
Tombak merah terang diangkat keudara, kemudian ayunkan ke bawah dengan kekuatan luar biasa. Ayunan tersebut tidak menimbulkan bunyi gesekan diudara, karena udara itu sendiri terbakar oleh panas dari si tombak.
Memantapkan dirinya, Saga mengaktifkan [Light of Dawn]. Beliung cahaya menyembur dari bawah bagaikan amukan alam, tebal dan mematikan. Kedua serangan bertemu satu sama lain, menghasilkan kembang api yang indah. Tidak dipungkiri, serangan si Orge cukup kuat untuk menembus lapisan demi lapisan beliung cahaya, berhenti tepat selangkah dari Saga.
"Aaargh!" Namun si Orge justru menjerit kesakitan.
[Light of Dawn] merupakan skill tipe cahaya yang memiliki dua efek, yaitu pemurnian dan disintegrasi pada level sel. Ini merupakan salah satu skill terkuat dibawah level demigod. Dimana seseorang badan diurai dengan paksa sedikit demi sedikit. Terlebih lagi, Saga mengaktifkan sebagai serangan AoE. Itu akan seperti ribuan jarum menusuk seluruh tubuhmu pada saat yang bersamaan.
Lebih dari itu, Saga mengaktifkan menggunakan seluruh mana dan daya kehidupan yang dia miliki, memperkuatnya hingga level yang melampaui pertahanan magis si orge.
Si Orge segera melompat mundur dengan buru-buru. Badannya yang sebelumnya nampak macho dan besar, kini dipenuhi dengan darah. Melihat tangannya sendiri, dia merasakan seluruh badannya berdenyut-denyut hingga hampir membuatnya gila. 'Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa melakukannya?' mungkin dia tengah berfikir seperti itu.
Aura menekan itu segera menghilang, tanpa sisa sedikitpun. Semua orang bisa bergerak bebas lagi, namun Saga nampak sangat pucat seolah kehilangan terlalu banyak darah. Nafasnya berat, dan dia seakan bisa jatuh kapan saja. Itu karena dia hampir menggunakan seluruh daya kehidupannya untuk menahan serangan tersebut. 'Sayang sekali itu tidak membunuhnya' decak Saga dalam hati.
Ada beberapa alasan mengapa Saga sampai melakukan tindakan bunuh diri semacam itu. Pertama dia akan mati kalau tidak melakukannya, terutama karena perbedaan level yang melebihi 60 tingkat, Saga akan langsung mati bila terkena Serang seperti itu. Kedua, karena dia percaya kalau Thalia akan bisa menyembuhkannya. Ketiga, Saga berharap agar mereka bisa sedikit lebih cepat membunuh para goblin tersebut dan segera membantunya.
"[Hope for Life]" Kata yang lembut bergema dari belakangnya. Aura hijau terang nan lembut segera mengelilingi Saga, menghilangkan segala jenis keletihan yang bersarang di badan Saga.
Saga menarik nafas panjang, kemudian kembali fokus kepada monster didepannya.
Monster itu kini berada dalam keadaan yang memprihatikan, dimana seluruh kulitnya menghilang disertai beberapa bagian dalam tubuhnya. Hingga dia nampak seperti Ghoul yang berjalan. Skill regenerasi yang dia miliki tengah bekerja dengan baik, namun masih perlu sedikit waktu hingga dia pulih sepenuhnya.
"Bajingan... Aku akan membunuhmu, tidak, akan kupotong tangan dan kakimu kemudian melemparkannya ke kandang serigala! Raaaar!!" Dia meraung dengan marah, hingga membuat bulu kuduk Saga berdiri.
__ADS_1
Si monster tiba-tiba muncul di atas Saga tanpa tanda-tanda apapun, meninggalkan bayangan di tempatnya berdiri semula yang menghilang beberapa saat setelahnya. Ragu akan kemampuannya sendiri, Saga memilih melompat ke belakang.
"Ugh--!" Akan tetapi benda besar dan keras menghantamnya tepat di perut. Itu adalah kaki si monster! Dia menendang Saga sangat keras hingga si pemuda takut kalau tulang punggungnya akan retak.
(Bam!!)
Suara tumpul yang nyaring terdengar ketika Saga menabrak dinding pada sisi lain ruangan. Tabrakan tersebut menyebabkan gempa kecil yang menggetarkan seluruh isi gua. Membuat bebatuan stalakmit berjatuhan.
"Saga!" Arthur dan Percival berteriak keras. Walau begitu, mereka hanya bisa menggertakan gigi dengan keras.
Saga tidak bergerak, pedang miliknya terlepas sari genggamannya dan jatuh ke lantai gua. Suara ketika pedang tersebut menyentuh bumi memang tidak nyaring, namun itu seperti mengirimkan pesan yang dipenuhi teror kepada semua orang.
"Dia sudah mati..." Thalia berkata dengan nada bergetar. Hiiro segera melihat kearah gadis tersebut, namun ekspresi yang ditampilkan Thalia membuat teriakan diujung tenggorokan si pemuda menghilang. Itu adalah ekspresi ketakutan dan teror yang murni.
Yeah, tadi itu one hit kill. Tidak mungkin Saga bertahan dari serangan penuh monster level 50 yang dibumbui [Mana Burst] juga berkah dari entitas tingkat tinggi. Dia mendapatkan kematian instan.
Dari semua orang yang ada disana, hanya Antares yang tetap tak berekspresi. Fakta kalau Saga tidak segera berubah menjadi Night Watcher adalah bukti nyata kalau Ren tengah mengacaukan situasi ini.
"Dia mati begitu saja? sayang sekali. Namun aku akan bersikap lebih lembut kepada kalian." Dia jelas berbeda dari Orge biasa. Caranya berbicara, caranya bertarung, caranya berjalan. Dia seperti seorang veteran yang ahli dalam menemukan kelemahan lawan, dan memicunya ke permukaan.
Semua goblin perlahan mundur ketika raja mereka melangkah turun dari area tahtanya. Setiap langkahnya diringi oleh gelak tawa dari para goblin. Namun bagi para manusia, suara langkah kaki itu lebih menakutkan daripada ribuan Goblin dibelakangnya.
Hingga sampailah dia di lantai anak tangga terakhir. sang monster mengambil langkah terakhir tersebut dan berdiri di lantai yang sama dengan Crimson Vortex dan dua orang lainnya.
__ADS_1
"Nah kalau begitu, mengapa kita tidak mulai saja, pembantaiannya." Sang monster menggerakkan otot-otot yang tersisa di mulutnya. Dia wajahnya tidak terluka, mungkin dia tengah tersenyum saat ini. Namun semua kulit dan otot disana hampir menghilang.
Monster tersebut tidak mengeluarkan auranya lagi, namun bagi orang-orang itu, badannya seolah membesar hingga mencapai langit-langit gua. Besar, kuat, dan menakutkan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan itu.
Semua orang tahu mereka akan mati disini, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk mengangkat senjatanya.
"Kalian benar-benar menghiburku." Kata si monster dengan tawa kecil.
Hiiro langsung melepaskan beberapa anak panah yang terbuat dari mana namun dihalau dengan mudah. Sigur langsung melesat ke depan diikuti oleh Arthur dan Percival. Antares menghela nafas sejenak sebelum mengikuti mereka dari belakang. Belum juga mereka sampai, beberapa anak panah kembali melayang kearah si monster disertai gelombang energi magis yang merayap ditanah.
Itu adalah teknik Arthia, sepertinya dia akan fokus menjadi support dan damage dealer kali ini. Tidak lupa keduanya juga membuff semua orang dengan [Bless] dan [Bless of Fairy Court].
Anak panah dihalau dengan mudah, sementara gelombang energi dihindari dengan memutar badannya. "Datanglah!" Teriak si monster.
"Aaaaaaargh!" Sigur mengayunkan senjata berlapis petirnya dengan membabi buta. Serangan itu sangat kuat, dimana itu akan menghancurkan sebuah bukit dalam satu ayunan. Namun bagi si monster, itu bukanlah masalah yang serius. Dia menghindar, menghalau, kemudian memberikan serangan balik dengan santai.
"Memanggil cahaya!"
"[Prometheus]!"
"[Firestorm]!"
Meski ronde pertama berakhir dengan tragis. Ronde kedua pertempuran dalam gua goblin akhirnya dimulai.
__ADS_1
(bersambung...)
♦♦♦