
Waktu berjalan seperti langkah seekor siput ketika kau sedang berjuang, begitu pula yang dirasakan oleh Adrien. Sebulan berasa berbulan-bulan menunggu akhir masa penantiannya untuk membawa pergi gadis belianya. Bukan ke Berlin, tapi ke Lyon.
Bahkan rumah idaman Isla telah memasuki masa pembangunan dan diawasi langsung oleh Keanu, papanya. Tiap saat Adrien mendapatkan laporan progress pembangunan rumah mereka.
Tentu saja ia mendiskusikannya kepada kekasihnya karena Adrien sama sekali tak mengetahui hal seperti design arsitektur sebuah bangunan.
Kembali mengingat selama hidupnya ketika membeli sebuah property, penilaiannya pada sebuah hunian adalah tempat yang bisa menampung banyak tamu untuk di undang berpesta.
Mansionnya saat Adrien berusia pertengahan 20 tak lebih hanya sebagai tempat untuk party hura-hara. Setelah perpisahan dengan Khaleesi ia masih melanjutkan tinggal mansion itu, hingga Adriana mamanya menjual huniannya ketika Adrien semakin tergila akan pekerjaan.
Setelah itu Adrien tidak memikirkan sebuah tempat tinggal sampai bertemu dengan seorang gadis berusia 19 tahun. Gadis yang membuatnya ingin menetap dan tak beranjak, Isla mengubah banyak pandangan hidupnya, sesuatu yang selama ini telah dikubur jauh di dasar hatinya.
Bicara tentang gadis yang mengubah hidup Adrien, gadis itu belum datang ke rumah padahal Isla mengatakan hanya akan berkunjung sebentar di Bohemian House.
Adrien tak henti menengok jam yang berputar lambat di dinding, ia bosan dan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaannya.
Pesannya hanya dibalas ikon oleh kekasihnya itu, ikon hati yang banyak. Dasar remaja yang aneh sekaligus lucu.
Tak tahan menanti, Adrien berjalan menuju keluar rumah dan menggeser pintu gerbang hanya untuk meloloskan kepalanya.
Tak ada tanda-tanda kendaraan SUV berwarna hitam mendekat, kendaraan yang biasa dipakai Isla, ia pun kembali masuk ke dalam rumah dan memutuskan untuk tidur siang dengan hati gelisah.
...
Entah berapa lama Adrien tertidur namun pelukan dari belakang dan tungkai panjang yang posesif melingkari separuh badannya membuatnya terbangun.
Sambil tersenyum ia pun menarik tangan mungil itu melewati badannya.
"Kak Adrien." Pekik manja Isla begitu mendarat di depan badan kekasihnya yang langsung mendekap dengan posesif
"Aku merindukanmu, Chérie. Kenapa kau lama sekali di Bohemian. Katanya cuma sebentar malah aku sampai tertidur. Jam berapa sekarang ?" Adrien melihat pantulan cermin di kamar yang memperlihatkan langit beranjak memerah karena senja pun tiba
"Hampir jam 6, kak. Maaf tadi mengawasi pembangunan Bohemian. Banyak yang harus aku koordinasikan dengan mandor proyek."
Adrien berdeham sembari menciumi puncak kepala berwangi strawberry miliknya.
"Aku tidak bisa bekerja karena memikirkanmu, Isla. Jika kita telah mendapat restu, sepertinya kau akan terus berada di dekatku. Aku tidak bisa berjauhan."
Isla tertawa cekikikan sambil menangkup rahang Adrien "Kakak jadi komisaris saja, hanya sesekali mendatangi kantor. Selebihnya berada di rumah bersamaku, mengurus anak-anak. Apa kakak tidak lelah bekerja sejak belasan hingga umur sekarang. 3 bulan lagi Kak Adrien ulang tahun ke 44. Ya ampun pacarku sudah tua sekali." Canda Isla membuat hati Adrien campur aduk seperti gado-gado, gadis belianya paling pintar membuat perasaannya naik turun seperti roller coaster.
"44 tahun yah, aku telah lama tidak merayakan ulang tahunku. Mungkin sejak menginjak 35 tahun, aku berhenti berpesta merayakannya. 9 tahun lalu yah, kau masih berusia 10 tahun, Chérie. Masih pakai seragam putih merah."
Mata Isla dan Adrien saling bertatapan, tawa gadisnya lah membuat pria bermanik biru itu menghadiahi ciuman hangat di bibir favoritnya.
"Awal mengenalmu aku merasa seorang pedofil, Chérie. Tapi rasa cinta membutakan logikaku, aku ingin memilikimu."
"Kakak tidak seperti berusia 40an kok, bahkan Axel mengatakan Kak Adrien berusia 35 tahun."
Benda bergetar di saku celana Isla menghentikan romantisme kedua orang berbeda usia tersebut.
"Halo Ya Ya.." Isla terduduk untuk menjawab telepon Radit
"Lagi dimana nak? Mobilmu ada di parkiran, ayah cari di kamar kau tidak ada"
"Lagi di luar Ya Ya, cuma dekat kok. Rumah Agasti" jawab Isla sekenanya, ia memang mempunyai teman sekolah bernama Agasti dan rumahnya tidak jauh dari rumah Adrien, namun si Aga sekarang di Surabaya melanjutkan pendidikannya.
"Isla.. kita harus ke Jogja, nak.. Eyang uti masuk rumah sakit"
Gadis berbola mata cantik itu sontak membelalak itupun langsung di tangkap oleh Adrien, pria tampan menjadi penasaran akan perubahan ekspresi kekasihnya.
"Tunggu YaYa.. Isla pulang, sekarang kita berangkatnya ?"
Helaan napas sangat berat dari Radit membuat Isla yakin jika kondisi eyang uti memprihatinkan.
Isla mengembuskan napas panjang lalu menatap wajah Adrien yang ditumbuhi bulu maskulinnya.
"Kak, aku harus ke Jogja malam ini, eyang uti masuk rumah sakit."
"Aku ikut." Ucap Adrien tanpa pikir panjang
"Entah kakak masih bisa dapat pesawat, tapi bisa tidak kita tidak se penerbangan."
__ADS_1
Adrien mengangguk lalu menarik tubuh Isla mengantar kekasih kecilnya untuk keluar rumah "Tidak mengapa aku menyusul ke Jogjanya Chérie."
Isla berbalik dan masih sempat tertawa kecil lalu menangkup wajah Adrien "Kekasih kaya-ku akan menaiki pesawat komersil."
Gadis cantik itu mencium bibir penuh milik Adrien dengan panas.
"Aku mencintaimu, Kak Adrien." Ucap kekasih belianya lirih yang lalu berlari kencang meninggalkan pria berambut emas dengan jantung berdebar dan hati berdesir hebat.
...
Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan..
Keadaan eyang uti tidak ada perkembangan signifikan, selama 2 hari kemudian Radit, Rinjani dan Isla bergantian menjaga di rumah sakit swasta yang terletak di dekat universitas negeri terbaik di Indonesia. Tempat kuliah Kila dan Lika.
Adrien menyusul ke Jogja malam itu juga, hanya berselang 2 jam setelah kekasihnya terbang ke kota pariwisata teramai di pulau Jawa.
Adrien sangat percaya jika orang Jogja memiliki usia yang lebih panjang daripada orang tua lain yang tinggal di luar kota tersebut. Terbukti dengan orang tua Radit, tepatnya ibunya yang masih hidup dan 5 tahun lalu ayahnya tiada, sementara grandma dan grandpanya telah berpulang ketika Adrien berusia 30an.
Pria yang menggunakan sweater abu itu berjalan menuju jendela kaca kamar hotelnya, pandangannya terarah keluar pada taman dan kolam renang yang dijatuhi air yang cukup rapat dan terus menerus. 2 hari kedatangannya di kota ini, setiap sore menjelang hujan selalu hadir tanpa ragu.
"Kak Adrien." Panggil sebuah suara yang sangat manja dari balik pintu disertai ketukan tak sabar, seutas senyum merekah pun terbit di bibir Adrien, ia lalu berjalan tergesa membukakan pintu
"Chérie." Seru Adrien menyambut tubuh yang berhambur ke pelukannya
"I miss you so bad." Gumam Isla memeluk erat tubuh kekar kekasihnya, Adrien tersenyum simpul sambil mengecup kening Isla.
Ia pun merindu dengan sangat walau semalam mereka masih bisa bertemu itu pun secara sembunyi-sembunyi di dekat area rumah sakit.
"Aku juga rindu, Chérie." Adrien bergumam pelan
"Ayo kak, kita ke mall.. jalan-jalan sore cari angin.. hidungku cuma bisa cium bau obat dari pagi." Gerutu kekanakan Isla sambil mencium dada Adrien yang menguarkan wangi cendana
"Bagaimana keadaan Eyang ?" Tanya Adrien menutup pintu kamar dan menggenggam jemari Isla menyusuri selasar hotel.
"Ya begitulah.. tidak ada perkembangan bagus, kak. Papa, mama dan kembar sedang dalam perjalanan pulang kesini." Ucap Isla dengan lirih, suaranya pun bergetar karena sedih.
Gadis belia itu pun mengembuskan napas panjang dan berat
"Aku kuat selama Kak Adrien ada, walau kita tidak selalu bersama. Yang penting kita menginjak pulau yang sama, kota yang sama.. menghirup udara yang sama."
Adrien mengukir senyuman simpul di bibirnya, bahkan ia tahu kekasihnya sedang bersedih namun Isla masih bisa membuatnya berdebar dengan kata-kata polos dan juga indah.
...
Isla menatap wajah Adrien yang pucat pasi, mereka baru saja sekitar 40 menit berada di mall sebelah hotel tempat kekasihnya menginap. Sesaat tadi Isla mengajak Adrien untuk makan di restoran jepang yang berada di lantai 3 pusat perbelanjaan tersebut.
"Bukan makanan Jepang barusan yang membuat Kak Adrien sakit perut, pasti gara-gara bakso gerobak tadi siang." Ucap Isla khawatir melihat pria tampan itu memegang perutnya.
Adrien pun mengangguk dengan lemah, sementara Isla menyeka keringat dingin di pelipis kekasihnya.
"Dasar bule.. lidah kakak memang Indonesia, tapi perut kakak tidak terbiasa dengan makanan gerobak pinggir jalan." Cerocos Isla memicu senyuman tipis di bibir Adrien
"Sepertinya cabe bakso tadi sudah lama, dan aku masukin banyak di mangkokku." Ungkapnya jujur
Isla menggelengkan kepala tidak percaya dengan pengakuan Adrien.
"Aku ke toilet dulu ya, Chérie. Sudah sangat melilit." Adrien menyipitkan mata sembari meringis, Isla pun menganggukkan kepala.
Sambil terkekeh Isla berjalan menuju gerai Guardian yang setahunya tempat itu menjual segala macam termasuk obat-obatan.
Setelah melakukan pembayaran Isla berjalan menuju tempatnya berpisah dengan Adrien. Langkah Isla terhenti ketika melihat sepasang paruh baya di depannya, ia pun mengamati gerak gerik si wanita yang kemudian berjalan masuk ke dalam gerai tas sementara si pria hanya bersandar pada pembatas besi sambil menjelajah dengan ponsel pintarnya.
"Hai paman, sibuk yah?" Sapa Isla sambil melemparkan senyuman semanis mungkin, pria berambut pirang kecoklatan itu terlihat kaget namun berusaha membalas senyuman gadis cantik yang ikut bersandar di sampingnya
"Tidak sibuk.. hanya mengantar istri sedang berbelanja." Jawabnya jujur dengan memberi kode pada wanita yang mengenakan dress kembang-kembang berwarna orange.
"Bolehkah ?" Pinta Isla langsung memegang ujung ponsel pria itu, tanpa protes malah dengan sukarela melepaskan benda berbentuk kotak persegi kepadanya
"Namaku Isla Bohemia, paman. Aku menuliskan nomer ponselku di sini. Oh ya, siapa nama paman ?" Tanya Isla dengan suara lebih menggoda sembari mengembalikan ponsel pria tersebut
__ADS_1
Mata berlari dengan wajah kebingungan namun tetap tersenyum simpul "Jean Syagrius." Sahutnya
Senyum merekah di bibir Isla lalu mengucapkan nama pria di depannya seseksi mungkin "Paman Jean."
"Hei !! Apa yang kau lakukan!" Pekik seorang wanita yang keluar dari toko tas, wajah Khaleesi memerah karena amarah melihat seorang gadis mendekati suaminya
Isla terkekeh dan berjalan menghampiri Khaleesi, dengan cepat ia mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.
"Paman Jean, aku pinjam tante sebentar saja. Tunggu di situ ya." Ucap Isla merajuk seolah mengguna-gunai Jean yang membalasnya dengan sebuah anggukan kepala.
Isla menarik Khaleesi ke tempat yang agak sepi dari pengunjung dan merapatkan tubuh Khaleesi ke dinding kaca toko yang sedang tahap renovasi.
"Apa kabarmu Tante Khaleesi ? Sudah kembali ke Indonesia?" Ucap Isla dengan suara dingin dan sinis
"Kau !" Pekik Khaleesi yang kemudian mulutnya dibekap oleh Isla
"Stttt.. jangan ribut tante.." Isla memasang mata pembunuhnya yang membuat wanita paruh baya itu tak berkutik dan ketakutan "Gara-gara perempuan seperti kau tante, hampir membuatku pisah dengan Kak Adrien. Tante melakukan itu karena masih suka dengan Kak Adrien ! Lucu.. padahal tante sudah punya Paman Jean yang tampan, kurang apa sih suami tante ? Atau tante yang tidak puas dengan 1 laki-laki? Mau mengajak threesome.. hahahaha.. Tante sungguh mengkhawatirkan, usia tante itu harusnya lebih banyak ibadah.. bukan mengharap pada pria yang tidak punya perasaan kepada tante. Hmmm.. sudah botox di bagian mana saja, tante?" Ucap Isla menyusuri pipi Khaleesi masih dengan tatapan tajamnya, ia bisa merasakan tubuh wanita paruh baya itu gemetar ketakutan
"Apakah kau tahu kedua orang tuaku, tante? Mereka mafia, mamaku bisa membunuh orang dalam 1 kali gerakan. Dan aku mewarisi itu, jauh lebih hebat dari Aurora Kila yang pernah menjadi mimpi burukmu belasan tahun lalu. Jadi, jangan pernah macam-macam dengan mengusik kehidupan Kak Adrien, kehidupan kami lagi. Ini peringatan bagimu, tante sayang. Belajarlah menghargai dan mensyukuri apa yang kau punyai, Khaleesi Adalyn Syagrius." Ucapnya berbisik dengan nada dingin yang menyusup hingga ke hati terdalam wanita itu
"Chérie ! Apa yang kau lakukan di situ?" Panggil Adrien tak jauh dari tempatnya mengeksekusi Khaleesi
"Kak ." Sahut Isla riang, langsung berubah 180 derajat dengan wajah dan suara yang diperlihatkannya kepada wanita paruh baya yang telah terduduk bersimpuh kehilangan kekuatan kaki
Suami Khaleesi yang tadinya berdiri di samping Adrien beranjak menghampiri istrinya yang terisak.
"Paman Jean." Isla menahan tangan pria tinggi besar di pertengahan langkahnya
"Jika aku lihat, paman sebenarnya lebih muda daripada kekasihku. Tapi Paman Jean sepertinya malas berolahraga.. Tahu gak paman? Isla suka pria lebih dewasa dan mempunyai tubuh yang kekar." Bisiknya sambil mengurai senyuman menggoda
"Call me." Sambung Isla mengedipkan matanya sebelah lalu bergerak lincah menuju Adrien.
Perhatian Jean pun terpaku pada gadis tinggi semampai berwangi kayu manis yang langsung mencium bibir Adrien tanpa malu di tengah mall. Ada yang bergejolak di dalam dada Jean, rasa yang telah lama mati.
"Nakal." Gerutu Adrien menjawil pipi kekasihnya dengan gemas
Isla tergelak tawa lalu bergelayut manja pada lengan kekasihnya "Siapa suruh tante itu muncul di depanku, sekalian saja aku kasih oleh-oleh."
Adrien terkekeh keras sambil mengingat ekspresi tak berdaya Khaleesi akan perbuatan balas dendam kekasih belianya.
"Kak.. antar ke rumah sakit yah? waktunya Isla gantian jaga dengan ayah dan ibu."
"Tentu saja, Chérie. Walau aku mengantarmu menggunakan taksi." Sahut Adrien tertawa kecil sambil merangkul tubuh kekasihnya.
...
Adrien terbangun keesokan paginya dengan tubuh yang lebih baik dan bugar setelah semalam ia harus merasakan perutnya melilit walau intensitas ke kamar mandi menurun setelah meminum obat pemberian Isla.
Perhatiannya kemudian tertuju pada layar ponselnya yang berkedip lalu mati, dengan perasaan malas Adrien meraih benda tersebut.
Satu nomer baru telah meneleponnya sebanyak 4 kali, tak lama kemudian sebuah notifikasi pesan masuk dari nomer tersebut.
Hai Isla, ini dengan Paman Jean yang kemarin. Hari ini kau ada waktu untuk bertemu denganku ?
Pria berambut pirang keemasan itu pun lalu meremas ponselnya dengan gemas.
"Chérieeeeeee !"
###
alo kesayangan ♥️,
buat pemeran Paman Adrien baru akan aku share setelah novel ini berakhir..
aku tidak ingin penilaian kalian kepada Isla berubah, jika menstalking sosial media Adrien dan menemukan kekasih realnya.. wkwkwkwkk.
sabar yakk..
love,
__ADS_1
D 😘