Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 34 Empty


__ADS_3

Aku menyapu pandanganku ke segala penjuru dengan hati yang berat.


Rumah kecil yang cukup untuk 4 orang tersebut kini tidak lagi berbentuk. Serpihan kayu tersebar dimana-mana, bersama dengan sisa-sisa dari perabot yang sepenuhnya terbuat dari kayu. Bercak darah yang telah mengering dapat ditemukan dengan mudah diantara puing-puing tersebut. Juga, lubang besar yang menarik perhatian nampak jelas pada dinding semi-permanen tersebut.


Hanya melihat dari bekas yang ada, bisa dibayangkan seberapa intens pertempuran yang terjadi di desa ini. Sayang sekali, tidak ada individu kuat yang tinggal didesa saat penyerangan tersebut terjadi.


Aku hanya bisa mengambil nafas berat, untuk menenangkan jantungku yang berdetak keras. Juga leherku yang terasa sakit...


Aku menciptakan kartu menggunakan [World Memory], kemudian kartu dengan gambar Assassin tertentu mengambang disekitarku.


"Apaan tuh?" Suara seseorang yang kukenal terdengar dari belakang, namun, aku tetap diam.


Setelah itu aku membuat bayangan yang terbuat dari kumpulan energi. Sosok semi-transparan tersebut terdiam untuk sesaat sebelum tenggelam kedalam serpihan kayu. Satu persatu serpihan kayu tersebut melayang seperti ada tangan yang menggerakkannya. Orang-orang berseru melihat fenomena tersebut, namun, masih dalam keadaan wajar.


Serpihan tersebut menyatu seperti kumpulan puzzle yang disusun kembali. Dimulai dari meja, kursi, lemari kayu, hingga setiap bengkokkan pada piring besi, semuanya pulih kembali. Hanya menyisakan bekas menyerupai retakan sebagai tanda pernah hancur.


"Inikah sihir restorasi yang fenomenal itu? Baru pertama kali aku melihatnya, dan tidak mengecewakan sama sekali."


"Tidak, itu bukan mantra tipe restorasi, dia menggunakan teknik lain yang lebih manual."


"Gimana?"


Setelah beberapa saat, akhirnya semuanya kembali seperti semula. Seperti yang dikatakan oleh Arthia, aku tidak menggunakan mantra restorasi, melainkan kemampuan tipe hantu [Astral Body]. Untuk lebih detailnya sendiri, itu menyerupai kontruksi molekuler suatu benda dengan merasuki pecahan dari suatu benda tertentu. Dilakukan sesuai dengan petunjuk memori dunia. Hm, mungkin akan lebih mudah dimengerti jika aku mengatakannya sebagai sihir? Dahlah...


"Duduklah, aku akan mengambil air."


"Terimakasih, tapi tidak perlu repot-repot."


Aku pergi ke dapur untuk mengambil beberapa gelas kayu. Untuk airnya sendiri, aku membeli magic item uang dibubuhi dengan mantra [Create Water]. Bentuknya sendiri menyerupai botol yang terbuat dari kristal. Jika aku menggunakannya, air yang diciptakan cukup untuk membanjiri ibukota selama 7 hari 7 malam. Untuk rasanya sendiri, tidak begitu berbeda dengan sumber mata air asli dari pegunungan. Itu merupakan sebuah item yang menakjubkan. Sayang sekali... Sayang sekali...


"Silahkan." Kataku sembari memberikan air satu demi satu.


"Makasih ya Antares."


Setelah kalimat tersebut, ruangan kembali sunyi untuk waktu yang lama. Sangat lama hingga waktu terasa berhenti bergerak.


Mau tidak mau, aku harus memecah kesunyian tersebut. "Apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?"


Mereka saling melihat satu sama lainnya, kemudian kembali menatapku. "Kami berfikir untuk kembali ke gua itu. Mencari penduduk yang selamat."

__ADS_1


"Um, begitukah..."


"Bagaimana denganmu sendiri, Anta?"


"Aku tidak tahu... Aku tidak... tahu..."


Keheningan memenuhi ruangan sekali lagi. Aku terlalu bodoh untuk mempertahankan topik obrolan tersebut. Tapi, sepertinya mereka menangkapnya sebagai sesuatu yang berbeda.


"Mungkin lebih baik kamu tetap tinggal untuk sementara waktu."


"Benar, serahkan sisanya kepada kami. Lagipula kami jauh lebih kuat sekarang."


"Mm..." Aku hanya bisa menganggukkan kepala.


"Susah diputuskan kalau begitu, tolong jaga harta kami baik-baik, okay?"


"Mm..."


Setelah itu mereka memutuskan untuk tinggal selama beberapa waktu, sebelum kembali menjelajahi hutan mencari petunjuk yang tersisa.


Sampai saat ini, pikiranku masih blank. Aku tidak memikirkan apapun, itu hanya kosong, tanpa isi apapun. Jika aku duduk selama beberapa detik, mungkin aku akan tenggelam dalam lamunan. Duduk di ayunan disebelah pohon besar, aku merasa seperti hampa.


"Aku merasa cukup hancur ketika pertama kali melihat kondisi desa ini. Namun, ini pasti lebih berat untukmu, Antares."


"Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengenalinya perasaan ini."


Samantha memperhatikanku dalam diam, dengan ekspresi iba bercampur kasihan. "Kau tahu, aku juga pernah merasakan perasaan yang serupa denganmu saat ini. Semua itu dimulai ketika seorang bangsawan bejat datang ke desa kami. Benar, semua jerih payah tersebut dimulai hari itu."


Samantha menceritakan kisah masa lalunya yang dimulai dengan sebuah pedesaan terpelosok dibawah langit biru. Sepasang remaja hidup berdua setelah kematian ayah dan ibunya. Aktivitas mereka tidak lebih dari menanam kentang di kebun dan melakukan pekerjaan desa biasanya. Salah satunya akan akan mengambil air setiap pagi, sementara yang lain menyalakan api dengan kayu bakar. Makanan mereka tidak lebih dari kentang bakar, dan sup kentang. Setelah itu mereka akan berkerja keras di ladang sampai sore tiba. Mereka bekerja keras setiap hari, dengan harapan besar untuk masih melihat hari esok. Akan tetapi, hasil dari kerja keras mereka dirampas begitu saja oleh keluarga bangsawan yang mengelola tanah tersebut. Bukan hanya itu, bangsawan yang tidak tahu diri tersebut juga mengambil salah satu dari dua bersaudara tersebut. Membawanya sebagaimana seorang peternak memisahkan anak dari induknya. Sang berusaha untuk menahan bangsawan tersebut, akan tetapi dia tidak berdaya. Dia hanya bisa menangis melihat saudarinya dibawa pergi oleh bangsawan tersebut. Jika saja bangsawan tersebut seseorang yang terhormat, maka dia tidak akan merasa sedih sedikitpun. Tapi sangat disayangkan, bangsawan tersebut dikenal memiliki hobi menodai gadis perawan dan mencampakkannya ketika sudah bosan. Semua itu dilakukan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Karena itu, saudari yang ditinggalkan hanya bisa menangis. Setelah kesedihan tersebut reda, sang gadis bertekad untuk mencari kembali saudarinya yang ditangkap tersebut dan menggulingkan si bangsawan.


"Kamu sudah menemukan kakakmu?"


"Sayangnya belum, aku sudah mendapatkan petunjuknya. Namun tempat tersebut merupakan sarang setan yang sangat berbahaya untuk disusupi. Tentu saja, aku mengatakannya sebagai diriku beberapa hari yang lalu. Diriku yang sekarang, mungkin sudah cukup kuat untuk melakukan itu."


Mendengar kisah Samantha, membuatku teringat akan sesuatu. Aku segera membuka sistem shop. Setelah membantai ratusan Goblin, poinku telah terkumpul sebanyak 1,502,500 poin. Cukup untuk membeli [Book of Truth] yang seharga 1,421,456 poin.


<< Book of Truth


buku yang akan menjawab semua pertanyaanmu. Berhati-hatilah, Ada beberapa hal yang membuat lebih mudah 'terinfeksi' semakin banyak yang kamu ketahui.

__ADS_1


Beli : Ya/Tidak >>


Ya.


<< Selamat anda mendapatkan item [Book of Truth]. >>


Agak dingin, seperti penciptanya.


Aku segera mengaktifkan buku tersebut. Ketika digunakan, buku tersebut mengambilnya bentuk stigma dalam lengan kiriku. Bentuk aslinya sendiri seperti buku hologram transparan, tanpa tulisan apapun.


Book of Truth, berapa tinggiku?


<< Ya, tinggi individu Antares Oliviera adalah 141 cm >>


Hm, begitukah?


Book of Truth, dimana saudarinya Samantha dari Crimson Vortex saat ini?


<< Ya, individu Bella Almaira saat ini berada di hotel remang-remang bawah tanah ibukota kerajaan Aramik milik organisasi Black Spade >>


Bagaimana kondisinya?


<< Status : Hidup; Kondisi : Sekarat; Detail : ...; >>


Makasih untuk infonya.


"Antares, kamu lagi memikirkan sesuatu?"


"Tidak, tidak ada. Sekarang setelah kamu menjadi Night Watcher, kapan kamu akan pergi menyelamatkan saudari mu?"


"Segera setelah misi ini berakhir."


"Hm, mungkin kamu harus berangkat lebih awal."


"Benar, tapi aku tidak bisa mengabaikan misiku begitu saja. Semoga saja kakak bisa bertahan sampai saat aku tiba."


"Aku harap juga demikian. Terimakasih Samantha, kisahmu seperti memberikan semangat baru padaku."


"Dengan senang hati." Samantha tertawa kecil.

__ADS_1


(bersambung...)


♦♦♦


__ADS_2