
Adrien menatap lurus kepada pria yang memiliki warna rambut yang sama dengannya. Jean Syagrius yang berusia 2 tahun di bawah umur Adrien namun nampak lebih dewasa dari usia sesungguhnya. Jean mengenakan jersey bola timnas France dan mengatakan jika dia habis berolahraga di Gym.
Jean yang malang terjerat jebakan Isla kekasihnya, gadis berusia 19 tahun tersebut ternyata seorang yang manipulatif. Sifat terbaru yang diketahui Adrien.
"Jadi kau sendiri, mana Khaleesi ?" Ucap Adrien memulai percakapan mereka setelah sebelumnya bersalaman sesaat keduanya bertemu di lobby hotel. Tentu saja Adrien membalas pesan Jean dan mengatakan jika bukan nomer Isla yang dihubungi pria tersebut, namun tetap saja Jean ingin bertemu dengannya.
"Entah.. dia keluar sejak jam 8 pagi, hingga aku keluar Khalee belum kembali ke rumah." Sahut Jean enteng
Adrien menautkan alisnya dengan mata memutar "Apa yang terjadi di antara kalian?" Ucapnya
Jean mengedikkan bahunya sambil membalas dengan sorot malas.
"Pernikahan kalian bermasalah ?" Tebak Adrien sekenanya
Jean menghela napas sambil melirik sport watch yang baru di belinya "Justru aku ingin tahu apa yang terjadi di antara kalian bertiga, hingga gadis cantik itu seolah mengenal Khale. Semalaman Khale hanya diam, hingga pagi-pagi dia sudah keluar rumah dan tidak mengatakan apapun. Walaupun kelakuannya yang seperti itu sering terjadi."
Giliran Adrien menghela napas panjang kemudian memandang ke arah Jean "Jadi begini... " Pria yang mengenakan kemeja berwarna charcoal dipadukan celana pendek berwarna light gray memulai cerita dari pertemuan Adrien dengan Khaleesi di Monaco hingga insiden hubungannya Isla yang hampir bubar karena pesan yang dikirim oleh istri Jean.
Mata pria bermanik biru di depan Adrien terlihat berkilat marah, rahangnya pun mengeras.
"Maafkan aku tidak bisa menjaga Khaleesi. Berapa tahun terakhir ini Khaleesi banyak berubah. Dia semakin sibuk dengan teman-temannya, dari pagi hingga larut malam. Mungkin kau kenal dengan Samara, teman Khaleesi. Samara seorang single parent mempunyai anak tapi pengasuhan anak-anaknya diambil mantan suaminya. Nah...Khaleesi dan Samara selalu bersama hingga berliburan keluar negeri, untungnya anak-anak kami sudah besar. Maksudku semuanya telah bersekolah, sudah pintar mengurus diri sendiri karena aku disibukkan dengan pekerjaan."
"Aku pikir dulu kaulah yang akan menyakiti dia, ataukah mungkin kau yang duluan berbuat tidak baik dan kini Khaleesi membalaskan dendamnya."
"Demi Tuhan, Rien. Dulu aku telah berjanji kepadamu dan aku berusaha menetapinya. Aku tidak melakukan sesuatu yang salah. Pernikahan kami baik-baik saja hingga anak bungsu kami berusia 6 tahun tepatnya 3 tahun lalu. Sejak Samara bercerai, Khale menjadi teman curhat sahabatnya. Dan semuanya berubah." Ucap Jean penuh sesal, pria yang kemudian mengakhiri ucapannya dengan helaan napas berat
"Kau tidak menegur istrimu?"
"Aku sudah mencoba, Rien.. tapi dia semakin keras. Aku tidak tahu kenapa Khaleesi berubah seperti itu. Hingga papa meninggal beberapa bulan lalu, aku mengambil kesempatan tersebut untuk mengajak Khale kembali tinggal di France. Ya, awalnya dia senang, mungkin saat kau marah padanya, dia pun meminta membatalkan kepindahan kami sekeluarga. Sementara Sylvie anak kami yang pertama ngambek karena dia sudah terlanjur senang akan tinggal di Lyon."
"Sylvie bukannya masih sekolah menengah."
Jean mengangguk "Tahun ketiga."
"Mungkin kau harus menunggu hingga dia lulus sekolah, sembari membujuk istrimu. Walau perbuatannya terhadap Isla tidak bisa aku maafkan, tapi aku berharap rumah tangga kalian baik-baik saja. 4 anak adalah sebuah berkat yang luar biasa, Jean." Ucap Adrien bijak
Jean nampak setuju dengan perkataan Adrien dengan sebuah senyuman tersimpul di wajahnya.
"Kau sendiri masih melajang. Maksudku gadis itu persis sama dengan pacarmu belasan tahun lalu, kami pernah melihatmu di Lyon saat aku masih berpacaran dengan Khaleesi."
"Pacar ? Aku tidak pernah memiliki pacar sebelum Isla. Oh maksudmu Aurora Kila, itu kakak sepupuku. Isla adalah anaknya."
"Apa ?" Bola mata Jean melebar "Kau berpacaran dengan keponakanmu sendiri."
Adrien memutar matanya "Papaku dengan neneknya bersaudara, kami bukan keponakan langsung seperti di pikiranmu. By the way, orang tuanya setuju." pamer Adrien sambil tersenyum miring
Adrien tidak tahu jika dalam hati Jean sedang cemburu mendengarkan penjelasannya.
"Berapa umur Isla sekarang ?" Tanya Jean
"Kau bisa menebak ?" Sahut Adrien kembali mengembangkan seringaian di bibirnya
"24-25 tahun?"
Adrien tergelak tawa lalu menggelengkan kepala "Isla badannya saja tinggi, dia terlihat dewasa padahal masih 19 tahun." Ucap Adrien memamerkan kekasih belianya
__ADS_1
Jantung Jean semakin diremas akan cemburu "Bahkan dia hampir sebaya dengan Sylvie, tapi kedewasaan penampilan sangat jauh. Berpacaran dengan gadis semuda itu, pasti hidupmu lebih berwarna."
Adrien terkekeh ringan "Isla bagai pelangi setelah hujan badai. Aku seperti kembali ke jaman muda, Jean.. hingga kadang aku melupakan usiaku yang sesungguhnya."
"Aku bisa melihatnya, Rien." Jean bergumam pelan, hatinya semakin iri melihat binar mata Adrien menceritakan tentang seorang gadis muda yang memveto sebagian besar pikirannya sejak kemarin hingga sekarang.
"Kak !" Seru Isla setengah berlari dengan wajah berseri menghampiri sofa tempat Adrien duduk dengan Jean. Spontan kedua pria dewasa tersebut berdiri.
"Chérie." Sambut Adrien merengkuh tubuh Isla yang langsung memeluknya
"Maaf agak lama, Isla harus menunggu mama menggantikan kami menjaga eyang uti." Sahutnya merajuk sembari berjinjit mengecup bibir Adrien ringan
Adrien pun menangkup wajah kekasihnya dan menatap penuh cinta "Kembar kemana? Main ?"
"Tidak, mereka langsung pulang ke rumah. Semuanya mengantuk, aku pun juga kak. Mau tidur di pelukan kakak."
Adrien tertawa kecil lalu mengangguk, kembali gadis belia itu membenamkan wajahnya di dada.
Jantung Jean seolah tercubit menyaksikan kemesraan dan kemanjaan Isla yang belia dengan Adrien. Terpampang dengan jelas wajah bahagia pria sepantaran dengannya, di usia 40an untuk mendapatkan debaran dan kemanjaan seperti itu sangat sulit untuk didapatkannya lagi. Atau tidak pernah? Ya, Khaleesi bukan tipe wanita yang manja, walau istrinya dulu seorang yang penuh kelembutan.
Jean berdeham menjeda kemesraan dua sejoli yang seolah melupakan akan kehadirannya.
Isla yang berbalik dan menatap Jean dengan mata membulat "Hai Paman Jean, apa kabar ?" Ucapnya sambil terkekeh memamerkan senyumannya manisnya
Jantung Jean sontak berdetak melebihi ritme ketika ia berolahraga.
"Hai Isla, kabarku tidak baik karena kau memberikan nomer ponsel Rien kepadaku." Ungkap jujur disertai tatapan tajam oleh pemilik gadis belia tersebut
"Maaf, aku pikir Paman Jean tidak menghubungi nomer tersebut." Sahutnya sambil tertawa ringan tanpa bersalah, mata menyipit begitu indah membuat dada Jean makin bergejolak tak menentu
Pria bermanik biru lebih muda dari manik Adrien tersenyum "Aku sudah mulai berolahraga." Ucapnya mengedutkan alis ke arah Isla
"Bagus dong, paman. Semoga tetap konsisten, tentu demi kesehatan. Kak Adrien rutin berolahraga jadi tidak ada yang percaya jika sudah 43 tahun." seru riang Isla
Mata kedua pria itu saling menatap tajam, Adrien pun mengeratkan tangannya.
"Katanya mau tidur ?" Bisik Adrien menurunkan kepalanya
Gadis belia itu menganggukkan kepala sambil mengelus pipi halus Adrien.
"Maaf ya, Jean. Tunanganku mau tidur dulu, semoga kau dan istrimu bisa menemukan jalan keluar." Ucap Adrien menekankan kata "tunangan" agar Jean tidak berharap banyak kepada kekasihnya.
"Jadi kalian sudah bertunangan?" Tanya Jean
Adrien tertawa renyah karena pancingannya berhasil.
Isla menaikkan jemari manisnya sambil menyunggingkan senyuman merekah, Jean hanya bisa tersenyum kecut.
"Sampai ketemu, Jean." Ucap Adrien mengakhiri pertemuan mereka.
"Bye, Paman Jean." Isla menaikkan tangannya sebelum berbalik mengikuti arah Adrien menuntunnya dalam genggaman.
Pria yang mengenakan sepasang pakaian olahraga tersebut mengepalkan tangan di kedua sisi badannya sambil menyaksikan gelayutan manja gadis belia pada lengan Adrien.
Sungguh beruntung, rutuk Jean.
__ADS_1
...
Adrien ikut tertidur ketika Isla memejamkan mata, keduanya pun akhirnya menghabiskan waktu di tempat tidur. Cukup lama mereka terlelap hingga Adrien yang pertama terbangun dan melihat tidak ada lagi sinar matahari masuk ke dalam kamar suitenya. Perlahan pria bermanik biru tersebut meraih ponselnya di atas meja nakas.
"Setengah 6." Gumamnya pelan sembari menyalakan lampu tidur. Cukup lama mereka beristirahat hampir 3 jam dan perut Adrien pun mulai merasakan lapar.
"Chérie... Bangun sayang. Sudah malam." Adrien membelai lembut kepala kekasihnya yang masih betah meringkuk.
Erangan manja yang sangat disukai Adrien terdengar menandakan Isla telah terjaga. Sembari tersenyum simpul ia lalu mengangkat dagu kekasihnya dan menyarangkan sebuah kecupan pada bibir mengerucut dan menggemaskan.
"Aku akan mandi yah, Chérie. Kemudian kita akan keluar makan malam sekaligus mengantarmu." Ucap Adrien melepaskan pelukan lalu mengacak rambut gadis yang memulai membuka matanya
"Mandinya jangan lama." Gumam Isla pelan
"Kenapa? Kau juga ingin mandi, Chérie ?"
"Nanti aku rindu." Sambung kekasihnya dengan suara manja. Adrien terkekeh keras penuh suka cita, ia pun kembali ke tempat tidur dan memeluk tubuh indah milik Isla.
..
90 menit kemudian Adrien berdiri di trotoar depan rumah sakit tempat ibu Radit di rawat. Ia dan Isla baru saja menyantap sup buntut di dekat rumah sakit tersebut. Sebuah warung yang hanya berupa tenda pinggir jalan namun rasa supnya patut diacungi jempol.
Adrien tersenyum geli melihat Isla mengenakan t-shirt yang kebesaran miliknya.
"Pacarku cantik." Ucap Adrien memainkan bagian lengan t-shirt yang melambai berwarna merah
"Harusnya aku menyimpan beberapa pakaian di kamar hotel kakak. Biar kalau habis mandi bisa langsung ganti baju bukan pinjam baju kakak." Sahut Isla menatap wajah tampan milik Adrien.
Kekasihnya memang sangat tampan dan menjadi perhatian pengunjung di warung pinggir jalan tadi. Terlebih Adrien sangat lancar menggunakan Bahasa Indonesia, Isla bisa melihat beberapa wanita yang mencuri kesempatan dengan mengambil foto kekasihnya.
"Tidak usah, Chérie. Kita bisa membelinya besok. Kau juga tidak membawa baju banyak kan kesini."
"Iya, Isla lupa kak. Kita sudah berapa kali ke mall tapi tidak pernah ingat untuk membeli pakaian. Soalnya bibi di rumah eyang rajin sekali mencuci, pakaian bersih sudah tertata di lemari saat Isla pulang ke rumah." sahutnya manja
"Besok berarti." Ucap Adrien menghela napas panjang, ia belum puas bersama dengan kekasih belianya yang penuh keceriaan "Aku tunggu jam berapa besok?" Sambungnya menangkup wajah Isla
"Isla Rien !" Panggil suara bariton rendah dari samping membuat kedua sejoli itu menoleh, Radit berdiri tak jauh dari tempat mereka, bersedekap dengan sorot mata datar.
Sontak Adrien menurunkan tangannya dari wajah Isla.
"Kalian berdua, ikut ayah" Seru Radit berbalik dan melangkahkan kaki menyusuri selasar rumah sakit.
Baik Adrien maupun Isla tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun, namun jelas jantung mereka berdebar sangat kencang. Gugup melanda Isla namun Adrien tak melepaskan genggaman tangannya.
"Duduklah di situ." Ucap Radit menunjuk pada deretan kursi kayu berwarna hitam di ruang tunggu untuk para pembezuk. Dengan patuh Adrien dan Isla mengikuti perintah Radit.
Pria bertinggi badan hampir sama dengan Isla kemudian meraih ponsel dari saku celananya. Adrien dan Isla menunggu penuh kecemasan seolah mereka menanti penjelasan hasil pemeriksaan lab dari seorang dokter. Semoga hanya sakit biasa, bukan sebuah kanker menggerogoti badan.
"Halo bang.. Iya, ini Radit." Kembali Radit menolehkan kepala menatap Adrien dan Isla, anak gadisnya sendiri tidak berani memandangnya.
"Abang dan Kak Adriana bisa pulang ke Indonesia? Kalau bisa secepatnya."
Radit bergerak lalu berdiri hanya berjarak semeter di depan Adrien dan Isla.
"Hmmm.. Ya, jadi besok abang pulang? Baiklah, saya tunggu kedatangan abang.. Hmm.. Alasannya?.... Kita harus menikahkan Adrien dengan Isla."
__ADS_1
###