Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 31 Insignia inside Altar


__ADS_3

"Mungkin aku harus membuat kontrak dengan dewa mimpi." seseorang bergumam dengan keras.


Aku hanya tertawa kecil saat mendengar gumam tersebut. Memang benar, kekuatan bukanlah segalanya. kekuatan yang besar sering kali mengiring seseorang menuju ke jurang. Akan tetapi, tidak ada manusia normal yang tidak mendambakan kekuatan. Itu juga sama sepertiku. Perasaan kekaguman sekaligus ketakutan yang pernah kurasakan dulu kala.


Sebenarnya aku cukup beruntung karena tidak membuat kontrak dengan whimsical evil god. Walau Ren sering melakukan hal-hal yang hanya dilakukan oleh dewa jahat. Mari lupakan dia...


Aku tidak berniat menghentikan ataupun memberi dorongan kepada mereka. Biarkanlah mereka mengambil keputusannya sendiri. Karena itu, aku memilih untuk fokus kepada musuh didepanku. Ah, sudahkah aku katakan kalau Night Watcher memiliki mana tak terbatas ketika malam hari? Tidak? Ya kalian sudah mengetahuinya sekarang. Untuk persyaratannya sendiri, aku masih belum tahu apakah hanya malam hari atau kegelapan secara umum.


Singkat cerita, kami sampai di sebuah tempat yang dipenuhi warna merah. Seluruh ruangan tersebut berwarna merah seperti cairan yang hidup. Kata pertama yang keluar dari mulut kami ialah, "Apaan ini?"


Bau darah sangat kental dalam ruangan tersebut. Mayat dari berbagai macam spesies menumpuk disana hingga menjadi gunungan. Kebanyakan sudah menjadi tulang belulang, namun tidak sedikit juga yang masih memiliki sisa potongan daging. Mulai dari binatang buas, manusia, hingga sejumlah besar goblin dapat ditemukan dengan mudah. Tempat itu seperti tempat pembuangan dari pada apapun. Namun simbol-simbol kuno yang memenuhi dinding memberikan kesan misterius yang berbeda. Melihat lebih jauh, insignia tertentu berwarna merah darah terukir jelas di paling ujung ruangan. Tempat diatas sebuah tahta batu yang tempati oleh sebuah telur.


"Hiiro?"


Kata tersebut seolah membangunkan semua orang dari lamunannya. Itu adalah Samantha. Kami semua melihat kearah gadis tersebut yang berdiri didepan mayat yang telanjang. Tidak ada kulit, tidak ada daging, tidak ada organ dalam, hanya tulang belulang yang diselimuti cairan merah lengket dan kental.


"Kamu yakin? Itu Hiiro?" Arthia melihat mayat tersebut dengan perasaan rumit, mungkin, wajahnya tersembunyi dibalik helm/topengnya.


"Benar, sisa energi kehidupan ini mirip dengan punya Hiiro." Samantha berusaha untuk mendapat lebih banyak informasi dengan talentnya yang mendapat peningkatan ketika menggunakan mode Night Watcher.


"Mengapa aku tidak mencobanya?" aku ingin memberikan bantuan, namun aku menahannya untuk suatu alasan.


"Biarkan aku melihatnya." Noril segera mengaktifkan salah satu skillnya untuk mengidentifikasi target. Tidak perlu waktu lama hingga ia mengangguk dan memberikan jawaban positif kepada semuanya. Kemudian, semua orang terdiam.


Di satu sisi mereka sangat kehilangan dengan kepergian Hiiro, namun di sisi sebaliknya, moment ketika dia meninggalkan mereka sendirian masih membekas di ingatan. Aku dan Saga jelas mengetahui fakta ini setelah kami mengobrol cukup lama setelah makan malam. Dan aku pada khususnya tidak merasakan apapun untuknya.


Sebaliknya, aku justru tertarik dengan telur diatas tahta batu tersebut. Aku mengaktifkan [World Memory] pada telur tersebut, sesaat kemudian mataku tiba-tiba terbelalak.


Red Dragon... Telur naga merah yang legendaris...


Aku sudah melihat benda yang sama di Sistem Shop, tapi, ini kali pertama bagiku untuk melihatnya dengan nyata. // Aku menginginkannya!


Tanpa basa basi lagi, menciptakan satu persona dan menerbangkannya kepada telur tersebut! Bola informasi tersebut masuk kedalam telur dengan efek riak air yang sunyi. Kemudian serangkaian informasi masuk kedalam kepalaku seperti sungai.


<< Status

__ADS_1


Name : ???


Age : 48 week


Race : Red Dragon


Status :


- Possessed (Antares)


- absorbing negative energy


Skill :


- Dragon Scale


- Read Dragon Breath


- Dragon Vision


- Elemental Damage Nullification >>


[Elemental Damage Immunity]?! itu berarti kelemahan terbesar yaitu elemen es ditiadakan begitu saja? Ditambahkan dengan [Dragon Scale] yang terkenal keras, bukankah dia seperti invincible?


Jujur, aku tidak tahu apakah naga itu sangat beruntung atau justru aku yang beruntung. Aku tidak bisa menahan senyuman di wajahku, untungnya itu tertutupi oleh daft punk helm yang kupakai.


Aku tidak tahu mengapa dia ditaruh ditempat ini, atau apa efek dari menyerap energi negatif itu sendiri. Yang pasti itu akan menjadi bencana dimasa depan. Semoga saja itu tidak terjadi. Hm, aku sedikit penasaran dengan monster ini.


Naga merupakan mahkluk magis yang legendaris. Dahulu mereka pernah menguasai dunia ini bersama ras raksasa lainnya. Tidak ada yang tahu apa sebabnya, namun diera ini, menemukan keberadaan naga cenderung sulit. Satu tempat yang dijamin untuk bertemu dengan seekor naga ialah rangkaian pengunungan yang menjulang menembus awas di utara, Tempat para raksasa tertidur, Vritrayama.


Benar, itu nama yang sama dengan naga abadi yang dibunuh Indra. Jujur saja, ini membuatku agak kebingungan.


Mari lupakan itu, dan fokus pada masalah disini.


"Kamu bersedia melakukannya Tahlia?" Tanya Arthur dengan nada serius.

__ADS_1


Sang gadis yang ditanyai itu hanya diam seribu bahasa. Bukan hanya dia, semua orang juga terdiam, tanpa ada yang memberikan dorongan ataupun larangan. Seolah semua orang telah menyetujui satu jawaban yang sama. Nasib Hiiro telah berakhir sampai sini.


"Baiklah kalau begitu. Selanjutnya mari kita tinggalkan tempat ini, dan kembali setelah mengalahkan monster itu."


Sekali lagi semua orang menggangguk keras. Bukannya ingin meninggalkan barang berharga begitu saja, tapi mereka memang tidak memiliki tas untuk membawanya. Tidak seperti novel fantasi ataupun game rpg, kami tidak memiliki item magic tipe penyimpanan. Faktanya, aku sendiri ragu apakah para penyihir kerajaan ini mengetahui keberadaan sihir ruang dan waktu. Aku sendiri tidak memiliki skill penyimpanan selain yang diberikan oleh Ren melalui sistemnya.


Oleh karena itu, aku akan mengambilnya! Haahahahahaha! Ah, maaf, aku agak berlebihan.


"Kamu mengatakan sesuatu Anatares?"


"Tidak kok, ehem, tidak ada."


"Sus."


Entah mengapa Samantha tiba-tiba menjadi sensitif, sementara untuk Percival, aku tidak terlalu terkejut.


Kami melewati satu lorong untuk sampai ruangan yang penuh dengan goblin. Aku membantai semuanya dengan Firestorm.kemudian kami berjalan melewati salah satu lorong lainnya. Dan sampailah di ruang Boss terakhir.


"[Firestorm]." Kataku dengan nada datar dan kalem yang bisa membuat seseorang terlelap.


Api besar bergejolak di ujung tanganku untuk sesaat sebelum menyebar ke seluruh ruangan, mengubah segalanya menjadi arang. Kemudian api tersebut terbelah tepat ditengah-tengah, membuka jalan untuk kami. Mengungkap seorang Orge berwarna merah yang duduk diatas singgasana batu.


"Kalian lagi. Mau sampai berapa lama kalian hendak mengangguku?" Kata si Orge dengan kesal.


Reaksinya sedikit berbeda dari biasanya yang periang. Kali ini dia nampak jauh lebih serius dan waspada.


"Kami akan mengakhiri semuanya hari ini, saat ini juga."


"Cobalah kalau kalian memang bisa." Sang Orge berdiri, dengan kapak besar ditangan, kemudian berjalan kearah kami secara perlahan.


"[Insignia of Iron and Blood]"


(bersambung...)


♦♦♦

__ADS_1


__ADS_2