Another : Memory of Another World

Another : Memory of Another World
Ch. 57 Pintu terbuka


__ADS_3

Melihat melalui jendela, tanpa terasa hari sudah sore. Antares menghabiskan sepanjang siang untuk memparasiti anak jalanan dan gelandangan. Juga mencari detail informasi dari kelompok Serigala Hitam. Sejak kemarin, ia bisa melihat banyak agennya yang ditangkap oleh sindikat ini. Kebanyakan dari mereka berada di distrik timur, sementara beberapa yang agak spesial tersebar di distrik timur.


Bukankah mereka cukup efisien? // pikir Antares sembari mengamati sekelompok orang bermasker hitam melalui mata Noir. Mereka membawa seorang remaja perempuan yang tak sadarkan diri melewati gang sempit dan gelap.


Haruskah aku bergerak sekarang? // Antares agak ragu. Melihat remaja tersebut yang diculik entah dari mana membuat hatinya bergerak. Semakin lama ia menunda bentrok dengan sindikat gelap ini, semakin banyak korban yang berjatuhan. // Aku berharap mereka akan bergerak malam ini. Kalau tidak, akan menyerangnya setelah tengah malam.


(tok tok tok)


Ketika Antares tenggelam dalam lamunannya, suara ketukan terdengar dari luar pintu kamarnya.


"Sebentar." Menggunakan skill persepsi untuk mengidentifikasi orang dibalik pintu tersebut, sembari berjalan mendekat.


(ngeeeeeek)


Hal pertama yang terpantul di matanya ialah, wajah tegas dari prajurit dalam armor besi.


"Selamat sore, atas perintah dari duke Leopold kami harus membawa Steve Emmanuel untuk pemeriksaan. Apakah dia ada di ruangan ini?"


Oh jadi soal itu. // Antares melihat wajah prajurit tersebut dengan seksama.


"Baiklah, kakek sedang mandi saat. Kalian bisa menunggu di dalam." Ia mempersilakan ketiga prajurit tersebut masuk kedalam.


"Terimakasih untuk pengertiannya, nak..."


"Antares, bolehkan aku tahu mengapa kalian hendak membawa kakek?" Antares mengeluarkan beberapa cangkir kayu dari lanci, kemudian menuangkan air putih kedalamnya.


Ketiga prajurit tersebut saling melihat satu sama lain untuk beberapa saat, lalu mereka sedikit menundukan kepala.


"Ini bukan masalah serius, mungkin hanya sekedar kesalah pahaman saja. Jadi, kamu tidak perlu terlalu khawatir, nak." Kata si ketua dengan senyuman lembut. Sayangnya, senyuman tersebut tidak menghilangkan kerutan diujung matanya.


Tidak lama kemudian Steve keluar dari kamar mandi dengan rambut setengah basah. Dia cukup terkejut ketika melihat tiga prajurit duduk dalam kamarnya. Pandangannya segera tertuju kepada Antares yang memasang wajah suram. Lalu, ia hanya bisa menghela nafas. Steve tidak begitu mengetahui apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Antares. Tapi, anak itu tidak memiliki kemampuan untuk menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


Mungkin saja, dia bingung dengan perasaannya sendiri? // pikiran tersebut sekilas terlintas di benak Antares.


"Pria tua ini bernama Steve Emmanuel. Apakah ada yang bisa saya bantu, para prajurit sekalian?" tanyanya dengan wajah tabah dan serius.


Kepala prajurit tersebut melihat Steve dari ujung kepala hingga keki. Ia sangat terkejutnya karena orang yang mereka cari merupakan kakek yang telah memasuki akhir masa hidupnya. Tapi meski begitu, kulitnya masih dipenuhi energi kehidupan dan badannya layaknya veteran prajurit yang telah melewati pertempuran.


Kepala prajurit berdiri, dan memberikan respect dengan senyumannya. "Benar, kakek Steve Emmanuel. Kami dikirim untuk membawa anda ke markas untuk pemeriksaan, atas tuduhan pemerasan dengan tindak kekerasan dan pengancaman."


"Apakah ini berhubungan kejadian di Gustav Shop?"


Ketika prajurit tersebut sedikit terbelalak sewaktu nama Gustav disebut. Si kapten segera berdeham, kemudian berkata dengan nada serius, "Benar. Itu dan beberapa tempat lainnya."


"Haa.. Baiklah, nampaknya tidak ada jalan lain selain pergi." Steve mendesah berat, kemudian dia menatap anak kecil di sampingnya itu. "Jaga dirimu baik-baik, Antares."


"Terimakasih untuk pengertian dan kerjasama anda, mari ikut saya. Sampai jumpa lagi, Antares." Katanya dengan senyuman pahit.


Ruangan tersebut kembali sunyi dengan pintu yang kembali tertutup rapat.


"Kemarilah." Suara lembut yang agak melengking berbisik dari belakang telinganya.


Begitu ia menoleh kebelakang, seorang wanita muda dengan kecantikan tiada tara telah duduk di atas ranjang, menyilang satu kaki diatas yang lainbya. Ia memiliki rambut hitam keunguan dan mata merah menyala berinti keemasan. Pakaiannya nampak simpel, berwarna hitam dan emas bagaikan langit malam yang dipenuhi bintang.


Antares berjalan mendekatki wanita tersebut, kemudian membungkuk badannya, mencium punggung tangan wanita tersebut. Tanpa sadar, air mata membasahi punggung tangan wanita tersebut.


"Aku terlalu menyedihkan bukankah begitu?" kata Antares dengan lirih


"Itu tidak benar, kamu sangat kuat. Ingatlah, apapun yang terjadi, kamu selalu bisa meminta bantuan padaku."


"Yeah, master."


Tidak lama kemudian, Juni dan Luke yang kini tinggal di penginapan Merak Hijau datang ke kamar Antares. "Kami masuk, Res."

__ADS_1


Begitu masuk, mereka segera melihat Antares yang band lengan berwarna merah di lengan kanannya. Matanya masih sedikit merah, tapi wajahnya nampak tidak berubah sedikitpun. "Ah kalian datang. Maaf, tapi bisakah kalian membantuku?"


"Tentu saja."


"Katakan saja apa yang harus kami lakukan."


"Pergilah ke toko Gustav, dan katakan apa yang baru saja terjadi."


Juni jelas tahu mengenai toko milik keluarga Gustav ini, tapi ia tidak mengerti mengapa harus tempat itu. Walau Luke bisa menbak hubungan antara Antares dengan keluarga Gustav, ia tetap merasa ragu.


"Apakah mereka mau membantu kakek?" (luke)


"Aku tidak tahu, aku juga tidak peduli. Katakan saja pada mereka, untuk sisanya... benar, jangan kembali sampai besok pagi."


"Apa yang akan kamu lakukan malam ini?" (juni)


"Membersihkan sampah."


Melihat sorot mata Antares yang tajam, kedua remaja tersebut menelan ludah tanpa sadar.


"Ba-baiklah."


Luke dan Juni segera keluar dari kamar, kemudian berlari menuju ke distrik timur.


Malam tiba tidak lama kemudian. Sekelompok orang berjubah hitam masuk kedalam lantai ke dua penginapan tersebut melalui jendela. Gerakan mereka sangat terampil tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Mereka melihat ke sekeliling untuk sejenak, mengamati keadaan sekaligus posisi target. Berfikir semuanya aman, salah satu orang segera mengeluarkan sebuah botol keramik berwarna putih polos. Ia membuka kain yang menyumbat botol tersebut, kemudian mendekatkan kepalanya kepada hidung target.


Kemudian dia memperhatikannya untuk sejenak. Melihat Antares tertidur pulas, ia segera mengangguk ke orang-orang yang lain.


Bulan bersinar tepat diatas penginapan Merak Hijau, seperti mata dari keberadaan tak diketahui yang mengawasi dunia dibawahnya. Sekelompok orang berjubah hijau segera melompat keluar dari salah satu jendela penginapan. Dari kejauhan, salah satu dari orang berjubah hitam tersebut membawa sesuatu yang berat dibungkus dalam kain hitam. Menggunakan atap sebagai jalan utama, mereka melompat diantara bangunan dengan gesit tanpa menimbulkan kegaduhan sedikitpun. Kemampuan mereka sangat hebat, hingga seorang master dengan kemampuan pelacakan akan kesulitan menemukan jejak mereka. Akan tetapi, sepasang mata binatang terus mengamati mereka tanpa disadari oleh siapapun.


(bersambung...)

__ADS_1


♦♦♦


__ADS_2