
Ketika hendak memasuki distrik
timur, seseorang harus melalui serangkaian pemeriksaan oleh penjaga dalam 4 jalan yang tersedia. Dua untuk menghubungkan antara timur dan barat di utara, dua di selatang yang menghubungkan jalur selatan. Sebenarnya tidak ada tempat khusus seperti bangunan atau gerbang yang digunakan untuk pemeriksaan. Melainkan hanya ditentukan oleh penjaga yang kebetulan tengah berpatroli di area tersebut. Sehingga, apakah tindakan pemeriksaan tersebut dapat dipertanggungjawabkan merupakan sesuatu yang sangat meragukan. Beberapa orang, justru lebih percaya kalau semua itu sekedar diskriminasi belaka.
Antares dan Steve berjalan melalui area khusus tersebut tanpa halangan duatu apapun. Para penjaga terseret jelas tidak mengenal kedua orang tersebut, namun pakaian yang lumayan bersih dan berkualitas, serta sikap santai mereka cukup untuk menurunkan sebagian besar presentase kecurigaan dari para penjaga tersebut. si anak berambut kuning-keemasan melirik para penjaga dengan mata biru sedalam lautan untuk sejenak. Mereka tidak begitu mengesankan, namun, tidak ada manusia biasa yang sanggup lawan mereka. Entah karena standar duke yang tinggi ataukah karena lokasi tempat tinggalnya, namun masing-masing dari penjaga tersebut setidaknya berada di level 14.
Jalan di distrik timur cukup luas, di lapisi dengan paving hingga sempurna, bahkan sampai trotoarnya. Beberapa kali, ia melihat kereta kuda berlalu-lalang melintasi area pemukiman yang rapi dan terawat dengan baik. Desain bangunannya sendiri masih menyerupai distrik barat, hanya saya ukuran dan detailnya berada di level yang berbeda. Dimana setiap ruangan, kecuali ruang tertentu -- dipastikan agar terkena sinar matahari. Tidak jarang, Antares akan melihat wanita dan pria berpakaian pelayanan keluar masuk rumah, melakukan pekerjaannya.
"Tempat yang sangat bersih dan dipenuhi kehidupan, atau setidaknya begitulah yang terlihat dipermukaan." Steve berkomentar ringan sembari melihat kereta kuda berlambang singa merah melesat di jalan.
"Ada terlalu banyak alasan untuk itu. Contohnya saja, masa perang tahunan antara kerajaan dan kekaisaran akan sebentar lagi dimulai. Selain itu, ada juga kesan tak menyenangkan yang seperti berada di sarang ular yang selalui menjulurkan lidahnya. Atau bisa juga, sarang laba-laba yang dipenuhi benang tak kasat mata." Kesan tersebut sangat samar hingga indera manusia dengan EQ rendah akan kesulitan mendeteksinya. Antares memperhatikan salah satu pelayan muda yang barus saja keluar dengan sepucuk surat di tangannya. Ia tidak memperhatikan keberadaan anak dan kakek tua tersebut, karena harus segera pergi ke suatu tempat.
"Jadi, kamu akan membuka toko disini?" Tanya Steve sembari mengusap tengkuk lehernya.
"Sayangnya iya, namun aku juga tidak terlalu butuh banyak uang. Jadi, kurasa tidak." Antares sudah memiliki terlalu banyak uang utnuk dihabiskan.
"Baguslah, tapi juga sayang sekali. Bayangkan untuk melihat semua gadis remaja yang bening itu setiap hari... Ahh~"
"Aku tidak butuh sesuatu seperti itu. Wajah fisik itu bisa diubah dengan mudah." dalam hari ia berfikir, // bahkan wajah spiritual juga bisa diubah dengan mudah. Sebenarnya apa itu manusia? Hari masih panjang, jadi mari tidak tenggelam dalam pertanyaan sulit semacam itu.
Ketika mereka tengah asik mengobrol, seorang anak tiba-tiba berlari keluar dari dalam gang dengan ekspresi gelap. Ia memiliki rambut biru cerah yang nampak cukup halus, pakaian dan jas yang ia kenakan juga nampak cukup rapi. Membuat kata anak bangsawan sekilas berkelibat di pikiran Antares. Begitu mata biru langit anak itu bertemu dengan mata Antares, ia merasa seperti membeku.
"Apa yang kau lakukan? Percuma saja. Menyerahkan, kau pasti akan gagal." Bayangan seseorang dengan tatapan yang mirip dengan anak didepannya berkilas di pikirannya.
__ADS_1
"Urgh." Anak itu menggenggam dadanya dengan wajah pucat. Saat melirik kebelakang, ia melihat pria berjubah hitam yang wajahnya ditutupi masker hitam menusuknya tepat di dada kirinya.
Bagaimana dia bisa mengetahui jenis kelaminnya? Itu karena dadanya rata.
Sial! maaf Luke, aku mungkin akan mati hari ini. // Pria itu mencabut pedangnya, membiarkan si anak terkulai lemas di tanah.
"Clone kah. Kamu cukup berani untuk membunuh seseorang tepat dijalan raya, apa kamu sepercaya diri itu?" Suara yang lembut seperti angin malam bergam dalam jalanan yang entah mengapa sangat sunyi tersebut.
Pria bermasker tersebut tidak berkata-kata apa-apa dan hendak pergi saat itu juga. Namun semua keseriusan diwajahnya tiba-tiba berubah menjadi kebingungan.
"Maaf, tapi area ini menjadi milikku mulai saat ini." Antares tersenyum polos, seperti anak-anak yang baru saja menerima hadiah ulang tahun.
"Siapa kamu? Aku tidak pernah mendengar ada seseorang sekuat dirimu di kota ini?" Suara berat yang tertahan terdengar dari balik kain yang menutupi mulutnya.
Pertanyaan itu sedikit diluar ekspektasi si pria berjubah hitam. Ia sempat berfikir kalau anak itu akan menanyakan alasannya membunuh anak berambut biru muda tersebut, atau siapa dalang dibalik semua kejadian ini. Tapi, ia justru menanyakan berapa banyak assassin yang kami ketahui? Siapa saja rang kuat yang kamu ketahui? Itu diluar ekspektasi!
"Apa kamu kenal dengan the Ghost dan Silent Maiden?"
"Tidak juga, kurasa tidak juga. Tidak, mungkin aku harus bertanya, mengapa kamu langsung pergi begitu saja? Apa yang membuatmu percaya diri kalau kamu tidak akan terkena masalah dan penyelidikan?" Antares tertawa kecil yang membuat membuat si kakek di sebelahnya mendesah panjang.
Tunggu, bukankah kakek itu terlihat kuat? // Kalimat tersebut timbul di kepala si pria berjubah hitam dan anak berambut biru muda tersebut. Kemudian keduanya menyadari keanehan yang lain,
Anak itu belum mati!?
__ADS_1
Aku masih hidup!?
"Sudahlah, aku tidak mau terlibat dengan para bangsawan itu. Jadi cepatlah selesaikan urusanmu." Kata si Steve yang tidak mau repot berurusan dengan klon. Akan beda ceritanya kalau yang datang itu tubuh aslinya.
"Baiklah. Sudah lama aku ingin mencoba teknik ini." Antares membuat pose mengangkat tangan dengan dua jari berdiri didepan wajahnya. Kemudian membisikkan kata-kata yang hanya didengar oleh dirinya sendiri, [Variabell Collapse].
"Apa yang--!"
Sebelum pria itu mencerna apa yang baru saja terjadi, kedua bola matanya meledak menjadi gumpalan darah.
"Arghhhhh!"
Pria itu membungkuk punggungnya, dengan kedua tangan mencengkram erat wajahnya sendiri. Melihat keadaan memprihatinkan dari pria tersebut, anak kecil berambut biru muda itu hanya bisa menggigil ketakutan.
"Apa itu sesakit itu? Aku hanya menggunakan sihir tingkat dasar yang tertera di buku sihir untuk pemula, loh?"
"Aku tidak lihat apapun! Aku tidak lihat apapun! Aku tidak lihat apapun!" Gumam anak berambut biru muda yang terlihat pucat di sampingnya.
Melihat perubahan itu, Antares hanya bisa memasang wajah datar tanpa emosi.
(berambung...)
♦♦♦
__ADS_1