Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 53 Perjanjian Favonius


__ADS_3

Tatapan Antares berputar antara pria berjubah hitam yang tengah terkapar di tanah, dan anak berambut biru yang hampir mengalami mental breakdown.


"Kamu mau menahannya?" Tanya Steve dengan tatapan yang serius. Walau meniliki perawakan yang kecil, namun Antares bukanlah seseorang yang akan mengampuni seorang pembunuh. Jadi, Steve bisa mengerti kalau anak tersebut tengah merencanakan sesuatu hanya dari perbedaan kecil tersebut.


Sekarang apa yang harus aku lakukan? // Antares menahan dagunya dembari memejamkan mata, menocba menemukan sesuatu dalam ingatannya yang terbatas. Kemudian sebuah kalimat terucap dari bibirnya, "Hei, siapa nama mu?"


Orang yang ia tanyai, ialaha anak kecil dengan rambut biru muda tersebut. Wajahnya pucat pasi dengan tatapan kosong, dan mulut yang sedikit berbusa. Akan tetapi, ketika matanya bertemu secara langsung dengan mata Antares itu seperti bergetar. Seolah ia tengah memasuki kondisi setengah sadar.


"Ju.....ni. Aku Juni, salam kenal."


Untuk sesaat Antares merasa merinding ketika mendengar suara anak tersebut. Itu lembut dan halus, hingga terkesan dipenuhi energi gaib. Tatapan itu, menyerupai boneka yang kosong. Namun Antares tidak merinding karena ketakutan, melainkan sebaliknya ia justru menyeringai lebar. Ia sangat bahagia hingga tidak bisa menyembunyikan seringainya. // Ah, Ren akan sangat menyukainya~!!


"Ehem, Juni, mengapa kamu dikejar oleh orang itu? Masalah apa yang membuat seseorang mau melenyapkanmu?" Tanyanya dengan tatapan lurus ke mata.


"Aku tidak tahu, mereka mengejar Luke temanku. Dia berkata sesuatu tentang surat pengantar." Katanya tanpa menyembunyikan apapun.


Jujut saja, Antares meragukan kebenaran dari kalimat tersebut, sehingga ia harus memastikannya menggunakan metode lain. Namun rupanya, anak itu berkata yang sebenarnya.


"Dimana Luke sekarang?" tanya Steve.


"Dia berada di rumahnya, terbaring ditanah, bersimbah darah!" Seolah benang yang medannya akhirnya terputus, tangisan Juni pun pecah. "Uwaaaaah!!! Hik...."


Sepertinya Luke memiliki nilai yang besar untuk Juni. Teman? kurasa lebih. // Antares hanya diam, dia memilih membiarkan anak itu meluapkan seluruh emosinya.


"Sekarang apa kamu mau memberitahuku semua yang kamu tahu? mulai dari daftar target, metode, hingga klien yang memperkerjakanmu?"


"Ah.... ha.... heh, seorang.... assassin tidak akan pernah.... membocorkan... nama kliennya...."


"Begitukah? Nah, aku sudah memberimu kesempatan." Mata Antares sedikit menyipit kemudian badan orang tersebut terkulai lemah di tanah dengan mata kosong.


Menggunakan [Astral Form], Antares menghancurkan otak pria tersebut dari dalam. Yang memberikan kematian instan.


"Ah sayang sekali, sekarang bagaimana kamu akan mendapatkan informasi yang dibutuhkan?"


"Nah, kita tidak membutuhkannya. Lagipula itu bukan masalah kita, kan?"


"Bukanya kamu seperti magnet yang menarik banyak masalah? Aku ragu masalah ini akan berakhir begitu saja."


"Aku bisa minta bantuan Ren jika masalahnya terlalu besar untuk kutangai."

__ADS_1


"Heh, dasar. Dan kamu berkata bukan seorang terpilih? jangan bercanda."


Antares kembali mengalihkan tatapan kepada Juni yang masih duduk lemah di tanah. Dia memastikan beberapa informasi tertentu melalui buku kebenaran, termasuk keluarga, rekam jejak, dan yang lainnya. Kemudian dia menasukan sebuah cacing kedalam badannya.


"Nah, Juni." Antares menepuk tangannya dengan senyuman manis. "Mengapa kamu terlihat sangat ketakutan saat melihatku?"


"Aku, karena orang yang paling kubenci memiliki tatapan yang serupa denganmu."


"Benci? Apa kamu yakin? Paling dibenci atau paling ditakutin? katakan padaku siapa dia." Antares mengambil satu lengkah kedepan yang disusul langkah yang lain.


Secara tak sadar, anak tersebut bergerak menjauhi Antares. Melihat reaksi tersebut, Antares hanya tersenyum lebar. Saat ini, ia terlihat menyerupai kucing dan tikus. Seekor predator dan mangsanya.


"Dia... Dia adalah... a-ayahku..."


"Ayah kandung?"


"Ya, pria yang melahirkanku?"


"Ceritakan padaku, mengapa kamu sangat membenci pria itu?" Antares tidak bisa menyembunyikan senyuman diwajahnya. Sementara Steve hanya menggelengkan kepala di sampingnya


"Dia akan memukulku dengan kayu, atau mendorongku ke dinging. Kalau sedang mabuk, dia akan memukuliku dengan tinjunya. Jika marah dia akan memukulku, kalau senang, dia akan memukulku. Setiap ada masalah, dia akan melampiaskan amarahnya kepadaku, sembari berkata 'bocah tak berguna' atau ..... 'bagaimana bisa bocah sepertimu bahkan dilahirkan?...' ...."


Aku bisa membayangkan ekspresinya saat dia mengucapkan kalimat itu. Kalau aku berada di posisinya... // Antares mendesah berat. // Apakah aku bisa tetap waras?


"Ya."


"Apa kamu pernah melawannya?"


"Tidak, tidak pernah?"


"Mengapa?"


"Karena dia jauh lebih juat dariku. Jadi percuma saja aku melawan."


"Jadi kamu seorang pengecut."


"Ya, aku seorang penakut."


Apa penakut dan pengecut memiliki definisi yang sama? Entahlah, mungkin saja Juni memiliki dua definisi tersebut. // pikir Steve.

__ADS_1


"Siapa Luke?" Antares yang tidak tahu harus berkomentar apa, langsung mengalihkan pembicaraan menuju ke topik yang lain.


"Dia anak seorang pedagang yang cukup besar. Dia yang telah menyelamatkanku dari pria itu."


"Baiklah, kalau begitu *tek*" Antares menjentikkan jarinya.


Juni nampak linglung, seperti seseorang yang tersentak dari tidurnya. Sekali lagi ia melihat seorang anak dengan mata sedingin artik, kakek tua dengan perawakan mengagumkan, dan pria berjubah yang kini tersungkur di tanah.


Apa yang baru saja terjadi? Aku ingat mata orang itu berubah menjadi cairan mera..... // Begitu pemandangan itu terlintas di benak Juni, seketika itu juga ia menggigil ketakutan.


"Nah Juni, jawablah pertanyaanku." Antares menatapnya dengan serius, hingga cahaya misterius seakan merembes keluar dari retinanya.


*Gulp.*


Konon, ada beberapa jenis monster yang bisa berubah menjadi manusia secara alami, atau menggunakan kulit manusia sebagai penyamaran. Dan sekarang, Juni mulai mempercayainya.


"Apa yang akan kamu berikan padaku sebagai ganti menyelamatkan nyawamu?"


Aku tidak punya apa-apa... // merupakan kata pertama yang terlintas di benak Juni. Untuk suatu alasan, ia tidak terkejut dengan pertanyaan itu. Malah, Juni merasa sedikit merasa lega. Karena semua masalah ini bisa diselesaikan dengan sedikit barang. Kemudian, ia kembali mengingat barang-barang berharga yang dimilikinya. Jam saju berlapis perak, sebuah pisau, baju yang ia kenakan saat ini, beberapa koin perak, ...


"Aku hanya memiliki barang yang tidak begitu malah, apakah itu sudah cukup?"


"Benarkah? Aku yakin kamu memiliki barang yang lain." Antares melihat anak itu dari ujung rambut hingga ke ujung kaki dengan senyuman misterius. Yang sekali lagi membuat buku kuduk Juni berdiri tegap.


Apakah dia menginginkan darahku? // Juni menutupi area lehernya sebagai reaksi alami. Namun kalau dipikirkan kembali, darahnya tidak terlalu berharga. Tidak masalah jika dia kehilangan beberapa liter darah. Toh, dia tidak akam mati. "Baiklah, aku bersedia."


Antares terpaku untuk sesaat, sebelum berkata, "Aku bahkan belum mengatakan apapun. Tapi, baiklah, kontrak telah selesai."


Antares menggunakan kontrak dengan Ren sebagai saksinya. Kemudian tiba-tiba saja Juni merasa sedikit pusing dan lemas. Tangannya mencengkram kepalanya dengan kuat, berusaha untuk tetap sadar. Wajahnya terlihat sangat pucat seperti mayat yang sudah mengering. Sementara itu, Antares melihat itrm haru yang ditampilkan dalam layar HuD


"Ah, aku lupa mengatakannya. Barang yang hilang dalam Perjanjian Favonius tidak bisa dikembalikan kecuali melalui persetujuan pihak yang lain." Antares menyeringai, memperlihat deretan gigi putih yang tersusun rapi. "Darahmu tidak akan oernah kembali lagi."


Apa yang dia katakan? // Sayangnya, Juni terlalu pusing untuk memahami kalimat tersebut.


"Begitu rupanya. Tak masalah, yang lerlu kamu ketahui adalah.... Pertama, apa yang akan kamu berikan untuk menyelamatkan nyawamu kali ini? Kedua, apa yang akan kamu berikan untuk menyelamatkan nyawa Luke yang tengah sekarat saat ini?"


Luke... sekarat... // Juni menggertakan giginya, menatap Antares dengan tajam. "Apapun! Aku akan menyerahkan apapun! Jadi tolong selamatkan kami!"


Mendengar jawaban tersebut. Seringai di wajah Antares menjadi semakin lebar.

__ADS_1


(bersambung....)


♦♦♦


__ADS_2