ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
I Can't Live If Living Is Without You


__ADS_3

Hidup Isla layaknya seperti Cinderella, berakhir pekan dengan pria tampan, kaya raya dan kembali ke kehidupan normalnya ketika Senin di mulai. Kehidupan kampus yang baru menginjak semester 3 dan mulai membosankan baginya.


Isla mendecih, apa karena pengaruh Adrien membuatnya malas untuk melanjutkan perkuliahannya? Sekarang dia lebih tertarik terus berada di dekat kekasihnya, mengikuti kemana saja Adrien pergi.


Bahkan baru berapa jam yang lalu mereka berpisah di halaman kampus, dia sudah merindukan pria dewasa itu.


Isla memejamkan mata sambil mengendus wangi cendana pada bajunya. Wangi parfum Adrien yang menempel saat mereka berpelukan.


Suara bel tanda kuliah berakhir membuatnya tersadar dari lamunan. Hal itu pula Isla melayangkan pandangan kepada teman-temannya yang bersorak dan tergesa beranjak keluar dari ruangan. Kebalikan dengan Isla yang memilih tetap duduk di kursinya, mengutak-atik telepon genggam dan mencoba menghubungi Adrien.


Tidak ! Pria berambut emas itu pasti akan menghubungi duluan jika rapatnya telah usai, tipikal Adrien.


Isla kemudian membuka fitur galeri foto dan memilih album foto yang diberinya simbol hati.


Album foto yang berisi foto-foto Adrien yang diambilnya secara candid, saat kekasihnya makan, tidur dan paling disukainya ketika pria itu bekerja.


Sekarang aku makin merindukannya !


Panggilan masuk dari nomer tak dikenal membuat Isla menghentikan kegiatannya.


"Halo" Isla menjawab panggilan itu sembari memutar matanya


Helaan napas ringan menggelitik telinga Isla


"Sugar, apakah itu kamu ?"


Isla menurunkan ponselnya melihat nomer yang melakukan panggilan, nomer yang mempunyai kode awalan sama dengan nomer Adrien.


"Pierre, bagaimana kamu bisa mendapatkan nomerku ?" Isla bertanya setelah tahu dengan jelas suara yang meneleponnya


Pria itu terkekeh dengan renyah


"Aku bahkan tahu sekarang jika kamu sedang duduk di ruangan dengan menggunakan sweater merah seperti warna suitku kemarin"


Mata Isla membelalak dan melayangkan pandangan ke arah pintu, di sanalah pria yang meneleponnya sedang berdiri menggunakan pakaian serba hitam, Pierre lalu menurunkan masker penutup hidungnya.


Isla menutup telepon dan berjalan menghampiri pria yang melambaikan tangan


"Apa kamu seorang stalker ?" Isla dengan geram membulatkan mata sesaat berdiri di depan Pierre yang terkekeh, pria itu seolah menganggap ini sebuah lelucon.


Pria itu mengedikkan bahunya lalu tersenyum memamerkan gigi taringnya.


"Aku bukan seorang stalker, aku sedang membuktikan ucapanku bahwa kita akan bertemu kembali, Sugar."


"Aku kebalikannya denganmu, tidak ingin bertemu lagi !" Isla mendengus kasar menyalip tubuh Pierre dan berjalan dengan cepat menyusuri selasar timur gedung perkuliahan fakultas teknik


Pierre berlari mengejar Isla dan menyamakan langkah mereka


"Aku baru tiba pagi ini dari Monaco, demi kamu, Sugar."


Isla menghentikan langkah panjangnya dan menatap Pierre yang kembali memasang maskernya.


"Berhenti memanggilku Sugar ! Dan kenapa kamu harus mengenakan masker sialanmu itu! Kamu pikir aku adalah virus ?" ucap Isla meninggikan suaranya


Pierre membuka sedikit maskernya lalu merunduk "Kamu tahu siapa aku bukan? Seluruh gadis di selasar ini akan mengerubungiku, mencakarku, mencubit karena gemas, memeluk begitu tahu Pierre de Hanovre di kampus mereka."


Isla mendecih tak peduli "Kamu terlalu percaya diri." Ucapnya menampik perkataan Pierre yang kemungkinan besar ucapan itu terjadi.


"Kamu mau melihatnya ?" Tantang Pierre sesaat mereka berpapasan dengan rombongan gadis sepantaran Isla


"Tolong jangan membuat keributan di sini." Isla menarik tangan Pierre dengan keras, membawa pembalap itu ke taman kampus.


Pierre tergelak tawa sembari membuka maskernya setelah yakin bahwa hanya mereka berdua di tempat itu.


"Kini aku sangat percaya jika kamu adalah seorang Navarro. Tenagamu bisa menyeretku hingga kesini, sama persis dengan adikmu."


Isla spontan menaikkan wajahnya menatap dalam mata Pierre

__ADS_1


"Kai ?"


Pierre mengulum senyum sambil mengedipkan manik birunya.


"Ya betul sekali, Kai Navarro. Kamu tidak tahu jika kami adalah teman baik? Letak kesalahanmu adalah menyebutkan kata Navarro di belakang namamu, Sugar."


Isla menatap tajam ke arah Pierre "Jadi Kai yang membocorkan semua info tentangku?"


Mata Pierre membulat lalu tertawa kecil "Tentu saja, dari mana menurutmu aku bisa mendapatkan informasi sedetil ini jika bukan dari adikmu sendiri. Kamu tahu, Sugar ? Aku sampai mengecek sosial media Kai semalam, dan tidak menemukan fotomu yang menampakkan wajah. Hanya rambutmu yang hitam di tengah saudaramu yang berbeda. Tapi saat melihat foto mamamu.. kamu persis seperti Nyonya Navarro, sangat cantik." Ucapnya memuja dan menghiraukan raut muka gadis di depannya yang sangat kesal melihatnya


Isla menarik napas panjang, kembali menatap manik biru dan bibir merah Pierre. Pembalap tertampan menurut semua media.


"Aku tidak tertarik denganmu, bahkan jika kamu mengejarku seperti ini hingga mendatangi kampusku di sela jadwalmu yang padat. Tolong berhentilah melakukan hal gila seperti ini ! Aku tidak akan luluh Tuan de Hanovre! Aku mencintai kekasihku, sangat. Kami sudah bertunangan, ini hanya soal waktu saja..."


Pierre menelengkan kepala lalu memegang kedua bahu Isla dengan lembut


"Terserah aku jika mau mendatangimu, Nona Navarro. Kamu tidak berhak melarangku, Sugar. Entah kamu mau menemui atau tidak itu baru urusanmu. Aku seorang pembalap, jika sudah mempunyai target aku harus mendapatkannya. Bahkan mati pun aku tidak takut, Sugar. Apalagi hanya sebuah ancaman. Oh yah, Kai mengatakan jika kamu tidak mempunyai pacar, itu berarti keluargamu belum tahu jika anak gadisnya sedang berpacaran dengan pria yang mempunyai umur lebih dua kali lipat dengannya. Sampai di sini kamu mengerti sayang ? Hubungan kalian tidak akan bertahan lama, percayalah. Suatu hari kamu akan sadar jika yang kamu rasakan sekarang hanya sebuah kegilaan akan cinta pertama, cinta yang buta."


Mata Isla memburam dengan hati yang sangat sakit mendengar perkataan Pierre.


"Semua orang pernah merasakan cinta pertama, dan kebanyakan mereka tidak berakhir bahagia. Apakah kamu bisa mempertahankan perasaanmu yang sekarang? Di saat usiamu masih sedang labil-labilnya. Apakah kamu yakin bahwa cinta yang kamu rasakan sangat besar hingga bisa diperjuangkan? Aku pesimis! Kamu masih terlalu muda untuk bertunangan apalagi menikah. Bahkan jika pria yang kamu pacari adalah seorang yang sangat kaya raya. Apa kamu yakin cintanya juga sebesar cintamu kepadanya? Apakah pernah kamu mau tahu seperti apa hidupnya sebelum memacarimu? Aku yakin hidup seorang Adrien penuh dosa untuk berada di posisinya sekarang."


"Hentikan !!" Pekik Isla terduduk di atas rerumputan lalu menangis tersedu, seluruh badannya seolah kehilangan daya


"Mon amour... " Pierre berjongkok di depan Isla, sebuah senyum tipis di bibirnya melihat kesedihan gadis berambut hitam itu. Di trek balapan Pierre terkenal manipulatif kepada pembalap lain, hal kecil baginya memanipulasi seorang gadis berusia seperti Isla.


Isla juga tidak tahu jika Pierre hanya selisih 7 angka dari tes IQ seorang Adrien, ya.. keduanya genius di bidang yang berbeda.


"Kenapa kamu melakukan ini ?" Isla menaikkan wajahnya yang memerah menatap Pierre.


Mata pria itu membulat lalu menghela napas panjang


"Well... Aku tidak ingin kamu terluka lebih jauh, Adrien pamanmu bukan ?" Pierre kembali menggelengkan kepala sambil mengembuskan napas panjang


"Kamu masih muda, nikmati masa itu.. Jalani kehidupan kampusmu, berteman dengan sepantaranmu. Menonton, membolos, liburan ramai-ramai. Lakukan semua itu. Berpacaranlah dengan pria yang berusia normal..."


"Aku dengan senang hati jika kamu mau memilihku.. Tapi untuk sekarang sepertinya masih mustahil. Aku ingin kita berteman, jika kamu membutuhkan teman.. telepon aku, asal jangan di saat aku sedang balapan. Pastinya ponsel masih di tangan asisten pribadiku."


Gadis berambut hitam itu memeluk lututnya sambil tertunduk tak menjawab.


"Isla... Maafkan aku jika perkataanku tadi melukaimu.." ucap Pierre lembut, entah kenapa semua perkataan jahat pria itu menguap entah kemana di hati Isla setelah mendengar permintaan maafnya.


Pierre melirik jam tangannya kemudian kembali tersenyum simpul.


"Sepertinya pertemuan kita hari ini sampai di sini. Aku akan berangkat ke Kanada, siapa tahu kamu ingin menontonku balapan lagi? Tapi jangan membawa pria tua itu dan aku akan memberimu kartu all acces.. oh iya, aku lupa.. kamu anak Navarro Team." Pierre tertawa dengan wajah memerah


Isla hanya mendesah kemudian mencebikkan bibirnya.


"Belajarlah mencintai penuh perasaan namun membawa serta logikamu juga, gadis cantik yang memakai sweater warna favoritku." Pierre berdiri lalu menarik tangan Isla mengikutinya.


"Sampai ketemu, oh yah jangan berani memblok nomerku jika kamu tidak ingin aku datangi seperti ini lagi." Ucap Pierre menundukkan badan tingginya menatap wajah Isla dalam dan kembali memamerkan gigi taringnya


Pria bermanik biru itu terlihat memasang maskernya lalu membalikkan badan dan berlari dengan kaki lincahnya meninggalkan Isla, sekitar 200 meter Pierre berhenti menoleh sembari melambaikan tangannya.


...


Adrien sedikit bingung melihat perilaku Isla yang berbeda sejak menjemputnya di kampus, kekasihnya itu lebih banyak berdiam diri. Sekarang pun Isla nampak menatap kosong ke arah televisi yang menampilkan acara reality show favorit gadis itu.


"Sesuatu mengganggumu Chérie ?" Adrien mendudukkan tubuhnya di sebelah kekasihnya.


Isla sontak menautkan tangan di lengan kokoh Adrien sambil menyandarkan kepalanya.


"Kak.. yang mana dikatakan cinta menggunakan perasaan dan logika?"


Adrien mengecup puncak kepala Isla "Kenapa kamu menanyakan hal seperti itu Chérie?" Tanya Adrien balik


Isla menegapkan badannya memandang ke arah Adrien dengan wajahnya yang sendu.

__ADS_1


"Katanya aku mencintai kakak hanya pakai perasaan, tidak pakai logika. Cinta pertama yang menggebu-gebu, nanti juga akan hilang." Air mata Isla jatuh bersamaan saat menyudahi perkataannya


"Aku mencintai kamu kak, sangat cinta... Memikirkan berpisah denganmu hatiku sangat sakit, aku tidak bisa hidup tanpamu." Isla tersedu membenamkan wajahnya dalam dada Adrien.


Adrien memejamkan matanya sesaat lalu menarik tubuh Isla hingga tak ada celah di antara mereka.


"Yang kamu rasakan, sama seperti yang aku rasakan Isla... Aku sangat mencintaimu, hingga dadaku nyeri karena perasaan itu sendiri. Jangan pernah memikirkan kita berpisah.. tidak.. kita tidak akan terpisah." Adrien membelai punggung Isla dengan lembut


Isla makin tersedu dengan perkataan Adrien, dia tak berani mengatakan jika hatinya sedang dilanda kekalutan akan perkataan pria yang mereka temui kemarin di Monte Carlo.


"Chérie... aku tidak tahu kamu habis mendengarkan siapa, tapi tolong percaya aku saja, jangan dengarkan perkataan orang lain."


"Apa betul kakak mencintaiku sebesar aku mencintai kakak?" Isla mengurai pelukan dan memandang wajah Adrien


"Lebih.. aku mencintaimu melebihi perasaanmu kepadaku." Adrien menatap dengan matanya yang meredup


Isla menghela napas panjang, mengigit bibir bawahnya


"Aku tidak masalah dengan usia mudaku yang aku habiskan dengan kakak. Jujur.. sejak kita dekat, aku mulai malas ke kampus dan berteman dengan sepantaranku. Aku cuma ingin bersama kakak saja. Apakah keinginan seperti itu telah membutakan logikaku? Sekarang cita-citaku pun telah menghilang begitu saja.."


Adrien mengusap sisa air mata kekasihnya, dia sadar jika pola pikir mereka berbeda. Kadang Adrien membimbing Isla untuk berpikir dewasa, namun kadang pula dia yang ikut dengan pikiran dan jiwa muda kekasihnya.


"Isla, kamu mau ikut denganku kemana saja aku pergi ?" tanya Adrien


Gadis berambut hitam itu menganggukkan kepala sambil menarik bibirnya ke dalam tak lupa dengan matanya yang menyayu.


"Baiklah.. mulai sekarang ikutlah denganku.."


Raut wajah Isla berseri dengan mata membulat riang "Sungguh ?"


Adrien menganggukkan kepala sambil tersenyum lebar "Iya. Di mana ada aku, di situ ada Isla. Kecuali di kamar mandi."


Isla terkekeh dengan wajah memerah "Jangan berpikir macam-macam kak." Bibir gadisnya dimajukan membuat Adrien secepat kilat menciumnya


"Kamu mungkin yang berpikir macam-macam, Chérie." Sambung Adrien masih menyapu bibir tipis kekasihnya.


Adrien menangkup wajah gadisnya sesaat menyudahi pagutan manis mereka.


"Isla... Aku mencintaimu.. sejak awal akulah yang ingin selalu berada di dekatmu, jika kamu ingin menyerah terhadap bangku kuliah berarti kamu dan aku sudah siap menghadapi keluarga besar kita. Tolong jangan pernah lepaskan aku, karena aku tidak akan pernah melepaskanmu.. selama aku masih hidup."


...


Minorca, Spanyol


Kila berjalan tergesa menuju bibir pantai di mana dari kejauhan dia melihat punggung suaminya yang sedang duduk santai menyaksikan kedua anak kembarnya sedang berenang di laut.


"Schatzi..." Panggil Kila dengan suara agak tinggi, pria berambut putih tak lain suaminya langsung berdiri menyambutnya


"Ada apa ?" Tanya Hugo menangkap sesuatu yang tidak beres dari raut wajah istrinya


Kila langsung menyodorkan ponselnya kepada Hugo


"Anakmu berpacaran dengan Adrien!"


###


Team Adrien, yang katanya Adrien cakepnya kemana-mana, aku kasih yang bare face..



Team Pierre, gimana ? bisa dirivalkan dengan paman Rien ? oh yah,, para pembalap F1 dan Motogp itu mempunyai IQ tinggi.. kecepatan berpikirnya sangat tinggi..



Team Kai - sepertinya bakal ada yang dapat tampolan dari kakak Ibo nih 😂


__ADS_1


__ADS_2