
Isla terburu pulang ke apartemen seusai mengikuti perkuliahan pagi yang mengharuskannya meninggalkan pria tampan yang sedang tertidur dan sangat dirindukannya beberapa minggu terakhir.
Sambil meraba kalung pemberian Adrien, Isla mempercepat langkah kakinya.
15 menit kemudian Isla terengah-engah di depan pintu apartemen
"Cari Kak Adrien ?" Sapa Mareo yang berdiri di belakang kitchen bar dengan segelas susu di tangannya.
Isla berderap menghampiri Mareo dan mengambil gelas berisi cairan putih berkalsium tinggi dan menenggaknya hingga habis. Mareo hanya memasang wajah datar karena perbuatan Isla.
"Kak Adrien sudah pergi." Ucap Mareo membuat Isla kembali berbalik memandangnya
"Kapan ?"
Mareo menghela napas panjang.
"Sejam lalu. Kak Adrien ada rapat penting sampai sore."
Isla mendengus kasar menarik bibirnya ke bawah.
"Tapi Kak Adrien memakan sandwich buatanmu kok sebelum pergi."
"Sungguh ?" Isla berbinar riang
"Yeah." kedua bola mata Mareo memutar malas
"Sepertinya kamu tidak senang dengan apa yang aku rasakan." Isla mencebikkan bibirnya sembari menyandarkan tubuhnya pada kitchen bar.
"Siapa bilang aku tidak senang Ibo... Aku senang, apalagi bandku sebentar lagi akan tembus pasar Amerika. Itu semua karena Kak Adrien dalam sebulan mewujudkan cita-cita kami berlima. Andai Kak Adrien tidak menyukaimu mana mungkin semua ini terjadi. So thank you, lil' sister."
"Menurutmu apa betul Kak Adrien menyukaiku Iyo ? Tidak sekadar mempermainkan? Aku terus memikirkan kata-katanya -Je t'aime plus que la pizza- mencintaiku lebih dari pizza. Terdengar gombal bukan? Tapi sumpah... aku mau pingsan saat itu Iyo. Suara Kak Adrien sangat lembut berbahasa Perancis, kaki berasa jadi jelly-jelly."
Mareo tertawa keras merangkul tubuh adiknya menuju sofa. Bukan sekali ini saja Isla menceritakan penyataan cinta Adrien kepadanya.
"Dengar Ibo, mana ada pria terbang sana sini demi seorang gadis sejelek kamu jika Ia tak punya perasaan yang istimewa."
"Aku jelek ya Iyo ?" Isla memasang wajah sedihnya dan sekarang dia tak percaya diri
"Cantik... Mungkin lebih cantik di mata Axel. Tapi entahlah di mata Kak Adrien, beliau orang terkaya kelima dunia pasti berbagai model wanita telah ditemuinya atau dikencaninya."
"Aku merasa Kak Adrien cuma berburu." Isla beranjak dari sofa
"Kenapa tidak kamu tanyakan sendiri ?"
Isla menatap lurus ke arah kakaknya "mungkin aku bersama Kak Axel saja, lebih pasti. Kemarin Ia mengatakan dengan jelas jika mencintaiku."
"Mau kemana?" Mareo memegang pergelangan tangan Isla
"Ketemu Kak Axel !" Isla berseru menarik tangannya kembali
"Jangan berani-berani !"
"Aku berani, Iyo... Kak Axel mau berangkat ke Brazil, bakal lama ketemu dengannya lagi."
"Kamu jadi playgirl Ibo ." Mareo terdengar sedih
"Hei, itu playgirl jika pacarnya banyak. Aku satu pun tidak punya. Aku cuma mau makan siang dengan Kak Axel terus mau ketemu papa di kantor."
Mareo mengantar Isla hingga di depan pintu.
"Mulai besok aku sibuk, padahal ingin kembali ke rumah. Aku kangen dengan mami. Salam buat papi yah Ibo."
"Siap laksanakan !" Isla memberi hormat kemudian terkekeh, berjalan mundur dan menghilang dari balik pintu yang menutup.
...
Sekretaris Hugo yang berjumlah 2 orang tersenyum merekah begitu melihat Isla datang.
"Ketemu Mr. Navarro ?" Sapa Carol ramah memamerkan gigi putih rata miliknya "langsung masuk saja nona cantik ."
"Danke schön ." Sahut riang Isla berjalan menuju pintu ruangan papanya.
Pria paruh baya berambut putih mendongak melihat pintu yang terbuka
"Hija !" Seru Hugo bangkit dari kursinya, Isla pun bergegas mendekat menghamburkan tubuhnya dalam pelukan papanya.
"Papaaaa.... Isla kangen !" Kedua ayah dan anak berpelukan erat seolah lama tak bersua, padahal 5 hari lalu mereka tidur bersama saat Isla pulang ke rumah.
"Selamat ulang tahun Mi Hija." Hugo menghujani ciuman di kening, mata, puncak hidung anaknya
"Makasih pa." Isla mengulum senyum
"Jadi besok baru pulang ke rumah ? Mama sudah menyiapkan menu makan malam ulang tahunmu Hija, adik-adikmu juga sudah membeli kado untukmu."
Mata Isla membulat lalu menganggukkan kepalanya.
"Besok full day kuliahnya Pa, toh bukan pertama kali aku ulang tahun di undur makan-makannya."
Hugo mendudukkan tubuhnya pada sofa diikuti Isla.
"Sudah makan ?" Tanya Hugo lembut sembari membelai rambut anak gadisnya yang sedang bersandar pada bahunya
"Tadi bareng ma Kak Axel ."
__ADS_1
"Wow, ada gadis yang baru kencan rupanya." Goda Hugo mencubit pipi Isla
"Kami tidak kencan Pa, malah makan siang perpisahan. Kak Axel berangkat lagi ke Amerika Latin sana." Hugo mendengar jelas helaan napas kecewa dari anaknya
"Kenapa ? Sedih berpisah dengan Axel ?"
Isla menegakkan badannya dan menatap dalam mata papanya seolah mencari jawaban dari gundah yang melanda.
"Pa... Waktu dengan mama, seperti apa dulu ? Maksud Isla, apa papa selalu bersama mama ? Apa papa berdebar kencang saat bersama mama, sebelum papa resmi pacaran. Saat naksir?" Tanyanya polos
Hugo terkekeh lalu memegang kedua pipi anaknya "Dulu hingga sekarang jantung papa seolah lepas ketika berada di dekat mamamu, saat mamamu melirik pun seperti ada panah yang menancap di dada."
Isla menarik bibirnya ke dalam, menundukkan kepalanya.
"Hei, wajahmu memerah, Hija ! Dengan Axel yah ?" Tawa Hugo membahana memenuhi ruangan kantornya, dia pun memeluk erat anak gadisnya yang beranjak dewasa, sudah mulai mengenal cinta.
"Seperti itulah cinta, Hija.. organ tubuh bekerja di atas normal sayang. Jantung berdebar kencang, tidak merasakan lapar karena sudah kenyang dengan rasa bahagia. Tidur pun tidak nyenyak. Dan ya, papa selalu ingin berada di dekat mamamu. Tidak mau pisah. Papa meninggalkan grandpa, grandma di Berlin dan tinggal di Indonesia. Saat itu papa berumur 20 tahun, dan mamamu 18 tahun lebih."
Mata Isla membulat, tangannya meremas kain jeansnya.
Seseorang juga melakukan itu kepadaku Pa.
...
Bunyi telepon kantor berdering membuat Adrien menghentikan pekerjaannya
"Ya ." Adrien mengurut pelipisnya merilekskan matanya yang mulai lelah dengan setumpuk berkas yang ditandatanganinya.
"Mr. Adrien.. seorang gadis bernama Isla Bohemia hendak bertemu , Katanya....
"Antar segera kesini ! " Potong Adrien langsung berdiri dari kursinya, pria tampan berjas dark brown berjalan keluar dari ruangannya. Adrien menghiraukan sapaan para sekretarisnya, terus melangkahkan kaki kemudian berdiri di depan lift. Matanya terpaku pada angka yang menunjukkan pergerakan keberadaan lift, sembari menunggu Adrien merutuki kantornya yang berada di lantai 41.
Sebelum lift berdenting, Adrien telah memasang senyuman manisnya. Hatinya melonjak senang melihat sosok gadis belia yang sangat dirindukannya, menginjakkan kaki di Bleuette Corporation.
"Kak ." Sapa gadis cantik berpakaian casual, dengan sigap Adrien meraih jemari Isla dan menuntun menuju ruangannya.
"Selamat ulang tahun gadis cantik." Adrien mendekap erat tubuh Isla sesaat memasuki ruangan
"Kadonya lucu." Isla terkikik kecil membayangkan Adrien menggendong boneka sebesar itu dari toko hingga ke apartemen.
"Kamu suka ?"
Isla menaikkan kepalanya menatap manik biru berkabut putih itu, dengan jelas dia melihat mata Adrien yang mempunyai pupil serupa titik hitam yang kecil. Sangat langka.
"Iya, suka. Pasti Iyo yang kasih bocoran soal teddy bearnya ."
"Tidak tuh... " Adrien terkekeh lalu melepaskan pelukan dan beranjak ke arah lemari pendingin "mau minum apa Isla ?" Sambungnya berbalik menatap gadis berusia 19 tahun itu.
Tak lama kemudian sekaleng minuman berwarna biru terjulur di depan Isla yang sedang memandangi pemandangan dari ruangan Adrien.
"Indah." Ucap Isla sembari menyesap sodanya "Kakak pasti betah bekerja dengan pemandangan seperti ini."
"Aku akan betah kerja jika ditemani kamu." sahut Adrien menyulut sorot wajah kaget Isla. Mata gadis itu membulat dengan wajah bersemu.
Keduanya termenung memandang pemandangan Kota Berlin yang mulai beranjak malam.
"Kak... ."
"Iya."
"Apa benar kakak sibuk selama kita tidak bertemu ? Isla terus bertanya dalam hati, mungkin kakak hanya ke Berlin ketika bosan, dan ingin bermain denganku."
Adrien sontak melirik tajam ke arah gadis berambut hitam di sebelahnya.
"Isla, kamu salah jika berpikir seperti itu.. Justru aku ingin selalu berada di kota ini, dekat denganmu tapi kesibukan membuatku harus kemana-mana dan aku benci itu." Ungkapnya jujur dengan hati berdebar kencang
Isla menaruh kaleng sodanya pada meja di dekatnya kemudian kembali ke posisi semula.
"Kata Iyo, kakak melihatku dengan Kak Axel."
Helaan napas panjang dari Adrien menjadikan jawaban atas pertanyaan gadisnya.
"Axel bukan pacarku kak, memang Ia pernah mengutarakan kata cinta. Tapi Kak Axel pria yang bebas dan seorang petualang dunia, jika ingin punya pacar aku ingin pria yang selalu berada di dekatku."
Akukah orang kamu maksud ?
Sekilas Isla melirik kearah Adrien kemudian kembali mengarahkan pandangannya kedepan.
"Je t'aime plus que la pizza, sejak kakak mengucapkan kalimat itu Isla terus memikirkan berbagai pertanyaan. Apakah kakak mendekatiku karena Isla mirip mama? Apakah kakak sedang mengulang kenangan lama denganku ? Apakah boleh mempunyai perasaan kepada pria yang pernah mencintai mama ?"
"Chèrie !" Pekik Adrien tertahan menarik Isla ke dekapannya
"Aku jatuh cinta kepadamu kak... Salahkah perasaanku ini?" Isla meloloskan air matanya dalam dada beraroma cendana
"Lihat aku Chèrie." Pinta Adrien dengan suaranya yang serak. Kebahagian sekaligus haru menyesaki dadanya dalam waktu bersamaan.
Perlahan wajah bersemu dengan mata berkabut itu menatap Adrien
"Aku jatuh cintai kepadamu Isla Bohemia, sejak awal bertemu denganmu. Tidak ada lagi Aurora di hatiku, hanya ada kamu gadisku ! Tidak ada yang lain. Sekali pun aku tidak pernah bermaksud bermain-main denganmu. Usiaku bukan untuk melakukan itu semua. Walau kamu adalah wujud sempurna dari Aurora tapi aku mencintaimu sebagai Isla Bohemia, luar dan dalam." ungkap Adrien dengan mendayu penuh kasih
Isla meneteskan air mata yang lebih deras, dengan lembut Adrien mengusap cairan bening itu.
__ADS_1
"Boleh aku tahu , sejak kapan kamu menyukaiku Chèrie ?" Tanya Adrien menangkup wajah mungil gadisnya
Isla mengerjapkan mata sekali kemudian menatap wajah Adrien dengan lekat.
"Sejak kecil... " Isla memamerkan senyuman indahnya membuat Adrien menyusuri bibir itu dengan ibu jari.
"Kamu sekarang juga masih kecil." Ucap Adrien terkekeh bahagia
"Ish ! Kakak... !" Rajuk Isla manja sembari memegang jas Adrien
"Isla suka kakak sejak melihat foto-foto kakak menggendongku. 'Paman tampan' itu julukan aku berikan.... Aku selalu bertanya kepada ayah dan ibu, kenapa paman tampan tidak pernah datang ke Bali. Tapi Isla tidak pernah tanya kepada Mami Nana dan Papi Keanu. Isla cuma mendengarkan cerita tentang kesibukan, kesuksesan kakak."
Adrien tertawa kecil mendengar penuturan Isla yang sangat polos.
"Terus kemudian kita bertemu... Seperti apa perasaanmu saat itu Chèrie ?"
Mata Isla membulat penuh dan menari
"Senang ! Sangat senang dan berdebar kencang !" Isla berseru dengan wajah berseri
"Aku tidak bisa melihat ekspresi seperti ini waktu itu."
"Karena aku menahannya Kak.. senang dan tidak percaya, kakak yang terlihat sama saja di foto lama, di berita-berita juga sama wajahnya. Seperti tidak menua, sama sekali tidak ada kerutan." Gadis belia tanpa sungkan menyusuri wajah Adrien dengan jemari kecilnya.
"Chèrie... Ma Chèrie ." Erang Adrien dengan serak, matanya terpaku pada bibir merah delima milik Isla
"Can we kiss ?" sambungnya
Isla mengalunkan kedua tangannya pada leher Adrien membuat pria tampan itu menarik pinggang gadisnya merapat pada tubuhnya, dengan mata terpejam Isla merasakan bibir penuh menyentuh bibirnya dengan perlahan. Manis, lembut yang tak terburu menikmati ciuman pertama dari pria yang mencintainya.
Seakan ada yang meledak dalam dada keduanya, bagi Isla ini adalah ciuman pertamanya dan bagi Adrien ini adalah ciuman pertama dengan wanita yang dia cintai.
"Manis... bibir ini manis, kamu manis Chèrie ." puja Adrien menyapu bibir gadisnya dengan jemari
Isla seolah berada di atas awan cinta, terbang dengan sikap lembut seorang Adrien. Jantungnya terus bertalu kencang namun menikmati setiap sentuhan pria dewasa nan tampan itu.
"Sekian lama aku hidup dalam kesendirian berkutat dengan pekerjaan kemudian ada seorang gadis kecil datang dan memberikan hatinya... Kamu membuatku jadi pria paling bahagia hari ini Chèrie." ucap Adrien lembut kemudian mengecup kening Isla
"Apa yang membuatmu kemari Chèrie ?" Adrien terus bertanya
"Karena rindu dengan kakak, karena Isla takut kakak akan pergi lagi tanpa kita bertemu."
Adrien tertawa kecil sembari mengacak rambut kekasihnya "Aku tidak akan pergi kemana-mana Chèrie, tadinya mau bertemu denganmu selepas pekerjaanku selesai."
Raut wajah Isla seolah menanyakan kebenaran atas perkataan Adrien.
"Tentu saja aku ingin bertemu denganmu, aku juga rindu." ucapnya jujur
Isla menyunggingkan senyuman manis, menatap penuh puja kepada pria tampan yang tak berjarak dengannya.
"We officially dating." Ucap Adrien mengecup bibir Isla dengan ringan, menandai sekali lagi kepemilikan akan gadis itu.
Isla kembali mengangguk mengiyakan.
"Aku pacar pertamamu kan Cherie. Sama... Kamu juga pacar pertamaku ."
Isla menggigit bibirnya dengan tersipu. Tidak adalagi batasan umur di antara mereka yang ada keduanya adalah sepasang kekasih yang saling memiliki.
"Tidak percaya ?" Tanya Adrien
"Aku tidak pernah pacaran Cherie... Baru kali ini. Sungguh menggelikan mengatakan pacaran di usiaku." Sambungnya yang terus membelai wajah kekasih belianya
"Tapi berkencan ?" tanya Isla, dia bukan gadis yang bodoh. Adrien mempunyai masa lalu yang sangat panjang, dua kali lipat dari umurnya. Banyak hal yang terjadi sebelum kehadirannya di kehidupan Adrien.
"Semua hanya masa lalu Isla Bohemia. Namun yang perlu kamu ketahui, sejak mengenalmu tidak ada menarik lagi di mataku. Kamu telah membuatku tergila-gila !"
Sambil menutup bibirnya lalu Isla tergelak tawa. Adrien pun memeluk kekasihnya mereguk wangi strawberry yang menguar di inderanya.
Adrien kemudian menuntun Isla menuju kursi kerjanya, terlebih dulu dia yang mendudukkan tubuhnya kemudian menarik Isla ke pangkuannya.
"Aku harus menandatangani berkas ini Chèrie, kemudian kita akan berkencan. Temani aku dan berceritalah tentang sesuatu ."
Isla tersenyum simpul melihat Adrien melanjutkan pekerjaannya.
"Berat tidak kak badanku, nanti paha kakak capek."
Adrien berdeham sembari memusatkan konsentrasinya yang terpecah karena Isla sedang memainkan rambutnya.
"Rambut kakak wangi, pakai shampoo apa ?" Kali ini bukan belaian di rambut, namun Isla menciumi kepala Adrien
"Chèrieee.... " Tubuh Adrien menegang seolah dialiri listrik berkapasitas tinggi. Pria dewasa itu kemudian meletakkan penanya lalu menangkup wajah Isla.
"Ada apa kak?" Tanya Isla dengan wajah polosnya.
"Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pekerjaan. Bagaimana jika aku ajarkan teknik berciuman sayang ?"
###
Ma Chèrie : Kekasihku (Perancis)
Mi Hija : Anak perempuanku (Spanyol)
__ADS_1