
"Selamat datang." Suara gadis yang lembut sampai di telinga Antares.
"Hai, selamat pagi~" Sapa Antares dengan senyuman secerah bulan purnama.
"Mau beli apa dek? Atau malah obat herbal untuk kakek?" Wajahnya yang ceria menjadi lebih merona untuk sesaat, sebelum ia kembali ke mode profesional.
"Benar, satu untuk kakek dan satu untukku. Apa kamu punya saran kak? kamu tahu, kakek tidak pernah mengatakan keluhannya padaku!" Antares mendekat kepada gadis muda tersebut dan berbisik padanya. Tentu saja, ia tidak peduli apakah Steve mendengar pembicaraan tersebut atau tidak.
Sementara itu si gadis hanya tertawa geli ketika mendengar kalimat yang dilontarkan Antares. "Ehem, kakak akan membantumu jangan khawatir."
Ia tidak terlalu curiga kepada pembeli asing tersebut. Pertama, baik Antares dan Steve mengenakan pakaian yang cukup baik, model dan bahan yang secara umum dipakai oleh masyarakat kelas menengah kebawah. Kedua, si kakek terlihat membawa cukup banyak kantong kertas yang masih baru, kemungkinan keduanya baru saja mampir ke toko lain. Ketiga, dilihat dari perawakan dan auranya, si kakek mungkin bekerja sebagai petualangan kelas Emas atau Platinum. Keempat, senyuman Antares terasa sangat sulit untuk di tolak. Si gadis menarik nafas untuk sejenak, sebelum ia mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit berwarna coklat.
Itu merupakan sebuah buku panduan obat herbal yang dibuat oleh ayahnya diwaktu senggang, ketika si gadis masih kecil. Dengan desain yang penuhi gambar referensi kata-kata sederhana yang mudah dimengerti untuk anak-anak. Bagaimanapun juga, mereka yang belum berusia 15 tahun masih dianggap anak-anak.
"Mari mulai dengan ramuan penurun demam..."
Antares mendengarkan semua penjelasan tentang herbal dan ramuan tersebut dengan seksama. Tak perlu ditanyakan lagi, semua ramuan yang si gadis jelaskan dijual di toko ini. Mulai dari ramuan biasa, hingga ramuan yang ditingkatkan dengan magis. Antares bertanya darimana ia mendapatkan semua ramuan atau bahan tersebut, yang dijawab singkat melalui guild. Rupanya, ayah si gadis merupakan seorang apoteker juga ahli alkimia. Pekerjaan utamanya ialah membuat ramuan yang dijual di guild, asosiasi, atau toko miliknya sendiri. Saat ini, beliau tengah pergi keluar bersama beberapa orang petualang untuk mendapatkan beberapa bahan obat.
"Jadi, apa kamu sudah tahu mana yang harus dibeli?"
"Mhmm, iya. Aku beli ramuan penurun demam, penghentian gejala infeksi, penghentian pendarahan, pengencer darah, penambah darah, lalu penurun gejala batuk pilek, penambah stamina, dan ... ummmm, apa lagi ya..."
Si gadis hanya bisa tertawa ketika dia mendengar daftar pesanan Antares. Pasalnya, ini baru kali pertama ada seseorang yang mau menghabiskan banyak uang untuk ramuan biasa yang bahkan tidak memiliki unsur magis didalamnya.
"Kamu mau ramuan untuk menenangkan hati dan pikiran? Bagaimana dengan ramuan untuk menambah stamina kejantanan pria? hehe." katanya dengan tawa kecil
__ADS_1
"Kamu juga memiliki obat semacam itu kak? Kalau iya, maka toko ini pasti akan sangat ramai. Mungkin kamu harus menambah ramuan untuk menghaluskan kulit, penghilang jerawat, pembesar payu dara, pembesar p*nis, juga penumbuh rambut." Antares memberikan daftar ramuan yang pasti terjual dimanapun ia berada, dengan wajah setengah bingung.
"Hm, itu ide yang bagus." Kata Steve dengan senyum tipis.
Di lain sisi si gadis hanya tertawa. Bukan karena apa yang dikatakan si anak itu lucu, melainkan kebenaran. Setiap beberapa waktu, akan selalu datang orang-orang yang menanyakan ramuan dengan efek serupa. Jujur saja, entah mengapa tidak ada obat ataupun sihir semacam itu yang ditemukan sampai hari ini.
Tanpa mereka ketahui, sihir untuk menumbuhkan rambut setidaknya berada di tingkat advance yang hanya dikuasai segelintir orang saja di dunia.
"Kamu bisa menjualnya disini kalau memiliki ramuan seperti itu dek. Kita bisa membicarakan pembagiannya nanti." Si gadis tertawa lepas sekali lagi. Ia mengatakan semua itu tanpa harapan besar apapun, hanya sekedar basa-basi. Kemudian dia pergi belakang untuk mengambil barang-barang yang diminta oleh Antares.
Antares mengamati tempat itu sekali lagi. Ia sudah berada di sini cukup lama, akan tetapi tidak ada satupun pelanggan yang datang. Entah karena hari masih pagi atau alasan lainnya. Walaupun di dunia ini ada sihir, bahkan mereka yang bisa menggunakan sihir penyembuh tingkat 1 tidak sebanyak itu. Tentu ada banyak petualangan yang bisa menggunakan sihir tersebut, akan tetapi mereka dibatasi oleh regulasi guild yang melarang memberikan mantra penyembuhan secara cuma-cuma. Sementara itu, pihak kuil yang bersosialisasi dalam sihir suci mematok harga yang cukup tinggi untuk menyembuhkan luka seseorang. Menurut fakta tersebut, seharusnya ada banyak keluarga kalangan menengah kebawah yang mengandalkan ramuan....
"Kamu mau melakukannya Antares?"
Si gadis kembali dengan lengan yang dipenuhi kantong kertas kecil dan botol keramik. "Fiuhh, semuanya menjadi .... 1,2,4... 10 koin perak. Silahkan di periksa."
Jendela mini muncul untuk masing-masing barang yang diletakan diatas meja. Semuanya seperti yang ia pesan, dengan kualitas yang lumayan untuk sekedar obat herbal. Antares mengeluarkan 10 koin dari dalam sistem melalui kantongnya, untuk mengelabuhi si gadis. 10 koin diletakan diatas meja dengan suara renyah. "Apakah kamu memiliki pembalut, perban, atau kain bersih kak?" tanyanya sembari memasukan kantong kertas tersebut kedalam paper bag.
"Perban, ya, berapa banyak yang kamu perlukan?"
"Mungkin sekitar satu gulung."
"Baiklah, harganya 50 koin tembaga."
"Terimakasih sudah mampir. Ah benar perkenalkan namaku Stella Fordin." Stella sedikit menekuk lututnya dengan menyerupai mengangkat rok.
__ADS_1
"Terimakasih kembali kak Stalla, aku Antares Oliviera, dan ini kakekku Steve ." Antares membalas salam tersebut dengan tangan didada dengan punggung sedikit membungkuk. Sementara Steve hanya mengangguk ringan. Kemudian keduanya pergi dari tokoh dengan perlahan.
Anak yang menarik. // Stella memperhatikan punggung Antares yang berjalan keluar dengan senyuman tipis. Ia tetap dalam posisi itu sampai kedua orang berbeda generasi tersebut tidak lagi terlihat. Kemudian ia kembali ke melakukan hobinya, yaitu membaca buku.
Diluar, Antares segera memasukan semua kantong obat dan botol keramik kedalam inventori sistem. Guna mengurangi jumlah barang bawaan mereka. Sembari mengeluarkan jajan lain yang masih menunggu untuk dimakan dalam penyimpanan.
"Kemana kita selanjutnya? ....(menguap)" Tanya Steve sembari menguap. Kemudian makan Sumire Karaage Roll yang diberikan Antares padanya
"Hari masih pagi, mungkin kita bisa pergi ke tempat Gustav, sekalian bertanya soal perijinan itu."
"Baiklah, semakin cepat kita keluar dari penginapan, maka akan semakin baik."
"Apa kamu alergi dengan penginapan? bukankah ada cewek bening disana?"
"Aku sudah terlalu tua untuk itu. Sebaliknya, mungkinkah kamu menyukai cewek penginapan atau Stella Fordin itu?"
"Yah, aku hanya sekedar tertarik saja."
"Cih, senangnya jadi anak muda."
Kemudian keduanya pergi ke tempat Gustav dengan hati riang.
( bersambung... )
♦♦♦
__ADS_1