
Sebulan kemudian...
Adriana menarik ke bawah mini dress bling-bling berwarna hitam sesaat ia turun dari grab car yang mengantarnya menuju diskotik terbaik di Jakarta menurut review yang dibacanya di halaman pencarian. Belum pula ia mencapai pintu masuk yang merupakan tempat ajep-ajep kata anak dulu- Adriana sudah menjadi sorot perhatian orang-orang yang juga mencari kesenangan pub teraebutm
"Huff" rutuknya dalam hati, dress ini terlalu mencolok. Ia bisa bersaing dengan Beyonce yang sedang manggung, Ya kalah jauh walau sebenarnya suara Adriana cukup enak terdengar di tempat karokean.
Adriana mengingat, terakhir ia ke pub saat di bangku kuliah itupun rame-rame dengan geng angkatannya. Di usianya mengnjak 28 tahun ia bingung mengajak seseorang atau siapapun ke tempat seperti itu. Tidak ada yang dekat dengannya. Tidak mungkin juga ia meminta asisten atau teman kantornya, hal tersebut tentu saja akan membuat citranya seorang manager akan turun. Adriana tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi.
Setelah berada di dalam pub alias diskotik, Adriana memilih tempat duduk di pinggir dan memesan minuman yang menurut waitersnya non alkohol tapi rasanya di jamin enak. Sembari menunggu pesanannya datang Adriana menggoyangkan tangan dan kakinya seiring dentuman musik DJ yang membuatnya semakin larut.
Matanya mendadak kabur setelah mengesap minumannya, semua menjadi slow motion pada indera penglihatan dan pendengarannya, Adriana mencoba berdiri sambil berpegangan di kursi, mengingat pintu keluar. Baru tiga langkah kepalanya seperti menabrak dada seseorang.
"Tolong" gumam lirih Adriana mencengkeram kemeja pria itu.
...
DEG !
Jantung Adriana semacam copot saat membuka mata melihat pria dengan wajah seperti dewa Yunani hanya berapa centi darinya, alis lebat melengkung indah, hidung mancung, rahang indah, bibir tipis memerah, rambut coklat kehitaman yang tebal, kulitnya putih bersih, dengan otot menonjol di lengan dan punggung hanya tertutup selimut tanpa atasan. Sambil mengerjapkan matanya untuk menyakinkan penglihatannya, ia pun mencubit pahanya.
Sakit!
Eh paha? Dengan pelan dia menyingkap selimut berwarna putih "Tuhan!" Pekiknya dalam hati, ia hanya menggunakan panties. Kenapa ia bisa berakhir dengan kondisi seperti ini? Adriana dengan mata nyalang menatap ke atas, mencoba mengingat kejadian semalam. Perlahan ia mengulang kejadian sebelum pagi itu.
Adriana mengingat keluar dari rumah, berdandan ala Beyonce, ke Pub untuk bersenang-senang sendiri. Salah pesan minuman dan oleng.
__ADS_1
Apakah si dewa Yunani pria yang ditabraknya? Tuhan! hatinya mencelos, ia belum pernah sebodoh ini.
Adriana kemudian melihat di sekelilingnya, ia berada di sebuah ruangan kamar tidur bukan kamar hotel, nampaknya merupakan apartemen pria yang tidur di sampingnya. Di atas meja nakas ada tas, bra dan dress bling-bling sialan itu terlipat dengan rapi. Adriana kemudian bergerak pelan dan menarik pakaiannya, memasang branya sambil membelakangi si dewa yunani.
"Can i help you ?" Suara husky berat dari belakang membuat Adriana tersentak saat ia sedang kesusahan menarik resleting dressnya.
Dia bule... Gumam Adriana dalam hati.
"No thanks" balas Adriana menolak tanpa berbalik.
"Tapi sepertinya kamu kesusahan, biar aku bantu" kata si Dewa Yunani bergerak mendekat. Adriana kehilangan tenaga untuk menarik resleting dressnya. Tubuhnya menegang seiring gerakan pria itu semakin mendekat.
OMG! Indonesia yang sangat fasih, batin Adriana dalam hati, punggung terasa panas saat di sentuh pria itu. Sedikit lagi tubuhnya menjadi seperti agar-agar yang kaku.
"Done" kata si dewa yunani, Adriana juga langsung berusaha berdiri, namun kemudian kepalanya masih didera rasa sakit membuatnya sedikit oleng.
Adriana kemudian menurut mendudukkan bokongnya di tepi tempat tidur, si Dewa Yunani kemudian keluar dari kamar tidur bertelanjang dada hanya menggunakan celana pajamas berwarna abu-abu. Bahkan dari belakang pun pria itu sempurna, tampan, sixpack, tinggi, Hamish Daud mah lewat apalagi sekarang sudah milik Raisa.
Adriana!! Tolong kembali ke bumi, tenang! Teriak sisi kewarasannya dalam hati. Ia seperti kehilangan jari diri melihat dada yang terbuka beserta lekukan otot yang menonjol.
"Coba minum ini dulu, terus kemudian jus orange" kata si Dewa Yunani memberikan segelas air hangat dan menyimpan gelas berisi jus berwarna kuning di atas meja nakas.
Adriana menghabiskan segelas air putih itu yang membuatnya langsung mau ke toilet.
"Sorry, toiletnya mana?" Tanya Adriana sambil memegang perutnya.
__ADS_1
"Di sana" kata si Dewa yunani menunjukkan pintu di samping lemari berwarna hitam "ada handuk bersih kok di dalam, kamu bisa sekalian membersihkan diri" lanjut pria itu dengan tersenyum.
Deg !
Sambil memegang dadanya Adriana masuk ke tempat yang dmaksud pria itu. Adriana terlihat jompo, terhuyung memegangi perut dan dadanya.
30 menit kemudian Adriana mendapati pria tak di kenalnya berada di sofa ruang tengah apartemen yang bernuansa minimalis, sangat rapi untuk ukuran seorang pria.
"Terima kasih Tuhan, dia telah pakai baju" gumam Adriana menatap pria bermata coklat tajam seperti burung elang.
"Pakai ini" kata si dewa yunani menjulurkan sweater hitam "agak gede sih, karena itu punyaku. Tapi setidaknya kamu gak mungkin keluar seperti itu di siang bolong" lanjutnya dengan tersenyum jahil.
"Makasih" balas Adriana pelan membalas tatapan pria di depannya. Ia langsung memakai sweater teraebut di depan pemiliknya.
"Oh yah, namamu siapa?"
"Adriana Harika Kamaniya, Adri" jawab Adriana tenang.
"Keanu Pranaja Aswatama, Keanu"
###
meet tokoh utama kita...
abang Keanunya Rinjani ❣️
__ADS_1