
Hari berlalu cepat dengan langit yang mulai diwarnai cahaya jingga. Seperti yang diduga, mereka kembali dengan tangan kosong. Tidak ada warga desa Astera yang tersisa, kecuali aku dan Steve. Kenyataan tersebut, cukup membuat wajah semua orang berubah gelap.
Aku hanya bisa menghela nafas berat, tanpa sepatah kata pun terujar. Begitu juga dengan yang lain, suasana di rumah semakin suram seiring terbenamnya matahari. Kegelapan menyelimuti hati semua orang bersama dengan gelapnya malam.
Makan malam jauh lebih sunyi daripada biasanya, terutama Percival yang selalu ceria juga hanya diam. Kami makan sup kentang hangat dan roti keras, juga sedikit sayuran tambahan, tanpa adanya daging sedikitpun. Mengingat apa yang telah kami lalui siang tadi.
"Apakah kalian masih ingin tinggal lebih lama lagi?" Steve membuka obrolan dengan nada selembut mungkin.
Para anggota Crimson Vortex bertukar pandangan satu sama lain untuk beberapa saat sebelum mereka melihat satu pemuda. "Kami akan pergi besok pagi, bagiamanapun, misi kami di desa ini sudah selesai." timpal Arthur dengan pelan, "Walau, jujur kami sebenarnya ingin tinggal sedikit lebih lama."
"Tidak, mungkin lebih baik jika kamu mengkhawatirkan diri kalian sendiri. Maksudku... reputasi kalian dikalangan para petualang mungkin akan menurun drastis akibat insiden ini." Kataku tanpa banyak ekspresi, tanpa melihat wajah mereka sedikitpun. Tapi, senyuman itu tetap masuk kedalam bidang pandangku.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya sama sekali. Lebih dari itu, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" ujar Arthia.
"Bagaimana kalau kalian ikut kami ke kota? Walau keadaannya tidak setenang di desa, setidaknya kalian tidak hidup sendirian." Samantha memberikan saran setelah beberapa pertimbangan.
Ya, mungkin sudah saatnya aku keluar dari sangkar ini. Aku juga berminat mengunjungi ibukota untuk mengunjungi beberapa kriminal. Mungkin aku bisa menemukan talent unik dan langka disana. Diana pasti banyak makanan yang enak dan berbagai macam item berharga. Itu pantas untuk dipertimbangkan... Pikiranku melayang seketika itu juga.
"Aku akan tetap tinggal untuk sementara waktu. Masih ada beberapa hal yang harus kulakukan disini." Jawabku sejujur mungkin.
"Benarkah? Yah, kalau itu kamu, maka kami tidak akan terlalu khawatir. Lagipula kamu seorang Night Watcher, tidak ada yang bisa mengalahkanmu." Percival berbicara dengan nada sedikit ceria.
"Terimakasih, tapi aku tidak sebaik itu."
"Hm, kamu terlalu humble Antares, aku tidak membencinya, sih." Thalia berkata dengan lembut.
__ADS_1
"Yah, karena dia masih ingin tinggal, maka aku juga akan tinggal." kata Steve.
"Maka kami akan menyerahkan Antares dalam perawatan anda, tetua." kata Arthur
"Baiklah, sudah diputuskan kalau begitu. Selesaikan makan malam kalian, kemudian beristirahat. Kita punya banyak kegiatan besok." Saga mengulurkan tangannya untuk meraih manci besar di tengah-tengah meja makan. Kemudian mengambil beberapa sendok sup untuk dirinya sendiri.
"Itu maksudmu menyelesaikan makanan? Bukankah kamu cukup santai?" Percival menghela nafas panjang.
Itu memang bukan makan malam terbaik, namun, setidaknya aku tidak hanya berdua saja dengan Steve. Aku cenderung diam untuk segala hal, sementara Steve memiliki imajinasi yang terlalu liar. Mungkin karena umurnya, namun orang tua memang cenderung memiliki proses pikiran ekstrem yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri.
Setelah itu, kami harus tidur dua ruang yang berbeda. Para wanita menggunakan kamarku, sementara para pria menggunakan ruang tamu. Karena ruangannya yang kurang mencukupi, kamu harus sedikit berdesak-desakan. Krena aku tidak cukup tinggi, dan terhimpit diantara para monster, maka beberapa insiden pun terjadi.
Kurasa aku tidak akan tidur dengan nyenyak malam ini. Ugh, aku tidak bisa tidur dengan suara disekitarku. Aku butuh penutup mata dan headset!!
Ya, aku berakhir membeli dari system shop.
Namun, ada satu alasan mengapa aku ingin mendapat kemampuan undead itu. Pada dasarnya aku sudah mendapatkannya dengan [Astral Form], sih. Yaitu, untuk berjaga kalau aku tidur terlalu lama. Kau tahu, rasanya itu seperti kamu bangun jam 4 pagi, lalu saat mengedipkan mata sejenak, tiba-tiba jam jarum pendek sudah sampai di angka 5. Begitulah, aku suka tidur dan bermimpi. Ah, aku tidak akan menceritakan mimpiku, kok.
Untuk malam ini, aku mengalami mimpi buruk. Dan mimpi seperti itu, tidak boleh diceritakan.
Ketika aku bangun, Saga sudah selesai mandi pagi, dan menyiapkan sarapan. Sup hangat, roti lunak, daging panggang, plus beberapa sayuran goreng. Hm, tinggal tambah nasi, dan semuanya sempurna.
"Met' pagi." Kataku dengan mata yang masih sayup dan suara parau.
"Pagi A, tidur nyenyak tadi malam? Jujur, aku sedikit terkejut saat melihatmu memakai penutup mata itu, hahaha." Saga tertawa kecil.
__ADS_1
"Benarkah?" Aku menjawab seadanya.
"Heh... sana cuci muka dulu."
Aku hanya mengangguk sebagai jawaban, dan segera pergi ke kamar mandi. Untuk suatu alasan, aku merasa seperti berada di rumah orang lain, sedikit tidak nyaman. Aku langsung masuk ke kamar mandi yang tidak lebih dari ruang terbuka yang tertutup rapat. Terdapat gentong tanah liat di salah satu sisi ruangan sebagai penampung air, dan toilet dalam ruangan untuk sisi yang lain. Aku juga menaruh Bathub yang di enchant dengan sihir, untuk berendam kalau lagi mood.. Hampir tidak ada apa-apa di sana.
Hm, entahlah, aku merasa seperti melihat seseorang di salah satu sudut ruangan, mungkin itu hanya imajinasi ku saja. Aku hanya membasuh muka beberapa kali sebelum keluar begitu saja.
Sarapan pagi saat itu sedikit berbeda. Bukan hidangannya, makanan yang disajikan memang agak lain, namun yang lebih aneh adalah suasana di meja makan. Percival akan membicarakan banyak hal, yang ditimpali Arthur dan Samantha Arthia, Saga dan Steve akan menimpali sesekali. Sementara Sigur dan Noril hampir diam sepanjang waktu sama denganku.
Thalia... Dia melihatku dengan pandangan yang aneh. Wajah merah muda, pupil mata melebar dan emosi yang campur aduk. Apa terjadi sesuatu dengannya tadi malam? Aku tidak merasakan kedatangan satupun monster jenis apapun karena pelindung yang dipasang Arthia dan Thalia. Tidak ada teriakan, jeritan, rintihan jenis apapun. Ah, aku pakai headset tadi malam. Mungkin itu lebih ke masalah wanita, SMS misalnya? Ya, mungkin memang seperti itu, karena semakin lama aku melihatnya, wajah Thalia semakin terbakar.
Entahlah... Dahlah, ngapain kamu mikir hal-hal semacam itu.
Selesai sarapan, kami membicarakan beberapa hal tentang diriku, seperti berapa lama aku akan tinggal, kapan aku akan pergi ke kota terdekat. Peralatan apa saja yang perlu disiapkan. Mantra dasar yang berguna untuk sehari-hari dan sebuah buku mantra tingkat pemula. Dan sebagainya... Ugrh semua interaksi ini seperti menguras seluruh energi pagiku.
Lalu, aku dan Steve mengirim mereka pergi ketika matahari mulai naik cakrawala.
Akhirnya, sedikit ketenangan.
"Aku akan pergi ke bukit, kamu mau ikut?"
"Baiklah."
Sedikit tenang, namun tetap sibuk. Hm, perasan kehilangan seluruh warga desa itu, perlahan mulai menghilang dari hatiku. Sepertinya aku mulai berubah menjadi monster.
__ADS_1
(bersambung...)
♦♦♦