
Setelah berganti baju, aku segera keluar dari kamar perawatan tersebut. Bekas luka di dadaku masih berdenyut dan gatal, namun aku justru merasa lebih sakit jika tidak keluar. Beruntung Ren sudah mengembalikan semua kartu yang kumiliki, dengan begini, setidaknya aku cukup kuat bertahan melawan monster level 70, itu berarti 210 dalam standar dunia ini. Nah, sejak awal level yang digunakan Ren dan dunia ini agak berbeda.
"Antares, kamu susah sadar? Tunggu, kamu belum boleh keluar hari ini?!" Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang masih muda berteriak histeris. Aku tidak terlalu terkejut dengan reaksinya, karena luka di badanku memang cukup parah.
"Makasih untuk perawatannya bi, aku tertolong berkat mu."
"Aku tahu itu, jadi kembali kekamarmu dan beristirahat dengan tenang! jangan menambah pekerjaanku yang sudah menumpuk!!" Dia benar-benar marah.
"Aku hanya ingin mencari udara segar." Juga monster dengan skill regenerasi. Jujur, ini merupakan kali pertama aku harus menderita luka berkepanjangan semacam ini. "Jadi bibi tidak perlu terlalu khawatir. Sinar matahari dan angin musim semi akan membuatku pulih lebih cepat." kataku dengan wajah serius.
"Haaa!" Bibi segera menatapku dengan geram. Kami saling adu tatapan selama beberapa detik hingga ia akhirnya membiarkanku pergi.
"Pastikan kamu kemari saat makan siang. Jangan pergi terlalu jauh, dan kamu tidak bolah mengangkat pedang untuk saat ini.!" bibi kembali mengingatkan aku dengan wajah serius, sampai aku merasa matanya akan terlepas dari tempatnya.
"iya, bi. Aku akan menjaga diriku dengan baik, aku pergi dulu." Aku segera keluar dari rumah tabib dengan langkah cepat. sesaat aku bisa mendengar suara, "dasar anak itu, dia bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit bermanja di kamar."
Bibi sudah berada dalam rumah ketika mengatakan kalimat tersebut, namun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas. Jantungku seakan melambat untuk sesaat. Entah mengapa aku tiba-tiba menghela nafas berat tanpa alasan...
Dimata para penduduk mungkin aku terlihat seperti anak anjing yang tak berdaya. Mereka tidak mengingkari kekuatanku, namun mereka masih menganggapku sebagai anak-anak. Mungkin karena kami hidup didesa, sehingga hubungan batin antara satu sama lain masih terbilang dekat. Jika aku hidup di kota, mungkin aku harus dipaksa menjadi pahlawan yang harus melakukan ini dan itu.
Ngomong-ngomong soal itu, aku juga mendapatkan title yang bernama pahlawan. Itu berarti ada beberapa orang yang mulai mengidolakan diriku. Jika itu anak-anak, aku mungkin masih bisa memakluminya. Namun, aku tidak akan mendapatkan title tersebut tanpa pengakuan dari orang dewasa.
Ini memuakkan.
Bukannya aku mau lari dari tanggung jawab, tapi aku juga tidak mau menanggung beban yang terlalu berat. Tidak peduli apapun yang terjadi, idealisme akan membutakan mata anak muda. Walau aku baru berusia 11 tahun.
Berhenti berfikir masalah itu, aku sedikit mempercepat langkah kakiku. Sepanjang perjalanan itu, setiap penduduk yang melihatku akan menyapaku dengan senyuman lebar, terutama anak-anak yang masih dipenuhi semangat. seperti;
"Anta kamu sudah sadar! Syukurlah."
__ADS_1
"Hei, hei, apa benar kamu mengalahkan 3 Goblin Warrior sendirian? Keren banget!"
"Antares, ceritakan kepada kamu tentang pertempuranmu dengan Goblin Barbarian!"
"Hei Anta, apakah aku bisa menjadi kuat sepertimu?"
"Anta perlihatkan pada kami skill berpedangmu!"
"Tidak, aku ingin melihat pria bercahaya yang bisa bergerak itu!"
Aku menolak mereka semua dengan halus, dengan alasan lukaku yang masih belum pulih. Jika mereka tidak percaya, aku berniat membuka perban ini dan memperlihatkannya kepada mereka. Tindakan itu akan sedikit membuat mereka ketakutan, tapi layak dilakukan. Beruntungnya mereka mengerti walau dengan rasa kecewa yang tinggi.
Aku sampai di tepi hutan setelah melewati ladang milik para warga. Tidak banyak ladang yang rusak, namun itu tidak membuat para petani berhenti mengeluh. Entah itu tikus yang banyak atau burung pipit yang berpesta di lahan gandum, semua itu cukup membuat para petani bersumpah serapah kepada bumi dan langit. Tanpa terasa 10 sudah berlalu, dengan kondisiku saat ini, perjalanan ini sudah membuatku merasa kelelahan.
Untuk itu, aku memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon besar yang rindang. Rasanya seperti sudah berhari-hari tidak makan. Hm, aku ingin apel yang segar, ranum, dan juicy. Hehe, membayangkannya saja sudah membuatku ngiler.
"Kamu mau?" Suara yang khas keluar dari kepala yang asing.
Aku hanya bisa tersenyum menanggapi tingkah antik dari tuanku tersebut.
"Ren, kamu benar-benar kurang kerjaan?"
"Nah, kemampuan komputer biasa tidak bisa dibandingkan dengan komputer kuantum."
Aku langsung menggigit apel tersebut dari tangan Ren. Segera, cairan transparan mengalir dari bekas gigitan tersebut, membasahi tangannya. Setelah mengunyah beberapa saat, aku menelan apel tersebut dan perasaan puas yang segar dan luar biasa menyebar kesetiap inchi tubuhku. Aku menggenggam tangan Ren, kemudian menjilati sisa jus apel yang menempel disana.
Ah, dia melakukannya lagi. Aku benar-benar penasaran bagaimana dia bisa memiliki sifat bejat semacam ini. Mungkin karena pengaruh penampilannya? Aku ingat Ren berkata kalau dirinya ketiga dewasa pernah mengubah sebuah kota menjadi tempat penuh kesesatan dan hasrat tak terbendung. // Aku sendiri penasaran bagaimana aku bisa terjebak dalam perangkapnya, sehingga menjadi pelayannya.
Ketika seseorang melakukan kontrak dengan entitas tingkat tinggi, mereka biasanya membutuhkan bayaran. Kalau dewa itu baik, maka bayarannya mungkin ketaatan, harus menyebarkan agamanya, dan harus mematuhi doktrinnya atau sebagainya. Jika seseorang membuat kontrak dengan setan, harganya bisa mulai dari darah segar, gadis perawan, atau harta benda. Tapi bahkan kontrak paling murah dari Demon Lord of Greed setara dengan harta sebuah negara kecil. Dia yang Mengamati dari Dunia Bawah juga menerapkan hukum serupa. Harga yang harus dibayarkan seseorang biasanya ambisi, kebebasan, dan hasratnya.
__ADS_1
Seseorang akan kehilangan seluruh Kebanggaan (pride), Kecemburuan (Envy), Kemarahan (rage), Keserakahan (Greed), Hasrat (Lust), Kemalasan (Sloth), dan Kerakusan (Gluttony). Itu tidak termasuk ambisi dan sebagainya. Memaksa merubah sifatnya dari Evil menjadi Neutral. Menariknya, itu juga berlaku pada para setan, naga, undead, dan heteromorp.
Oleh karena itu, satu-satunya alasan mengapa pelayanan God of Star bisa merasakan nafsu ialah ketika Ren itu sendiri menggila. Yeah, Ren juga memiliki skill untuk mengendalikan sifat seseorang, entah itu skill tersendiri ataupun pengaplikasian dari skill lain.
"Master, dimana aku bisa menemukan slime atau monster yang memiliki skill regenerasi?"
"Kamu harus pergi sedikit lebih dalam. Kurasa ada Sanca Kembang Hijau tidak jauh dari sini. Daerah rawa, kalau tidak salah."
"Sanca Kembang? Seberapa besar?" Monster jenis ular tidak begitu asing bagiku. Biasanya mereka hanya monster rank 1 atau 2, tapi tidak menutup kemungkinan ular yang satu ini telah mencapai rank 3 atau lebih tinggi. Dengan kondisiku yang saat ini, aku percaya bisa menyelinap ke dekatnya lalu pergi tanpa pertarungan yang tidak perlu.
"Hm, tidak begitu besar. Kamu menginginkan pemandu?"
Daerah rawa ya, kalau tidak salah itu cukup dekat dengan salah satu sarang goblin ukuran kecil. "Kurasa aku bisa menemukannya sendiri."
"Baiklah, kau tahu apa yang harus kau lakukan saat berada dalam bahaya."
"Aku ragu kamu akan menyelamatkanku saat itu tiba, master."
"Hehe, tentu saja aku akan menyelamatkanmu."
Ren menyenderkan punggungnya di batang pohon, menatap ke atas langit biru.
Haa, enaknya jadi dia. Hm, jujur saja, aku masih penasaran dengan kekuatan sebenarnya anak itu. Saat ini, Ren setidaknya memiliki 100,000 pelayan yang masih hidup dan 1,000,000 pelayan dalam bentuk mahkluk bayangan. Kau tahu Shadow Monarch? Dia bisa mereplikasi kekuatan semacam itu semudah menjetikan jari.
Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak sebelum memutuskan melanjutkan pencarian. Memandangi awan putih juga tidak buruk juga.
(to be continue)
♦♦♦
__ADS_1