
Apabila seseorang melihatnya sekilas, maka tidak ada yang berbahaya dari ruangan tersebut. Carlos menarik salah satu lantai kayu tanpa banyak tenaga. Dibawah lantai kayu, terdapat deretan tangga bawah tanah. Setelah sampai diujung tangga, lampu magis segera memperlihatkan kepada lorong bawah tanah.
Lorong tersebut dipenuhi oleh pintu kayu yang didesain dengan apik, membuat orang-orang berfikir tengah berada di hotel terkenal daripada bunker bawah tanah. Berkat levelnya yang tinggi, Carlos bisa mendengar suara halus dari ******* dan teriakan para gadis muda. Tidak jarang untuk menemukan pintu tertutup yang hampir sunyi sepenuhnya, namun Carlos tidak begitu mempedulikannya. Namun, kesunyian itu mengingatkannya pada keanehan yang ia temukan beberapa hari ini.
Barang yang dipanen beberapa hari ini nampak agak berbeda, terutama mereka yang berasal dari kota Rimun. // Carlos mengingat beberapa anak yang memiliki tatapan berbahaya. Itu agak menggelikan karena rasa bahaya tersebut datang dari anak-anak jalanan yang terbuang. Sangat mustahil mereka bisa mengalahkan bahkan petualang rank paling rendah, apalagi Carlos yang notabenenya setidaknya setara rank Adamantium.
Beruntungnya, tidak ada sesuatu yang aneh terjadi. Malahan, mereka cenderung tak melawan, seperti anak baik pada umumnya.
Tidak perlu berjalan lama, ia melihat pintu batu yang dijaga oleh sepasang petarung. Begitu melihat Carlos mendekat, keduanya segera menundukkan kepala dan membungkukkan badan. Namak jelas dimata mereka rasa hormat dan kagum kepada orang pria paruh baya tersebut.
"Bagaimana barang baru kita?"
"Ia sudah bangun, dan tidak mengatakan apapun." Kata salah satu penjaga dengan raut wajah yang keheranan.
"Oh? Dia cukup pemberani juga." Ujar Carlos dengan agak mengerutkan keningnya.
"Ya, pak." Si penjaga tidak bisa berkomentar apapun. Mempersilahkan pria paruh baya tersebut masuk kedalam.
Carlos terpana begitu ia melihat anak tersebut. Ia memiliki rambut kuning-keemasan yang indah. Wajahnya sangat tampan seperti bulan purnama di malam hari yang cerah. Dan matanya birunya yang dalam, seakan memiliki berputar layaknya pusaran air yang akan menenggelamkan segalanya. Walau model pakaiannya terkesan biasa, tapi itu nampak sempurna pada anak tersebut. Terlebih lagi karena karena anak tersebut masih diusia belia. Dimana anak-anak pada usia ini cenderung terlihat manis untuk mata.
Barang yang sangat bagus! Aku yakin dia bisa menjadi satu atau dua terbaik didunia. Mungkin kecantikannya menyaingi putri kerajaan Aramik yang terkenal sebagai permata kerajaan itu. // Seringai lebar terukir dalam wajah Carlos secara alami. Ia merasa melihat semacam tato berbentuk berlian (wajik) disalah satu sisi leher anak tersebut. Ia merasa pernah melihatnya disuatu tempat, namun tidak peduli seberapa keras Carlos mencoba mengingatnya, ia tidak bisa menemukannya.
Carlos mengangguk kepada 2 pria yang berjaga didepan kandang anak tersebut
"Lepaskan aku, sebelum semuanya terlambat." Katanya dengan nada pelan, tapi dengan sorot mata yang agak tidak fokus. Seolah ia sengaja untuk tidak menatap pria didepannya tersebut.
"Sayang sekali, tapi kakekmu itu tidak akan menyelamatkanmu. Aku sudah memastikan dia akan dipenjara tidak peduli apapun yang terjadi. Dan kamu... kamu akan segera melupakan semua kesadaran kemanusiaanmu, berubah menjadi sekedar alat untuk menghibur para orang-orang berkasta tinggi."
__ADS_1
"Begitukah? Mungkin ini kesempatan terakhir yang diberikan tuhan padamu. Setelah kamu melewati garis itu, maka semuanya sudah terlambat." Katanya dengan perlahan.
Carlos hanya melihatnya dalam diam. Tidak jarang baginya untuk menemui kejadian semacam ini, terutama dari anak berkeluarga religius. Akan tetapi, bahkan sampai hari ini, ia masih berada di sini. Bukan hanya makanan di mejanya menjadi lebih enak, bahkan hartanya bertambah melimpah.
"Bersihkan dia, lalu latih dengan baik."
"Baik pak."
Carlos melihat ruangan yang menyerupai kandang bawah tanah itu sekali lagi. Hatinya tiba-tiba terasa berhenti berdetak, ketika mata anak-anak itu bertemu dengannya. Ia merasa seperti diperhatikan oleh mahkluk tak dikenal melalui mata anak-anak itu.
Dia segera pergi ke lantai atas dengan punggung yang bergidik ngeri.
♦♦♦
Orang-orang dari Red Vortex baru saja sampai di penginapan terkenal kota Rimun ketika pelayan seorang keluarga bangsawan menghampiri mereka. Pelayan wanita tersebut memasang senyum menyanjung, begitu berjalan mendekat kepada kelompok petualang tersebut. Tanpa perlu menoleh kebelakang, Arthur bisa merasakan beberapa rekannya memasang ekspresi tidak suka pada pelayan tersebut. Bukan hanya mereka masih kelelahan, namun percakapan dengan para pelayan semacam itu cenderung memberikan tekanan mental tambahan kepada mereka. Tergantung dari jenis berita yang mereka sampaikan.
"Lamgsung saja keintinya." Percival memotong kalimat pelayan tersebut dengan ekspresi kelelahan.
Pelayanan tersebut sedikit menunjukan ekspresi terkejut, sebelum tersenyum kembali. "Saya minta maaf. Saya kemari untuk menyampaikan pesan "Antares Oliviera dikejar serigala". Itu saja, maaf telah mengganggu anda sekalian, saya permisi dahulu."
Ketika pelayanan tersebut hendak melangkah mundur, seluruh tubuhnya merasa gemetar. Keringat dingin membasahi pipi dan punggungnya, seperti kematian tengah mendekat kepadanya. Itu pada level yang sangat berbeda dengan perasaan ketika bersama orang-orang berpangkat tinggi. Itu adalah perasaan ketakutan murni ketika berdiri didepan predator.
Begitu melihat keatas, dia sangat terkejut karena tatapan semua anggota Red Vortex tengah tertuju padanya. Semuanya nampak gelap diselimuti kain hitam, hanya mata menyala yang menatapnya dengan dingin.
"Siapa namamu?" Tanya salah seorang petarung berambut putih.
"Y-ya, saya Eliana!" Jawab wanita tersebut dengan ketakutan.
__ADS_1
"Siapa tuanmu?"
"B-Bernard Gustav!"
Ketika nama Gustav disebutkan, tekanan mengerikan yang diterima Eliana sedikit berkurang. Membuat Wanita pada awal 20an tersebut bisa bernafas lega.
"Baiklah, sampaikan rasa terimakasih kami untuk pak Gustav."
"S-saya mengerti, kalau begitu saya mohon undur diri terlebih dulu." Wanita tersebut segera pergi dengan langkah cepat, hingga nampak seperti berlari. Dia sangat ketakutan hingga berusaha untuk segera pergi penginapan tersebut.
Aura membunuh yang dipancarkan oleh hampir semua anggota Red Vortex kepada seorang pelayan, jelas menarik perhatian banyak orang. Entah itu petualang kelas Adamantium lain, ataupun Orichalcum dan Mithril yang lebih rendah, semuanya bergidik ngeri ketika merasakannya. Jadi tidak aneh kalau pelayan tersebut akan bereaksi seperti itu.
"Mereka jauh lebih kuat, daripada yang aku kira."
"Hanya para naga kuno, saint, dan beberapa individu tertentu saja yang membuatku merasakan tekanan semacam itu."
"Apa yang sebenarnya mereka temukan di desa Astera?"
"Mengapa kita tidak kesana untuk melihat-lihat?"
"Ide bagus."
Kata salah satu grup petualangan kelas Adamantium yang kebetulan berada di sana.
Sementara itu, semua anggota Red Vortex segera pergi kamar mereka setelah pelayan tersebut keluar dari pintu hotel. Ketika melewati lorong hotel, Samantha dan Noril menghilang dari kelompok mereka dengan cepat, tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
(bersambung...)
__ADS_1
♦♦♦