
"Aku juga suka kamu Isla." Adrien tersenyum simpul membalas ucapan gadis belia itu. Isla kemudian tertawa ringan dengan wajah merah merona.
"Kakak sekarang mau ngapain ? Shopping ? Atau mau ke rumah ? Ketemu ayah dan ibu." Dengan cepat Adrien menggelengkan kepala, dia belum siap ketemu dengan saudara orang tuanya. Tentu saja dia akan langsung terbaca dengan kedatangannya ke Bali, bahwa Adrien sedang mendekati Isla.
"Apakah ayah tahu jika aku berdonasi ke Bohemian ?"
"Iya, semua orang tahu Kak. Termasuk papa dan mama apalagi ayah, karena ayah yang menjadi teman sharing Isla soal proyek pembangunan Bohemian."
Wajah Adrien mendadak tegang, ini belum saatnya berhadapan dengan Radit. Isla belum diraihnya, walau sesaat tadi mendengar kata suka dari gadis belia itu. Namun suka dan cinta adalah dua hal yang berbeda, suka bisa saja hanya sampai di bibir, namun cinta melibatkan hati, jiwa dan pikiran yang sejalan dengan rasa tersebut.
"Isla.. jangan katakan pada ayah jika aku ada di Bali, biarkan ini menjadi rahasia kita berdua." Ucap Adrien
Gadis itu kemudian berjalan ke depan Adrien, menaikkan kepalanya menatap pria tampan bermata biru.
"Kenapa kak ?" Tanya Isla bingung kedua alisnya saling bertautan
Adrien memegang kedua bahu Isla sembari menurunkan sedikit pandangannya walau tak sejajar, karena dia suka melihat wajah gadis itu mendongak menatapnya.
"Karena ayah akan heran jika aku datang tiba-tiba ke Bali tanpa pemberitahuan sebelumnya. Apalagi aku sudah lama tak kesini."
Isla yang polos hanya bisa manggut-manggut, kemudian menyunggingkan senyum indahnya seolah menggoda Adrien untuk melabuhkan bibirnya pada bibir ranum berwarna merah delima itu.
"Bagaimana jika kamu menemaniku berbelanja saja, mengingat pakaianku seperti ini semua." ucap Adrien memamerkan tubuhnya yang sangat atletis berbalut pakaian formal
"Yes, tentu saja kak... Hmmmm... Aku punya butik langganan, tidak jauh dari sini. Butik itu milik orang tua temanku. Mau belanja di situ, atau ke pusat perbelanjaan saja ?"
Yang dikatakan tidak jauh oleh Isla berjarak 8 kilometer dari Bohemian House. Bagi Adrien bukan masalah besar, karena dia sangat menikmati suasana jalanan Bali yang ramai sekaligus bisa memeluk pinggang gadisnya.
"Not bad." Gumam Adrien begitu motor Isla berhenti pada toko pakaian berlantai dua yang sangat ramai dengan wisatawan asing.
"Aku juga bilang apa, di sini bule-bule sukanya belanja di sini kak." Ucap Isla menarik tangan besar Adrien dan menggenggamnya
"Kamu pikir kakak bule ?"
Isla hanya mengerling sejenak kemudian tertawa renyah
"Di dalam ada cermin, nanti kakak bisa lihat dengan jelas. Maksud Isla... di sini orang luar banyak yang belanja karena menjual pakaian big size kak."
"Tapi aku gak besar Isla."
"Iya gak besar tapi tinggi, hampir 2 meter."
Adrien terbahak tawa, lepas. Salah satu hal yang membuatnya selalu ingin berada dekat dengan Isla karena dia mempunyai orang yang bisa diajaknya berdebat hal-hal kecil dan tidak berkaitan dengan pekerjaan.
"Mihaaaa !" Teriakan seorang wanita sesaat keduanya melintasi pintu masuk, sesosok wanita muda menggunakan dress tali bermotif kembang langsung menghambur ke pelukan Isla.
"Ayu !" Seru Isla mendekap wanita bernama Ayu, jika Adrien tebak keduanya adalah teman sekolah melihat raut wajah yang tak begitu jauh kecuali teman Isla berbadan lebih besar, ya sedang mengandung.
"Aku pikir kamu di Berlin honn? Kenapa bisa ada di Bali ?"
"Ada perlu honn, biasa Bohemian." Jawab Isla santai "dan hey lihat dirimu, kamu sangat cantik calon mamah muda !" Lanjutnya berseru
"You know, 7 month honn ! Omong-omong, tidakkah kamu mengenalkan pria tampan di sebelahmu Miha ?"
Seketika Isla sadar jika dia datang bersama dengan Adrien.
"Kenalin, Kak Adrien ." Ucap Isla menyentuh pelan lengan pria tinggi berambut keemasan di sampingnya
Rahayu walau sedang hamil namun tidak bisa menyembunyikan wajahnya berseri memandang Adrien yang memukau.
"Rahayu Wellington" ucap gadis blasteran berambut coklat mengulurkan tangan
"Adrien Pranaja."
"Mr. Adrien apakah anda pacar teman saya?" Tanya Rahayu sopan tapi to the point, tipikal teman Isla sejak mereka masih menginjak bangku sekolah
"Eh... " Adrien kaget
Sebelum Rahayu mengeluarkan perkataan yang tidak masuk akal lagi, Isla membekap mulut temannya dan menyeretnya menjauh.
"Kak, pilih sendiri bajunya yah... Aku harus berbicara dengan mak lampir satu ini dulu !" Teriak Isla berbalik sesaat menatap Adrien yang menahan tawa melihat tingkah kedua wanita itu.
...
Setelah membayar belanjaan Adrien yang mana pakaian yang dibelinya seolah ingin menetap di Bali selama 2 minggu, hal itu pula yang mengundang protes dari Isla. Bukan kenapa, mereka hanya menggunakan motor sementara kantongan belanjaan memenuhi kolong tempat kaki gadis itu.
"Maafkan aku ." Ucap Adrien menyesal melihat kaki Isla terlihat sangat tidak nyaman
"Isla maafkan Kak, tapi syukurnya kakak sudah pindah hotel. Coba masih di Ubud, kita berpisah di depan butik. Kakak naik taksi pulang sendiri." Gerutu Isla disambut pelukan yang makin erat di pinggangnya
"Nanti aku hilang kalau sendirian di sini. Kalau ada yang culik gimana dong ?" Canda Adrien
"Badan sebesar kakak bisa hilang, Isla tidak percaya. Kakak juga jenius, paling susah untuk diperdaya."
"Aku lemah pada godaan wanita, Isla lihat sendiri tadi di toko banyak yang memerhatikanku" Lanjut Adrien menguji besaran rasa suka Isla kepadanya, karena tadi dia melihat ekspresi kesal gadis itu ketika ada yang mengumbar senyum kepadanya.
Isla terdiam lalu menarik ke dalam gas motornya, menyalip kendaraan dengan lincah. Jantung Adrien seolah berpindah karena perbuatan gadis yang sangat lihai mengebut di jalan raya.
__ADS_1
Mata Adrien terpejam, dia menjatuhkan kepala pada bahu adiknya Valentino Rossi, alias Isla Bohemia. Dalam ketakutannya Adrien tersenyum simpul, dia sangat yakin gadis itu sedang cemburu, sangat cemburu.
...
3 hari pun berlalu seolah waktu berlari kencang, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di Bohemian House. Adrien yang jatuh cinta kepada adik-adik asuh Isla, meluangkan banyak waktunya dari pagi hingga sore mengajarkan tentang apa saja yang bisa dibagikan. Adrien melakukan itu semua bukan untuk menarik simpati Isla, tidak ! Dia sepenuhnya menyukai anak-anak Bohemian, dan Adrien telah meminta langsung ke kantor pusat agar mulai tahun ini dana CSR Bleuette Corporation mengalir ke Bohemian House.
"Sebentar lagi kita akan mendarat Mr. Adrien." Ucap pramugari sopan
Adrien mengangguk pelan, kemudian menutup laptopnya. Setidaknya pekerjaannya selesai setelah berapa jam berkutat dengan kotak persegi canggih berlambang apel digigit itu.
Adrien kemudian melangkahkan kakinya ke dalam kabin tempat tidur dimana seorang gadis belia sedang terlelap dengan nyenyak.
Entah berapa kali Adrien memandangi wajah damai Isla, terkagum dan berdegup merasakan cinta kepada gadis itu yang semakin membesar.
"Isla...." Adrien mendudukkan bokongnya di tepian tempat tidur kemudian membelai rambut Isla dengan lembut "kita akan mendarat.., bangunlah."
Sebuah tarikan napas dalam sebelum mata indah Isla mengerjap, sayu meredup sesaat, manja. Adrien pun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup pipi Isla.
Cup !
"Bangun putri tidur, pangeranmu sudah datang." Adrien tertawa kecil menyulut semburat merah di pipi Isla.
"Jam berapa sekarang kak ?" Erang Isla dengan suara seraknya
"3 sore tuan putri, ada hal yang ingin kamu lakukan ?"
"Ya ! Masih dapat pasti ." Seru Isla bergegas bangun dari tempat tidur "aku mandi dulu yang kak ."
"Dapat apa ?" Tanya Adrien heran dengan perubahan mood Isla
"Kakak mau ikut ? Tidak kerja ?"
Adrien hanya menyeringai membalas pertanyaan gadis itu.
...
Sejam kemudian Adrien berdiri di tengah-tengah kerumunan manusia yang di dominasi oleh kalangan remaja seusia Isla atau beberapa tahun di atas umur gadis itu. Yang pastinya Adrien berada di tempat yang salah jika ada razia umur untuk menonton konser musik yang diadakan oleh universitas tempat Isla berkuliah.
Dan lihatlah betapa riangnya gadis yang menyeret Adrien ke tempat ini, ralat bukan menyeret. Namun Adrien dengan sukarela mengikuti kemana Isla pergi, dia tidak pernah puas dengan kedekatan mereka selama 72 jam yang lalu.
Isla melompat dan bersenandung mengikuti lirik lagu yang dinyanyikan sang vokalis berambut hitam yang tak lain adalah Mareo. Anak Lika yang tumbuh tinggi dan tampan, wajah Mareo adalah perpaduan sempurna saudara kembar Kila dan suaminya Rui Kim walau tinggi badan Mareo hanya sekitar 184 cm.
Dengan menonton konser ini Adrien akhirnya tahu jika lagu yang sering dinyanyikan Isla adalah lagu band Mareo. Dan benar saja dengan apa yang dikatakan Isla jika sang vokalis yang mempunyai suara merdu itu mempunyai jumlah fans didominasi kaum Isla, terbukti teriakan heboh terus memanggil nama Mareo.
Adrien tersenyum simpul menganggukkan kepala mengiyakan perkataan Isla, ini adalah pertama kali dia menonton konser musik. Terlebih diadakan di sebuah kampus, selama berkuliah tak sekali pun Adrien tertarik untuk berdesakan hanya menonton penampilan band yang menurutnya hanya membuang waktu sementara dia bisa mengerjakan gamenya.
"Kamu suka nonton konser musik ?" Tanyanya melihat raut bahagia Isla
"Tentu saja, kami penonton maniak konser di Bali bahkan sampai ke Jakarta jika ada band luar yang datang ke Indonesia kak."
"Berikutnya jika ada konser musik lagi, kamu harus mengajakku Isla."
"Kakak suka ?"
"Iya ." Jawab Adrien singkat dan serius. Konsernya tidak akan tersimpan sepenuhnya di kepala Adrien, tapi momen kebersamaan bersama Islanya tidak akan dilewatkan dengan percuma.
"Iboooo " teriak kencang Mareo mengagetkan Adrien dan Isla, berikutnya Adrien seolah melihat adegan film pasangan dimabuk cinta yang telah berpisah lama kemudian bertemu, saling berlari dan si gadis melompat ke pelukan si pria.
"Iyoooo !" Seru riang Isla membenturkan kepalanya dengan kepala Mareo. Keduanya kemudian melepaskan pelukan dengan tertawa ceria.
Mareo kemudian menyadari kehadiran Adrien, dengan mengulum senyum laki-laki berusia 21 tahun itu mendekatinya.
"Paman, apa kabar ?" Ucap Mareo akrab langsung memeluk Adrien, ucapan sang vocalis memicu gelak tawa Isla.
"Tadi baik, tapi begitu kamu memanggilku paman, moodku langsung berubah." Sahut Adrien mengacak rambut hitam milik Mareo
"Tapi memang Paman kan ?" Ucap Mareo menekankan kata paman hanya untuk mencandai Adrien terbukti raut wajahnya menahan tawa dengan menarik bibirnya ke dalam.
Adrien mendengus kasar sembari memicingkan mata birunya
"Reo, bisakah kamu berhenti memanggilku paman? Apalagi kita sedang di kampus."
Dengan menutup mulutnya vokalis tampan yang sengaja menganggur tidak melanjutkan kuliah hanya demi menunggu Isla tamat sekolah pun terbahak tawa yang keras.
"Maafkan dia kak, Iyo memang menjengkelkan seperti itu ." Ucap Isla
"Hei, kamu lebih menjengkelkan Ibo. Aku heran Paman bisa tahan se-pesawat denganmu."
Adrien bingung, sesaat tadi dia melihat adegan romantis dan sekarang Isla dan Mareo saling beradu mulut.
"Sudah sudah." Adrien menengahi keduanya, pria yang paling dewasa itu pun merangkul Isla dan Mareo kemudian berjalan meninggalkan venue konser yang mulai sepi.
"Kalian berdua itu bikin heran, tadi pelukan sekarang berdebat. Sebenarnya apa hubungan kalian ? Pacaran ?" Ujar Adrien menginginkan kejelasan sebelum bertindak lebih jauh. Dia tidak mungkin mengejar Isla jika melihat kedekatan gadisnya dengan Mareo seintim itu.
"Iyuuuuuu !!!" Isla dan Mareo kompak meringis dan seolah jijik mendengar perkataan Adrien
"Isla memang cantik Paman, dia gadis hebat. Tapi pacaran dengannya itu takkan terjadi, bahkan jika Isla satu-satunya wanita yang tersisa di muka bumi !" Ucap Mareo mencebikkan bibirnya
__ADS_1
"Benar kak, itu takkan terjadi karena Iyo akan memilih pria terakhir di bumi. Iyo sukanya sama laki-laki, tidak suka perempuan." Balas Isla kemudian berlari dan berbalik menjulurkan lidahnya ke arah Mareo
"Awas kau Ibo !!" Teriak Mareo emosi
Tawa Adrien pun pecah, bahunya naik turun terpingkal-pingkal.
"Paman..." Mareo memasang wajah seriusnya menatap Adrien
"Ya." Adrien menghentikan tawanya,
"Aku tahu jika paman lagi dekatin Ibo. Suka sama Ibo, asal paman tahu, kami berdua tidak memiliki rahasia. Jadi sejak paman bertemu hingga di Bali bersama Ibo, Ia ceritakan semua ke aku."
"Oh ya ?" Sahut Adrien membulatkan matanya
"Aku akan membantu Paman mendapatkan Ibo, tapi ada syaratnya." Tawar Mareo, dia tahu jika sedang bernegoisasi dengan pria terkaya kelima dunia, ini adalah kesempatan besar dirinya untuk mewujudkan cita-cita. Cita-cita yang ditentang oleh Rui Kim dan Lika, kedua orang tuanya.
"Sebutkan apa syaratnya ?" Tanya Adrien dengan enteng
"Aku ingin paman membiayai band kami, buat kami terkenal. Bukan cuma di Jerman dan Eropa Barat. Tapi tembus ke Amerika, Asia. Seluruh dunia."
Adrien tersenyum miring dan mengembuskan napasnya ringan, permintaan Mareo adalah hal kecil untuknya.
"Reo, aku akan membangun perusahaan rekaman. Record Label yang tertaraf Internasional, setara dengan Warner Music. Apapun yang bandmu perlukan aku akan menjadi sponsor tunggal. Pertama demi Isla, kedua aku sudah mendengarmu menyanyi, musik kalian bagus dan suaramu juga. Dunia perlu tahu tentang kalian."
"Paman, menikah saja denganku." Seru Mareo memeluk bahagia Adrien
Pria tinggi berwajah rupawan mendorong Mareo untuk lepas dari pelukannya
"Jangan-jangan apa yang dikatakan Isla benar, kamu suka dengan sejenis."
Mareo terbahak tawa menelengkan kepalanya.
"Aku sangat normal paman, aku memang tidak punya pacar. Tapi untuk tidur dengan wanita di sini tidak perlu pakai hati, pacaran hanya akan mengikat. Sementara yang dibutuhkan pria sepertiku hanya pelampiasan gairah." Ucap Mareo jujur
Kali ini Adrien tertawa keras membayangkan entah apa yang akan Lika lakukan jika mendengar penuturan anak semata wayangnya itu.
"Kakak, Iyo !!! Apa sih yang kalian bicarakan ? Aku lapar ! " Teriak Isla dari jarak 10 meter Adrien dan Mareo berdiri
"Ibo suka dengan paman"
"Kakak !"
"Ya deh, karena mau didanai. Hahaha... Lanjut... Ibo suka dengan kakak, bukan sekadar suka biasa. Menurutku Ia mulai sayang dengan kakak, tapi pelan-pelan saja. Ibo tidak pernah pacaran, apalagi yang kejar adalah pria dewasa yang hampir seusia dengan mami."
Mata Adrien melotot menatap Mareo.
"Maaf Kak." vokalis tampan itu terkekeh "Ibo itu gadis yang pintar walau tidak sejenius kakak, perlahan terus sentuh hatinya. Dan Ibo sendiri yang akan datang ke pelukan kakak."
"Begitu ?"
"Ya !"
Mareo menarik napas panjang lalu mengarahkan pandangannya ke arah Isla.
"Sebesar apa kakak mencintai Ibo, apakah lebih besar daripada cinta kakak kepada mami, maaf kak ini sudah rahasia umum di keluarga kita."
Adrien menatap ke arah Isla yang memberenggut kesal karena menanti mereka untuk mendekat.
"Sebesar apapun cintaku dulu kepada Aurora, tidak pernah membuatku gila seperti ini dengan Isla. Gadis itu justru menghapus sisa perasaanku kepada Aurora, tak berbekas. Isla gadis yang sangat sempurna, Ia adalah kesempatan terakhir yang harus aku dapatkan."
###
Mareo Girindrawardhana
Alo kesayangan♥️,
sudah senin saja, minggu terakhir bulan Februari..
masih ada yang nentang Rien Isla ?
saya kembalikan, ini hanya fiksi..
entah ada yang kejadian beneran, mungkin ada..
kecuali kaya raya macam Adrien 😂
Mareo sudah muncul, cakep gak?
Axel kapan yah?
pasti pada penasaran, seperti apa Axel.. anak dari Dylan Yu.
love,
D😘
__ADS_1