ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
What Should I Do


__ADS_3

Khaleesi terus menitikkan air mata dan dengan setianya Adrien mengusap cairan bening yang jatuh di pipi gadis itu. Kedua tangan Khaleesi ditautkan di lutut dengan menempatkan dagu di atasnya, hati dan pikirannya melayang entah kemana.


"Masih belum mau cerita?" Ujar Adrien setelah 30 menit Khaleesi hanya terisak di atas tempat tidurnya.


"Aku tidak tahu harus memulai dari mana Rien" ujarnya Khaleesi lemah


"Jika aku lihat kondisimu, Jean Syagrius pasti belum tahu jika kamu sedang mengandung anaknya. Khale... Sudah berapa bulan?" Adrian memandang dengan tatapan sendu dan juga lembut


Khaleesi mengganguk pelan "iya, dia belum tahu.. kandunganku sudah berjalan 8 minggu"


Adrien menghela napas dalam "kalian tidak menggunakan pengaman? Safety sex Khale itu yang penting" kesah Adrien yang terlambat mengajari gadis yang sangat lugu menurutnya.


"Awalnya kami pakai, namun berikutnya aku kepedean saat tidak subur" Khaleesi yang sebenarnya malu membicarakan hal yang sangat tabu seperti ini, namun cuma dengan Adrien dia bisa membagi permasalahannya.


Adrien menelengkan kepalanya, ia sangat menyayangkan keteledoran Khaleesi.


"Terus mana Jean? Kenapa kamu belum memberitahunya baby?" Ucap Adrien lembut sambil mengusap pelan lengan Khaleesi.


Gadis itu kembali terisak, pilu


"Jean ke Amerika hampir dua minggu lalu, awalnya kami masih lancar berkomunikasi, namun setelah itu Jean tidak ada kabar. Teleponku selalu tersambung ke kotak suara. Pesanku tidak terbaca" gadis muda itu mengeluarkan isi hatinya sambil menahan tangis


"Sialan !" Geram Adrien langsung berdiri kedua tangannya mengepal dengan kuat "Khale ! Kenapa kamu selalu bertemu dengan pria brengsek"


Tubuh Khaleesi bergetar hebat, tangisannya semakin kencang. Dengan cepat Adrien menghampiri Khaleesi, menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.


"Maafkan aku baby, aku tidak marah padamu. Aku marah kepada pria itu. Maafkan aku"


Adrien memperlakukan Khaleesi sangat lembut, membuat gadis di dekapan semakin terisak karena hatinya disentuh lebih dalam.


"Jean biasanya tidak seperti ini Rien.. aku tidak tahu kenapa dia bisa menghilang dan mengabaikanku" Khaleesi menaikkan kepalanya, di situ iris biru berkabut putih telah menantinya.


"Berikan aku nomer teleponnya"


Khaleesi dengan mata yang sembab dan hidung memerah melepaskan diri dari pelukan hangat Adrien dan meraih ponselnya dari saku celana jogger.


Adrien dengan cepat memindahkan nomer ponsel Jean ke ponsel pribadinya. Pria tampan itu pun berjalan ke belakang menuju ke arah dapur. Nalurinya sudah menangkap ada hal yang tidak beres pada kekasih Khaleesi.


Tak lama kemudian panggilan suara yang dilakukannya tersambung, namun tidak di angkat. Adrien tidak patah semangat kembali mencoba menyambungkan panggilan ke Jean. Pria itu harus bertanggung jawab kepada temannya.


Halo.... " Suara wanita terdengar di telinga Adrien, membuat pria tampan itu terperanjat, bola matanya membulat dengan suara renyah di inderanya


"Halo, apa betul ini nomer ponsel Jean Syagrius?" Ucap Adrien memastikan nomer yang dimasukkannya benar adanya


"Maaf.. Jean sedang mandi. Aku mengangkat ponselnya karena terus berdering. Maaf dengan siapa saya berbicara?"


Adrien mengendalikan nada suara untuk tetap sama dengan sebelumnya walau tangannya kirinya mengepal di atas meja makan.


"Saya Adrien, temannya dari Lyon. Tolong sampaikan kepada Jean untuk menghubungi saya secepatnya" ucap Adrien menghela napasnya berat "dan kalau boleh tahu dengan siapa saya berbicara ?" Sambungnya mencari tahu pemilik suara tersebut


Sebuah kikikan halus di telinga Adrien


"Oh maaf, saya Hannah. Pacar Jean"


Adrien bisa melihat kuku tangannya memutih karena kepalan tangannya yang mengerat.


"Oh, saya tidak tahu jika Jean punya pacar bernama Hannah" ujar Adrien sinis


"Aku..."


"Baiklah, itu saja. Tolong sampaikan saja pesanku kepada Jean" potong Adrien langsung memutuskan panggilan secara sepihak.

__ADS_1


CEO tertampan di Kota Lyon tersebut tergeming lama sembari memikirkan hal yang hendak dikatakannya kepada Khaleesi.


Sambil menghela napas panjang akhirnya Adrien melangkahkan kakinya menuju kamar tidur gadis itu.


"Bagaimana?" Khaleesi memandang dengan mata menghiba ke arah Adrien, sesaat pria tampan itu melewati ambang pintu.


"Tersambung ke kotak suara" sahut Adrien.


...


Khaleesi beranjak malas menuju meja makan, sebenarnya kehamilan tidak membuatnya seperti wanita lain yang mengalami morning sick, mual dan sebagainya. Ia sangat sehat, namun jiwanya yang terlalu banyak berpikir dan hati yang sakit membuatnya malas untuk makan.


Bahkan Ia telah memasak dua jam lalu, namun Khaleesi memilih untuk kembali duduk di sofa menatap nanar ponselnya. Ia terus berharap Jean akan menghubunginya.


Hatinya perlahan membimbang kepada Jean, cintanya terkikis oleh ketidakpedulian pria itu. Di tambah ucapan Adrien yang terus mengajak logikanya bekerja, walau secara tidak langsung namun teman tampannya itu seolah mengatakan jika Jean Syagrius telah mencampakkannya.


"Khalee... Kamu di mana?" Suara Adrien yang sedikit tinggi hingga terdengar ke dapur, pria itu tampaknya datang lagi. Adrien sudah 3 hari selalu menyempatkan diri untuk mengunjunginya dan pria itu sudah mengetahui kode password apartemennya yang memudahkan untuk datang kapan saja ia mau.


"Di situ rupanya dirimu" Khaleesi hanya tersenyum tipis melihat teman jangkung bersuit abu gelap dengan bibir melengkung ke atas dengan indahnya.


"Apa itu Rien ?" Tanya Khaleesi memandang ke arah paper bag coklat di pelukan Adrien


"Ini untukmu"


Adrien mengeluarkan satu persatu isi belanjaannya, susu, vitamin dan makanan penunjang untuk ibu hamil.


"Bayi di kandungan mengambil kalsium dari ibunya, jadi kamu harus minum susu. Biar gigimu tetap sehat" ujar Adrien


Mata Khaleesi spontan berair mendengar Adrien, pria itu melanjutkan membuka kotak susu dan mengisi di gelas sesuai takaran yang tertulis di pembungkusnya. Dengan cekatan menyeduhnya dengan air panas.


"Baby, minumlah... " Adrien meletakkan gelas berisi cairan berwarna putih di depan Khaleesi "be strong" sambungnya mengusap punggung gadis yang menatapnya dengan kelopak matanya tergenangi cairan bening.


"Semangat !" Adrien menaikkan kedua tangannya dengan senyum memabukkan itu.


"Sekarang kita makan" seru Adrien mengambil gelas kosong itu dan membawanya sink wastafel.


"Kenapa kamu baik sekali Rein kepadaku?"


Sebuah senyuman tipis dari bibir Adrien yang sedang mengisi piringnya dengan nasi.


"Karena kamu adalah temanku Khale. Dan aku sudah janji akan menjadi pelindungmu" sahut Adrien meletakkan piring di depan Khaleesi.


Andai ini adalah Jean, pastinya Khaleesi akan sangat beruntung dimanjakan oleh orang yang dicintanya.


"Makanlah Khale, babymu butuh nutrisi"


"Rien...."


"Ya?" Adrien menatap lurus ke meja sebelah dimana Khaleesi memandangnya


"Seharusnya Aurora bersamamu karena kamu pria terbaik yang pernah aku temui"


"Jika aku baik di matamu, kali dua saja kebaikanku. Dan seperti itulah pria yang mendapatkan Aurora" ujar Adrien tersenyum tipis "dan lihat wallpaper ponsel terbaruku Khale" sambungnya dengan riang memamerkan fotonya yang melingkarkan tangannya dari belakang ke tulang selangka Aurora, keduanya berpose tertawa lebar dengan mata menyipit bahagia.


"Kalian terlihat sangat bahagia dan serasi"


"Dua bulan lalu dia kesini" Adrien terkekeh bahagia namun kemudian sadar jika ia harus fokus kepada wanita di depannya itu


"Sudah.. kita makan dulu, terus habis itu kamu istirahat sebentar dan ke dokter. Kamu ingat kan Khalee janji temu dengan dokter kandungan?"


Khaleesi mengangguk "terima kasih Rien" ucapnya dengan tulus

__ADS_1


...


Adrien tak henti-hentinya tersenyum memandang hasil foto USG kandungan Khaleesi. Tak lama mereka di dalam ruang periksa Dokter Hector , Dokter kandungan terbaik di Kota Lyon yang akan menangani Khaleesi hingga persalinan.


"Kamu betul akan menjadi seorang ibu, baby" gumam Adrien tatapan menunduk ke arah foto, Khaleesi hanya terdiam walau perasaannya bergejolak. Temannya itu mengaku jika dia adalah ayah dari bayi dikandungnya kepada Dokter Hector, walau sebenarnya di Eropa tidak mengapa jika seorang wanita hamil di luar nikah.


"Khale, kamu belum memberitahu mamamu? Beliau harus tahu baby"


Khaleesi berjalan sambil menunduk lesu dan tentu saja tangan kokoh Adrien merengkuh tubuhnya. Andai tidak ada pria itu, entah bagaimana nasibnya sekarang. Mungkin sudah depresi dan membuat kondisinya semakin parah.


"Aku takut Rien, mommy walau tinggal di France tapi masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Aku juga takut mengatakan kepada mama Jean, bagaimana jika dari pihak keluarganya mengatakan ini bukan bayi Jean? Dan berpikir aku hanya menginginkan uang mereka. Aku tidak tahu harus bagaimana" kesah Khaleesi dengan suara bergetar, kembali cairan bening jatuh di pipi pualamnya dan dengan sigap Adrien menghapusnya.


"Sudah seminggu aku tidak ke kampus, rasanya ingin menyerah saja dengan studiku Rien dan pulang ke Indonesia"


"Tidak !" Sergah Adrien cepat "pendidikanmu adalah yang utama Khalee, kamu harus menyelesaikannya. Sisa berapa 4 bulan bukan? Dan di luar sana banyak ibu hamil masih tetap bersekolah, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk membuatmu menyerah. Dan demi Tuhan, kamu memikirkan untuk melarikan diri ke Indonesia? Membawa dirimu yang sedang hamil tanpa suami? Jangan bertingkah bodoh baby, kamu ingin digunjingkan di sana? Pola pikir orang Eropa dan Indonesia sangat berbeda Khale.."


Bunyi pesan masuk membuat Adrien menghentikan ucapannya, dengan cepat Khaleesi pun tergesa merogoh isi tasnya.


Jean mengirimkan pesan


Pumpkin, sabarlah menunggu. Tunggu aku, setelah masalah ini beres, aku akan kembali.


Tik tik..


Air mata Khaleesi jatuh, dan langsung menekan tombol dial ke nomer Jean. Sama seperti sebelumnya, panggilannya dialihkan ke voice mail, berkali-kali bumil muda itu mencoba menyambungkan panggilan suara.


"Balas saja pesannya, katakan kalau kamu sedang mengandung anaknya Khale"


"Tidak, aku ingin bicara baik-baik Rien" sahutnya di sela-sela isakan tangis pilu


Khaleesi sedari tadi tak sadar jika dia berjongkok di samping mobil Adrien dan pria itu juga melakukan hal yang sama.


Lelah dengan posisi seperti itu, Khaleesi bersandar pada mobil mewah Adrien. Ia tidak menangis lagi, hanya termenung.


Pria di sampingnya melihat Khaleesi dengan penuh iba, setidaknya Adrien bisa merasakan beban pikiran yang membebani wanita itu.


"Khale, kamu tidak mau menikah?" Ucap Adrien memecah keheningan di antara mereka


Khaleesi mendelik tajam, terpampang jelas amarah di wajahnya "apa kamu sedang meledekku Rien?! bagaimana aku menikah jika pria yang menghamiliku sedang menghilang? Sekarang pun kalau bisa, aku mau menikah! Aku sudah terlalu banyak berbuat dosa Rien dan mungkin inilah harga yang harus aku bayar. Aku takut menghadapi ini semua sendirian" ucap Khaleesi lalu tangisnya kembali pecah, wajah cantik itu tertunduk hingga air matanya membasahi celana jeansnya.


Adrien merangkul tubuh Khaleesi, hatinya semakin trenyuh "ada aku Khale.. maksud kamu menikah itu, denganku.. "


Sontak kepala Khaleesi dinaikkan dan pandangan mata yang membulat tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apa kamu bilang Rien?"


Senyuman lebar terukir di wajah tampan pria di sampingnya, yang sesaat menghela napas ringan lalu menatapnya dalam.


"Aku bilang, Khaleesi.. menikahlah denganku"


###



alo kesayangan ☺️,


di sela-sela liburan, author menyempatkan diri menulis ini... sabtu 6.43am sebelum pindah ke kota selanjutnya 🤭 [semoga mangatoon lolosin review walau ini weekend]


yang kangen hugo ma liam, semoga selasa sudah aku up ✌🏻****


maaf yah🙏🏻

__ADS_1


love,


D 😘


__ADS_2