ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Tu Me Fais Rougir


__ADS_3

Adrien terkesiap kaget dengan ucapan spontan Isla, gadis berusia 19 tahun miliknya seolah tak sadar jika celetukan itu membuat jantungnya bergemuruh hebat. Sejenak ia ingin mengatakan 'ayo' kemudian malaikat di hatinya berteriak 'kau ingin keluarga besar kisruh'


"Siapa yang mengajarkan gadis kecil ini untuk berbicara seperti itu? Hah?" Ucap Adrien langsung menjawil pipi kedua pipi Isla


"Ampun kak, sakit loh." Kedua tangan Isla memegang tangan kokoh Adrien, pria tampan itu terkekeh dengan wajah merona


"Soalnya ayah jahat banget sih, masa di suruh menunggu 6 bulan baru keluar negeri. Padahal Isla ingin kembali ke apartemen, tinggal bersama dengan Kak Adrien. Oh iya kak, aku masih kuliah kok. Secara online."


Adrien terkikik kecil "Berarti nanti wisudanya streaming juga? Kau memakai toga di depan monitor laptop dan tidak berjalan di atas panggung, Chérie." Sindir Adrien mengerjai kekasihnya


Sejenak Isla seolah memikirkan hal tersebut, lalu menghela napas ringan.


"Tidak apa-apa, saat itu mungkin Isla juga sudah disibukkan dengan anak-anak kita. Jadi tidak masalah wisuda di depan laptop."


Adrien membatu selayaknya es di kutub selatan mendengar penuturan singkat dan spontan Isla.


"Wajah Kak Adrien memerah." Isla tertawa cekikikan sambil mengecup pipi pria bermanik biru itu


"Selama 2 bulan pacarku kemana saja, kenapa sekarang semakin pintar berbicara spontan tanpa berpikir." Adrien langsung menarik tubuh Isla dalam pelukan gemas sambil mengelitiki pinggangnya


Tawa renyah si gadis yang meminta ampun membuat perasaan kacau balau Adrien pun terbang ke awan-awan. Ia sangat mencintai Isla, gadis belia yang akhirnya berani menampakkan sosok lainnya.


"Kak.. apakah pernah memotong pendek rambut Kak Adrien, misal cepak ?" Tanya Isla dalam dekapan Adrien, keduanya


telah terbaring dengan nyaman di tempat tidur.


Isla memainkan ujung rambut Adrien, seolah menghipnotis pria yang memejamkan mata untuk lebih cepat menuju alam mimpi.


"Pernah.. kau bisa melihatnya di album foto di Lyon, Chérie. Aku juga pernah memakai behel, jaman sekolah." Ungkapnya jujur


Isla sedikit bergerak "Berarti gigi rapi Kak Adrien hasil kawat gigi?"


Adrien menghela napas dalam, ia terhibur dengan celetukan Isla, namun di sisi lain ucapan kekasihnya itu selalu menariknya untuk kembali terjaga.


"Dulu punya gingsul aneh di sebelah kiri, makanya pakai kawat gigi." Ia pun melebarkan bibirnya hingga Isla bisa melihat barisan rapi giginya


Isla mengecup ringan bibir bawah Adrien, membuat mata pria itu terbuka melihat binar wajah kekasihnya. Ia pun mengeratkan pelukannya.


"Andai bisa bertemu dengan kakak saat berusia dua puluhan tahun, apa yang akan kakak lakukan?"


Adrien mendesah ringan lalu mengecup puncak kepala berwangi strawberry itu "Kau apa yang lakukan jika bertemu dengan Adrien muda, Chérie?"


"Mengejar kakak.. karena Kak Adrien pasti banyak yang suka." Ucapan Isla disertai kekehan tawa riang


"Bagaimana jika aku yang mengejarmu, Isla Bohemia? Kemarin pun aku yang mendekatimu, jika aku bertemu dengan usiamu yang sekarang 20 tahun lalu kita akan berpacaran sebentar dan menikah. Umur 23 tahun, aku sudah mendapatkan master degree-ku di Harvard dan telah mempunyai perusahaan."


Isla mengembuskan napas "Isla ingin menikah dengan kakak, agar bisa memeluk Kak Adrien tanpa sembunyi-sembunyi seperti ini. Papa dan mama sih sudah merestui tapi ayah.. hatinya masih berkeras menentang."


Adrien menghela napas dalam dengan jantung berdebar perkataan kekasih hatinya yang lugas.


"Kau sudah tahu jika Hugo dan Aurora sudah merestui yah, Chérie ? Berarti fokus kita adalah ayah. Mama dan papa juga berusaha membujuk ayah lewat ibu."


"Ayah tahu jika wanita itu orang Jogja, sampai ayah mau mendatangi tempat tinggalnya dan mengamuk." Isla tergelak tawa dan Adrien pun mengendurkan pelukannya


"Terus ?"


"Ibu pastinya melarang... Kata Ibu ini pertama kali ayah marah seperti ini... Ayah tidak pernah menghubungi Kak Adrien, kan?"


Sambil mengerutkan alis Adrien menggelengkan kepala "Sekali pun tidak."


Adrien kembali memejamkan matanya, kantuk menyerangnya ketika Isla berhenti berceloteh.


"Kak.. " si penganggu melancarkan aksinya dengan menggoyangkan tubuh Adrien


Adrien berdeham bercampur erangan.


"Bagaimana jika kita tidur eh bukan itu bahasanya.. karena sekarang kita sudah tidur bersama.. maksud Isla "bercinta" , jika Isla hamil kan lebih gampang menikahnya."


Mata Adrien terbuka selebar-lebarnya dengan jantung seolah ditarik dari tempatnya, ia pun sontak terbangun dari tempat tidur.


Pria berambut acak-acakan dan warna emas itu menangkup wajahnya yang memerah dengan kedua tangan, Adrien terkekeh sambil menggelengkan kepala untuk menguasai gelombang dahsyat menghantam dada, kewarasan dan gairahnya sebagai pria normal.


"Kau ingin membunuhku yah, Chérie? Jantungku seperti mau lepas dengan ucapanmu barusan." Seru Adrien berganti menangkup wajah tak berdosa milik kekasihnya


Isla terbahak tawa lalu memajukan bibirnya "Tapi jantung kakak kuat, kan? Harus kuat biar tahan lama dengan Isla, kakak harus hidup lebih lama menemani Isla."


Adrien menciumi bibir Isla berkali-kali lalu pindah ke bagian wajah "Jangan pernah berpikiran pendek seperti itu, Chérie. Kita akan menikah dan aku menyimpan gairahku untuk malam pertama kita. Momen itu aku ingin kau mengingatnya hingga tua, karena semuanya indah ketika waktu yang tepat. Bukan sesuatu yang dipaksakan atau direguk sebelum saatnya tiba."


Isla tertunduk dalam rona wajahnya "Aku hanya tidak tahu harus berbuat apa untuk memenangkan hati ayah, kak."


"Hei Isla.. " ucap Adrien menarik naik wajah kekasih untuk menatapnya "Itu tugasku sebagai laki-laki. Yang aku butuhkan hanya perasaanmu yang sama denganku. Mencintaiku adalah semangat buat diriku berjuang untuk mendapatkan restu ayah. Jika ayah mengatakan 6 bulan kau akan di sini berarti aku akan menetap selama itu juga, menemanimu."


Mata Isla membulat dengan senyuman merekah di bibirnya "Serius ? Bagaimana dengan pekerjaan kakak?"


"Aku sudah bekerja dari usia belasan, Isla. Kali ini waktunya aku menarik diri dari dunia itu dan memfokuskan kepada masa depanku bersamamu. Aku tidak ingin pulang ke Lyon dan si pembalap itu mendatangimu lagi, atau bisa jadi ada pria-pria lain mengejar tunanganku. Aku tidak mau lengah.. dengan melepaskanmu di sini, walau ini adalah tempatmu tumbuh besar namun usiamu yang masih rentang oleh godaan, mungkin saja sekarang kau mengatakan mencintaiku tapi bagaimana jika ada orang seperti wanita itu menghasutmu lagi bersamaan dengan pria lain mendekatimu. Kau akan melepaskanku, Chérie. Dan jika kau melakukan itu, duniaku pasti telah runtuh."


...

__ADS_1


Mareo telah kembali ke Berlin sesuai dengan perkataannya, membawa serta private jet plane milik Adrien yang akan beralih menjadi milik bandnya. Sementara Adrien bertahan di Bali, menemani Isla.


4 bulan, waktu yang tak lama baginya menetap di pulau dewata, Adrien akan menggunakan kesempatan itu untuk meluluhkan hati Raditya Bayuaji Girindrawardhana, sang kakek.


Adrien terlihat mengetik sesuatu di layar ponselnya,


Katanya mau makan siang bareng, kenapa belum ada kabar Chérie ?


Ia mengembuskan napas berat sambil menunggu balasan kekasihnya. Tak tahu mengapa, makin kesini Adrien dijangkiti perasaan posesif terhadap Isla, ia ingin gadis itu berada terus di dekatnya.


Ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk dari Isla,


Fiance


Maaf kak, ini lagi makan siang dengan ayah dan ibu. Tapi nanti bakal makan lagi dengan Kak Adrien. Tunggu ya, cium rasa rendang dari Isla.


Adrien tertawa kecil membaca pesan kekasihnya, hanya semalam berpisah namun ia telah merindukannya, sangat.


...


Isla menaruh ponselnya di atas meja dengan mengukir senyuman di bibirnya, hal yang menjadi perhatian Radit.


"Siapa ?" Tanya Radit penasaran


Mata Isla dinaikkan dan menatap lurus ke arah pria yang mirip dengan mamanya "Teman, Ya Ya."


Radit menganggukkan kepalanya kemudian melanjutkan makannya


"Mau ke Bohemian House, nak? Rinjani menoleh ke arah Isla


"Besok bu, hari ini Isla mau mengerjakan tugas kuliah dan langsung mengirimnya. Paling ke kafe saja, sekalian online."


Giliran Rinjani yang menganggukkan kepala sembari melayangkan pandangan pada suaminya.


Rumah menjadi sepi dengan kepulangan Mareo ke Berlin dan Mami Lika, Papi Rui yang berangkat ke Jepang tadi pagi. Hanya mereka bertiga ditemani 4 pembantu rumah tangga.


"Ya Ya.. jika Isla sudah menikah nanti, ayah dan ibu harus ikut denganku. Isla tidak mau jika ayah ibu tinggal berdua seperti ini di Bali."


Radit tersenyum simpul menatap anak gadisnya yang memajukan bibir, merajuk.


"Memangnya suamimu mau tinggal dengan orang tua seperti kami, Isla? Akan merepotkan nak dan kalian tidak leluasa."


Isla menggelengkan kuat kepalanya "Dia pasti mau, karena cinta sama Isla. Dia harus menerima jika Isla punya orang tua yang harus di rawat."


Mata Isla berkabut lalu menjatuhkan setetes air mata, Rinjani pun meraih tubuh Isla dalam dekapannya.


"Iya, ibu dan ayah akan ikut Isla." Ucap Rinjani menenangkan gadis manjanya. Isla yang mewarisi kemanjaan Aurora Kila, mamanya.


"Janji." Isla menaikkan jari kelingkingnya


Rinjani terkekeh menyambut jari gadisnya. Usai menautkan jemari, Isla berdiri menghampiri Radit dan melakukan hal yang sama.


"Janji harus ditepati loh, Ya Ya.. " seru Isla riang mengecup lembut pipi Radit.


Kedua orang tuanya hanya bisa menggelengkan kepala melihat gadis yang sangat pintar bersandiwara dan meluluhkan hati orang.


Isla pun meraih gelasnya, dan menenggak habis air putih lalu mengecup pipi Rinjani.


"Isla mau siap-siap dulu, bye Ayah Ibu." Isla berseru sambil menaiki tangga dengan bahagia.


"Menurutmu dia masih jalan dengan Adrien gak, sayang ?" Tanya Radit menatap istrinya


Rinjani mengedikkan bahu "Kurang tahu, suami. Bagaimana jika mereka tidak bisa dipisahkan? Apakah kau bisa menerima anak gadismu dengan Adrien."


Radit menghela napas panjang dan berdiri dari kursinya "Ketakutan terbesarku adalah Isla tidak bisa mengimbangi Adrien yang sangat matang dalam pemikiran, mental, emosi, dan pandangan hidup. Sementara Isla setengah pun tak ada dari apa yang dimiliki Adrien. Isla masih labil, takutnya suatu hari dia akan merasakan dirinya seperti buah yang di panen sebelum waktunya. Isla akan jenuh dan mencari sebayanya."


Rinjani yang meraih genggaman tangan Radit mengumbarkan senyum tipis "Itu adalah tugas Adrien, membimbing Isla dan menurunkan level cara berpikirnya untuk menghadapi anakmu."


"Entahlah sayang... Kita akan cari jalan keluarnya."


...


Mata Isla membulat melihat Adrien dengan lincah mengerjakan tugas kuliahnya tanpa membaca materi terlebih dahulu, hanya membaca pertanyaan dan itu pun hanya sekali lalu kekasihnya pun mulai menjabarkan dengan penjelasan yang membuatnya terkagum.


10 menit kemudian Adrien menyelesaikan 7 soal perhitungan tanpa mencakar di lembaran kosong yang sudah disediakannya.


"Apa kakak robot ?" Tanya Isla membelalakkan matanya sesaat Adrien menekan kirim email.


Adrien tersenyum miring "Aku yang menciptakan robot, Chérie. Tugas segampang itu hanya di luar kepala, Isla Bohemia."


Tanpa sadar Isla bertepuk tangan, Adrien terkekeh meraih gelas cappucino floatnya


"Semoga anak kita nanti mewarisi isi kepala Kak Adrien." Ucap Isla spontan, pria tampan di sampingnya tersedak karena ucapan tak pakai rambu-rambu keluar dengan asal dari bibir gadis berusia 19 tahun


"Sayang-sayangi jantungku, Chérie. Jangan suka kasih keluar pernyataan mendadak begitu. Nanti lama-lama aku bawa beneran kau penghulu."


"Mau mau!" seru gadisnya

__ADS_1


Adrien tergelak tawa lalu mengacak rambut kekasihnya.


"Ayo kita ke rumah, di sana juga sudah wifinya. Kau bisa melanjutkan tugasmu jika masih ada."


Gadisnya mengangguk dan merapikan notebooknya kembali masuk ke dalam tas.


Adrien memutuskan untuk keluar dari hotelnya di kawasan Kuta dan pindah ke rumah yang akan ditinggalinya selama 4 bulan ke depan.


Isla mengerutkan alis melihat arah mobil yang disetiri Adrien mengarah ke rumahnya.


"Kak.. kita bukan mau ke rumah, kan?"


Adrien mengulum senyuman sambil melirik wajah Isla terlihat bingung dan khawatir.


Namun ketika mobil yang mereka ditumpangi melewati kediaman Girindrawardhana, Isla bernapas lega namun jantungnya kembali mau copot karena hanya 5 rumah dari tempat tinggalnya Adrien memberhentikan mobil SUV tersebut.


"Ini rumah kita, Chérie." Ucap Adrien


"Apa ?" Sahut Isla kaget memandangi rumah minimalis bertembok putih dengan gerbang pagar kayu berwarna coklat.


Adrien pun memasukkan mobil SUV tersebut ke dalam garasi, namun Isla lebih cepat merespon dengan melompat turun dan kembali menutup gerbang pagar.


"Kakak sangat nekat !" Seru Isla memandangi Adrien yang sibuk menurunkan kopernya.


"Biarin ! Aku hanya ingin tinggal dekat dengan tunanganku." Sahut Adrien tak mau kalah intonasi dengan kekasihnya yang merajuk


Isla tidak membalas ucapan Adrien, ia hanya mengikuti kekasihnya dari belakang yang seolah telah hapal tiap bagian rumah tersebut. Tak besar, hanya mempunyai 2 kamar tidur dengan dapur terbuka di belakang. Tentu saja dilengkapi dengan kolam renang.


"Kak Adrien beli berapa rumah ini?"


Pria tampan yang mendudukkan tubuhnya di kursi kolam dan tentu saja memangku kekasihnya.


"Harga itu relatif, Chérie."


"Berarti kakak beli ?"


Adrien mengecup bibir kekasihnya dengan lembut


"Tuh kan, berarti beli karena kakak diam. Kenapa tidak beli yang samping rumah saja. Sekalian biar langsung kelihatan sama ayah." Sungut Isla menangkup wajah tampan Adrien


"Pak Made yah, nama pemilik rumah tetanggamu, Chérie? Beliau tidak mau melepaskan rumahnya walau ditawar dengan harga berkali lipat.


"Kau tidak senang kita bertetangga, Chérie?" sambungnya


"Senang... Isla tidak perlu jauh-jauh lagi ke Kuta demi ketemu Kak Adrien" Gumam Isla yang menjatuhkan kepalanya pada cerukan leher Adrien


"4 bulan lagi, Chérie.."


Isla mendesah ringan menaikkan badannya menatap Adrien


"Kak, tanah kosong yang sangat luas di samping rumah di Lyon apakah itu milik kakak ?"


"Iya... Kenapa, Chérie ?"


"Setelah menikah, kita tinggal di Lyon.. kakak bisa kan bangun rumah yang besar, berkamar banyak. Karena Isla mau bawa ayah dan ibu ikut tinggal dengan kita."


Adrien tertawa bahagia sambil mencubit pipi kekasihnya "Jika hanya ada ayah dan ibu tidak perlu rumah berkamar banyak, Chérie."


Isla menggelengkan kepalanya pelan "Kak.. Isla ingin punya anak 5."


"Chérie !" Pekik Adrien tak bisa menahan gemuruh suka cita di dadanya.


###


**Tu Me Fais Rougir : Kau membuatku merona (France)


metamorfosa si tampan**






alo kesayangan ♥️,


makin banyak nih fans Adrien 🤭


bukan nunggu krn mau lihat facenya yah, tapi ceritanya donk..


keep social distancing yah sayang 💕


love,


D 😘

__ADS_1


__ADS_2