
Adrien tidak berkutik akan campur tangan Kila dan Hugo, kedua orang tua istrinya yang tak lain adalah kakak sepupunya. Mengetahui
kabar bahwa anak sulungnya sedang mengandung, hanya berselang 10 jam Kila dan Hugo telah berada di Islandia. Kejadian berikutnya Isla dipindahkan ke villa pribadi yang dibeli oleh Hugo, tanpa persetujuan Adrien.
Sebuah villa yang memiliki pemandangan yang sangat menakjubkan, berhadapan dengan laut dan gunung es Kota Reykjavik. Villa tersebut berlantai dua, memiliki 2 ruang tamu, lima kamar tidur dan tiga kamar mandi. Hugo sang papa terkenal akan kepiawaiannya mendapatkan hunian indah dengan pemandangan memanjakan mata.
Adrien sepenuhnya mengikuti keinginan kedua orang tua Isla. Ia tahu jika Kila dan Hugo mengkhawatirkan anak sulung mereka, terlebih ini
adalah kehamilan pertama dengan 3 janin. Kehadiran kedua orang tua Isla membuat pasangan pengantin baru itu lebih banyak bersantai. Adrien tidak bisa mengajak Isla lebih jauh dari pusat kota, tidak ada lagi paket jalan-jalan bulan madu. Keseharian mereka hanya terpaku dengan kegiatan di villa, umumnya menonton televisi dan membaca.
Menginjak bulan ketiga nafsu makan wanita belia itu meningkat drastis dan uniknya badan Isla tidak mengalami perubahan, masih seperti sebelumnya,
hanya pada bagian perut sudah menampakkan baby bump. Pun Adrien makin mencinta dan memuja istrinya.
“Dengan kehamilan Isla membuktikan anak ini sangat berbeda denganku.” Ucap Kila kepada Adrien yang sedang menonton film di layar datar
ruang tamu mereka. Di pangkuannya ada Isla sedang membaringkan kepalanya, wanita hamil itu selain makan, bermanja adalah kegiatan favoritnya.
Adrien dengan alis bertaut menatap kakak sepupunya seolah mencari jawaban atas celetukan Kila “Wajah kalian sama, kak.” sahutnya tersenyum miring
Kila menghela napas ringan “Isla berbeda, saat aku mengandung dia, kata Hugo aku mengalami mual parah dan wajah yang pucat pasi. Tapi lihat
istrimu, malah segar bugar tidak ada morning sickness. Makannya juga banyak.”
Isla terkekeh mendengar mamanya berceloteh namun ia tidak menanggapi, perhatian terfokus pada film di televisi.
“Bukannya kakak saat itu sedang amnesia.”
Kila mengangguk “Ya, tapi Hugo Chan bercerita banyak ketika ingatanku mulai pulih. Dia sungguh hebat bisa bersabar dengan wanita hamil yang
tidak mengingatnya.”
“Papa masih di bawah ?” ucap Kila mengingat papanya belum naik dari lantai bawah. Seperti biasa selama 2 jam, pimpinan Navarro Group itu
melakukan conferensi call dengan para jajaran direksi perusahaannya.
Kila berdeham kemudian beranjak dari duduknya “Baiknya aku melihat papamu. Tadi dia mengatakan akan ke pusat kota. Bukannya hari ini
kalian akan bertemu dengan Dokter Jon ?”
Adrien mengedutkan alisnya “Janjinya jam 3 sore, kak.”
“Baiklah, kami berangkat duluan. Kabari saja jika kalian sudah di klinik. Hugo ingin melihat cucunya.” Ucap Kila terkekeh.
Wanita paruh baya yang tetap memancarkan kecantikan abadi itu bergegas meninggalkan Adrien dan Isla.
“Chérie, jangan sampai tertidur.” Ucap Adrien sambil mengusap surai hitam istrinya, sempat ia menangkan Isla menguap lebar.
Wanita hamil itu bergerak bangun dari rebahan malasnya “Kak, boleh tidak Isla makan mie instan ?” ucapnya memasang mata sayu, memelas.
Adrien membulatkan manik birunya “Kau lapar lagi, Chérie ?” ucapnya tidak percaya
Isla menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar “Isla membawa 3 anak, kak. Makanan tadi tidak bisa bertahan lama.” Ucap sang bumil
menggunakan senjata ampuhnya, janin dikandungnya.
“Harus mie instan ? Kakak akan marah jika tahu kalau kau makan mie instan, Chérie.”
Isla merenggut membuat Adrien tidak bisa berkutik. Pria tampan itu lalu berdiri dan menarik tangan istrinya.
“Demi anak-anakku.”
Isla tertawa kecil mengikuti pergerakan langkah pelan suaminya. Selama dirinya mengandung, ia bisa melihat sisi terdalam seorang
Adrien. Pria itu lebih sabar menghadapi Isla, mungkin Adrien banyak belajar dari Hugo.
“Kita harus menanyakan ini kepada Dokter Jon, perihal makan mie instan.” Ucap Adrien mengambil sebungkus mie dari lemari penyimpanan.
“Sebungkus tidak cukup, kak.”
Adrien membeku menatap istrinya, bola matanya melotot hingga manik biru itu terlihat dengan jelas. Isla tergelak tawa.
“Chérie ! Tolong, aku tidak ingin anak-anakku keritingseperti mie instan.”
Isla makin mengeraskan tawanya “Ini bagian
dari fase ngidam, Kak Adrien Dierja Pranaja.”
Mendengar itu Adrien mau tidak mau menambah bungkusan berwarna merah dari lemari, setelah itu mengisi panci masak dengan air. Setidaknya sekarang ia bisa memasakkan sesuatu untuk istrinya, walau itu adalah makanan yang sangat tidak sehat.
“Kak, aku merindukan Kak Iyo.” Gumam Isla memangku dagunya di atas kitchen bar. Tatapan mata tertuju kepada Adrien, namun benaknya sedang mengingat kakak jahilnya itu.
“Bukannya Mareo sedang di New York.”
__ADS_1
Isla mendesah kecewa “Isla pengen dimasakin mie instan sama Kak Iyo.”
Kembali Adrien mematung menatap wajah kekasih hatinya “Ya Tuhan, Isla Bohemia.” Ucapnya kemudian menghela napas panjang. Sekilas Adrien menutup mata kemudian kembali melebarkan maniknya kepada Isla.
“Setelah kau makan, istriku. Aku akan menelepon Mareo untuk datang ke sini.”
…
Suasana villa menjadi semarak, bukan hanya karena kedatangan Mareo namun si kembar pun terbang ke Reykjavik, Islandia. Semua bertepatan
dengan ulang tahun Isla yang ke 20. Tidak ada perayaan istimewa, hanya sebuah kue ulang tahun dan pizza berbagai rasa yang sengaja Adrien pesan dari restoran Italy yang berada tak jauh dari hunian mereka.
Isla meniup lilin setelah mengatupkan kedua tangannya dalam doa singkat, ia hanya meminta tak jauh dari kesehatan janinnya.
“Kado dariku.” Mareo mengulurkan sebuah kotak bergambar kartun. Tidak terlalu besar.
Isla mengerutkan alisnya, ia bisa menangkap raut wajah kakaknya yang sedang tersenyum jahil.
“Bukan sesuatu yang aneh kan, Iyo?”
Sontak Mareo menggelengkan kepala, lesung pipi yang sangat dalam terpampang di wajahnya.
“Buka kak.” Ucap Kai sambil merangkul bahu Mareo “Jika kado Kak Iyo macam-macam, ada aku.”
Isla menatap tajam ke arah Mareo dengan tangan yang sambil membuka kotak kado itu, helaan lega dan terharu dari keluarganya ketika melihat 3 pasang sepatu bayi dengan warna berbeda.
Isla menarik bibirnya kedalam, matanya memburam “Iyo.” Ucapnya lirih. Mareo pun beringsut dari sofa dan menghampiri adiknya, vokalis band tersebut lalu memeluk Isla.
“Aku berdoa mereka selalu sehat dan akan menggantikan posisimu, Ibo. Aku kesepian tidak ada teman yang jahil sepertimu.” Kakak beradik itupun saling berpelukan lama. Bagaimana pun keduanya tumbuh bersama sebagai saudara sekaligus sahabat.
“Aku sayang Iyo.” Gumam kecil Isla mengundang tawa keluarganya.
Kila terkekeh “Jadi kucing dan tikus sudah akur.”
“Kami memang selalu akur kok, mi.” Mareo mengakhiri pelukannya dengan kecupan di kening Isla. Tak lupa ia menyeka air mata adiknya.
Isla mengiyakan dengan anggukan kepala, bumil itu kemudian meraih potongan pizza diikuti adik-adiknya.
“Kai, Sky temani aku jalan-jalan.” Ucap Mareo
Isla mengerucutkan bibirnya “Aku ulang tahun kalian malah meninggalkanku.” Sungutnya tidak terima
“Besok aku akan kembali ke US, Ibo. Maaf. Kapan lagi aku bisa menikmati kota ini jika bukan dari boss besar.” Ucapnya menatap Adrien yang sedang mencebikkan bibir. Pria berusia 44 tahun tapi bertingkah selayaknya mereka sepantaran umur.
“Kami ikut juga.” Kila pun menambahi
Isla makin merenggut “Mama kok ikutan juga, sangat tega.” Gerutunya merajuk
“Ada Rien, kalian juga butuh untuk berduaan juga.” Tambah wanita paruh baya itu, tidak mempedulikan rajukan anak sulungnya.
Adrien mendekati istrinya, Mareo pun beranjak sambil menarik tangan Sky.
“Bersabarlah, Isla Bohemia.” Bujuk Adrien mengusap punggung istrinya.
“Itu resiko menikah muda, Ibo.” Ledek Mareo bergerak cepat meninggalkan area ruang tamu, Isla pun sempat melemparkan pisau plastik kuenya, tentu saja tidak mencapai kecepatan tubuh kakaknya itu .
Perlahan satu persatu orang meninggalkan pasangan suami istri tersebut, hanya sejam kemudian villa mewah tersebut mendadak sunyi.
Isla yang kekenyangan memilih bersandar dengan malas di sofa beledu berwarna navy yang memberikannya kenyamanan sempurna. Sementara Adrien membersihkan meja ruang tamu, membawa peralatan makan kotor, memasukkannya ke dalam dishwasher.
Bunyi bel dari pintu bawah menghentikan pekerjaan Adrien, pria berambut keemasan itu bergerak menuruni tangga. Tak lama kemudian Adrien kembali menghampiri Isla.
“Chérie, ada tamu untukmu.” Ucapnya meraih jemari istrinya
Isla membulatkan mata dengan mengulum bibirnya “Siapa ?”
“Kejutan.” Adrien memeriksa wajah istrinya, Isla nampak cantik seperti biasanya. “Tamunya
ada di depan, katanya cuma sebentar.”
Isla berjalan dalam genggaman tangan suaminya, menapaki tangga. Ketika mencapai lantai dasar, Isla bisa melihat dengan jelas punggung pria yang berdiri di depan villa
“Kak Axel ?” ucapnya menatap wajah Adrien, suaminya tersenyum sambil menganggukkan
kepala.
“Bicaralah dengannya.” Adrien mengecup bibir Isla ringan lalu membiarkan wanita belia itu berjalan mendekati Axel. Setelah melihat Axel menyadari kehadiran Isla, ia pun memutuskan untuk kembali ke lantai atas, meneruskan pekerjaannya.
…
“Kakak Axel seperti hantu.” Gumam Isla mendongak menatap wajah Axel yang tersenyum tipis
“Tante yang memberiku kabar jika kau ada disini, adik Isla. Tapi aku terlebih dulu meminta ijin kepada Adrien, suamimu. Yah, tradisi ini harus terus berjalan, dek. Aku akan terus datang setiap kau berulang tahun.” Ucap Axel lalu menghela napas panjang.
__ADS_1
Isla memasukkan tangannya masuk dalam lengan pria berambut hitam itu “Maafkan aku, Kak Axel.”
Axel menoleh sedikit menatap wajah Isla “Aku sudah memaafkanmu, Adek Isla.” Kekehnya
“Hanya saja aku tidak bisa memaafkan diriku, yang tetap mencintaimu. Namun sekarang aku sudah mulai mengalihkan perasaanku, dari cinta
seorang pria ke wanita menjadi seorang kakak kepada adiknya. Masih belajar.” Sambung Axel
Isla terdiam menatap ombak laut di depannya.
“Oh ya, selamat atas kehamilanmu, Adek Isla.” Ucap Axel mengusap bahu Isla dengan lembut
“3 bulan kak dan 3 janin di dalam.” Isla riang menyampaikan berita baik kepada Axel, pria bermata sipit itu tersenyum lebar
“Sebenarnya aku sudah tahu dari tante. Adik kecil ini sebentar lagi akan jadi mama.” Axel menurunkan tangannya dan merogoh sesuatu
dari saku celana bahannya.
“Selamat ulang tahun Isla Bohemia yang ke 20.” Ucapnya membuka kepalan tangannya. Sebuah kalung dengan liontin giok berwarna hijau di atas
telapaknya.
“Cantik.” Isla mengulum senyuman sambil menyentuh gioknya.
Axel tersenyum tipis “Sepertinya aku tidak pernah memberikan sesuatu yang berharga. Giok ini bermakna keselamatan, pakailah dan para dewa akan selalu bersamamu.”
“Pasangkan untukku, kak.” pinta Isla
Pria bertinggi hampir sama dengan Adrien pun bergerak untuk saling berhadapan, dengan pelan Axel memasangkan kalung giok itu di leher jenjang Isla.
“Kakak percaya, kau akan melahirkan anak-anak yang sehat dengan selamat.” Ucap Axel menganggukkan kepala dengan wajah berseri.
Isla mengembangkan senyuman indahnya “Terima kasih, Kak Axel.” Wanita bersurai hitam itu pun memeluk Axel, pria yang tidak menyiakan
kesempatan untuk mendekap tubuh Isla.
“Isla, menurutmu akankah aku bisa mencintai wanita lain sebesar cintaku kepadamu ?”
Isla menarik napas dalam “Berkaca dari perjalanan hidup Kak Adrien. Ya, suatu hari akan ada yang datang di hidup Kak Axel, wanita
penggantiku. Isla yakin itu, kak.”
Axel mengurai pelukan lalu menatap lekat wajah Isla “Semoga aku mempunyai takdir yang sama dengan Adrien. Jika itu terjadi, aku akan membuatnya bahagia, seperti bahagia yang kau rasakan saat ini, adek Isla.” Ucapnya dengan
lirih. Sangat susah mengatakan mimpi indah akan masa depan pada wanita yang masih memiliki hatinya.
“Dia wanita beruntung, Kak Axel. Siapa pun itu.” Isla berjinjit mengecup pipi Axel.
Adrien hanya bisa mengembuskan napas panjang melihat kemesraan istrinya dan Axel. Pria berambut keemasaan itu sadar dengan apa yang membelenggu Axel, ia pun pernah berada di posisi yang sama. Butuh waktu. Seperti Adrien perlu berpuluh tahun untuk menemukan cinta dalam hidupnya.
Ia tidak akan mempermasalahkan kehadiran Axel di kehidupan mereka, karena Adrien percaya waktulah yang akan menyembuhkan luka.
Adrien tersenyum simpul melihat Axel berjalan sembari menggamit istrinya.
Pria yang malang, kau hanya butuh waktu lebih untuk sembuh.
###
[author mau nanya, andai kalian di posisi Isla, milih Adrien atau Axel ? atau ada yang mau memilih author ? wkwkwkwkk ]
alo kesayangan 💕,
author munculin Axel di sini untuk para fansnya..
wkwkwk.. di sebelah pada ngarep Axel ma Sky sih, kesian Micah 😄
oh yah, author sedang merevisi abang Liam.. demi mendapatkan kontraknya 😁, disuruh benahin - lelah aku, membaca tiap chapter yang hancur itu 😂😂 [heran, masih dikatain bagus novelnya ma readers - kalian cuma memuja]
Di Antara Dia sepertinya tidak akan lama lagi tamat.. 🤘🏻
padahal Shadow ma Sunshine masih kalut ceritanya, hahaha..
udah itu saja !
love,
D 😘
__ADS_1