Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 15 Gua para Goblin


__ADS_3

Bahkan anak-anak akan berbahaya jika memang pisau. Idiom itu cocok untuk di sematkan kepada para goblin. Mereka merupakan mahkluk setengah Peri yang memiliki tingkat kecerdasan rendah, dimana mereka tidak menjaga dirinya sendiri dan peralatan yang digunakan. Dalam banyak kasus, seseorang yang mati karena goblin disebabkan oleh infeksi bukannya serangan fatal. Faktanya, infeksi merupakan penyebab utama dalam kebanyakan kematian pemula dalam sarang goblin. Oleh sebab itu, merupakan sebuah pengetahuan umum penjelajahan kedalam sarang Goblin mengharuskan membawa ramuan anti infeksi atau Priest yang bisa mantra pemurnian. Memang benar kalau pendekar tingkat tinggi memiliki imun alami untuk menahan infeksi tersebut, akan tetapi melawan boss monster dengan tubuh terluka tidak lebih dari bunuh diri. Kehidupan bukanlah game yang bisa diulang kapan saja.


Meski usia mereka masih remaja dalam standar modern, para petualang tersebut memiliki pengalaman bertarung yang mumpuni serta kekuatan besar berkat leveling yang mereka lakukan selama ini. Jam terbang yang tinggi tidak membuat mereka lengah dalam kondisi paling santai, juga tidak tegang saat menghadapi krisis. Melihat bagaimana kelompok tersebut bertarung, hanya membuat Steve semakin takjub. Jujur saja, Steve heran bagaimana kelompok seperti Crimson Vortex hanya rank Silver.


Dengan pemuda bernama Saga sebagai ujung tombak, Arthur dan Percival akan menyerang setiap goblin yang mendekat. Sementara Noril dan Samantha melenyapkan musuh yang lolos dari ketiga orang tersebut. Hiiro sendiri fokus untuk membantu dengan busurnya. Sementara Thalia dan Arthiria hanya memberikan sihir peningkatan untuk saat ini. Tentu saja Steve membantu mereka dengan kemampuannya yang terbatas. Jelas si kakek merasakan perbedaan antara mereka sangat besar, bahkan setelah dengan Goblin Barbarian.


Dalam area gua yang agak luas, mayat goblin mulai menumpuk sementara darah menggenang di kaki mereka. Fakta bahwa para Goblin masih menyerbu seperti banjir membuat mereka mulai gelisah.


"Thalia gunakan skill [Breathe of Verdant World], Arthia gunakan [Bless of Fairy Court], kita harus mempercepat raid ini." Arthur memberikan arahan sembari memotong Goblin yang terus berdatangan.


"Hm."


"Aku mengerti."


Kedua wanita tersebut mengaktifkan art yang sudah mereka pelajari dari pencerahan mereka. Energi berwarna hijau cerah berhembus ketika Thalia mengangkat tongkat panjang dengan wajah penuh ketaatan. Mana tersebut melayang menuju semua orang dengan perlahan layaknya hembusan angin. Kemudian seluruh luka, lelah, dan kegelisahan mereka menghilang, digantikan semangat dan energi kehidupan.


Selanjutnya Mana berwarna biru cerah mengelilingi semua orang, nampak menyatu dengan badan mereka. Tiba-tiba saja semua orang nampak lebih bertenaga dengan badan yang bertambah besar dan berisi.


Kedua mantra yang digunakan memiliki efek yang panjang, sekitar 3 sampai 6 jam. Jelas, efeknya melebihi kerugiannya. Dalam kondisi normal, mana para penyihir akan pulih beberapa poin dalam satu menit. Proses tersebut akan jauh lebih cepat untuk Athia yang memiliki talent istimewa.


"Lakukan Saga!"


"Baiklah, kumohon terangi jalan kami..." Pedangnya yang nampak biasa saja tiba-tiba bersinar dengan cahaya keemasan. Kemudian Saga mengayunkannya dengan gerakan mengalir. "...[Light of Dawn]."

__ADS_1


Cahaya pertama di pagi hari seakan terbit gua yang gelap. Setiap Goblin yang berada di depannya menghilang seperti gumpalan lumpur yang diterjang banjir. Cahaya keemasan itu sangat terang, namun tidak ada orang yang merasa silau. Sebaliknya, mereka merasa bagaikan melihat keajaiban tuhan. Ketika cahaya menghilang, tidak ada lagi Goblin yang berdiri tegap, menyisakan gumpalan darah di dinding dan potongan tubuh di lantai.


"Tidak peduli berapa kalipun aku melihatnya, namun serangan itu tetap saja menakjubkan." Ujar Percival sembari bersiul ringan


"Apakah tadi itu semacam seni tertentu?" Steve bertanya dengan agak penasaran.


"Tidak, tadi itu skill unik yang dimiliki Saga." jawab Hiiro yang berada di dekatnya.


"Baiklah, mari kita lanjutkan, Hiiro, kamu maju ke depan." kata Arthur dengan ekspresi serius


"Baik, tolong lindungi aku mas Saga." Hiiro segera maju dengan semangat tinggi. Dia menatap Saga, namun pandangannya tertuju kepada tato mirip bekas luka dan jahitan di lehernya.


"Serahkan padaku." Kata saga dengan penuh percaya diri.


Kemudian kelompok tersebut melanjutkan perjalanan menuju ke satu-satunya lorong panjang yang ada. Dalam lorong gelap tersebut, cahaya hanya bersumber dari bola sihir yang dipanggil Thalia. Jika lorong itu sunyi maka suara langkah kaki yang menggema akan membuat kegelisahan seseorang meningkat, tetapi jauh di depan sana terdapat berbagai macam suara yang diciptakan oleh para goblin. Tawa menjijikan, kata yang tidak jelas, dan sebagainya sampai ditelinga para kelompok tersebut.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Hiiro bertanya dengan suara rendah.


"Bunuh mereka semua." Sigur sang Barbarian barkata dengan wajah serius.


"Pergi ke sana dan bernegosiasi? Orge itu nampak seperti subspesies yang cukup cerdas." Samantha mengungkapkan kesan pertamanya terhadap raja goblin tersebut.


"Kamu percaya bisa mengalahkannya Saga?" Noril Assassin yang hendak menjadi ninja bertanya kepada pemuda tampan berambut oranye itu.

__ADS_1


"Aku bisa, namun akan lebih baik jika ada jalan lain." katanya tanpa menoleh ke belakang.


"Hm, mengapa?" Samantha agak penasaran.


"Tidak ada alasannya sih, ya, tidak ada alasan." Kata Saga dengan wajah serius dan anggukan kuat.


"Haah, kukira apa." Semua orang tidak begitu terkejut dengan reaksi aneh Saga, karena sudah sering mereka lihat. Dia lebih seperti seseorang yang kesulitan mengungkapkan isi hatinya daripada merencanakan sesuatu.


"Baiklah, siapa yang akan pergi?" Tanya Percival. Kemudian semua orang melirik ke satu pemuda dengan rambut pirang dan armor merah gelap.


"Haish, susahnya jadi pemimpin. Tidak, kalian pasti tetap memilihku walau aku lengser dari jabatan."


"Tolong ya, kapten."


"Kamu yang terbaik kapten!"


"Berjuanglah kapten!"


"Kapten! Kapten! Kapten!"


"Aku pergi." Arthur keluar dari persembunyiannya. Suara asing langkah kaki dari lorong menjadi perhatian semua monster. Baik dari goblin biasa hingga mereka yang kuat, bahkan sang Orge yang duduk santai di tahtanya.


Tatapan itu tiba-tiba berubah tajam. Semua orang meninggalkan kesibukannya dan mengambil senjata terdekat, entah itu batu atau ranting kayu. Gua yang damai tiba-tiba berubah menjadi penuh ketegangan.

__ADS_1


Arthur tidak mengendurkan wajahnya ataupun mengerutkan dahinya, berjalan tanpa keraguan sedikitpun dan ekspresi serius. Kemudian dia berhenti tepat beberapa langkah dari pasukan Goblin.


"Kami datang untuk berbicara."


__ADS_2