
Triplet Adrien dan Isla menginjak usia lima bulan, sangat menyenangkan hati melihat proses tumbuh mereka yang sangat dinikmati orang tua
beda usia itu. Di dalam rumah megah itu mereka hanya berlima, para orang tua berwisata. Hugo dan Kila sudah kembali ke Berlin, namun mereka sudah berjanji bahwa setiap sebulan sekali akan terbang ke Lyon. Bukan jarak yang membentang jauh, hanya terbang selama 2 jam dan kedua orang tua itu sudah dapat melihat Orion, River dan
Autumm.
Mungkin kedewasaan Adrien membuat ia bisa mengurus anak-anaknya, sang papa yang baru mendapatkan buah hati di usia 44 tahun itu
sedang menikmati kesukaan terbarunya. Pun triplet jarang tidur di box bayi melainkan bersama dengan Adrien dan Isla di tempat tidur.
Bayangkan tiga bayi gemuk tidur berada di antara kedua orang tua itu, sangat hidup. Bergantian menangis, kadang bertiga serempak meminta perhatian Adrien dan Isla. Di antara ketiga
anak kembar mereka, River lah yang paling tenang, mungkin sesuai dengan namanya. Sungai yang tenang, hanya terkadang menangis itu pun ketika saudara-saudara melakukan hal yang sama.
“Saatnya papa Adrien juga tidur.” Ucap Isla menjatuhkan kepala pada bahu suaminya. Adrien sedang menatap penuh bahagia ketiga anaknya
yang telah terlelap. Orion berhasil menyusul River dan Autumm tertidur, anak satunya itu paling rewel, kata Keanu sangat mirip Adrien ketika bayi.
“Makan.” Sahut Adrien menghadiahi kecupan basah di pipi Isla, wanita belia yang semakin bersinar bahkan telah membawa tiga bayi lucu ke
dunia.
“Kak Adrien ingin makan ?” tanya sang ibu muda menangkup wajah sangat rupawan Adrien, pria abadi akan ketampanan dan kemudaan raganya.
Adrien mengangguk, sekilas mengecup bibir mungil sang istri kemudian menarik tangan Isla untuk beranjak dari tempat tidur besar itu.
Keduanya bergerak meninggalkan kamar tidur sambil bergenggaman tangan menuju ruangan dapur, sangat jauh dari kamar tidur. Melintasi
dua ruangan untuk bersantai, dimana semua design dikerjakan oleh seorang arsitek yang masih
berjuang menyelesaikan kuliahnya dengan online.
Isla menyuruh suaminya duduk di kursi kitchen bar, yang lalu memilih membalas pesan di ponselnya. Istri belia orang terkaya kelima dunia, alih-alih meminta maid untuk memasakkan nasi goreng favorit Adrien, Isla justru menyibukkan diri dengan peralatan masak.
Adrien bukan tipe suami yang susah dalam memilih makanan yang akan disantapnya, pria tampan itu sangat menyukai cita rasa Indonesia. Terlebih jika Isla yang memasakkan.
“Banyak yang mengirimi pesan ?” tanya Isla sambil meletakkan sepiring nasi goreng dengan sosis panggang dan telur mata sapi setengah matang di depan Adrien
“Tentu saja, Cherie.” sahut Adrien meletakkan ponselnya. Menatap wajah Isla yang sedang menantinya untuk mencicipi nasi goreng buatan itu. Di tangan Isla segelas orange jus, kemudian diletakkan di samping piring.
“Kemarilah.” Sambung pria berambut keemasan menepuk kursi di sebelahnya
Isla menuruti permintaan sang suami, ia pun lalu duduk di kursi berwarna hitam dan aluminium terbaik sebagai kaki-kaki kokohnya.
“Enak. Istriku wanita sempurna.” Puji Adrien pada kunyahan pertama masakan Isla. Senyum merekah terbit lebih indah di wajah istrinya.
“Selamat makan, kak. Pastinya sangat melelahkan mengurus anak-anak kita.”
Adrien menggeleng “Non, Cherie. Aku menikmatinya, mereka adalah buah hati kita. Aku sudah menanti lama kehadiran kau dan mereka. Sama sekali tidak membebaniku, setiap hari melihat mereka tumbuh membuatku ingin memiliki kekuatan super, menghentikan waktu.” Ucapnya memicu tawa indah sang istri.
“Sayangnya Kak Adrien tidak punya. Hanya uang yang banyak sih iya.” Kekeh Isla
Adrien memajukan bibirnya yang berminyak karena nasi goreng “Aku rela menukar semua itu untuk sebuah mesin waktu. Aku ingin hidup di masa ini, sekarang. Orion, River dan Autumm tetap bayi berusia 5 bulan.”
Isla pun tergelak tawa, mengacak rambut keemasan suaminya. Hidupnya dikelilingi oleh pria posesif, dari ayah, papa dan Adrien. Pria-pria yang tidak bisa melepaskan anak-anaknya, keluarga adalah segalanya. Harusnya patut
disyukuri karena diluar sana banyak menginginkan pria seperti mereka.
“Isla malah ingin mereka cepat besar dan kita bisa memiliki anak lagi, katanya berhenti hamil di usiaku yang 25 kak.”
“Tapi triplets sangat lucu.” Adrien bergumam, sorot matanya menyendu
__ADS_1
“Menjadi orang tua sangat menyenangkan, Cherie. Sekarang aku sama sekali tidak menginginkan kembali bekerja, seluruh waktuku hanya untuk
mereka.” Sambungnya lalu meneguk orange jusnya. Piring berwarna putih di depannya telah kosong, begitu pun kemudian dengan gelas tinggi di tangannya.
“Isla pun setuju, kak.” Ucapnya melingkarkan tangan pada lengan kokoh Adrien. Otot-otot padat yang tak henti dilatihnya di gym pribadi berada di bagian belakang rumah mewah mereka. Terpisah dari bangunan utama. Di situ pula Isla melatih tubuhnya untuk kembali kencang seperti semula,
walau kehamilan tidak membuat berat badannya banyak meningkat.
“Terima kasih, Cherie. Hidupku sudah sempurna, walau dengan kehadiran triplet membuatku masih ingin memiliki bayi berikutnya. Hidupku sangat
indah Isla Bohemia. Bagaimana wanita semuda dirimu hadir dan memberikan semuanya kepadaku.”
Isla tertawa kecil melihat mimik muka Adrien, semakin melembut dengan bertambahnya hari-hari kebersamaan mereka “Pria dewasaku, justru kaulah menyempurnakan hidup. Isla tidak perlu bersusah payah untuk mendapatkan semuanya, jatuh cinta dan patah hati seperti remaja pada umumnya. Isla cukup bertemu paman muda, alias kakak sepupu.”
Adrien menjawil pipi istrinya sambil merenggut “Jangan ingatkan aku dengan silsilah keluarga, Cherie. Kau sekarang bukan bagian keluarga itu lagi tapi adalah Nyonya Adrien, istriku satu-satunya.”
Tangan Isla kembali menangkup wajah Adrien “Kau juga satu-satunya, papa triplet.”
…
Adrien menepati janjinya untuk berkencan layaknya pasangan yang masih berpacaran. Bayi mereka dalam 3 hari akan menginjak usia satu tahun, para orang tua pun kembali bersua di rumah mereka, membuat Adrien bebas membawa kekasih hatinya ke pusat kota.
Demi Isla, Adrien membeli hotel berbintang lima di pusat kota. Menjadi rutinitas dua kali dalam sebulan mereka menjadikan hotel megah itu sebagai tempat untuk melepaskan sesaat dari
kesibukan sebagai orang tua Orion, River dan Autumm. Mereka bercinta, berkencan, dan berjalan menyusuri pedesterian kota Lyon. Pasangan itu berkomitmen kebersamaan itu untuk memupuk rasa cinta hingga semakin kuat.
Pun Adrien memanjakan Isla, memugar lantai dasar hotel dan di isi dengan berbagai gerai pakaian bermerk. Mereka tidak perlu terbang ke Italy atau ke Paris hanya untuk berbelanja pakaian. Isla cukup ke pusat kota Lyon, Carlton Bleuette Hotel.
Di hotel itu mereka selalu mengambil kamar president suite yang tidak pernah disewakan kepada tamu hotel. Setelah memadu kasih, membersihkan diri Adrien mengajak Isla untuk berjalan-jalan di gerai pakaian di lantai bawah,
"Gadis kecil !" Panggil setengah berteriak suara husky rendah ketika Adrien dan Isla hendak memasuki gerai tas bermerk yang berasal dari Italy
Pasangan suami istri itu berbalik dan melihat sosok Jean bergegas menghampiri, di belakangnya pria berambut keemasan ada sesosok wanita yang menekuk wajahnya. Khaleesi.
"Bahagia." Jawabnya berseru "Hai Rien, kau terlihat seperti biasa, membosankan melihatmu tidak menua." Sambung Jean bersungut namun tetap bersalaman dengan Adrien yang tersenyum miring
Sementara Khaleesi menjaga jarak, tidak berani mendekat.
"Aha ! Aku tahu kenapa Paman Jean bahagia." Ucap Isla bergerak setengah langkah di depan badan Jean
"Paman Jean rujuk dengan tante Khaleesi ?" Tebaknya dengan berbisik
Mata Jean membelalak lalu menggelengkan kuat kepalanya, ia lalu mengarahkan pandangan ke arah Adrien.
"Rien, sebentar. Aku pinjam istrimu." Pinta Jean tanpa menunggu persetujuan sang suami yang sangat heran melihat tingkah laku pria berusia 2 tahun di bawahnya, lalu menarik tangan Isla berjalan menjauh sekitar 10 meter dari tempat Adrien berdiri
"Kenapa Paman Jean bertingkah seperti ini ?" Gerutu Isla sembari berusaha melepaskan tangan pria itu yang menggenggam pergelangannya
Jean menarik napas panjang kemudian berbalik menatap Khaleesi yang bergerak ragu mendekati Adrien.
"Wanita itu." Ucapnya rendah
"Tante Khaleesi ? Paman Jean rujuk ?"
Jean mendecih kasar "Gadis kecil, jangan katakan itu lagi. Khale datang kesini demi menemui anak-anak kami. Aku tidak rujuk dengan dia, ini semua demi peran Khale sebagai ibu. Awalnya aku menolak kedatangannya tapi aku juga kasihan kepada anak-anak. Biar bagaimana mereka lahir dari rahim Khaleesi."
"Oke baiklah, Isla percaya." Ucap Isla melihat Khaleesi sedang berbincang dengan Adrien. Tawanya terlihat dibuat-buat, memicu rasa jengkel di hatinya
Tangan kokoh Jean lalu merangkul Isla "Lihat, dia sedang mendekati suamimu. Dan sejak kedatangannya 4 hari lalu, hidupku tidak pernah tenang, gadis kecil."
Alis Isla mengkerut sembari mendongakkan kepala bertatap mata dengan Jean.
__ADS_1
"Terus apa hubungannya aku dengan mantan istri Paman Jean ?"
Jean terdiam menatap manik hitam yang membuatnya lupa jika wanita belia itu sudah bersuami. Lonjakan jantung berpacu keras ketika melihat sosok Isla di hotel tempat Khaleesi dan anak-anaknya menginap.
Jean sangat tahu jika hotel Carlton Bleutte adalah milik Adrien, ia pun sengaja memesan kamar untuk Khaleesi dengan harapan bisa bertemu dengan Isla. Dan itu terwujud.
"Bantu aku menyingkirkan Khaleesi."
"Apa ?" Pekik tertahan Isla
"Ya, bantu aku agar Khaleeesi tidak mengejarku lagi. Sedikit pun tidak adalagi perasaan kepadanya, tapi Khaleesi terus menggodaku, gadis kecil. Dia bercerita kepada anak-anak kami jika Khale dan aku masih bisa bersatu. Tuhan, aku tidak mau hidup dengannya lagi. Bahkan demi anak-anak pun aku sudah tidak bisa. Khaleesi tidak pernah bisa berubah lagi menjadi gadis yang aku pacari puluhan tahun lalu. Dia akan terus mencari pria lain, jiwanya sudah berubah. Dan cara mendekatiku terkesan murahan. Tolong aku gadis kecil ?"
Isla tergelak tawa keras "Apa untungnya untukku ?" Ucapnya ketika tawa mereda, Adrien dan Khaleesi menatap ke arah mereka.
Jean memutar bola mata berpikir "Aku bisa memberikan apapun itu."
Isla mendecih "Suamiku punya segalanya." Sergahnya
Jean tersenyum kecut menatap Adrien yang terlihat penasaran dengan pembicaraan mereka, sementara Khaleesi bertingkah genit meminta perhatian pria terkaya kelima dunia itu.
"Demi kemanusiaan, tolonglah aku gadis kecil. Khaleesi sangat takut kepadamu, entah apa yang kau katakan padanya di Jogja dulu, tapi dia tidak nafsu makan selama seminggu. Katakan padanya, jika Paman Jean sudah tidak menyukainya. Katakan padanya untuk tidak berharap kami rujuk."
Isla menaikkan tangan "Tunggu, paman. Bukannya paman bisa mengatakan itu langsung kepada Tante Khaleesi."
Jean mengembuskan napas pendek "Aku sudah mengatakan itu dari kemarin, tapi dia semakin agresif, gadis kecil. Aku hanya ingin hidup tenang membesarkan anak-anak."
Isla menghela napas kasar lalu menggelengkan kepala akan ketidakberdayaan pria dewasa itu.
"Coba lihat, bagaimana dia berusaha mendekati Rien. Padahal sesaat tadi masih merayuku." Ucap Jean memperalat Isla, wanita belia itu hanya meringis karena tahu akan tipu muslihatnya.
Isla melayangkan pandangan kepada pria yang tidak menggubris perkataan Khaleesi, suami tampannya malah menatapnya dengan lekat, sorot mata rindu berjarak 10 meter.
Wanita bersurai hitam itu menarik napas panjang "Baiklah Paman Jean, aku akan menghabisi mantan istri paman. Aku juga tidak ingin dia mendekati suamiku seperti itu lagi. Omong-omong kenapa paman tidak meminta orang terdekat. Misalnya kekasih paman ?" Ucap Isla
Jean menyunggingkan senyuman simpul menatap dengan binar indah dari manik biru "Bukannya aku sedang menunggumu, gadis kecil."
"Apa ?" Tanya Isla bingung
Jean terkekeh dan mengacak rambut Isla "Ya, aku menunggumu, hingga kau melihat keberadaanku."
###
alo kesayangan 💕,
jikalau hari ini aku selow pake banget
novel Kai dan Shadow akan up juga..
[oh yah aku sudah janji ma Yayang Eka ding 🤭]
btw, aku mau promote novel kakak rivalku "Love On The Air" kalian bisa request2 lagu ma kakak aku yang penyiar di situ 😁
semangat nulis yah kakak rival 💪🏻🤟🏻
love,
__ADS_1
D 😘