
"Selamat datang !" Seru Mareo sesaat Isla membuka pintu apartemen, tubuhnya yang sedikit lelah karena jam perkuliahan panjang pun hilang setelah pandangan matanya terpaku pada sosok berambut putih yang duduk di sofa sedang bermain game dengan Mareo.
"Alpheratz Kai Navarro ! Suara Isla meninggi langsung menaruh begitu saja tasnya di lantai dan melangkah lebar ke arah adik laki-lakinya.
Mengetahui dirinya menjadi target, Kai dengan buru-buru berdiri mengambil posisi aman di balik kursi.
"Kamu habis berkelahi dengan siapa ?" Geram Isla. Dia sangat hapal akan kebiasaan adiknya itu, sehabis berkelahi atau dengan kata lain memukuli seseorang atau banyak orang, Kai akan datang ke apartemen. Menghindari omelan mama.
"Tidak ! Aku tidak berkelahi Kaka Isla Bohemia Navarro ."
Isla mendesis dengan mata tajam menatap Kai
"Jika kamu tidak berkelahi, kenapa menjauh seperti itu." Isla menyelesaikan ucapannya dan berlari ke sebelah sofa namun dengan cepat Kai menghindar, berlari ke arah dapur.
"Aku hanya membela diri Kaka Ibo ! Kak Reo, tolong aku !" Teriak Kai meminta pertolongan kepada Mareo yang sedang asyik merekam aksi kedua bersaudara itu.
"Kali ini siapa yang kamu jadikan korban ? Umur masih 17 tahun tapi kerjaannya cuma adu jotos, memangnya kamu mau jadi preman? Mafia ?"
Kai tertawa kecil mendengar celotehan kakak kesayangannya. Daripada mendengar mama berkhotbah sepanjang malam, Kai lebih memilih melarikan diri ke apartemen Isla.
"Mama kita mafia tau kak ! Wajar jika ada satu anaknya mewarisi Black Panther ." Ungkap jujur Kai mengingat papa mereka lebih berkutat dengan perusahaan, sementara Kila setiap seminggu sekali memenuhi rumah dengan pria-pria berjas hitam.
Isla melompati lincah island table yang memisahkan antara kedua bersaudara itu, dengan sigap gadis bertinggi 174 cm menjegal tubuh remaja laki-laki bertinggi 188 cm hingga terjatuh ke lantai kayu.
"Jangan jadi sok jagoan, tidak ada superhero memukul yang lemah. Cari lawan yang sepadan." Ucap Isla mengungkungi badan adiknya "syukur tidak ada yang luka" lanjutnya mengamati pipi Kai kiri dan kanan
"Ada kak, di sini ." Rengek Kai manja menunjuk bagian kepalanya
"Mana ?" Isla mendekat menurunkan pandangannya mengamati bagian yang ditunjukkan adiknya.
Cup !
Kecupan basah mendarat di pipi Isla dari remaja berambut putih
"Dasar !" Isla mencubit pipi Kai dengan gemas, adiknya itu hanya tertawa lalu dengan tangan besarnya memeluk pinggang Isla.
"I love you Kaka Ibo."
"Love you too Kai ." Isla berdiri kemudian menarik tangan adiknya untuk bangun akibat perbuatannya merobohkan remaja itu.
"Temani aku main game kak." Kai merangkul bahu Isla kembali berjalan ke sofa kebanggaan Mareo.
"Kamu sudah makan ?" Tanya Isla menatap biru mata Kai yang kadang membuatnya iri. Kenapa dia terlahir berwajah Asia, sementara kedua adik kembarnya mewarisi gen terbaik keluarga Navarro.
Kai menggelengkan kepala dengan raut wajah memelas.
"Iyo, masakin mie instan donk, masukin sayur yang banyak biar vitaminnya seimbang." Rajuk Isla mengarahkan pandangannya kepada Mareo yang sedang asyik dengan ponsel canggihnya.
"Sejak kapan mie instan punya vitamin... Ibo, aku tantang kamu teriak seperti itu di depan ayah, minta mie instan." Ucap Mareo terbahak tawa, hal paling terlarang oleh ayah yaitu mie instan. Radit tidak pernah memberikan mie instan kepada Mareo dan Isla, peraturan tersebut berlaku di dalam rumah tapi saat di luar keduanya menyantap dengan nikmat makanan favorit orang Indonesia kebanyakan.
Setelah mengirimkan video perkelahian manis dua bersaudara ke sosial medianya, Mareo beranjak ke dapur memenuhi permintaan Isla.
"Jika orang lain melihat kalian, pasti tidak akan ada yang percaya jika kamu dan Kai bersaudara." Mareo terkekeh melihat keakraban dua bersaudara yang mana Kai duduk di sofa sementara Isla duduk di karpet di antara kedua paha adiknya. Kai menurunkan dagunya menyentuh puncak kepala Isla, sementara kedua tangan bertumpu pada bahu kakaknya itu.
"Memang tidak ada yang percaya, soalnya perbedaan kami jauh sekali. Aku anak papa dan mama, sementara Kai dan Sky mungut di pantai depan rumah." Sahut Isla ringan.
"Kakakk !" Erang Kai manja, bukan cuma sekali ini saja Isla menceritakan omong kosong itu
"Jadi dulu tuh, aku lagi main di pantai terus tiba-tiba ada box bayi yang hanyut. Papa langsung ambil box itu, eh ternyata isinya dua bayi berambut putih, matanya biru. Karena kasihan, papa mengadopsi kedua anak bayi kembar yang kemudian diberi nama Kai dan Sky." Isla terbahak tawa usai mengucapkan cerita karangan favoritnya yang pernah membuat Kai dan Sky menangis seharian saat kedua adik kembarnya berusia 7 tahun.
Kai memilih mencium pipi Isla bertubi-tubi ketimbang membalas dengan perkataan kakak tercintanya yang berwajah mirip dengan mama mereka.
"Geli tau ." Ucap Isla mendorong kepala adiknya menjauh.
Beranjak dewasa Kai malah semakin dekat dengan Isla. Mungkin ini disebabkan Sky yang mulai sibuk dengan berbagai les termasuk les kepribadian, les modelling dimana kembaran Kai bercita-cita melenggang indah diatas catwalk. Hal yang sangat bertolak belakang dengan jiwa Kai. Sky sebenarnya sudah dapat kontrak oleh salah satu agensi ternama di Milan, namun Hugo menolak keras karena Ia menginginkan semua anaknya harus menyelesaikan sekolah menengah terlebih dahulu baru diperbolehkan mengejar impian masing-masing.
Mareo kembali mengambil foto Isla dan Kai yang sedang asyik bermain game, foto tersebut kemudian dikirimkannya kepada donatur tunggal bandnya, yang tak lain Adrien Pranaja
Mareo
Sejenak melupakan kakak, Isla sedang berpacaran dengan remaja berusia 17 tahun.
Mareo tertawa kecil usai mengirimkan pesan ke Adrien.
__ADS_1
"Nih mie instannya." Mareo meletakkan semangkuk besar mie instan yang berisi selada, tomat, kubis, bakso dan sosis tak lupa dengan keju mozarellanya.
Spontan kedua bersaudara itu meletakkan stik gamenya.
"Ibo, kamu tidak mengecek ponselmu ?" Tanya Mareo membuat Isla mengurungkan niatnya meraih piring kosong.
Isla beranjak menuju tempat tasnya yang tadi ditaruh dengan asal, dia pun merogoh totebag berwarna merah mencari ponsel pintarnya. Di saat bersamaan layar 5.8 inch itu menyala dan menampilkan panggilan masuk dari Adrien.
Setengah berlari Isla masuk ke dalam kamar tidur, menjauh dari telinga kedua saudara laki-lakinya.
"Halo kak " Isla mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur sambil menggenggam ponselnya
"Hai Isla, sedang apa ?" Suara Adrien berat terdengar lelah
"Tadi main game dengan Kai, sekarang mau makan."
Entah kenapa bahkan hanya suara Adrien sukses membuatnya bergerak tak nyaman, mengimbangi debaran jantungnya yang tak karuan
"Bisa bertemu sekarang ? Menemaniku makan malam ."
"Sekarang ?"
Adrien berdeham di seberang sana
"Aku akan menjemputmu 30 menit lagi. Gunakan pakaian yang membuatmu nyaman. Kamu yang tentukan tempat makan malam kita."
Usai memutuskan panggilan Isla bergegas masuk ke dalam kamar mandi, dia sadar jika badannya lengket akibat seharian beraktifitas di kampus.
...
Adrien melihat Isla berjalan mendekat ke arahnya, gadis belia yang terlihat sangat cantik dengan dress merah bermotif floral sepaha dipadukan dengan jaket leather berwarna hitam, chunky heels dan tak lupa sling bag berwarna senada.
"Cantik." Gumam Adrien menaikkan tubuhnya yang semula bersandar pada mobil mewahnya.
"Hai kak ." Senyum Isla mengembang indah membuat Adrien bergerak maju dan memeluk tubuh gadis itu.
"Pangeran dari mana yang hendak kamu goda dengan berpakaian seperti ini gadis cantik ?"
"Ish !" Mata Isla membulat dengan rona merah di pipinya.
Adrien terkekeh sejenak kemudian menuntun Isla ke pintu sebelah kanan dengan patuh gadis itu mendudukkan dirinya di kursi penumpang.
"Sebenarnya aku mempunyai beberapa teman pangeran, tapi tidak akan mengenalkannya kepada kamu." Ucap Adrien ketika bergabung di sebelah Isla, setiap gerakan yang dilakukannya termasuk memasang seat belt tak luput dari tatapan Isla.
"Kenapa ?" Tanya Isla.
"Karena kamu tidak menginginkan bertemu dengan seorang pangeran di saat muda tampan dan botak di usia 30 tahun. Kamu belum bertemu dengan pangeran Dubai, aku jamin dia takkan botak hingga 50 tahun ke depan."
Isla menanggapi acuh perkataan Adrien, sepenuhnya dia tidak tertarik dengan pangeran Dubai yang diceritakan pria dewasa itu.
"Kenapa diam?"
"Jangan pernah kakak menjodohkanku dengan pangeran Dubai ! Biar pun dia tampan dan berambut takkan rontok, tapi Isla tetap tidak mau! Isla tidak mau lagi bertemu kakak jika membahas pangeran, baik itu pangeran Dubai, Inggris, Monaco.. Isla tidak tertarik!" Gadis belia itu melipat kedua tangannya dan memajukan bibirnya.
Tawa Adrien pecah, pikiran yang berat setelah seharian bekerja melayang begitu mendengar celotehan gadis belia di sampingnya.
"Terus Isla maunya apa sekarang ?" Bujuk Adrien lembut.
"Isla mau italian pizza, dan pasta."
"Suka pizza juga?"
Adrien yang memfokuskan pandangannya di jalanan melirik Isla yang sedang menganggukkan kepala.
"Je t'aime plus que la pizza." Gumam Adrien.
Gadis di sebelahnya sontak mendekatkan tubuh ke Adrien.
"Kakak ngomong apa barusan ?"
"Rahasia!"
Isla berdecih kembali menyandarkan dengan keras punggungnya pada jok mobil.
__ADS_1
Adrien hanya bisa tersenyum geli, baginya semua tingkah laku Isla adalah penghilang kepenatan jiwanya. Dia sangat menyukai ekspresi kesal gadis belia itu, sesuatu yang tak pernah dilihatnya pada seorang wanita.
Ah mungkin sepanjang hidupnya lebih terpaku pada layar datar dan keyboard komputer.
...
"Kak, sebelum pulang kita berjalan sedikit untuk menurunkan isi makanan yang barusan masuk." Ucap Isla sesaat mereka keluar dari restoran Italy.
Adrien terbahak tawa mendengar ucapan gadisnya.
"Ya... Kamu memang harus membakar 6 potong pizza dan sepiring pasta yang masuk di sini." Sahut Adrien menekan perut Isla dengan telunjuknya. Rata dan keras, Adrien sangat yakin jika Radit mengembleng gadis belia ini seperti halnya Kila. Punya ilmu bela diri.
"Sepertinya aku membencimu kak." Isla mengulum senyum dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri jalanan depan restoran kemudian pertokoan yang terlihat lebih indah di malam hari, lampu-lampu bersinar terang dan jalanan basah karena hujan menambah suasana lebih romantis.
"Kamu tidak boleh membenciku Isla." Adrien berjalan bersisian dengan gadis belia yang malam ini berwangi kayu manis.
Isla menaikkan kepalanya menatap pria yang juga sedang melakukan hal yang sama dengannya.
"Isla cuma bercanda kak, Isla tidak mungkin membenci kakak."
"Aku tahu." Adrien meraih jemari Isla dan menggenggamnya. Percikan listrik berkapasitas tinggi mengalir di tangan Adrien sesaat menyatukan kedua jemari namun hal itu tak membuatnya melepaskan genggaman, malah semakin mengeratkannya.
"Isla... Beberapa minggu ke depan, aku tidak akan berada di Berlin. Kami sedang membangun cabang baru di Portugal tepatnya di Porto. Sementara waktu aku akan lebih banyak berada di sana. Jadi ya, aku tidak akan mengganggumu gadis cantik dengan ajakan-ajakan makan malam seperti ini untuk beberapa sesaat."
Adrien menghentikan langkah setelah melihat Isla meloloskan cairan bening dari kelopak matanya.
"Kenapa?" Tanya Adrien lembut mensejajarkan pandangannya dengan wajah gadis yang sendu dan menggigit bibir bawahnya
"Isla tidak merasa terganggu kak, Isla suka jalan dengan kakak."
Sambil mengulum senyum Adrien menaikkan badannya lalu meraih tubuh Isla masuk ke dalam pelukan.
Wangi kayu manis semakin menguat di indera Adrien, tangan kokohnya pun ikut menguat namun tak menyakiti gadis belia yang berada dalam dekapannya.
"Aku akan merindukan kakak." Ucap Isla terdengar tulus.
Jika ada hal yang sangat ingin dilakukan Adrien saat ini, itu adalah mencium bibir yang baru saja mengatakan akan merindukannya. Tapi Adrien mengurungkan niat, ini belum saatnya merenggut ciuman pertama seorang Isla. Ia masih bisa menunggu momen yang lebih tepat untuk itu. Momen ketika Isla lebih paham akan perasaannya kepada Adrien.
"Aku akan lebih merindukanmu Isla. Semoga pekerjaan di sana lancar, hingga aku bisa kembali secepatnya ke Berlin. Jujur beberapa bulan terakhir aku seperti lupa jika kantor pusat Bleuette Corporation berada di Lyon. Kamu tahu, sampai orang-orang kantor pusat bertanya "Kenapa sekarang Mr. Adrien lebih banyak berada di Berlin. Mereka tidak tahu saja jika aku sedang mendekati seorang gadis di sini."
Tubuh Isla bereaksi mendengar penuturan Adrien, pria tampan berjas navy, kemeja light blue dan celana bahan berwarna gray bermotif yang kemudian mengendurkan pelukan.
"Siapa gadis itu ?" Tanya Isla menengadah menatap manik biru berkabut putih
Adrien mengedikkan bahu dan mengulum senyuman
"Dengarkan baik-baik gadis cantik, Je t'aime plus que la pizza."
###
Je t'aime plus que la pizza : aku mencintaimu lebih dari pizza.
Kai
abang Adrien
Iyo
alo kesayangan,
next chapter Axel Yu akan muncul, akhirnya ๐
hmmmm... seperti apa sebenarnya hubungan Axel dan Isla ?
author juga tidak tahu ๐
love,
__ADS_1
D ๐