
Adrien menghela napasnya panjang setelah melirik ke arah gadis belia yang duduk di sebelahnya, mereka baru saja selesai makan malam bersama kemudian mengantarkan Isla pulang ke apartemen.
"Jadi besok kita tidak akan bertemu, Chèrie ?" Ucap Adrien tidak bisa menutupi rasa kecewa yang melanda hatinya
"Berapa kali Isla katakan, jika besok habis kuliah mau pulang ke rumah. Kakak kan tahu setiap weekend Isla ketemu papa dan mama." Isla memeluk lengan si pria berwajah sendu
"Aku ingin selalu bersamamu Isla." Adrien tidak berbohong dengan perkataannya. Gadis belia ini adalah miliknya, terpisah selama akhir pekan ? Jelas itu pasti akan menyiksanya, namun Adrien tidak mungkin juga menampakkan diri di kediaman Navarro.
Isla mendongakkan kepala sembari mengulum senyuman, dia pun merasakan hal yang sama.
"Kakak... Mau nginap di apartemen ?" Ucap dari bibir polos Isla mencipta binar di wajah si pria tampan
Tanpa menjawab, Adrien menjalankan mobil menuju basement apartemen.
"Apa kakak tidak bosan tinggal di penthouse hotel ? Tidak berniat tinggal di apartemen atau rumah ?" Isla menanyakan hal yang menjadi pemikirannya selama ini.
Adrien menahan jawabannya hingga mobil terparkir dengan baik lalu membukakan pintu untuk Isla.
"Aku kan tidak pernah menetap lama di suatu kota, Chèrie. Dulu sebelum bertemu denganmu, aku lebih mudah tinggal di penthouse. Di Lyon pun hanya di penthouse sayang. Tapi sekarang situasinya beda, kakak sedang memikirkan untuk memiliki sebuah tempat tinggal di kota ini. Bagaimana jika aku membeli bangunan apartemen ini saja ?"
Isla membelalakkan mata lalu tergelak tawa.
"Nanti aku tidak punya tetangga kak.. Apartemen sebesar ini akan jadi menyeramkan jika cuma kita bertiga yang tinggal."
"Ada aku jadi tetanggamu, Chèrie." Ucap Adrien menekan tombol lift mengarahkan mereka ke lantai 5, tempat tinggal kekasihnya.
Isla memeluk tubuh tinggi Adrien, merebahkan kepalanya di dada bidang dan kekar sambil menunggu lift berhenti
"Apartemen berlantai 13 kemudian hanya 2 lampu apartemen yang menyala. Creepy banget kak. Jangan pernah berani melakukan itu." Ancam Isla
Adrien terkekeh ringan "terus gimana? Kakak dulu pernah punya mansion kemudian di jual karena yang tinggal cuma aku sendiri, sangat membosankan. Dan ternyata tinggal di penthouse lebih mudah buat aku yang mempunyai segudang kesibukan." Tukasnya sambil mengusap lembut rambut hitam milik Isla.
"Memangnya kakak tidak seperti orang kaya kebanyakan. Party-party, undang teman. Have fun gitu."
"Hei gadis cantik... " Adrien mencubit pipi Isla yang kemudian merona "kamu pikir umurku berapa melakukan hal seperti itu. Jika yang kamu maksud senang-senang, berpesta. Semua telah aku lewati, Chèrie. Dulu... saat seperdua usiaku sekarang."
"Kakak seperti tidak menikmati kekayaan, terus buat apa jadi orang terkaya kelima jika hidupnya biasa-biasa saja." ucap Isla seolah mengompori pria bermanik biru yang sangat indah
"Beberapa orang di level yang sama, hidupnya juga biasa-biasa Isla. Kakak sudah pernah menghamburkan uang seperti angin yang berhembus, sambil lalu. Tapi apa yang didapatkan hanyalah kesenangan sesaat, selepas itu hati kembali menghampa. Terus apa gunanya? Tidak ada. Kekayaan adalah hasil kerja keras namun tidak perlu menghabiskannya dengan keras juga." ucapnya bijak
Lift berdenting menginterupsi percakapan serius pasangan yang baru mengikrarkan cinta.
Sambil bergenggaman tangan keduanya berjalan menuju apartemen Isla.
"Oh sudah jadian?" Tanya Mareo begitu melihat Isla dan Adrien melewati pintu, bersisian namun tak saling bergenggaman lagi. Tangan mereka mengurai sebelum pintu terbuka.
Pria tampan yang dianugerahi suara merdu itu sedang berada di sofa memainkan game favoritnya, sedikit melirik kedatangan Isla dan Adrien.
Dengan berderap Isla menghampiri Mareo kemudian menarik kakaknya menuju kamar tidur terdekat. Kamar tidur Mareo.
"Iyo, aku butuh bajumu, Kak Adrien akan menginap di sini." Ucap Isla sesaat mereka di dalam kamar.
Sambil tersenyum miring Mareo membuka lemarinya, dia kemudian mengangsurkan sepasang pakaian santai ke tangan Isla.
"Mungkin kamu butuh ini, Ibo ." Tanpa rasa bersalah Mareo menaruh bungkusan kecil berwarna pink di atas pakaian tadi
Isla yang mengikuti gerakan tangan Mareo, kemudian membaca dengan jelas tulisan yang terpampang di bungkusan plastik itu "1 latex condom"
__ADS_1
"Iyo !! Kamu mau mati yah malam ini ?!" Pekik Isla dengan rambut berdiri, Mareo sebelum itu telah berlari keluar dari kamar menyelamatkan diri dengan bersembunyi di belakang tubuh Adrien.
"Chèrie, ada apa ?" Tanya Adrien penuh keheranan melihat wajah Isla sepenuhnya memerah
"Kak, serahkan bocah di belakangmu itu.. Malam ini aku tamatkan riwayatnya." Ucap Isla dengan suara meninggi
Mareo pun tergelak tawa namun tetap berlindung di belakang Adrien.
"Maaf Ibo, aku cuma bercanda... pleaseeeee.... ."
Isla berdecih karena tidak bisa melakukan apa-apa karena pria tampan berambut keemasan itu menatapnya dengan dalam.
"Kakak membersihkan tubuh dulu, ini baju gantinya. Isla ke kamar, mau mandi juga."
Mareo berdeham keras menanggapi perkataan Isla, sementara Adrien penuh kebingungan melihat sikap keduanya.
...
Isla tidak menemukan Mareo sesaat dia keluar dari kamar tidurnya. Pria tengil itu mungkin telah masuk di kamar mengingat jam telah menunjukkan pukul 11 malam yang seharusnya Isla telah tertidur sejam lalu namun dia tidak bisa memejamkan mata sedikit pun.
Tanpa mengetuk pintu kamar yang dituju, Isla menarik kenop pintu yang tak terkunci itu.
"Tidak bisa tidur ?" Adrien melihat gadisnya yang menggunakan piyama berwarna biru sedang berdiri di ambang pintu
Isla mengangguk memberikan jawaban.
"Kemarilah Chèrie.." Adrien menggeser tubuhnya ke bagian sebelah tempat tidur memberikan tempat kepada gadis cantik yang tanpa ragu mengikuti perintahnya.
Isla menghela napas dalam kemudian melirik Adrien yang menatapnya sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis.
"Aku pun tidak bisa tidur, Chèrie. Aku menunggu kamu atau aku yang datang ke kamarmu. Sama seperti di Lyon, tidak bisa memejamkan mata karena orang yang dicintai hanya terpisah beberapa langkah dari tempat tidur." Ucap Adrien lembut sambil mengacak rambut gadis yang menutupi tubuhnya dengan selimut hingga bagian dada.
"Ya... " Adrien menarik lebih ke atas senyumannya. "Kalau boleh tahu, tadi marah karena apa dengan Mareo?" Sambungnya ingin tahu kejadian yang membuat Isla uring-uringan setelah membersihkan tubuh dan Mareo masih tetap menjaga jarak dengan adiknya itu.
Isla memajukan bibirnya lalu memalingkan wajahnya ke arah dinding kamar. Jantungnya berdegup kencang, bahkan dengan situasi seperti ini membuatnya lebih berdebar.
"Tidak mau jawab?"
Isla terdiam sesaat mencari kata yang baik menyampaikan kekesalan sekaligus malu yang merajai hati.
"Apa Chèrie, sebagai pasangan kita tidak boleh ada rahasia sayang." Ujar Adrien lembut berusaha membujuk gadis yang kembali mengarahkan pandangan kepadanya.
"Iyo ngasih ****** kak, katanya mungkin aku butuh itu." Sahut Isla dengan kesal
Adrien pun terbangun lalu tergelak tawa yang sangat keras. Pria tampan itu memegang perut dan terus tertawa, akhirnya dia tahu sebab kemarahan Isla.
"Chèrie.... Walau baru berapa jam lalu kita saling mengungkapkan perasaan, tapi ada baiknya jika kakak jelaskan sejak awal." Adrien menarik tangan Isla untuk duduk berhadapan dengannya.
"Kamu tahu aku menunggu berapa lama untuk bertemu denganmu? 43 tahun sayang. Itu waktu yang sangat lama jika dijalani tanpa orang dicintai. Walau tidak munafik jika selama rentang waktu itu berbagai wanita pernah hadir di kehidupan kakak." Sampai di situ Adrien memandang wajah Isla yang tidak menunjukkan perubahan dengan mengungkit masa lalu kelamnya.
"Terus ?" Sahut Isla yang sedang memainkan jemari Adrien
"Kakak tidak mungkin melakukan hal yang seperti Mareo pikirkan, Chèrie. Pertama, aku sangat mencintaimu. Kedua, kamu adalah kekasihku. Orang paling spesial dihidupku yang harus aku jaga. Ketiga, aku tidak melihat dirimu sebagai "teman tidur" atau kasarnya "pelampiasan nafsu" oh tidak, perasaanku sangat jauh dari itu sayang. Keempat, untuk melakukan itu kamu harus menjadi istriku terlebih dahulu."
Isla menggigit bibir bawahnya dengan mata berkabut. Hanya dalam sesaat dia telah memenuhi Adrien di setiap sudut hatinya. Tak bersisa.
"Sampai di sini kamu mengerti, Chèrie ?" Adrien mengecup jemari Isla dengan penuh kasih. Gadisnya pun kembali menggangukkan kepala dengan pelan.
__ADS_1
"Kelima, mamamu... Papamu akan membunuhku jika aku melakukan itu." Pria matang itu terkekeh ringan membayangkan wajah kedua orang tua kekasihnya.
Isla kemudian menyunggingkan sebuah senyuman simpul.
"Aku ingin secepatnya kita mendapatkan restu dari semuanya, Chèrie. Aku ingin menikah denganmu."
Jantung Isla seolah meletup mendengar ucapan kekasihnya. Baru berapa jam yang lalu mereka menjadi sepasang kekasih, dan Adrien sudah melamarnya.
"Jadi ini maksud kakak, jika aku tidak bisa melanjutkan kuliah karena menikah? Kakak sudah merencanakan semua ini sejak awal ?"
Sambil mengulum senyum Adrien mengiyakan perkataan Isla.
"Ketika kita berdua di tepi danau, aku sudah memikirkan untuk mendapatkanmu."
Mata Isla membulat tak percaya, Adrien mengangguk menyakinkan kekasihnya.
"Walau ini terkesan terburu-buru jika aku mengatakan ini kepadamu Isla Bohemia... " Ucapan Adrien terpotong kembali berbalik ke arah meja nakas, pria tampan itu mengambil kotak hijau di samping telepon genggamnya.
"Aku ingin memberimu cincin berlian yang bisa membuat semua orang terfokus padamu, Chèrie. Tapi aku tidak ingin keluarga curiga, dan kamu pasti takut memakai cincin termahal dunia. Jadi aku belikan cincin seperti ini." Adrien menyematkan cincin emas berukir daun, dan mempunyai mahkota tanda hati ke jemari manis kekasihnya.
"Kak... " Ucap Isla dengan suara serak karena menahan tangis bahagia.
"Kamu bukan hanya kekasihku Isla, melainkan tunanganku juga." Air mata pun meloloskan diri dari netra gadis belia di depannya
"Sepertinya aku hanya akan mengenal satu pria di sepanjang hidupku kak." Isla bergerak mendekat ke tubuh semenit lalu resmi menjadi tunangannya.
"Bukan sepertinya Chèrie.. mengatakan sepertinya berarti masih ada kesempatan membuatmu lepas dariku. Tidak ! Itu takkan terjadi. Isla, sejak kamu menyatakan perasaanmu dengan membalas perasaanku, mengartikan bahwa tidak akan ada kekuatan manusia yang akan membuatmu lepas dari diriku. Siapa pun itu. Dan kejadian apapun yang di depan kita, tak akan pernah memisahkan kamu dan aku. Ingat? Kita adalah kesatuan yang utuh Chèrie, sebuah pulau dan lautan."
Isla terdiam meresapi tiap kata yang terucap dari bibir kekasihnya.
"Apakah ini terlalu cepat untukmu, Chèrie ?" Tanya Adrien menangkup wajah Isla. Raut wajah gadisnya berseri dan tersipu di saat bersamaan.
"Bukankah cinta yang besar harus berakhir dengan pernikahan? Terus kakak juga sudah berumur,..."
Adrien mencubit pipi Isla dengan gemas, pria tampan itu memamerkan senyuman indahnya yang dibalas kekehan tawa kekasih belianya.
"Kamu tidak menyesal memilih pria setua aku, Chèrie ?"
Isla yang memuja wajah Adrien sejak lama kemudian mengecup lembut pipi pria tampan bermanik biru.
"Umur hanya angka kak.. toh ada yang mengatakan wanita akan cepat menua jika sudah melahirkan." Ucapan polos meluncur begitu saja dari bibir Isla, yang mengakibatkan wajah bersemu maksimal sang pria bersweater rajut berwarna merah.
Adrien berdeham keras melancarkan saliva di tenggorokannya yang mendadak kering.
"Entah kamu atau aku yang tidak bisa tidur jika kita terus membicarakan hal besar di hari pertama kita berpacaran sekaligus bertunangan." Adrien menarik tubuh Isla untuk terbaring dalam dekapannya.
"Kakak sih, pakai acara memberi cincin." Gumam Isla manja
Sambil membelai rambut Adrien mencuri kesempatan untuk mengecup kening kekasihnya.
"Andai semua orang merestui, hari ini juga aku menikahimu, Chèrie. Aku sudah menunggu lama Isla. Aku tidak ingin lagi tidur sendirian, terbangun sendirian pula. Aku ingin kamu menemaniku tidur, ya kecuali saat kembali ke rumah . Dan aku tadi telah memikirkan untuk tinggal di sebelah apartemenmu ini sayang. Jadi kamu dan aku bisa terus bersama, hingga kita berdua mengantongi ijin menikah. Kemudian setelah itu kamu yang memutuskan di mana ingin menetap. Karena..
kemana pun kamu mau, di situlah kita hidup berdua Chèrie."
###
__ADS_1