Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 16 Red subspesies


__ADS_3

"Kami datang untuk berbicara."


"Aku tahu mengapa kalian datang kemari. Tapi, kalian bisa kembali. Sudah saatnya kami keluar dari gua ini dan membangun peradaban kami sendiri." Sang raja berkata dengan lantang. Aura merah gelap merembes keluar, dan mengamuk dengan liar.


Dalam waktu singkat itu, Badan si Orge yang semula hanya 2,5 meter tiba-tiba membesar berkali-kali lipat dalam pandangan semua orang. Pertunjukan singkat tersebut sudah menunjukkan perbedaan besar antara kekuatan jiwa kedua belah pihak.


Tingkat 150, setidaknya dibutuhkan beberapa petualang Adamantine untuk mengalahkan Orge itu. Bukan hanya itu saja, bawahannya pun tidak bisa diremehkan. // Arthur tidak begitu terkejut dengan si Orge yang bisa mengerti bahasa manusia, karena monster level tertentu dan diatasnya cenderung memiliki kecerdasan tinggi. Akan tetapi, dihadapan aura sang Orge, Arthur menahan nafasnya tanpa sadar sebagai reaksi alami. Untuk manusia, Mana yang terlalu berlebihan tidak begitu berbeda dengan racun mematikan. Itu juga berfungsi untuk menentukan seberapa kuat lawan di depanya secara kasar.


"Karena kalian sudah datang kemari, kenapa tidak tinggal sedikit lebih lama?" Sang Orge tertawa sinis, diikuti oleh tawa menghina dari seluruh goblin yang menggema dalam gua tersebut.


Arthur sedikit mundur tanpa sadar, sembari ekspresinya mengeras dan keringat mulai mengalir pada wajah pucatnya. (Pa!)


Tepukan kuat mendarat di bahu Arthur, yang sontak membuat si pemuda terperanjat. Berbalik ke belakang, wajah rupawan dengan mata biru segera memenuhi ruang pandang Arthur. "Saga, aku..."


"Ayo pergi, terlalu dini untuk membuang nyawamu hari ini. Saga bermata tanpa banyak ekspresi, yang mendapatkan anggukan kecil dari Arthur.


"Aku mengerti." Arthur segera berbalik dan berjalan dengan langkah cepat, meninggalkan Saga seorang diri dibelakang.


"Bunuh mereka." Perintah sang Orge sembari menyandarkan punggungnya di tahta batu.


Gua tersebut pecah dengan dengan raungan ekspetasi akan pembantaian. Wajah saga tidak berkedut sedikitpun, kemudian dia menyelimuti pedangnya dengan, [Light of Dawn], kemudian menggunakannya dengan mode yang berbeda.


"Tetaplah Diam." badai cahaya menyerupai tornado mengamuk dalam gua, menghancurkan siapapun yang terkena putarannya. Beliung cahaya tersebut berlanjut selama beberapa menit, dan ketika mereda semua petualang telah menghilang dengan lorong gua runtuh, dipenuhi bebatuan.


"Sialan, nampaknya aku harus mengubah rencanaku." Kata sang Orge dalam bahasa Goblin.


"Yang mulia, mengapa tidak biarkan Gobue dan Gobuchi mengejar mereka?" Tanya salah satu Goblina yang melayaninya.


"Benar, dengan kekuatan mereka berdua, para manusia itu akan ditangani dengan mudah." Sahut Goblina yang lain.


"Tidak perlu terburu-buru, dengan bantuan Dewa Perang Einhorn, tanah ini akan jatuh ke tanganku cepat atau lambat." Sang Orge menyeringai jahat dengan hati riang. Salah satu tangan menyangga dagunya, sementara tangan yang lain menjelajahi badan salah satu Goblina.


"Aah~❤️"


♦♦♦

__ADS_1


Di luar gua, matahari mulai tergelincir dari puncaknya. Orang-orang tengah terdiam dibawah pohon besar. Seperti awan gelap menutupi wajah mereka. Semuanya tetap diam, sampai Hiiro memecahkannya...


"ini menyedihkan..." katanya dengan helaan panjang. "Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya? ... Arthur?"


"Bagaimanapun juga, kita harus memberantas semua goblin tersebut, atau akan lebih banyak korban berjatuhan... " Ketika mengatakan kalimat tersebut, perasaan ketakutan akan kekuatan sang Orge kembali terbersit di kepalanya. Pada faktanya, bukan hanya dia yang berkeringat dingin, semua orang merasakan ketakutan tersebut. Selain Saga, semua orang akan ketakutan bila harus dihadapkan dengan monster selevel itu. Malahan, Arthur akan percaya jika monster itu memiliki potensi untuk menjadi demon lord.


"Kita membutuhkan lebih banyak kekuatan." Arthia melanjutkan kalimat Arthur. "Selama mas Saga bisa menahan Orge itu, kita harus melenyapkan seluruh goblin yang ada. Namun menggunakan AoE mungkin bukan jawaban, karena kita bertarung dalam gua bawah tanah."


"Jumlah [Guardian of Faith] yang kupanggil tidak cukup untuk menangani semua monster kelas rendah. Masalahnya kita tidak memiliki seseorang untuk menarik perhatian mereka." Thalia menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu.


"Bagaimana jika kita fokuskan semua mop pada Berserker kita?" Hiiro menunjuk ke Sigur dengan ibu jarinya. Sementara sang Barbarian tetap diam bersandarkan badan pohon.


"Mungkin itu akan berhasil, baiklah kita lakukan itu saja. Lalu selanjutnya, cara menarik perhatian mereka... "


"Tidak, daripada menarik perhatian mereka, mengapa kita tidak menyusup ke belakang?" Samantha memberi saran.


"Ide bagus, tapi apakah itu tidak bermasalah? maksudku ada lebih dari 10 monster sekelas petualang Adamantine disana." Hiiro menjatuhkan bom tepat di ketika moral semua orang semakin naik.


"Kurasa kita harus mendapatkan bantuan."


"Maksudmu pahlawan yang kamu sebut sebelumnya? Mengapa kita tidak mencobanya?" Hiiro menjentikan jarinya.


"Baiklah, ayo pergi ke desa. Kalau pria itu kurang memuaskan, salah satu dari kita harus kembali ke kota."


Baik!"


Kemudian, semua orang kembali ke desa.


Setelah 15 menit melalui medan yang agak mudah, Steve dan Crimson Vortex akhirnya sampai di pos utara, semua itu karena rendahnya serangan monster dalam perjalanan. Kedatangan mereka disambut oleh 8 penjaga shift siang dan kepala desa yang terlihat jauh lebih tua dari umurnya.


Kecemasan mereka segera menghilang bersama, "Oh, petualang sekalian, apakah kalian sudah membasmi para goblin itu!?"


"Wah, seperti yang diharapkan dari para petualang!"


"Kalian sudah menyelamatkan kami!"

__ADS_1


"Terimakasih, terimakasih banyak!"


Crimson Vortex tidak sempat menjawab pertanyaan para warga desa yang dipenuhi semangat, hingga Steve menyiram air dingin kepada penduduk desa.


"Diamlah, masalahnya belum selesai!" Lalu, semua orang terdiam membisu. Bahkan kepada ikut terkejut dan terdiam.


"A-apakah ada yang salah kakek Steve?"


"Ya masalahnya panjang, apa anak itu sudah bangun?"


Semua orang tahu siapa yang dimaksud oleh pria berusia senja tersebut. Dan seketika itu juga kecemasan mulai timbul di wajah mereka.


"Ya, kebetulan aku mendengar kabar tentang dia. Nampaknya dia siuman kira-kira satu jam setelah kalian berangkat ke hutan--"


"Apa kau bilang !!" Untuk Suatu alasan Steve terdengar sangat marah, sementara para Crimson Vortex berada diantara terkejut, bingung, dan tidak percaya.


"Ya, dia pergi ke hutan." Wajah si penjaga yang menjelaskan itu tidak berkedut sedikitpun.


"Apa dia mati sekarang?"


"Beruntungnya dia pulang dengan selamat. Dia pulang ke rumah lalu belum keluar lagi sampai saat ini."


"Aku akan membunuh anak itu!" Teriak Steve sembari berjalan ke suatu tempat tertentu.


Kepala petualang Crimson Vortex dipenuhi dengan "siuman? hutan? selamat?" dan sebagainya.


"Err, bolehkah saya bertanya tentang orang yang kalian bicarakan ini. Contohnya, siapa dia? dan mengapa kakek bereaksi seperti itu." Arthur mencoba bertanya dengan wajah setengah kebingungan, sementara yang lain memberikan anggukan keras.


Semua orang terdiam sejenak, tidak mengerti apa yang terjadi. Lalu, "Oh, jadi kakek tidak menceritakannya kepada kalian? Kepala desa juga sama?"


"Tidak, isi kepalaku dipenuhi dengan terlalu banyak hal, hingga aku berharap untuk memiliki bayangan (clone)."


"Oh, memang bener. Kalau begitu mengapa kita tidak mengobrol sembari pergi ke rumah Antares?"


(bersambung)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2