ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Big Love


__ADS_3

Isla spontan berdiri bersamaan Adrien mendekat dengan napas yang ngos-ngosan, bulir-bulir keringat membasahi pelipis pria tampan itu.


"Kak..." Seru Isla meraih jemari Adrien yang diikuti sorot kebingungan dari Axel, pria yang kemudian menegakkan badannya. Pandangan matanya bergantian kepada pria bersweater hitam dan gadis yang lebih ceria menatap pria di sampingnya, si pria berambut keemasan.


Sebagai gentleman pria bersuit mengulurkan tangannya "Axel Yu."


"Adrien"


Axel melihat bagaimana jalinan tangan Isla dan Adrien, pria berambut panjang yang berwajah seperti dewa.


Cih, bahkan ia adalah pria normal namun mengakui wajah pria di depannya.


"Dan apa hubungan kalian berdua?" Tanya Axel menekan rasa sakit menekan dadanya, ia baru saja melamar Isla belum pula jawaban di dapatnya dan pria itu datang merusak momen yang tercipta.


"Tunangan.. Isla adalah tunanganku." Sahut Adrien mengeratkan tautan jemarinya.


Jantung Axel mencelos mendengar ucapan penuh ketegasan tanpa rasa bimbang menandakan kepemilikan tunggal gadis yang berdiri di sampingnya. Isla yang sedang mendongakkan kepala menatap penuh puja kepada sang pria.


Sakit, nyeri, kecewa iya.. menghantam dada Axel menyaksikan gadis yang selalu membawanya terbang setiap tahun ke tempat Isla dimana pun berada hanya untuk meniup sebuah lilin ulang tahun yang sederhana.


"Kapan ? Adek Isla, kenapa tidak pernah memberitahuku?" Axel berusaha menampakkan sebuah senyuman, bahkan itu getir.


Gadis belia yang tadinya Axel penuh harap akan mengiyakan permintaannya, terlihat menggigit bibirnya.


"Kami telah bersama hampir 6 bulan, kami telah bertunangan selama itu pula." Jelas pria bermanik biru dengan lugas, Adrien yang sangat tahu akan kegugupan Isla untuk memberikan penjelasan.


Axel menatap lurus kearah Isla, yang menolak berpandangan dengannya, kemana gadis ceria yang sejam lalu menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan? Kemana Isla yang dikenalnya 18 tahun yang selalu menjadikan dirinya sebagai sandaran dan tempat mencurahkan segala isi hatinya sembari menatap lautan.


"Oke, aku mengerti.. tapi bisakah Tuan Adrien memberiku waktu sebentar untuk berbicara dengan Isla?"


Terlihat pria berambut emas itu menatap dengan sorot teduh ke arah Isla, dan adik kecilnya mengerjap sembari mengumbarkan senyuman.


"Aku tunggu di sana, Chérie." Adrien menunjuk ke arah kafe dekat kolam renang, sebelum beranjak pria itu mengelus lembut pipi Isla.


Axel berdeham keras agar sesak sebesar batu yang menghalangi tenggorokannya kembali ke dasar hati. Ia melirik Isla yang menunduk memainkan pasir dengan sandalnya.


"Jadi... Ketika aku ke Berlin merayakan ulang tahunmu, dek... Adrien sudah mendekatimu? Kenapa tidak mengatakan kepadaku, jika ada pria lain yang berusaha mengambilmu.."


Isla menaikkan kepalanya "Maafkan aku, Kak Axel."


"Aku tahu cinta tanpa mengenal usia, dek... Tapi Adrien ?"


Isla menentang mata Axel dengan tajam, gadis itu terlihat kesal akan ucapannya.


"Apa terlihat dengan jelas, perbedaan di antara kami ?" Lirih Isla kembali menundukkan pandangan lalu mengambil kulit kerang dan melemparnya kembali ke laut.


Axel menghela napas berat menatap titik jatuh kerang yang dilempar Isla, sangat jauh. Sama seperti hatinya dengan hati gadis di sampingnya, menjadi jauh.


"Berapa umurnya 35 ? Kau baru 19 tahun, dek.."


Axel kemudian tertegun akan reaksi Isla yang tergelak tawa yang sangat manis, suara yang dirindukannya.


"Terima kasih, Kak Axel..."


"Apakah ada yang lucu?"


Isla menggelengkan kepalanya sembali menaikkan jemari tangannya pada matahari yang beranjak menuju peraduan.


"Dulu kita suka menaikkan tangan seperti ini menghadap matahari tenggelam sembari kakak mengatakan bahwa jemari-jemari kosong kita akan terisi oleh jemari seseorang yang mencintai dan menuntun ke indahnya hidup. Mungkin saat itu kata merujuk kepada Kak Axel sendiri, bahwa Kak Axel-lah yang akan mengisi jemariku." Jeda Isla meliriknya, mata mereka kembali bertabrakan lalu gadis itu menarik iris hitamnya.


"6 bulan lalu aku bertemu dengan Kak Adrien.. pria yang aku sukai sejak lama"


Axel menoleh dengan mata membulat menatap Isla, hatinya disergap pertanyaan yang mampir dengan tiba-tiba


"Sejak kapan? 18 tahun aku mengenalmu adek Isla, sekali pun tidak pernah mengungkit seorang pria. Hanya ada Mareo selain aku."


Senyuman tipis dengan kerjapan indah Isla dilihat Axel dari ekor matanya

__ADS_1


"Karena aku menyimpannya rapat, Kak Axel. Aku memuja Kak Adrien, seseorang yang mengenalku sejak dulu namun kemudian melupakan jika aku ada. Saat kami bertemu lagi.. dia mengejarku.." Isla terkekeh dengan manis tak memikirkan ada hati terluka akan sikapnya


Aku bisa bertahan.. Axel mengepalkan kedua tangannya.


"Perasaanku bersambut.. " ucap Isla pelan kembali senyuman manis terpampang di wajah gadis dicintai Axel.


Ia tidak rela merenggut senyum itu dengan memaksakan perasaannya.


Cukup hanya dirinya yang terluka.


"Jika sudah bertunangan, kalian akan menikah?"


Anggukan lemah dari Isla dengan sorot mata bimbang, hal itu bisa terbaca jelas dari sudut pandang Axel. Seperti ada setitik cahaya memasuki hatinya. Setitik harapan.


"Ya.. kami akan menikah, Kak Axel. Dan rumah kami akan segera dibangun, aku akan tinggal di Lyon setelah menikah." Ucap Isla dengan mantap, menguburkan harapan Axel yang sempat tercipta sesaat tadi.


Axel menoleh pada raut yang berseri, senyuman Isla mengembang indah. Ia seolah kehilangan kata-kata, untuk meneruskan permintaan tadi.. atau meluapkan sakit hatinya.


"Maafkan Isla, Kak Axel. Ini jawaban pertanyaan kakak tadi.. Aku tidak menerima lamaran Kak Axel, karena sudah ada yang lebih duluan." Ucap Isla sembari memamerkan cincin berdesign sederhana di jemarinya, luka hati Axel menganga lebar.


"Chérie." Panggil Adrien berjarak 5 meter pada jalanan berbatu "Masih lama ?"


Isla menatap sekilas kepada pria itu sembari memamerkan senyuman lalu berbalik memandang Axel.


Gadis berwangi kayu manis memeluk Axel, mungkin untuk terakhir dengan buru-buru ia melingkarkan kedua tangan pada pinggang ramping Isla


"Ya ini kesalahanku Adek Isla.. terlalu mengejar impian menaklukkan dunia, hingga impian satunya lepas.. sekarang tak satu pun aku dapatkan.. Harusnya aku memusatkan padamu saja dek, dan berdua kita menaklukkan dunia. Kesalahanku..." ucapnya penuh sesal menggunung


"Jika besok kau membutuhkan teman... Hubungi aku.." sambung Axel meragu, walau Isla mengangguk pelan lalu berjinjit mengecup pipinya


"Kakak Axel semangat bekerja, Isla dukung terus walau dari jauh. Titip salam buat om, tante Valeria dan Angel." Ucap Isla sekali lagi memeluk dengan hangat, sesaat pelukan gadis itu mengurai, hati Axel pun berserakan.


Ia menengok bagaimana Isla berlari dengan riang dan memeluk pinggang pria bermanik biru itu. Adrien tersenyum lebar sambil mengacak pelan rambut gadis yang dijaga Axel selama 18 tahun.


Ia gagal.


Maafkan aku, pa.. aku tidak berhasil " gumam pilu Axel menutup kembali kotak beledu yang berisikan cincin bernilai sangat tinggi, sebuah cincin berlian paling menyolok mata dikalahkan oleh cincin emas bermodel sederhana namun si pemakai penuh kebahagiaan memamerkannya.


Serpihan hati Axel kembali tertancap ribuan pedang mengingat ekspresi Isla, gadis yang menjadi cinta pertamanya.


...


Isla menenggak habis jus mangganya setelah menghabiskan makan malam yang dipesan melalui aplikasi antar ke rumah. Pria di depannya masih berkutat dengan nasi goreng seafoodnya.


"Kata ibu kalau lambat makan, jodohnya juga lama baru datang." Celetuk Isla membuat Adrien menggigit bibirnya menahan tawa. Pria tampan itu pun menyodorkan piringnya ke depan.


"Tolong bantu aku habiskan, Chérie. Biar jodohmu cepat datang."


Dengan cepat Isla mengambil piring berisi nasi goreng dan menyantapnya sementara Adrien meneguk es teh tawar dengan perhatian kepada kekasihnya. Gadis yang membuatnya tadi sore harus naik ojek menuju Hauptsitz, alih-alih mengendarai mobil yang akan memakan waktu lama.


Untuk pertama kali Adrien menggunakan aplikasi transportasi tersebut dan meminta pengemudinya untuk memacu motor. Selama di perjalanan jantungnya bekerja 3 kali di atas normal, membayangkan Isla bersama dengan Axel, si pria petualang.


Isla telah menjawab semua pertanyaannya selama di perjalanan pulang, perihal kedatangan Axel yang sesuai dengan tebakan Adrien. Pria muda itu melamar Isla.


Sungguh berani!


Gadis belia di depannya hanya akan berakhir di pelaminan dengan Adrien. Tak ada kekuatan yang bisa mengubah itu, bahkan jika takdir mengatakan tidak, ia yang akan menulisnya sendiri di buku kehidupan.


"Sudah ?" Tanya Adrien melihat piring Isla sudah habis, ia terkekeh dengan nafsu makan kekasihnya. Mungkin karena umurnya yang masih 19 tahun, hingga sebanyak apapun yang masuk tak merubah sedikit pun bentuk tubuh Isla.


Gadis belia itu pun mengangguk riang lalu bangkit dari kursinya mengambil piring kotor mereka.


Ketika Isla mencuci piring sembari bersenandung, Adrien menyiapkan buah pencuci mulut. Strawberry dan anggur, dua buah kesukaan sang nyonya muda Adrien.


Tak lama kemudian mereka duduk bersisian di kursi dekat kolam.


"Salahkah aku kak, jika memikirkan perasaan Kak Axel.. jika kakak berada di posisinya, apa yang Kak Adrien rasakan sekarang ?" Tanya Isla sembari menyandarkan kepala di lengan kekasihnya

__ADS_1


Adrien menghela napas mencoba mengingat momen saat mendengar Aurora akan menikah. Sayangnya ia tidak bisa mengingat rasa sakit itu, karena penawar segala luka berada di sampingnya.


"Dia akan baik-baik saja, Chérie. Seorang petualang jiwanya pasti sangat kuat, di tempa oleh alam."


"Seperti itu ? Isla merasa bersalah kak." Gumam lirih Isla


Adrien menggeserkan tubuhnya hingga mereka berhadap-hadapan. Ia menangkup wajah mungil kekasihnya.


"Isla Bohemia, kau adalah milikku... Tidak mungkin aku memberikan milikku pada orang lain, tidak mau." Adrien menggeram dengan cemburu menguasainya


Isla tertawa cekikikan lalu mengecup bibir Adrien yang penuh itu.


"Siapa juga yang mau pergi dari sisimu kak, Isla cuma memikirkan perasaan Kak Axel saja. Dua kali aku menolaknya, dulu dan tadi. Isla suka dengan Kak Axel, sayang.. Dia sudah seperti kakak bagiku. Saat 2 tahun lalu pun saat Kak Axel menyatakan cinta, Isla hampir mengatakan iya, dengan berbekal rasa sayang tersebut. Namun sangat berbeda waktu bertemu dengan Kak Adrien, seolah semua pergerakan bumi berhenti.


"Gombal nih." Goda Adrien menangkap manik mata kekasihnya


Isla menggelengkan kepala menatap wajah Adrien yang mulai memerah "Isla bicara sejujurnya, kak. Isla sudah jatuh hati pada paman tampan sebelum kita bertemu, suka mendengar cerita tentang kakak. Hati Isla berdesir setiap kali mendengar orang di rumah membahas tentang Kak Adrien. Isla mencari tahu info tentang kakak, mengikuti sosial media Kak Adrien walau itu isinya hanya seputar perusahaan. Jadi jika ada yang menyalahkan Kak Adrien dengan hubungan kita yang tidak umum ini, mereka harus salahkan Isla juga. Karena semua terjadi karena Isla yang menginginkannya. Andai tidak punya perasaan, pasti sejak awal sudah menjauh dari Kak Adrien."


"Dan aku tetap mengejarmu Isla... Hingga kau mengatakan iya."


"Walau Isla sudah menolak ?"


Adrien menganggukkan kepala dengan tegas "Karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama bertemu, dan aku memiliki segalanya di muka bumi. Hingga untuk mendapatkanmu akan kukerahkan seluruh kekuatan yang aku punyai."


Tawa Isla pecah mendengar perkataan Adrien


"Apanya yang lucu, Cherie ?" Ucap pria bermanik biru sembari menangkup pipi kekasihnya


"Ucapan kakak seperti superhero yang sedang memberantas kejahatan." Mata Isla menyipit dengan bibir merekah sempurna, Adrien pun langsung menghujani ciuman di wajah cantik milik kekasihnya


"Jadi kesimpulannya, pria yang kuat pada akhirnya akan mendapatkan cinta yang besar. Seperti aku telah melaluinya dan kini telah menemukan cintaku, kekasih yang akan menemani sisa hidup. Sama halnya dengan Axel, mungkin hari ini terluka namun pasti suatu hari dia akan bertemu dengan wanita yang mempunyai perasaan sama besarnya, perasaan yang terbalaskan. Patah hati, dan hidup terus berjalan, kemudian jatuh cinta lagi. Hanya fase percintaanku saja harus berjarak jauh.. Karena harus menunggu seorang gadis kecil untuk tumbuh besar. Gadis kecil yang ternyata sudah suka sejak dulu."


Isla tersenyum lebar menatap wajah Adrien, gadis itu menganggukkan kepalanya "Aku mendapatkan cinta pertamaku, pria yang Isla kagumi sejak kecil. Paman tampan."


Adrien tertawa sambil mencubit pipi Isla dengan gemas "Jadi kau menyukai karena wajahku ?"


"Tentu saja.. di foto sangat tampan.. ternyata saat bertemu dengan orangnya langsung ternyata lebih lebih tampan. Alis melengkung indah, matanya biru, kulit putih, rahangnya terpahat sempurna." Sanjung Isla sambil menyusuri setiap bagian yang disebutnya dengan jemari kecilnya


"Dan bibir memerah ini yang suka mencium Isla.. Paman tampan sangat sempurna, kenapa kau menghabiskan puluhan tahun hidupmu sendiri, kenapa kau menjatuhkan hati kepada gadis biasa seperti diriku?"


Adrien menggelengkan kepala dengan pujian kekasihnya, dadanya meledak seperti pesta kembang api malam perayaan yang penuh suka cita.


"Jika kau mengatakan bahwa dirimu gadis biasa, tapi bisa membuatku tergila-gila." Adrien merengkuh tubuh Isla dengan erat, meredam perasaan yang bergelora hampir menghilangkan logikanya


"Isla.. aku ingin menikahimu.. aku ingin memilikimu utuh.. merasakan tubuhmu.." Adrien menggeram


"Kita bisa melakukan itu sekarang.." ucap Isla pelan


Adrien sontak mengurai pelukan seraya berdiri namun tetap menggenggam jemari kekasihnya.


"Ayo kita keluar jalan-jalan mencari angin, sebelum setan yang bersekutu di pikiranmu menyerang pikiranku, Chérie."


Isla tertawa kecil mengikuti langkah prianya yang bersemu memerah seperti buah favoritnya.


"Paman Adrien.. aku mencintaimu.."


###


Axel Yu, semoga dapat cinta yang besar




akhir-akhir ini Mangatoon agak slow yah..


sabarin aja,

__ADS_1


tetap sehat semua..


__ADS_2