien menunggu kekasih hatinya itu terbangun, sejak kemarin kedatangannya di Kuba belum sekali pun ia mengajak istrinya untuk berjalan-jalan. Bahkan ke pantai di depan kamar resort mereka.
Sebenarnya Adrien telah menyusun jadwal wisata yang mereka akan datangi, alih-alih menjalankan sesuai rencana, ujung-ujungnya ia lebih tertarik mereguk manis tubuh Isla, istrinya. Adrien tidak pernah puas karena Isla adalah candu yang tak akan lelah direguknya, terlebih istrinya pun menikmati.
Pria yang mengenakan celana bahan berwarna putih tanpa atasan itu bergerak ke arah tempat tidur, senyuman simpul terpampang jelas di wajahnya ketika melihat kekasihnya meringkuk dalam lelap tidur. Adrien pun ikut bergabung dan mengambil tempat di belakang tempat Isla tidur, memeluk hangat wanita miliknya.
Pria berambut keemasan tertidur tak lama setelah itu dalam aroma kayu manis menguar di inderanya, mengantarkan ke alam mimpi indah.
...
Adrien terbangun, ia mendapati lengannya telah kosong, wanita yang tadi menemaninya terlelap sudah tidak ada. Ia pun bergerak cepat setelah menyapukan pandangan dalam seisi kamar resort tidak mendapati Isla. Adrien membuka pintu kamar mandi, kekasihnya pun tidak ada.
"Chérie." Panggil Adrien membuka pintu kamar, ia melupakan untuk mengenakan atasan dan bergegas keluar. Demi bulan madunya, resort besar itu sengaja di sewanya tanpa ada tamu lain, hanya mereka berdua dan beberapa pengawai, tentu saja semuanya pria. Adrien mengabulkan keinginan istrinya, yang tidak menginginkan tubuhnya menjadi pusat perhatian wanita lain.
Hati Adrien melega setelah melihat tubuh tinggi semampai milik Isla sedang berdiri di bibir pantai, wanita mengenakan dress berwarna putih yang berkibar oleh hembusan angin sore sedang menatap matahari tenggelam.
Kikikan kecil terdengar dari Isla ketika Adrien memeluk tubuh istrinya dari belakang, hanya sesaat tak melihat kekasihnya pun ia telah merindu sehebat ini.
"Kau meninggalkanku, Cherie." Bisik Adrien sambil mengecup leher jenjang Isla "Kau bahkan sudah mandi." Sambungnya menghirup wangi tubuh istrinya yang segar
Isla menoleh dan mencium pipi Adrien "Kak Adrien yang tidurnya sangat lelap, aku bolak-balik pun tidak membangunkanmu. Capek yah?
Adrien tertawa kecil menaikkan tubuhnya, tangannya dikalungkan pada tulang selangka Isla "Kau membuatku lelah, Chérie."
"Kak Adrien yang tidak bosan bercinta." Rajuk Isla dengan pandangan mata menatap pada langit berwarna orange yang sempurna berpadu luasnya lautan biru di depan mata
"Sejak pertama melihatmu aku telah jatuh cinta, Isla Bohemia. Setelah kau menjadi milikku, aku melihat dirimu sangat indah saat berada dalam tubuhku."
Muka Isla merona mendengar ucapan suaminya, mendayu penuh cinta, penuh kepemilikan.
"Sekarang kita telah menyatu kak, pulau dan lautan." Gumam Isla diikuti kecupan di puncak kepalanya dari Adrien.
"Dalam satu kesatuan utuh, perjanjian seumur hidup, Chérie. Kau begitu menyukai berdiri melihat matahari tenggelam di bibir pantai, tidakkah kau ingin meminta pada suamimu sebuah rumah di pinggir pantai? Aku pasti akan mengabulkannya, Isla."
Isla berbalik dan menyatukan tubuh mereka, saling berpelukan "Papa punya banyak rumah di dekat pantai, kak. Kita tinggal pergi ke salah satunya jika istrimu ini rindu akan sunset. Bagiku rumah kita hanya satu, yaitu di Lyon. Dan rumahku hanya dirimu, Kak Adrien." Ucapnya menengadah menatap manik biru berkabut putih, miliknya
__ADS_1
"Aku bisa mengangkatmu kembali ke tempat tidur jika terus menyanjungku, Nyonya Adrien. Tapi pastinya kau sedang lapar saat ini. Selama di Kuba, kita akan makan malam di resort. Dan siang kita bisa makan di luar, sambil berwisata. Lusa kita akan ke Havana." Ucap Adrien memicu binar indah di wajah kekasih hatinya.
"Aku ingin menyewa mobil kuno dan mengelilingi kota tua Havana, apakah mereka memiliki mobil seperti mobil yang dipakai Maryln Monroe, kak?"
"Corvette 1962 ?"
Isla menganggukkan kepala dengan semangat.
"Bagaimana bisa kau tahu tentang mobil kuno di Havana hingga mobil Maryln Monroe, Chérie?"
Istri belianya terkikik "Aku belajar kak, bukan hanya Kak Adrien yang merencanakan liburan bulan madu kita."
Adrien mengecup bibir istrinya ringan "Sudah menatap sunset-nya?" Ucapnya melihat matahari sudah hampir berlabuh sepenuhnya di ujung laut
Wanita belia sekilas menoleh "Aku punya waktu seumur hidup untuk menyaksikan matahari tenggelam denganmu, kak. Sekarang aku membutuhkan makanan, untuk satu malam panjang lagi denganmu."
Adrien tergelak tawa mengurai pelukan, tangannya kemudian bertaut degan jemari mungil istrinya "Ceritakan kenapa kau sangat menyukai sunset, Chérie. Terlebih di pantai."
Isla bergayut manja pada lengan kokoh suaminya "Karena mama, itu adalah kesukaan mama. Tidakkah kakak tahu, jika mama suka melihat matahari tenggelam? Aku tidak bisa menghitung berapa banyak sunset yang aku lihat bersama dengan mama dan ada papa bersama kami. Kata mama, duduk di tepi pantai melihat laut dan matahari tenggelam sebenarnya berawal dari kesukaan papa. Ketika mereka berpisah, mama berbicara pada lautan akan rasa rindu yang besar terhadap papa." Ucapnya polos
"Dan sekarang kau meneruskannya." Gumam Adrien
Kedua pasangan yang dimabuk asrama tak berujung pun terkekeh kecil
"Ya, tapi aku tidak akan pernah berpisah denganmu, kak. Seperti kata Kak Adrien, tidak ada kekuatan di bumi yang bisa memisahkan kita." Ucap Isla diikuti tatapan lembut suaminya.
...
"Sudah senang ?" Tanya Adrien kepada Isla yang sibuk mengecek foto-foto yang berhasil diambil suaminya
Wanita belia itu tersenyum lebar bak teratai yang mekar dengan sempurna menganggukkan kepala, Isla kemudian beranjak dari kursi tempat duduknya menuju Adrien yang sedang duduk di kursi depan.
Adrien tersenyum puas ketika Isla menjatuhkan dengan pelan bokongnya diatas paha, istrinya tidak mempedulikan tatapan orang-orang di kafe tersebut. Di pikiran keduanya, mereka sedang mereguk indahnya bulan madu, yang lain sedang mengontrak.
"Kak, bagus mana ?" Isla bertanya sembari memperlihatkan tiga foto dirinya yang hanya dibedakan dengan tarikan senyum di wajah.
Adrien menunjuk foto istrinya yang senyumnya lebih merekah dibandingkan dua foto lainnya.
"Ini saja."
Ucap Adrien menatap manik hitam istrinya, Isla kini mempunyai kesenangan baru, tak lain mengunggah foto di sosial medianya. Tentu saja foto bersama Adrien pun dipamerkan ke khalayak umum, hanya dalam waktu seminggu pengikutnya sudah mencapai ratusan ribu.
Isla dengan cepat mengetik kata yang menjadi caption fotonya, sementara Adrien yang memeluk pinggang wanita belia itu hanya tersenyum simpul.
Isla beranjak dari pangkuan Adrien ketika pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa menu pesanan makan siang, grilled salmon and vegs.
__ADS_1
"Kak." Pekik Isla tak lama kemudian, istrinya menjulurkan layar ponselnya ke depan
Adrien melihat seksama headline berita di layar datar Isla, ia pun mengedutkan alisnya.
"Kenapa kakak memutuskan mundur dari CEO Bleuettte?" Tanya Isla menatap manik biru terpadu senyum merekah sangat indah milik suaminya
"Aku ingin fokus dengan istriku, itu saja, Chérie." Sahutnya memulai memotong salmon di piring, ia mencelupkan pada mayonaise kemudian menyuap istrinya
"Apa kakak tidak menyesal? Maksudku Bleuette Corps adalah hidup Kak Adrien." Ucap Isla sambil mengunyah makanan suapan dari suaminya
Adrien menggelengkan kepala "Kau adalah hidupku, Chérie. Toh perusahaan itu tetap milik kita, hanya saja suamimu tidak akan turut campur tangan dalam keputusan harian perusahaan itu. Tapi tetap di maintenance dari jauh. Yang menggantikan juga adalah orang-orang yang sangat kredibel dan aku sangat percaya. Jadi tenang saja, Chérie. Sampai cucu kita kelak, Bleuette Corps akan tetap berdiri tegak." Jelas Adrien menenangkan raut khawatir istrinya
Isla menghela napas panjang dengan bibir merenggut manja "Aku takut Kak Adrien bakal bosan denganku, jika hanya melihatku selama 24 jam."
Adrien tergelak tawa manis "Non mon amour, aku tidak pernah bosan terhadapmu. Malah dengan keputusan ini, aku ingin terus berada di dekatmu. Aku tidak bisa jauh, aku juga tidak ingin membawamu ke kantor tiap hari. Kau akan jenuh, dan ya... Puluhan tahun aku membangun perusahaan ini, telah tiba saatnya untuk menikmatinya dengan kekasihku. Bukankah aku sudah katakan, kita tidak akan terpisahkan, Chérie ?"
Mata cantik milik istrinya menyipit dan wajahnya berseri dalam anggukan kepala "Aku tidak akan pernah bosan dengan Kak Adrien, janji" sahutnya mengulurkan kelingkingnya
Adrien terbahak tawa menautkan jemari kelingking.
"Hei, Nyonya Adrien. Cepat selesaikan makanmu, karena giliranku yang tidak sabar memakanmu lagi." Ucapnya mengedutkan alisnya dengan tatapan nakal, kekasih hatinya hanya bisa tersipu malu.
Pria berambut keemasan itu penuh bahagia, dimana benaknya sedang berpikir tempat indah berikut yang akan mereka kunjungi. Adrien ingin membawa Isla hingga ke ujung dunia, melihat lewat mata dan terekam jelas dalam ingatan tempat-tempat tersebut.
"Kak Adrien." Ucap Isla dengan suara lembut manja, mata menatap lurus suaminya, bibir mungil merekah itu seolah mengundang Adrien untuk mencecapnya
"Ada apa, Chérie." Sahut Adrien dengan jantung bertalu, ia sangat menginginkan Isla dalam rengkuhannya.
"Terima kasih dengan keputusan Kak Adrien."
Adrien gemas dengan suara rajukan Isla, ia menyugar rambut keemasan miliknya.
"Maafkan aku, Chérie. Sepertinya kau akan melanjutkan makan siangmu di tempat tidur." Ucapnya langsung berdiri, membuka dompet menaruh beberapa lembar peso di atas meja lalu meraih tangan istrinya.
Isla belia hanya tertawa kecil mengikuti genggaman tangan kuat milik Adrien yang melangkahkan kaki dengan tergesa.
"Kak Adrien, jangan pernah bosan kepadaku." Cicitnya riang
Manik biru menatap lekat "Itu tidak akan terjadi, Chérie. 40 tahun kedepan, kita hanya akan terus melakukan itu tanpa rasa bosan. Percayalah itu." Ucap Adrien penuh keyakinan hati.
"Pour toujours mon amour." Sambungnya mengeratkan genggaman jemari.
###
Pour toujours mon amour : selamanya cintaku
__ADS_1
someday, author bakal ke Kuba.. ada yang mau ikut ? 😁