
Khaleesi kembali melirik jam tangannya, harusnya Jean telah sampai dari tadi. Kekasihnya mengabari jika sudah berangkat dari kantor 30 menit yang lalu. Waktu tempuh kantor Jean antara kampusnya hanya sekitar 15 menit, namun waktu pun berlalu dan pria yang kekasihnya itu belum juga menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.
Sambil menunggu Khaleesi meraih telepon genggamnya, alam bawah sadar membuat jemarinya menekan kontak Adrien dan ia pun memandang avatar pria yang sedang di guyur salju. Adrien terlihat sangat tampan di foto itu, ada rasa rindu menelusup di relung hati Khaleesi. Sudah dua minggu sejak kejadian Deawa di kafe depan apartemen, sejak itu pula ia tidak pernah bertemu dengan Adrien.
Pria yang berhati lembut dengan logika tinggi itu juga tidak menghubunginya, mungkin Adrien sibuk. Khaleesi sebenarnya ingin mengundang Adrien makan malam untuk membalas kebaikan pria yang telah menolongnya. Ia bisa memasakkan mungkin rendang atau kari karena pria tersebut suka makanan pedis.
Khaleesi :
Hai Rien, apa kabar? Lama tak berbicara denganmu.
Tak lama kemudian balasan pesan dari pria tersebut,
Adrien :
Khale, kabarku baik saja.
Aku sedang rapat, nanti aku hubungi lagi.
Seutas senyum simpul di bibir terbingkai di wajahnya sesaat setelah membaca pesan Adrien. Entah kenapa Khaleesi bahagia dengan pesan dua baris tersebut.
Khaleesi tidak mengabarkan kepada Samara perihal ia bertemu dengan Adrien, sama halnya sahabatnya itu tidak memberikan nomer ponsel Adrien. Jika Khaleesi lihat dari story sosial media Samara, wanita seksi itu sedang dekat dengan pria baru lagi.
Khaleesi, Samara dan Tasya tidak mengenal dalam tentang siapa sebenarnya Adrien, karena pria itu tidak memamerkan dirinya kepada mereka saat di Jogja.
Jika Jean kaya raya karena kesuksesan keluarganya, Adrien malah mendapatkan segalanya berkat kejeniusannya, Khaleesi membaca pada artikel-artikel di media pencarian telepon pintarnya yang kebanyakan dalam Bahasa Perancis. Berita yang membuat Khaleesi berdecak kagum, bagaimana mungkin Tuhan menciptakan raga yang begitu sempurna dengan isi kepala lebih sempurna.
Dan Tuhan pun menjawab, semua di tangan-Ku.
Jadi selain lembut, jenius, Adrien orang down to earth, dan oh yah Khaleesi hampir melupakan raga sempurna pria itu. Rasa penasaran Khaleesi terhadap Adrien membuatnya membuka laman sosial media pria itu. Memang berapa bulan terakhir foto yang diunggah hanya perihal pekerjaan Adrien, namun unggahan lamanya banyak foto pria itu sedang berkeliling dunia. Dan hanya ada dua wanita di dalam ratusan foto di sosial media Adrien, mamanya dan Aurora yang selalu disebutnya.
Tatapan Adrien sungguh berbeda saat bersama Aurora dan raut wajahnya pun berseri-seri seolah berada di puncak kebahagiaan.
Khaleesi pernah membaca di sebuah artikel menuliskan bahwa orang berlogika tinggi apalagi jika dia adalah seorang yang jenius adalah tipe orang paling susah jatuh cinta. Karena semua dipikirkan sejak awal, resiko dan sebagainya. Namun ketika si logika itu jatuh cinta, dia akan jatuh sepenuhnya hingga samudera cinta yang terdalam. Bahkan jika tidak kesampaian seperti kasus Adrien, mungkin perahu cinta pria tersebut ikut karam layaknya kapal Titanic.
...
"Pumpkin.... Kamu masih marah aku terlambat menjemputmu?" Jean meraih tangan kekasihnya yang lebih banyak terdiam sejak mereka tiba di restoran tempat mereka makan siang.
Khaleesi menggelengkan kepalanya sembari menyunggingkan senyuman tipis kepada pria berambut keemasan di depannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Khaleesi yang sejak tadi tidak ingin mencari tahu karena wajah Jean yang terlihat sedikit sebal waktu menjemputnya. Hanya saja kekasihnya pintar menutupi kekesalannya dengan bersikap manis. Namun instingnya sebagai wanita membuat Khaleesi tahu jika ada masalah yang di hadapi pria itu.
Jean berdecih pelan, Pria bersuit abu muda itu dengan kemeja dibiarkan terbuka 2 kancing atasnya, tipikal Jean yang tak lepas dari style urakan modisnya. Hal itu pula yang membuat Khaleesi jatuh cinta kepada Jean karena di balik gaya urakan itu, ada hati yang begitu penyayang dan romantis.
"Nenek sihir itu mencegatku di lobby__" sungut Jean dengan mengatupkan rahangnya
Jean menjuluki ibu tirinya dengan sebutan nenek sihir, walau perawakannya jauh dari seorang wanita tua yang renta. Bahkan sangat kencang, walau tanpa silikon yang disuntikkan di wajahnya, ya Sadie sangat menarik. Hal itu yang membuat papanya mencampakkan Eloise, mamanya.
Jean menatap dalam ke arah Khaleesi, gadis berambut hitam dengan kulit coklat susu di depannya tidak sebanding dengan wanita yang dikenalkan Sadie tadi. Yah, Sadie mencegatnya di lobby hanya untuk mengenalkan wanita yang datang bersamanya, Elenour. Gadis berambut pirang pucat dengan kulit putih pucat pula, tubuhnya tinggi sempurna dengan dada membusung berukuran 36B. Dandanan seksi sama halnya dengan si nenek sihir, membuat kedua wanita itu seolah baru keluar dari rumah bordir kelas atas.
Sadie menjadi angkuh ketika dia merasa mempunyai kuasa mengatur anak-anak suaminya, wanita itu pun berusaha keras menjodohkan beberapa temannya kepada Mattieu Syagrius, namun anak pertama suaminya menolak dengan mentah-mentah. Mattieu merasa terhina dengan sikap Sadie, seolah julukan playboy tidak dianggap oleh nenek sihir itu. Kakak Jean adalah orang yang bisa mengganti wanita seolah sehelai serbet di meja makannya. Usai di pakai, dicampakkannya.
Dan sekarang giliran Jean yang dikejar Sadie, dengan mengenalkan Elenour. Bahkan Jean telah memajang foto berdua dengan Khaleesi di sosial media tidak membuat nenek sihir itu gentar.
"Aku mencintaimu Pumpkin..." Ucap Jean lembut sambil mengecup punggung tangan kekasihnya
Pumpkinnya lebih menarik dari wanita pirang tadi, walau mereka baru saja bersama namun butuh 2 bulan Jean mendekati Khaleesi. Berkaca dari kegagalan rumah tangga orang tuanya, Jean sangat menghargai wanita yang didekatinya. Ia hanya memacari seorang wanita, bukan seperti Mattieu -kakaknya. Ia tidak ingin menjadi pewaris ketidaksetiaan papanya.
"Minggu depan kita ke rumah, mama memanggil kita pulang" kata Jean lagi masih menggenggam jemari kekasihnya
Khaleesi pun mengangguk mengiyakan, ia bisa melihat sorot mata Jean penuh kasih kepadanya. Sungguhlah bodoh jika menyia-yiakan seorang Jean, jelas pria itu mencintainya, mama Jean juga sangat menyukainya.
...
Setelah menurunkan Khaleesi di depan apartemen, Jean pun melanjutkan perjalanannya menuju pabrik pengolahan wine miliknya yang terletak 20 kilometer dari Kota Lyon. Biasanya Jean mengajak Khaleesi ke pabrik, namun kali ini karena ada relasi bisnis berasal dari Amerika Latin yang berkunjung hingga ia harus mengurungkan niat membawa serta kekasihnya, padahal Khaleesi sangat senang berjalan di perkebunan anggur di area pabrik wine.
__ADS_1
Khaleesi baru saja merebahkan badannya di tempat tidur, dan teleponnya berbunyi. Panggilan suara dari Adrien, dengan wajah semringah Khaleesi menekan terima panggilan.
"Hai Khale" suara renyah Adrien disertai tawa kecil
"Rien... "
"Aku sangat sibuk hari ini.. rapatku saja baru selesai setelah berlangsung selama 4 jam. Hei apa kabarmu Khale? Gimana Deawa apa masih menganggu?"
"Aku baik-baik saja Rien, si gila itu tidak menganggu lagi, sepertinya dia sudah kembali ke Indonesia. Kamu sedang apa sekarang, Rien?"
Dengusan pelan Adrien menggelitik di telinga Khaleesi
"Baru mau makan siang, chinese food. Betapa bosannya aku makan ini"
Khaleesi tertawa kecil
"Kamu mau datang ke apartemen? Ada yang kamu inginkan Rien, masakan Indonesia?"
"Hmmm... "Dehaman Adrien panjang yang membuat Khaleesi membayangkan pria itu sedang menjepit sumpitnya
"Lama sekali berpikirnya" protes Khaleesi.
Gelak tawa Adrien pun terdengar merdu di telinga Khaleesi
"Aku sebenarnya ingin kamu membuatkan Gudeg... Hahaha... tapi sepertinya tidak mungkin.."
Khaleesi pun memajukan bibirnya
"Jangan gila Rien, di sini tidak ada nangka muda. Nanti ke Indonesia aku buatkan. Kari saja yah, makan malam jam 7. Aku tunggu di apartemen"
"Ya.. i'll be there baby... "
"Sampai ketemu Rien"
Setelah menutup panggilan Adrien, Khaleesi pun bergegas mengganti pakaiannya. Ia harus ke supermarket di blok depan. Di samping supermarket besar itu terdapat toko Asia, mungkin ia bisa mendapatkan beberapa bumbu lainnya. Hal yang dipelajarinya dari beberapa orang, jika menggunakan bumbu kemasan dia harus menambahnya dengan bumbu mentah.
...
Bunyi bel membuat Khaleesi bergegas membuka pintu, tamu yang ditunggunya telah berdiri dengan sosok sempurna yang di balut t-shirt berwarna maroon dan celana khaki.
Adrien mengulurkan sebuah buket mawar berwarna orange nan indah kepada Khaleesi.
"Untukmu Khale." Ucap Adrien mengumbar senyuman lebarnya "aku juga ingin membawa wine, tapi sepertinya sia-sia. Kamu sedang berpacaran dengan pemilik The Charpieu Wine" sambung pria tampan itu terkekeh
"Thank you Rien. Ya, aku ada stok wine. Ayo masuk" ujar Khaleesi sambil menciumi bunga pemberian Adrien, sangat wangi.
Pria jangkung itu pun melewati Khaleesi tanpa ragu, wangi cendana menguar begitu Adrien memasuki ruangan.
"Langsung dapur ya Khale, aku lapar" Adrien tertawa ringan
Khaleesi pun ikut tertawa geli, melihat tampilan Adrien yang sangat Eropa namun sikap dan selera makanannya seperti seorang pribumi asli yang lahir dan besar di Indonesia.
...
Tidak bisa disangsikan bahwa Adrien sedang lapar, tepatnya kelaparan. Pria itu sudah menambah nasi untuk kedua kalinya, membuat Khaleesi sangat senang masakannya dinikmati oleh Adrien.
"Rien bagaimana kamu bisa sangat menyukai makanan Indonesia, sementara kamu lahir dan besar di Perancis?" tanya Khaleesi memberi jeda pada berpadunya sendok dan garpu di piring Adrien
"Mama suka masak dan aku sering ke Indonesia. Kamu juga pintar masak Khale" puji Adrien tulus yang sukses membuat Khaleesi merona
Bunyi telepon genggam Adrien berbunyi membuat pria itu langsung menaruh sendok dan garpunya
"Panjang umur." Gumamnya melayangkan pandangan ke Khaleesi sambil tersenyum tipis
__ADS_1
"Ya ma..." Ucap Adrien begitu menerima panggilan suara
"Rien, kenapa tidak pulang ke rumah? Apa sudah lupa jalan pulang? Sudah makan?" Cecar Adriana, mamanya
"Sibuk ma... Masih ingat jalan pulang kok. Ini lagi makan. Coba tebak Rien makan apa?" Tanya Adrien dengan tersenyum menyeringai
"Pizza? Pasta? Chinese food?" suara wanita paruh baya itu terdengar kesal menyebutkan semua makanan tidak sehat yang merupakan makanan andalan Adrien ketika malas kembali ke rumah orang tuanya
"Salah ! Ma, aku lagi makan kari daging buatan gadis Jogja"
Adrien tertawa mengerjai mamanya, Khaleesi ikut tertawa kecil
"Apaaa?! Siapa gadis itu? Pacar? Kasih kenal mama!" Seru Adriana dengan semangat
"Teman ma... Aku sedang di apartemennya, diundang makan malam. Namanya Khaleesi" kata Adrien sambil menatap lurus ke arah gadis di depannya tersenyum malu
"Kamu harus ajak ke rumah, nanti mama masakin kalian. Yah? Weekend? Atau kapan. Kabari mama yah?"
"Iyaaaaa.." sahut Adrien manja, kata sakti menghentikan cecaran mamanya "aku lanjutin makannya yah ma,. Love you"
"Love you too sayang" suara Adriana terdengar senang dan mengakhiri panggilan suara dengan sebuah kecupan
Adrien meletakkan ponsel lalu membulatkan mata berwarna biru berkabut putih miliknya
"Sudah dengar sendiri? Jadi kapan kamu ada waktu Khale? Mama mengundangmu untuk ke rumah"
Khaleesi menghela napas dalam
"Akhir pekan aku akan ke Saint Etienne bersama Jean. Mama Jean memanggil kami dan aku juga kangen mommy" ungkap jujur Khaleesi "aku bisa minggu depan Rien" lanjutnya menguraikan senyum semringah
Adrien setengah berdiri meraih puncak kepala Khaleesi dan mengacak rambut gadis itu perlahan. Entah kenapa ia melakukan itu, seperti alam bawah sadarnyalah yang memerintahkan tangannya.
Terpana dengan senyuman Khaleesi.
###
Khaleesi
Adrien
Jean
alo kesayangan♥️,
karena... 3 novel berjalan seiring,
jadi author membagi dua waktu up,
"All You Need Is Love dan Antara Dia" akan terbit di hari yang sama.
dan "Cinta Luar Biasa Part 2" di keesokan harinya.
maaf yah 😔
nulis hugo butuh penjiwaannnnnnnnnn sehari semalam 😂
dan jika telah up namun gak publish, bukan kesalahan author tapi dari pihak mangatoon yang lama lolos reviewnya✌🏻
udah itu saja,
__ADS_1
love,
D 😘