Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
ch. 54 Jiwa untuk Luke Croissant


__ADS_3

Antares kembali menjentikkan jarinya. Sebenarnya tindakan tersebut tidak diperlukan, akan tetapi ia tetap melakukannya. Ia juga bisa tetap diam, membiarkan anak berambut biru itu mati tepar didepannya, namun ia memilih melakukan hal yang lain. Tapi, ada satu hal yang pasti, yaitu ia bukanlah manusia dengan hati yang baik. Ia merasa, kalau dirinya memang terlahir sebagai penjahat. Tentu saja itu tidaklah benar, ada satu alasan mengapa pikiran tersebut tidaklah benar.


Akan tetapi alasan tersebut, sering terlupakan begitu saja.


"Apa, yang baru saja terjadi?" tanya Juni saat rasa sakit kepalanya perlahan menghilang. Ia ingat, kalau anak dengan seorang predator itu mengatakan sesuatu padanya. Itu berhubungan dengan menyelamatkannya nyawanya, yang mana tidak terlalu penting bagi Juni. Ia tidak begitu peduli dengan hidupnya sendiri, bahkan mungkin kematian merupakan takdir yang jauh lebih baik baginya. Akan tetapi, anak berambut keemasan tersebut menyebutkan nama Luke.


"Luke..." Juni tidak begitu mengerti apa yang tetjadi. Ia hanya melihat pria itu menusuk leher Luke. Lalu temannya itu terkapar di lantai bersimbah darah. Juni ingat jelas, kejadian yang membekas di ingatan tersebut. Juni melihatnya dengan jelas saat-saat terakhir temannya itu, dan kata terakhir yang terucap dari mulutnya.


"Apakah--! apakah Luke bisa diselamatkan?"


"Benar. Aku mengambil tubuhmu sebagai ganti menyelamatkan nyawamu. Lalu, apa yang harus aku ambil untuk menyelamatkan pahlawan kecilmu itu?"


kata Anak berambut emas tersebut melihat Juni dengan mata biru sedalam samudra. Sangat dalam, seolah pusaran yang akan menenggelamkan segalanya. Ia melihat pada Juni sebagai predator melihat mangsanya. Untuk sesaat, Juni merasa melihat seekor binatang buas tengah menjilati bibirnya, sembari menatap langsung kearahnya.


Namun, bukan itu yang penting saat ini.


"Apa yang kamu inginkan? Aku akan memberikannya, jadi... kumohon, tolong selamatkan Luke!" bagi Juni, menyelamatkan cahaya itu jauh lebih penting daripada apapun di dunia ini.


"Baiklah. Ingatlah, mulai hari ini, jiwamu merupakan milikku."


Dunia seakan berubah bersama dengan suara yang bergema dalam kepala Juni. Batu paving berubah menjadi lantai yang terbuat dari kayu, kemudian sebuah dinding, perabot rumah, dan terakhir plafon kayu berwarna coklat menggantikan langit biru. Sekali lagi Juni harus melihatnya, tubuh temannya yang bersimbah cairan merah dengan mata yang kosong.


"Luke...!"


"Perhatikanlah baik-baik."


Sebuah tongkat kayu dengan permata hijau tiba-tiba ada di tangan anak aneh tersebut. Kemudian kepala emerald itu bersinar dengan cahaya redup. Kemudian cahaya yang sama menyelimuti badan Luke. Darah di badannya perlahan menghilang, diikuti lubang di lehernya kemudian. Ketika cahaya tersebut menghilang, Luke, kini tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang tertidur pulas. Tanpa bekas luka sedikitpun, meninggalkan sedikit noda merah yang sudah mengeras diatas lantai.


Juni segera berlari kesisi Luke. Mencengkeram bahunya, dan menggoyangkannya dengan keras.

__ADS_1


Steve hanya tidak berkata-kata apapun sampai saat ini, seolah dia tidak benar-benar berada disana. Ia melihat wajah Antares sekali lagi. Semua jenis seringai dan emosi perlahan menghilang dari mukanya, dengan mulut yang sedikit ditarik kebawah.


Sangat kuat, namun juga, sangat lemah. // kata Steve dalam benaknya.


"Nghh... Dimana aku.."


"Luke, kamu sudah sadar?" Juni bertanya dengan nada yang rendah, seakan berbisik.


"Juni, mengapa kamu masih di sini? Assassin...." Luke yang masih setengah sadar segera terkesiap. "Juni cepatlah lari, assassin itu masih berada disekitar sini!"


"Jangan khawatir soal itu. Lebih dari itu, mengapa kamu tidak ceritakan masalah yang menimpamu?"


Luke terdiam sejenak.lalu bertanya, "Siapa kau?"


"Hm, aku bukan siapa-siapa sih. Kalau kamu tidak mau menceritakannya, juga tidak apa-apa kok. Aku juga tidak berniat terlibat dalam masalahmu."


"Tidak, bukan itu maksudku. Maaf bila pertanyaanku menyinggung perasaanmu." Luke mencoba bangun dari lantai dengan sedikit bersusah payah. "Perkenalkan, namaku Luke Croissant salam kenal. Apakah kamu orang yang udah menyelamatkanku?"


"Kamu harus lebih berterimakasih kepada Juni untuk itu. Tanpanya, aku tidak akan bisa membantumu sama sekali." Kebohongan mengalir keluar dari mulut Antares dengan sangat lancar. "Dan juga, aku Antares, Antares Oliviera, dan ini kakek ku, Steve Emmanuel. Kami baru saja tiba di Rimun kemarin."


"Benarkah? Makasih Jun, aku berhutang nyawa padamu kali ini. Aku pastikan akan mengganti uangmu." Katanya dengan penuh percaya diri.


Itu bukanlah pemikiran yang liar. Malahan, sesuatu yang sangat normal dilakukan oleh para petualang atau priest. Mereka sering meminta uang sebagai ganti sihir penyembuhan, bahkan mereka yang enggan melakukannya. Tidak semua orang memiliki hati batu yang tidak iba pada orang sakit dan keluarganya.


"Tidak perlu khawatirkan itu. Lebih dari itu, mungkin lebih baik kalau kamu segera kembali ke keluarga Croissant?"


"Tidak, tempat itu juga tidak aman. Aku perlu menghilang untuk beberapa waktu hingga mereka menyerah."


"Masalah yang kamu hadapi ini mungkin terlalu berat untuk dihadapi sendiri. Oleh karena itu, jangan ragu untuk minta bantuan atau lari." Kata Steve dengan nada khas orang tua. Mengucapkan kata terakhir dengan sedikit lambat.

__ADS_1


"Ya, aku mengerti, terimakasih banyak kakek."


"Kami tinggal di penginapan Merak Hijau kalau kamu butuh sesuatu, tentu saja, aku tidak akan melakukannya dengan gratis." Kata Antares dengan senyum tanpa dosa. Seolah ia tidak peduli dengan masalah yang dihadapi oleh kedua anak tersebut.


"Sekali lagi, kami berterimakasih atas bantuan kalian berdua."


Luke melihat punggung dua orang berbeda generasi tersebut dengan tatapan kagum. Sementara, Juni lebih terlihat ketakutan dengan anak itu. Ia merasakan suatu ikatan yang aneh antara dirinya dan Antares. Kemudian dia teringat kalau dia telah menjual jiwa dan raganya kepada Antares! Dalam kata lain, Antares adalah masternya saat ini!


"Ada apa? kamu tiba-tiba pucat?" tanya luke dengan khawatir.


"Ti--tidak ada apa-apa. Ayo segera pergi dari sini, setelah itu kamu perlu menjelaskan segalanya kepadaku!"


"Baik-baik. Distrik Timur sudah tidak aman lagi, pada masa ini ada terlalu banyak mata-mata yang bekerja di sini. Jadi sebaiknya kita pergi ke distrik barat. Mungkin kita bisa menginap di penginapan Merak Hijau?"


"Jangan tanya aku. Aku hanya tahu area di distrik selatan."


"Ayo pergi kalau begitu."


Kemudian dua anak kecil tersebut berlari ke distrik barat melalui celah sempit diantara bangunan. Sebisa mungkin menghindari mata orang-orang.


Sebagai manusia biasa, Juni tidak tahu kalau garis takdirnya telah berubah begitu ia menjalin kontrak Favonius dengan Antares. Dan dia, tidak akan memiliki waktu untuk menyesalinya.


Disisi lain, Antares dan Steve terus berjalan melewati area perbelanjaan di distrik Timur. Penampilannya menarik perhatian banyak orang diantara gedung berarsitektur kuno tersebut.


"Akhirnya, ini dia."


Keduanya berhenti tepat didepan sebuah gedung besar yang menyediakan berbagai macam barang dagangan.


(bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2