Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 50 Sightseeing


__ADS_3

Menyusuri jalan tersebut, Antares berakhir di alun-alun distrik barat. Sebuah taman mini berada di tengah-tengah jalan luas yang menambah kesan estetik pada tempat tersebut. Patung seorsng ibu bersama beberapa malaikat kecil seolah menjadi saksi biksu dari orang-orang yang melewati area ini. Kondisi patung tersebut sangat rapi dan terawat hingga tidak ditemukan lumut sedikitpun disana.


Antares yang penasaran meneliti patung tersebut dengan beberapa metode yang ia ketahui. Hasilnya cukup untuk menggelitik minatnya walau tidak begitu istimewa. Itu merupakan patung dari dewi kesuburan yang disembah oleh sebagian penduduk Rimun, namanya Suri. Patung itu sendiri dibangun sebagai bentuk donasi oleh istri duke beberapa generasi yang lalu.


"Aku tidak tahu kamu suka patung?" Kata Steve setelah melihat anak itu terdiam cukup lama.


"Aku hanya menyukainya, tapi tidak setertarik itu. ..... begitulah, bagaimana mengatakannya."


Kadang dia seperti anak yang terlalu lama mengurung diri dan kesulitan bercengkrama dengan orang lain. // Steve hanya bisa menampilkan senyuman masam.


Apabila mengambil jalur barat, maka kamu akan menemukan sebuah pasar tradisional yang diisi oleh berbagai macam toko kecil berjejer di pinggir jalan. Banyak wanita dan ibu rumah tangga dari kalangan menengah ke bawah yang berbelanja disini. Dipagi hari pada khususnya, tempat ini akan penuh sesak dipenuhi pembeli dan penjual.


Melihat pemandangan tersebut, Antares hanya tertawa kecil. Pemandangan tersebut mengingatkannya kepada pasar tradisional yang pernah ia kunjungi dahulu sewaktu masih berada di bumi. Memang tempatnya agak kotor, riuh, dipenuhi banyak orang dan harus desak-desakan, namun untuk suatu alasan itu merupakan pengalaman yang tetap terkenang di ingatannya. Alasan utama Antares mengunjungi tempat ini, ialah harga dari barang-barang disini cenderung lebih murah, terutama jika kamu menguasai'jurus silat lidah. Tentu, Antares justru sangat lemah akan hal tersebut.


"Kamu mau beli sesuatu kakek?"


"Tidak, membayangkannya saja sudah membuatku lelah." Steve mengamati pemandangan yang penuh banyak orang tersebut dan menggelengkan kepala.


Sebaliknya, Antares mengunjungi satu penjual jajan pinggir jalan ke penjual yang lain. Ada sate ayam pemburu, bakso bakar, roti bakar, dawet, telur gulung isi daging ala jepang, kacang rebus, lontong, jus buah, hotdog yang agak mahal, twigim, Tteokbokki, dan masih banyak lagi. Dia membeli 2 tiap masing-masing. Untuk suatu alasan, semua jajan tersebut mengingatkannya kepada kampung halaman. Dia juga menyempatkan diri untuk melihat penjual mainan.


"Halo, selamat datang. Kamu sendirian nak?" Sapa seorang pemuda yang membuka lapaknya dalam gelaran kain. Pandangannya tertuju kepada makanan ringan berbalut kertas yang memenuhi tangan anak tersebut.


"Selamat pagi, apa yang kamu jual A', action figure kayu?" Tanya Antares mengamati patung sederhana yang menyerupai monster dan kesatria yang terbuat dari kayu.


"Benar, apa kamu tertarik? Ini Moonlight Wolf yang menguasai malam. Ini Phoenix Arizona sang api malapetaka. Sementara ini, rajanya kuda perang, yang dinaiki jendral terkuat di muka bumi. .... " Pemuda tersebut menjelaskan patung tersebut satu demi satu dengan penuh semangat.

__ADS_1


Antares tidak begitu mendengarkan penjelasan tersebut, namun dia tertarik dengan desain patung tersebut. Walau masih agak kasar dan detailnya tidak seberapa. "Berapa harga yang ini, ini, ini, ini, dan ini?" Tanya Antares merujuk kearah elang, seorang malaikat yang agak aneh, seekor ular, kuda perang tadi, dan sebuah patung yang menyerupai anjing bermutasi.


Melihat jajanan dan pakaian yang dikenakan oleh Antares, pemuda itu berfikir kalau anak didepannya itu anak orang kaya. Jadi pertama, dia memberikan harga sedikit lebih tinggi daripada biasanya. "50 koin perunggu." katanya dengan senyum tipis.


"Baiklah." Antares mengeluarkan segenggam koin yang diterima dengan dua tangan gemetaran.


Mata si penjual tersebut sedikit melebar seperti mendapatkan sesuatu diluar ekspektasinya. "A-Aku akan segera membungkusnya, tolong tunggu sebentar!" Kata pemuda tersebut dengan panik.


Antares tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda tersebut, walau dia bisa sedikit memahaminya. Mungkin 50 keping perunggu terlalu banyak baginya? Reaksinya badannya cukup untuk menjelaskan isi hati dari pemuda tersebut. Antares segera bertanya kepada Buku Kebenaran, kemudian mengangguk beberapa kali setelah mendapatkan jawabannya.


Awalnya Antares hendak mengatakan beberapa hal, namun saat hendak mengucapkannya, dia menjadi ragu. "Terimakasih." menjadi satu-satunya kata yang terucap dari mulutnya.


"Terimakasih kembali."


Karena barang yang mulai terlalu banyak, dia memasukan semua benda tersebut kedalam inventori, melalui perantara tas. kemudian dia membeli beberapa barang seperti perkakas dapur, senjata tajam, pakaian sehari-hari yang bahannya tidak begitu bagus, hingga daging monster kelas rendah.


Antares keluar pasar tersebut dengan wajah yang biasa, bertemu Steve lalu pergi ke tempat lain. Tidak ada istilah bangku pinggir jalan di disini, jadi Antares memutuskan untuk kembali ke alun-alun kota melalui jalan memutar.


"Dimana jajan yang kamu beli?"


"Aku menyimpannya di tas."


"Pilihan yang bagus. Jadi, kemana kita selanjutnya?"


"Membeli pakaian yang cukup bagus dan toko buku, mungkin juga obat herbal."

__ADS_1


Steve hanya mengangguk saja, toh dia juga butuh beberapa pakaian untuk sehari-hari. Untuk sementara, dia tidak perlu memperhatikan masalah makanan sedikitpun.


Sebenarnya Antares bisa saja membeli produk berkualitas rendah hingga tinggi dalam toko sistem, namun dia datang kekota bersama Steve. Toh, dia juga ingin membiasakan diri dengan tempat tinggal barunya ini.


Steve menerima makanan ringan yang dibeli Antares untuknya dengan senang hati. Ia tidak terlalu terkejut ketika melihat Antares mengeluarkan benda yang lebih besar daripada tasnya, karena statusnya sebagai Night Watcher. Justru, ia tidak berfikir kalau anak itu akan sangat perhatian dengannya. Walau sehari-hari mereka akan berantem untuk masalah yang sebenarnya tidak ada, tapi tanpa ia sadari, Steve telah menjadi salah satu sandaran kehidupan Antares. Entah mengapa, perhatian kecil tersebut, membuat mata Steve agak basah. Sayangnya, ia tidak bisa menjadi terlalu emosional, karena skill persepsinya menangkap keberadaan yang terus mengikuti mereka.


Antares segera menemukan butik yang cocok untuknya menggunakan bantuan Buku Kebenaran. Dan sebagai pria, kedua belanja pakaian secepat kilat. Jujur saja, Antares hanya memilih beberapa dan langsung membelinya tanpa mempedulikan mode, atau masalah lainnya. Asal terlihat nyaman untuk digunakan dan tidak terlalu mencolok, itu sudah memenuhi kriteria Antares.


"Perkakas, pakaian, garam dapur dan aneka bumbu menarik, mainan, jajan, coret." Antares bergumam dengan pelan.


"Itu yang ada dalam pikiranmu? Entah kenapa aku ingin tertawa." Kemudian Steve tertawa lepas.


"Memang apalagi yang diperlukan, toh sebentar lagi aku akan masuk usia dewasa."


Steve tidak bisa berkomentar apapun mengenai hal tersebut. Lagipula, Antares harus dipaksa dewasa sejak umur 9-10 tahun.


"Selanjutnya, ah itu dia, toko jamu dengan lambang cangkir." Antares masuk kedalam toko sedikit luas yang dipenuhi oleh aroma herbal yang menusuk hidung.


Tempatnya agak luas, dengan meja resepsionis berada di barisan paling depan dengan berbagai herbal dan botol kristal dipajang belakangnya. Dijaga oleh gadis muda yang baru menginjak akhir belasan tahun.


"Selamat datang."


(bersambung...)


♦♦♦

__ADS_1


__ADS_2