ALL YOU NEED IS LOVE

ALL YOU NEED IS LOVE
Love Is Blind


__ADS_3

"Kak, bagaimana dengan penampilanku ?" Isla memamerkan halter dress hitam sambil berputar dengan wajah berbinar riang.


Adrien melangkahkan kaki mendekat lalu menangkup kedua pipi kekasih belianya yang begitu kecil di tangannya besar.


"Cantik... Paling cantik, di sini." Adrien lembut lalu menyentuh dadanya. Isla terkekeh merona


"Kakak pintar gombal... " Isla memeluk tubuh pria tinggi berotot yang menggunakan suit hitam senada dengan dressnya.


"Aku tidak menggombalmu Ma Chèrie.. Kamu memang cantik, selamanya akan begitu." Adrien menghirup wangi kayu manis dari tubuh Isla. Wangi yang selalu menemaninya sepanjang malam, tubuh gadisnya dalam dekapan.


Isla tidak pendek dan tidak terlalu tinggi, ia sempurna seolah gadis ini memang tercipta untuk tubuhnya.


"Kak.. kenapa kita harus pakai baju hitam-hitam dan sangat formal, padahal cuma mau nonton balap." Isla melepaskan pelukan menatap penampilan pria di depannya yang sangat menawan, bahkan Adrien telah menjadi miliknya pun tetap membuatnya berdebar kencang.


Hingga sekarang Isla masih terus bertanya dalam hati; bagaimana bisa pria sesempurna Adrien memilihnya, di antara jutaan wanita mengantri demi berkencan pria termuda yang berada di Top Ten Richest Man in The World.


"Karena kita akan menjadi sorotan Isla. Dan aku sudah lama tidak menghadiri acara seperti ini, tapi karena sekarang karena sudah mempunyai kekasih dan kekasihku itu suka balapan, hal yang memacu adrenalin... jadi kamu aku bawa kesini. Kalau cuma nonton di tribun biasa cukup pakai celana pendek dan t-shirt Chèrie. Tapi tunanganmu ini adalah publik figur, kita juga akan bertemu dengan keluarga kerajaan Monaco, basa-basi biasa saja sebagai formalitas." Jelas Adrien menggamit tangan Isla berjalan keluar dari suite mereka.


Isla mendongak mengamati wajah Adrien, mencari ketenangan dengan perasaan khawatir yang melandanya.


"Takut ?" Tanya Adrien menoleh ke arah kekasihnya, pria tampan itu tahu jika Isla merasakan gugup.


Isla mengangguk sambil menggigit bibir merahnya


"Chèrie." Adrien menghentikan langkah sebelum mencapai pintu suite, dia memegang kedua bahu Isla sambil merunduk menatap Isla hingga mata mereka saling beradu.


"Aku tahu kamu masih sangat muda Isla, percintaan yang kamu jalani mestinya seperti para remaja pada umumnya, tapi kamu berbeda... kamu bertemu denganku dan ini akan menjadi kehidupanmu seterusnya, menjadi sorot perhatian orang dan media. Bertemu dengan orang-orang penting, karena aku tidak ingin akan menyimpanmu atau menyembunyikanmu. Aku ingin memperlihatkan kepada dunia seperti apa yang wanita menemaniku agar mereka semua tahu jika aku telah memiliki seorang pendamping."


Isla mengangguk pelan, dia mengerti dengan jelas penuturan panjang Adrien. Pria yang mengukir senyuman indah yang berjarak tak lebih 20 centimeter dari wajahnya.


"Tenang saja Chèrie, aku tidak akan meninggalkanmu dengan orang-orang tersebut nanti. Aku selalu di sampingmu." Janji Adrien lalu mengecup bibir Isla ringan sebelum kembali menegakkan badan.


...



Demi menghadiri undangan panitia ajang balap mobil paling bergengsi di dunia yang tak lain Grand Prix Formula 1 di Monte Carlo, Monaco. Adrien membeli yacht seharga 12 juta euro, dan mengambil tempat berdampingan dengan kapal mewah milik para selebriti dunia.


Adrien tidak mengundang siapa pun ke yachtnya, selain nakhoda dan para pelayan yang ikut bersama dengan mereka. Adrien menginginkan quality time dengan kekasihnya, menghabiskan hari Minggu bersama dengan Isla yang sekarang begitu antusias menonton mobil balap Formula Satu melintasi rute di depan mereka. Isla mengabaikan keriuhan yacht kanan dan kiri yang dipenuhi oleh para muda dan terkenal dan sedang berpesta diiringi musik DJ menghentak.


"Yang memimpin itu terus kak.." Isla menggerakkan kepala sedikit beradu pandang dengan pria yang memangkunya. Sangat mesra.


"Kamu dukung yang mana Chèrie ?" Adrien mengeratkan tangannya pada pinggang Isla


"Merah.. aku suka warna merah."


Adrien tergelak tawa "Chèrie, mobil pabrikan Hugo -papamu itulah berada di urutan pertama. Kenapa kamu mendukung pembalap di belakangnya ?"


"Karena ia terlalu hebat.. setahu Isla ia pemimpin klasemen poin sekarang. Walau Isla tidak pernah dibawa ke ajang balap seperti ini, tapi tahu semua dari berita. Papa pun sejak awal tidak mengurusi hal seperti ini, hanya meneruskan apa yang grandpa lakukan. Tentu saja ini hanya kepentingan promosi."


Adrien menarik senyuman simpul mendengar perkataan kekasihnya.


Membawa Isla ke tempat ini adalah cara Adrien memperlihatkan kepada kedua orang tua kekasihnya, dia ingin melihat respon Hugo dan Kila. Adrien yang tahu jika akan mendapatkan sorotan media -pria terkaya di Perancis menghadiri event yang telah lama tak disambanginya dan datang bersama dengan seorang gadis, yaitu anak pemilik pabrikan mobil pemimpin klasemen.


Media akan sangat menyukai berita mereka, Adrien siap dengan apa yang terjadi keesokan hari. Selama cinta Isla sebesar ini kepadanya.

__ADS_1


"Last lap Kak." Isla berdiri dari pangkuan Adrien sembari menarik tangan kekasihnya untuk mendekat ke bahu yacht. Pria bersuit hitam kemudian memeluk gadisnya dari belakang.


Riuh gemuruh para penumpang yacht di samping mereka pun ikut menanti siapa pemenang balapan hari ini. Isla menaikkan kepalanya menatap wajah Adrien yang serius, wibawanya sangat terpancar ketika perhatian terfokus kepada sesuatu. Sangat tampan.


"Hei selamat Chèrie, team Hugo menang." Adrien terkekeh menundukkan kepala dan melihat bola mata Isla terpaku memandangnya.


"Kamu bahkan tidak melihat siapa pemenangnya, malah memandangiku seperti ini." Sambung Adrien mengecup pipi kekasihnya


"Aku sedang memandang pemenang hatiku." Sanjung Isla lalu memamerkan barisan giginya


Adrien sampai memegang dadanya lalu menelengkan kepalanya, takjub.


"Aku mencintaimu, Isla."


Ketika sebagian besar menyambut para pemenang lomba, berbeda dengan dua sejoli yang berbeda usia. Isla dan Adrien saling memagut dengan penuh perasaan cinta. Tak jauh dari tempat itu, Khaleesi melihat perbuatan mantan suaminya dengan kekasih kecilnya. Khaleesi sangat geram dan entah kenapa dia sangat cemburu.


...


Balapan telah usai, namun pesta yang sebenarnya bagi para kalangan jet set baru saja di mulai. Mengambil tempat di ballroom hotel berbintang terdekat dari venue balapan, para kaum elit berkumpul bermoduskan charity party yang sebenarnya ajang pamer kekayaan, pasangan, sembari menyesap anggur dan wine puluhan hingga ratusan tahun yang lalu.


Berbeda dengan Adrien yang tidak perlu membanggakan dengan apa yang dimilikinya, malah para kaum elit itu justrunya yang berebutan meminta perhatiannya. Apa yang dimiliki para elit itu tak sebanding dengan yang dimiliki Adrien, namun dia memilih lebih bersahaja mengobrol dengan para kenalannya. Tentu saja Isla berada dalam gamitan tangannya, dikenalkan kepada semua orang yang mengajak Adrien mengobrol ringan.


Isla pun telah diperkenalkan kepada anggota keluarga kerajaan Monaco yang ternyata adalah teman baik kekasihnya. Hampir semua orang di ballroom mengenal Adrien, dan kebanyakan mengatakan ucapan selamat atas kembalinya raja pesta yang tak lain pria yang tak melepaskan tangannya dari tubuh Isla.


"Mr. Adrien..." Sapa dua orang wanita yang mendekat ke arah Adrien. Satunya berusia pertengahan 20 dan satunya berusia awal 30 tahun, kedua wanita yang memamerkan keseksian tubuh dengan potongan leher rendah di bagian depan dressnya.


Wanita berusia 30 tahun dengan dress berwarna hijau bahan satin menjulurkan map tebal yang kemudian Adrien buka, membacanya sekilas yang intinya adalah permintaan donasi ke Timur Tengah, daerah pengungsi perang.


Adrien yang telah mempersiapkan dengan membawa buku ceknya kemudian mengambil dompet panjang daei saku celananya lalu menuliskan angka sebesar satu juta euro di kertas putih itu.


"Chèrie, kamu yang tanda tangan." Adrien memberikan buku ceknya kepada Isla.


Isla pun melakukan sesuai permintaan kekasihnya walau tangannya agak gemetar karena dia baru saja mendonasikan uang yang sangat banyak melalui rekening Adrien.


"Terima kasih Mr. Adrien, semoga Tuhan membalas kebaikan Tuan hari ini." Ucap wanita berusia pertengahan 20 tahun yang memamerkan senyuman menggodanya.


Adrien hanya menyunggingkan senyuman tipis kemudian menganggukkan kepala.


"Terima kasih nona-nona, saya dan kekasihKU masih akan menyapa tamu lainnya." Adrien sengaja menekankan kepemilikan gadis di genggamannya agar kedua wanita seksi itu mengerti akan posisi yang tak lebih dari bagian panitia pesta dan Adrien sama sekali tidak berminat melakukan hal lebih jauh kepada mereka.


Sukses mengusir secara halus kedua wanita itu, dan Adrien pun menuntun Isla ke balkon hotel yang mengarah ke pemandangan laut Monte Carlo yang indah.


"Bisakah kamu menungguku di sini, Chèrie. Aku ke toilet sebentar, membawamu kesini agar kamu tidak kebingungan di tengah para tamu yang tidak kamu kenal sayang." Adrien menangkup wajah Isla lalu mengecup ringan bibir kekasih seusai gadis itu menganggukkan kepala.


"Aku akan kembali." Janji Adrien sambil melangkahkan kakinya menuju toilet terdekat yang berada di ballroom tersebut.


Sepeninggal kekasihnya, Isla memilih untuk menikmati pemandangan laut biru beserta udara hangat yang menerpa wajahnya.


"Akhirnya sang bodyguard meninggalkanmu, Sugar." Sapa seorang pria bersuit warna paling terang dan menyolok mata namun terlihat sangat sempurna di tubuh tingginya.


"Ia bukan bodyguardku" sanggah Isla mendengus pelan pada pria yang berdiri di sebelahnya


Pria itu tertawa kecil "Ya.. semua orang di Perancis juga tahu jika Mr. Adrien bukan seorang bodyguard. Aku hanya memakai julukan itu karena Adrien tidak pernah melepaskan sedetik pun wanita secantik kamu. Ia sangat tahu jika dilepaskan sesaat saja dan pria-pria seperti aku akan mendekat seperti hembusan angin yang membelai rambutmu." Ucap pria itu menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah Isla.


"Hei..!" Protes Isla dengan tindakan lancang pria yang mempunyai tanda unik di pipinya

__ADS_1


"Salahku... Aku tidak bisa menahan diri melihat rambut indah menutupi wajahmu yang ingin kupandangi." Pria berkulit putih itu tertawa kecil memamerkan gigi sebelah kanan mempunyai taring yang tajam.


"Seharusnya kamu menghadiri pesta dengan teammu, bukannya di sini." Ucap Isla sambil meneguk coktail di tangannya.


Pria itu tertawa kecil lalu melirik gadis berambut hitam yang menjadi perhatiannya sejak berada di podium berapa jam yang lalu.


"Jadi kamu mengenalku ?"


Isla mendecih mendongakkan tatapannya sekilas menatap wajah Pierre de Hanovre pria yang finish kedua di balapan tadi, pria yang menggunakan suit sewarna dengan mobilnya.


"Tentu saja." Singkat Isla menjawab pertanyaan Pierre, pembalap termuda yang memenangi beberapa seri balapan.


"Syukurlah kalau kamu tahu, jadi aku tidak perlu memperkenalkan diriku lagi. Aku di sini karena pamanku meminta untuk hadir. Kamu tahu kan siapa yang aku maksud?" Pierre berbalik dan menunjuk ke arah pria paruh baya yang menggunakan suit berwarna biru sedang berbincang dengan koleganya.


"Oh..." Bibir Isla membulat dengan O panjang. Baru saja pria itu mengaku jika ia termasuk dalam anggota keluarga kerajaan yang membuat Isla akhirnya tahu bahwa Pierre bukan hanya sekadar seorang pembalap namun melebihi itu.


Pierre tergelak tawa ringan memandang ekspresi Isla yang sangat menggemaskan "Dan kamu adalah siapa ? Aku akui jika selera Mr. Adrien sama denganku. Berapa umurmu, Sugar ? Tidakkah kamu terlalu muda untuk pria itu. Apakah motifmu sama dengan wanita lain, mendekati hanya demi harta. Walau aku tidak sekaya Adrien, setidaknya aku lebih muda." Pierre terdengar lancang namun dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memanipulasi gadis di sampingnya.


Isla dengan mata berkilat membalikkan badan dan berhadapan dengan pria yang berusia 4 tahun di atasnya.


"Jangan memanggilku Sugar ! Aku tidak tertarik denganmu Tuan Pembalap. Memangnya kenapa jika aku muda dan mau dengan pria yang jauh umurnya diatasku. Bukannya cinta itu buta.. "


Pierre tertawa sinis, meledek ucapan Isla. Bola mata birunya menari seolah mendapatkan kebahagiaan dengan ucapan terus terang gadis di depannya


"Love is blind, Sugar. Tapi masih bisa melihat harta. Usiamu sangat labil jadi dengan gampangnya tergoda gelimang kekayaan yang dimiliki oleh Adrien. By the way kamu cantik, kamu ibarat mutiara yang ditemukan di laut terdalam Asia. Sadarkah kamu jika sedang menggadaikan cintamu, Sugar ?" Lanjut Pierre menyerang pertahanan Isla.


Gadis berdress hitam itu pun menaikkan bibirnya sebelah kanan, mencibir. Dia tak menyangka jika profil pembalap yang digadang-gadang akan bersinar di ajang bergengsi ini malah mempunyai sifat yang sangat menjengkelkan.


"Orang tuaku masih sangat bisa membiayai hidupku dan aku tidak sedang menggadaikan cinta. Apa yang aku rasakan adalah perasaan yang murni. Sial ! Kenapa aku harus menjelaskan kepadamu." ucap Isla sambil mendesis kesal


Wangi cendana membuat Isla berbalik ke arah dalam ballroom, kekasihnya berdiri tak jauh dari tempatnya yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang. Hal itu pula yang menghalangi Adrien untuk menghampiri Isla, padahal cemburu telah merajai hatinya.


"Pierre de Hanovre, senang bertemu denganmu.." Isla mengulurkan tangannya dan disambut bukan sebuah jabatan seperti yang dipikirkan, melainkan kecupan di punggung tangan sapaan khas seorang playboy yang sedang berburu.


"Isla Bohemia Navarro.. Navarro Team yang menjadi rivalmu di balapan, aku adalah cucu pertama dari Eric Navarro." Lanjut Isla setelah jemarinya lepas dari jemari Pierre. Pria yang terlihat sangat kaget akan ucapan Isla.


"Semoga kita tidak bertemu lagi." Sambung Isla menatap wajah Pierre sesaat lalu membalikkan badan dan melangkahkan kaki ke tempat Adrien.


"Kak... " Isla merajuk begitu dirinya menghampiri Adrien yang telah meloloskan diri dari tiga orang yang merupakan kaum jet set berasal dari negara pizza.


"Chèrie... Apakah ia menganggumu?" Tanya Adrien ketika kekasihnya masuk ke dalam dekapan sambil melayangkan pandangan kepada Pierre.


"Kak... Bisakah kita pulang lebih cepat?" Isla memeluk erat Adrien tanpa mempedulikan sikapnya yang terkesan sangat manja.


Adrien mengangkat wajah Isla dan memandanginya dalam "Apakah ini terlalu berat untukmu Chèrie ? Kamu bosan ? Jika kamu sudah tidak nyaman, kita bisa duluan pulang. Sebagai gantinya kita berjalan-jalan di Larvotto Beach saja, mau berenang ?" Bujuk Adrien lembut menyusuri rambut kekasihnya


Isla menggangguk kecil lalu berjinjit menyatukan bibirnya dengan bibir Adrien. Ciuman panas yang disaksikan pria muda bersuit merah.


"Kita akan bertemu lagi Nona Navarro." Gumamnya sambil tersenyum miring.


###


TeamAdrien


__ADS_1


TeamPierre ?



__ADS_2