
Isla bisa tahu jika wanita di depannya sangat gelisah, tidak berani beradu pandangan. Khaleesi selalu mencari obyek lain dibandingkan
bertatapan dengannya. Para pria duduk di kursi di dekat jendela kafe hotel itu, memesan kopi dan saling mengobrol, berbanding terbalik ia dan Khaleesi. Terdiam hampir 10 menit lamanya, Isla sedang mempelajari wanita paruh baya itu.
“Kata Paman Jean kau mengejarnya kembali, Tante Khaleesi ?” Isla membuka suara setelah mendapatkan kode dari Jean Syagrius. Pria itu
sunngguh mendukungnya untuk menghabisi mantan istrinya sendiri.
Wanita cantik berdempul itu meringis “Ya, demi anak-anak kami. Siapa juga kau ingin mencampuri rumah tangga kami.” Sahut Khaleesi kesal.
Isla tergelak tawa “Tante oh tante yang cantik ini
sepertinya mengujiku. Aku sudah mendengar dari Paman Jean loh, kasian jika tante sesumbar demi anak-anak. Dan posisi kita sama loh tante, sama-sama orang luar, tidak ada rumah tangga di sini yang dicampuri. Paman Jean bukan suami
tante lagi. Dia pria dewasa yang bebas. Perlu tante tahu jika hubungan kami sangat baik.”
Khaleesi terlihat makin kesal akan ucapan Isla, dengusan kasar tidak bisa disembunyikannya.
“Kau tidak diajar orang tuamu untuk bersikap sopan kepada yang lebih dewasa.”
Wanita belia itu terkekeh “Kau tidak mengenal orang tuaku, tante. Jika berhadapan dengan mamaku mungkin tidak duduk manis seperti ini. Mama sangat tidak suka dengan wanita penggoda, aku pun begitu. Tadi kau menggoda
suamiku, aku bisa melihatnya dengan jelas. Dan Kak Adrien adalah kesayangan mamaku loh. Menggodanya seperti itu bisa membuatmu patah tulang, Tante Khaleesi.” Ucap Isla dengan nada datar namun membuat wanita di depannya
tersentak kaget
“Kau !” pekik pelan Khaleesi
Isla terkekeh “Ya, aku. Dan aku pun bisa mematahkanmu, suamiku sangat kaya. Walau ini ilegal, tapi Kak Adrien bisa membeli hukum. Atau
kau mau aku serahkan kepada mamaku saja ? kau akan menghilang dari peredaran dunia, tanpa ada orang yang sadar, tante.”
Isla menarik napas panjang dengan tatapan mengintimidasi.
“Jadi, aku kembali ingatkan kepadamu Tante Khaleesi. Tolong jangan pakai alasan anak-anak kalian untuk mendekati Paman Jean. Beliau sudah hidup tenang mengurus anak-anaknya, kau pun
bebas bermain dengan pria-pria muda simpananmu. Kami tahu semua permainanmu. Kak Adrien dan terlebih Paman Jean. Di mata mereka tante tidak ada harganya, jadi percuma menggoda pria-pria tampan itu. Tante Khaleesi lebih baik menjalani hidup dengan baik-baik, entah itu terus berpacaran dengan pria muda atau ingin
menikah. Tapi saranku, mumpung masih bisa mendapatkan pria yang sepantaran denganku, menikahlah. Tidak apa-apa sesekali berkunjung ke Lyon bertemu anak-anak kalian.”
“Siapa kau mengatur diriku ?” ucap Khaleesi marah tersinggung akan perkataan Isla
Isla menyunggingkan senyuman miring “Aku adalah wanita yang dicintai kedua pria yang kau kejar itu.”
Tangan Khaleesi mengepal “Kau !”
Wanita beliau itu langsung menangkap kedua tangan Khaleesi di atas meja, mencengkeramnya dengan sangat kuat “Kau tahu jika Paman Jean
menyukaiku, tante ? Dia rajin mengirimkanku bunga. Aku mau tanya apa dia pernah
memberimu sebuket bunga ? Ya, aku sangat beruntung di usia semuda ini digilai dua pria yang pernah hadir di hidupmu. Hanya saja kau tidak pernah bersyukur dengan apa yang kau miliki. Aku pikir kau mencintai Kak Adrien tapi kau sudah hamil duluan dengan Paman Jean, sepanjang
pernikahan kalian bayang-bayang suamiku membuatmu tidak puas dengan kehidupan
yang kau miliki, tante. Terlebih jika kau membandingkan Kak Adrien dengan Paman
Jean. Sayangnya kau menyiakan Paman Jean, pria yang mencintaimu. Sekarang lihat Paman Jean, dia lebih muda karena kembali ke pola hidup sehat. Dengar-dengar bisnisnya berjalan sangat baik, semoga mantan suami tante akan mendapatkan wanita baik. Tapi jelas bukan kamu, Tante Khale. Jadi, aku ingatkan kembali. Lepaskan Paman Jean, dia adalah pengagumku dan Kak Adrien adalah suamiku yang sah. Di kehidupan
__ADS_1
ini aku tidak akan membiarkanmu menyentuh sedikit pun Kak Adrien. Dia milikku, seumur hidup. Aku tidak segan-segan meminta mamaku menghabisimu jika kau berulah.” Ucap panjang Isla melepaskan cengkeraman tangannya, pergelangan tangan Khaleesi memerah mungkin sebentar lagi lebam.
Isla menatap lekat wajah Khaleesi yang memerah kesal dan ketakutan “Semoga ini pertemuan kita terakhir, tante. Aku tidak pernah bermain dengan kata-kata. Ini bukan gertakan, jadi bijaklah berpikir.” Ucapnya lalu melambaikan tangan kepada kedua pria tampan itu
Adrien dan Jean dengan cepat bergegas menghampiri meja mereka “Sudah selesai, Cherie ?” tanya Adrien dengan tangan dikantongi pada saku celananya, begitu pun sikap Jean. Kedua pria itu seolah kembar, rambut keemasan dan manik matanya biru. Sekilas orang bisa salah menandai mereka. Namun tetap saja Adrien lebih sempurna di mata Isla.
“Ya sudah, kak.” Isla bergantian menatap Adrien dan Jean, kemudian lebih lama beradu pandangan dengan pria yang sedang tersenyum simpul.
“Paman Jean, aku sudah mengatakan apa yang kau inginkan kepada Tante Khale, semoga dia paham. Jika tidak sungguh kelewatan. Biar aku
dan Kak Adrien yang menjadi saksi, lain kali jika Tante Khaleesi yang cantik ini datang ke Lyon untuk bertemu anak-anaknya, Paman Jean tidak perlu bertemu juga. Jika paman merasa terganggu.”
Jean mengangguk “Apa yang dikatakan gadis kecil sangat benar Khale. Aku hanya akan mengantar anak-anak kita di pertemuan berikutnya dan tidak akan terlibat menemanimu jalan-jalan. Aku sangat sibuk untuk itu.”
Khaleesi seperti mati kutu mendengar ucapan Jean, pria yang mengakhiri perkataannya dengan tawa merendahkannya. Hanya menatap sekilas
mantan suami lalu kembali menundukkan pandangan. Menjadi terdakwa yang bersalah.
“Aku juga mengatakan kepada Tante Khalee untuk menikah lagi, paman. Apakah paman tidak masalah dengan itu ?” tanya Isla membuat Adrien
terkekeh kecil. Pria tampan itu lalu meraih tangan istrinya, wanita belianya yang tidak mempunyai takut sedikit pun.
“Ya tentu saja, kami berdua bebas menentukan hidup masing-masing, gadis kecil. Khale, carilah pria terbaik untukmu, tapi bukan aku apalagi Rien. Kami berdua mencintai wanita yang sama sekarang.” Ucap Jean lalu terkekeh, Isla mendengus kesal dan Adrien meringis.
“Kau juga berhenti mengejar istriku, Jean. Mengirimkan bunga sudah membuat emosiku naik ke ubun-ubun.” Sungut Adrien menatap tajam Jean yang terus menyunggingkan senyuman lebar. Kehadiran Khaleesi seperti bayangan samar
di antara ketiga orang tersebut.
“Beruntunglah kau duluan bertemu dengannya. Andai tidak, aku akan mendapatkannya. Tapi kehidupan dunia ini masih panjang, Rien. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Seperti Khaleesi yang akan mendapatkan pria lain, aku pun memutuskan untuk menunggu Isla.”
…
Tiga bayi lucu sedang duduk di depan cake ulang tahunnya masing-masing. Menggemaskan pada level dewa. Semua orang tidak hentinya
menjepretkan kamera ponselnya, khusus Adrien memasang tripod merekamnya dalam video.
Triplet merayakan hari jadinya yang pertama. Orion mendapatkan cake berwarna biru, River berwarna kuning dan Autumm berwarna-warni. Hanya 5 menit ketiganya berhasil diam dan berpose. Setelah itu tidak bisa menahan diri
untuk tidak menyentuh cake mereka.
Belepotan, bukan hanya tangan melainkan kaki mungil mereka pun ikut andil mencicipi cake buatan Kila. Gelakan tawa keluarga inti Adrien dan Isla melihat kelucuan tingkah bayi triplet yang sibuk dengan mainan lembut dan bergula tersebut.
“Sepertinya kita tidak mendapatkan kue.” Ucap Hugo kepada istrinya yang sedang menangkup bibir, terharu melihat cucunya yang sangat
menyenangkan hati.
“Aku ingin membuatkan mereka kue tiap hari jika melihatnya seperti ini.” Sahut Kila takjub
Hugo tertawa “Jangan, mereka bisa kena diabetes di usia dini.”
Kila memajukan bibirnya “Aku menggunakan gula yang sehat dan takarannya tidak banyak, Hugo Chan.”
Pria bersurai putih itu merangkul istrinya “Jangan
dibiasakan, baby girl. Karena kita tidak tinggal di sini, mereka nantinya akan mencari dan mengingat kue buatanmu jika kita sudah kembali ke Berlin. Biarkan di ingatan mereka jika ini adalah perayaan tahunan. Nenek muda dan cantik ini yang selalu membuatkan mereka kue, itu lebih berkesan ketimbang membuatkannya tiap hari. Yang perlu disyukuri adalah kita masih di usia seperti ini sudah mendapatkan anugerah
seindah mereka. Menikahkan Rien dan Isla adalah hal terbaik aku lakukan setelah memilikimu di hidupku.” ucap Hugo
__ADS_1
Kila menganggukkan kepala “Lihat anak kita, dia telah memiliki segalanya di usia muda. Kita bisa bernapas lega untuk si sulung, sisa dua itu.” Kila melirik Kai dan Sky yang mendekat kepada triplet mencuil cake keponakannya, dan ikut larut dalam permainan saling memberikan cream di wajah
masing-masing.
“Semoga keduanya mendapatkan cinta dan pasangan seperti Rien.” Gumam Hugo
Isla dan Adrien duduk di depan bayi kembarnya, anak-anaknya mencuil cream dengan tangan belepotan dan meminta orang tuanya untuk mencicipi cake mereka.
“Selamat ulang tahun, Orion, River dan Autumm putra putri papa.”Adrien mengucap dengan mata berkabut, bahagia. Anak-anaknya tertawa
menggemaskan melihat sang papa mencondongkan wajah untuk mengecup pipi mereka.
“Cepatlah tumbuh ya, nak. Biar papamu bisa berikan adik lagi.” Bisik Isla di telinga suaminya. Pria tampan itu tertawa dengan indahnya.
“Aku tidak sabaran. Tapi tidak memaksakan juga, Cherie. Tiga juga sudah cukup tapi banyak lebih baik. Aku ingin membalas karena lahir sebagai anak tunggal. Tapi Tuhan yang menentukan segalanya, Nyonya Adrien.” Pria bersurai keemasan itu melingkarkan tangan pada pinggang istrinya. Mereka asyik berbincang sementara yang lainnya ikut bermain dengan Orion, River dan Autumm.
Isla menoleh menatap wajah suaminya, pria yang
menyunggingkan senyuman tipis dan indah “Kita ikuti saran dokter yah, kak. Isla tidak mau suami tampanku menua karena mengurus anak-anak.”
“Memang sudah tua.” Sungut Adrien bersandiwara kesal, Isla tergelak tawa manis. Matanya menyipit bahagia.
“Sudahlah Kak Adrien jangan terus mengungkit umur. Isla tidak lupa kok.” Candanya memberikan kecupan basah di pipi sang suami.
“Maksud Isla tadi adalah tidak mau Kak Adrien ketampanannya luntur karena mengurusi anak-anak kita. Biarkan triplet pisah kamar baru kita merencanakan adik buat mereka.”
Adrien tertawa kecil lalu menggelengkan kepala “Mereka akan terus tidur di kamar kita, Cherie. Aku sudah terbiasa dengan tangisan mereka. Dulu
waktu kau kecil sangat pendiam, tidak pernah sekalipun mendengarmu menangis seperti Orion. Cenderung seperti River.”
Isla mengulum senyuman “Setidaknya ada yang diwarisi dariku. Karena tampilan mereka adalah duplikat Kak Adrien.”
Adrien pun mengecup pun kepala istrinya “Terima kasih, Cherie. Memberikan anak-anak selucu itu,
kebahagiaan yang aku rasakan tidak bisa di ungkap dengan hanya kata-kata saja. Tidak ada kata yang bisa mendeskripsikan perasaanku, Cherie.”
Isla mencebikkan bibirnya membuat Adrien mendekap tubuh istrinya dari belakang semakin erat “Sejak kapan orang genius sangat pintar berkata romantis, terdengar gombal.”
“Aku sudah katakan jika tidak pernah merayumu, Cherie. Dan perlu kau ketahui jika orang berlogika dan genius ketika jatuh cinta itu akan sangat dalam. Sejak mengenalmu aku sudah tidak bisa jauh darimu, Isla. Aku hanya ingin terus berada di dekatmu, hingga dunia berakhir.”
###
Triplet b'day
alo kesayangan 💕,
1 chapter lagi, novel ini berakhir 😁
love,
D 😘
__ADS_1